Jodoh Rajawali Chapter 46

NIC

"Dan saya akan mengantarkan Hok-taijin kembali ke Ho-pei. Perjalanan itu masih amat berbahaya karena saya menduga bahwa sebetulnya yang dijadikan sasaran oleh Gubernur Ho-nan adalah Paduka Gubernur."

Pembesar tua itu mengangguk dan menarik napas panjang.

"Kalau orang she Kui itu hanya mencoba untuk menawan atau membunuh aku, masih tidak mengapa karena memang dia bermaksud buruk terhadap Ho-pei di perbatasan. Akan tetapi kalau dia hendak memberontak, aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menggempurnya!"

"Lalu bagaimana dengan Nona Phang?"

Tanya Souw-ciangkun yang bagaimanapun merasa berhutang budi kepada nona itu, karena kalau tidak ada bantuan nona itu, belum tentu dia masih hidup saat ini.

"Jangan Sam-wi memikirkan saya...."

Kata Cui Lan.

"Ah, mana bisa demikian? Engkau harus dilindungi juga karena engkau tentu dicari-cari oleh Gubernur Ho-nan setelah mereka semua tahu bahwa aku lolos oleh bantuanmu. Kalau kau suka, kau ikut bersamaku, Nona. Engkau.... kalau kau.... suka aku akan mengangkatmu sebagai anakku, anak angkatku!"

Ucapan ini keluar dengan suara yang sungguh-sungguh, bahkan sepasang mata orang tua itu berlinang air mata. Melihat ini, Cui Lan menunduk. Dia terharu sekali dan sampai lama dia tidak mampu menjawab. Akhirnya keluar juga suaranya yang lirih dan tergetar saking terharunya.

"Saya.... hanya seorang pelayan.... bagaimana mnungkin menerima penghormatan demikian besar? Menjadi puteri.... seorang gubernur....?"

"Nona Cui Lan! Cepat kau menghaturkan terima kasih kepada Gi-humu (Ayah Angkatmu). Engkau lebih dari pantas untuk menjadi seorang puteri gubernur, bahkan aku melihat engkau tidak kalah oleh puteri-puteri istana!"

Kata Kian Lee yang merasa girang sekali atas niat yang amat baik dari gubernur itu.

"Dan lagi, bukanlah engkau sendiri yang mengaku saya sebagai paman?"

Gubernur itu menggoda. Dengan air mata berlinang, Cui Lan tersenyum lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gubernur itu sambil berkata,

"Gi-hu...."

"Anakku! Cui Lan, kau anakku!"

Gubernur itu mengangkat bangun dara itu dan merangkulnya dengan girang. Souw-ciangkun juga girang sekali dan cepat dia menjura bersama Kian Lee, mengucapkan selamat kepada ayah dan anak itu yang dibalas dengan gembira pula oleh Gubernur Hok dan Cui Lan. Kemudian komandan pasukan pengawal istana itu berpamit dan meninggalkan tempat itu untuk cepat kembali ke kota raja. Biarpun perjalanan ke kota raja melalui Propinsi Ho-pei pula. akan tetapi demi keselamatan mereka sendiri, mereka melakukan perjalanan terpisah karena gubernur itu harus tetap melakukan penyamaran sebelum mereka keluar dari wilayah Propinsi Ho-nan. Kian Lee lalu mengawal Gubernur Hok Thian Ki dan Phang Cui Lan dengan hati-hati.

Dia maklum bahwa tentu Gubernur Ho-nan tidak akan berhenti demikian saja dan terus mengerahkan anak buahnya untuk mencari musuhnya itu. Dan dugaan ini memang benar karena pada hari itu juga, menjelang senja, ketika Kian Lee meninggalkan dua orang itu di dalam hutan dan dia sendiri menyelidiki keadaan, dia melihat sepasukan pengawal gubernur dipimpin oleh Perwira Su Kiat lewat di dekat hutan itu! Maka terpaksa dia melakukan perjalanan dengan hati-hati sekali, melewati hutan-hutan dan gunung-gunung sehingga perjalanan keluar dari Propinsi Ho-nan itu makan waktu jauh lebih lama daripada kalau menggunakan perjalanan biasa. Biarpun masih muda, usianya baru sekitar dua puluh dua tahun, namun Suma Kian Lee adalah seorang yang telah mengalami banyak hal-hal yang hebat.

Sejak berusia tujuh belas tahun dia sudah meninggalkan Pulau Es bersama adiknya, Suma Kian Bu, dan mengalami banyak hal sampai akhirnya dia disuruh pulang ke Pulau Es oleh ayahnya untuk memperdalam ilmu kepandaiannya (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali). Dan kini dalam perjalanannya mencari adiknya yang selama itu belum pernah pulang ke Pulau Es, dia juga mengalami hal-hal hebat, bahkan nyaris nyawanya berakhir di terowongan air! Maka kini dia dapat melakukan pengawalan dengan baik dan teliti terhadap dua orang yang terhormat dan disuka itu, yaitu Hok Thian Ki Gubernur Ho-pei dan Phang Cui Lan, gadis cantik yang biarpun lemah tak berkepandaian silat, namun sesungguhnya memiliki jiwa yang gagah, penuh keberanian, kecerdikan, dan kebijaksanaan itu. Mereka telah melakukan perjalanan tiga hari, perjalanan yang lambat namun aman, ketika mereka tiba di tepi sungai yang mengalir ke timur.

"Lebih baik kita mengambil jalan melalui sungai, tidak terlalu melelahkan Cui Lan,"

Usul Gubernur Hok.

"Apalagi saya rasa, di sekitar perbatasan antara Ho-nan dan Ho-pei tentu penuh dengan pasukan yang menjaga. Melalui sungai ini, kita akan memasuki daerah Propinsi Shan-tung, kemudian dari situ kita ke barat memasuki Propinsi Ho-pei. Selain lebih aman, juga tidak terlalu melelahkan."

Sebetulnya Kian Lee kurang setuju karena bagi seorang ahli silat seperti dia, di darat merupakan daerah yang leluasa dan aman baginya kalau menghadapi bahaya, tidak seperti kalau di air. Akan tetapi dia memang melihat Gubernur Hok dan Cui Lan sudah amat lelah melakukan perjalanan kaki itu, sungguhpun dara itu sama sekali tidak pernah mengeluh. Maka dia menerima usul ini dan mereka lalu membeli sebuah perahu yang cukup besar, yang ada biliknya untuk berteduh, dari seorang nelayan sungai. Perjalanan dengan perahu memang mengasyikkan dan memang kakek dan gadis itu dapat melepaskan kelelahan mereka. Pula, karena per jalanan mereka menurutkan aliran air sungai, maka juga tidak perlu mendayung,

Hanya mengemudikan perahu saja yang tidak makan banyak tenaga. Baru berlayar setengah hari saja Gubernur Hok telah mulai memancing ikan dengan alat pancing yang di belinya dari nelayan, sedang Cui Lan juga memasak air sambil bersenandung! Benar juga usul Hok-taijin, pikir Kian Lee. Biarpun perjalanan menjadi memutar, keluar timur melalui propinsi atau wilayah perbatasan dengan Shan-tung, namun tidak melelahkan dan kalau sudah tiba di wilayah Ho-pei, tentu pembesar setempat akan dapat. menyediakan kereta untuk gubernur dan anak angkatnya itu. Malam itu mereka menginap di sebuah dusun di tepi sungai dan dalam ke-sempatan ini, Cui Lan berbelanja bahan makanan untuk dimasak di atas perahu. Kemudian, pagi-pagi sekali mereka sudah kembali di perahu mereka.

Akan tetapi betapa kagetnya hati mereka ketika melihat seorang kakek tua yang bertubuh kate kecil bersama tujuh orang laki-Iaki yang kelihatan gagah, kasar dan menyeramkan telah berdiri di dekat perahu mereka itu. Kian Lee yang seperti juga Hok-taijin dan Cui Lan telah menyamar, memakai pakaian seperti nelayan, cepat mendekati mereka dan siap sedia menghadapi segala kemungkinan. Pandang matanya yang tajam dan dapat melihat bahwa kakek kate kecil ini bukan sembarang orang melainkan orang yang biasa mengandalkan tenaga dan kepandaian untuk memaksakan kehendak mereka. Namun dia bersikap tenang dan pura-pura tidak tahu akan kedatangan mereka, lalu membantu Hok-taijin dan Cui Lan memasuki perahu dan dia sendiri mulai melepaskan tali perahu itu dari akar pohon di pantai.

"Eh, sobat, apakah ini perahumu?"

Tiba-tiba kakek tua kecil itu bertanya. Aneh sekali, orangnya kecil akan tetapi suaranya besar dan dalam. Matanya yang kecil sipit menatap wajah Kian Lee dengan tajam penuh perhatian. Kian Lee pura-pura kaget mendengar suara besar nyaring itu dan dia menengok, lalu mengangguk,

"Benar, Loya (Tuan Tua)."

"Kamu hendak berlayar ke mana?"

Tanya Si kakek, sedangkan tujuh orang laki-laki bertubuh kuat itu melirik ke dalam bilik perahu di mana Cui Lan sedang mengatur barang belanjaannya dan Hok-taijin pura-pura menggulung tali pancingnya, padahal kedua orang ini sudah berdebar penuh ketegangan karena mereka mengira bahwa delapan orang itu tentulah mata-mata dari Gubernur Ho-nan.

"Kami hendak ke hilir...."

"Bagus! Kami delapan orang juga mempunyai keperluan untuk cepat pergi ke hilir, maka kami akan nunut perahumu dan kami akan membayar mahal."

"Maaf, Loya. Kami bukan tukang perahu, kami nelayan-nelayan yang baru habis berbelanja dan...."

"Kami tahu! Akan tetapi perahumu cukup besar untuk dapat memuat kami. Apakah kamu tidak bersedia menolong kami dengan bayaran mahal?"

"Hemmm, Twako, kenapa tidak dorong saja dia ke air?"

Seorang di antara mereka yang berkumis tebal berkata marah.

"Hushhh, jangan menggunakan kekarasan, Ang-kwi. Kita bukan di daerah sendiri!"

Kakek tua itu menegur Si Kumis Tebal yang disebut Setan Merah itu.

"Bagaimana, sobat? Apakah kamu masih juga menolak?"

Kian Lee memutar otaknya. Kalau dia menolak, jelas tentu akan terjadi keributan dengan mereka. Dia tidak takut, tetapi kalau dia merobohkan mereka, terutama kakek yang tentu lihai ini, berarti dia membuka rahasianya sebagai nelayan biasa dan hal ini akan menimbulkan kecurigaan. Masih baik kalau orang-orang ini tidak ada hubungannya dengan Gubernur Ho-nan, kalau mereka melapor, bisa celaka.

"Baiklah kalau memang Loya dan Cuwi sekalian mempunyai keperluan penting,"

Akhirnya dia berkata dan mengedipkan matanya kepada Cui Lan dan Hok-taijin.

Cui Lan lalu duduk di sudut dalam bilik itu, sebagian ditutupi oleh Hok-taijin yang diam-diam merasa khawatir sekali. Kakek tua itu memasuki bilik dan karena bilik itu sempit, hanya dia dan dua orang termasuk Si Kumis Tebal yang dapat ke bilik, sedangkan lima orang yang lain terpaksa duduk di luar bilik, di papan perahu. Kian Lee mengemudikan perahu ke tengah. Kalau sampai terjadi keributan, pikirnya, dan hal itu agaknya bukan tidak mungkin melihat sikap mereka dan pandang mata mereka yang penuh nafsu ke arah Cui Lan, sebaiknya dia merobohkan mereka di tengah sungai, jauh dari pantai sehingga tidak kelihatan oleh orang-orang lain. Si Kumis Tebal memang sejak tadi memandang kepada Cui Lan, secara terang-terangan tidak seperti teman-temannya yang lain. Kemudian dia memandang kepada Hok-taijin dan bertanya,

"Orang tua, apakah dia ini anakmu?"

Hok-taijin mengangguk dan bibirnya bergerak membenarkan.

"Hah, cantik sekali!"

"Dan dia itu mantuku,"

Kata pula Hok-taijin sambil menunjuk ke arah Kian Lee. Hal ini dia lakukan dengan harapan bahwa kalau mendengar anaknya telah menikah dan menjadi isteri orang lain, tentu Si Kumis Tebal itu akan merasa sungkan untuk menggoda.

Akan tetapi agaknya gubernur tua ini tidak tahu dengan siapa dia berhadapan! Dia berhadapan dengan segerombolan bajak sungai! Kakek kecil kate itu adalah seorang bajak sungai yang amat terkenal di sepanjang Sungai Huang-ho karena dia adalah Huang-ho Lo-cia yang amat ditakuti dan yang mempunyai banyak anak buah! Dia memakai julukan Lo-cia karena biarpun dia sudah tua, namun tubuhnya kecil seperti kanak-kanak, maka dia memakai julukan Lo-cia, tokoh dalam cerita Hong-sin-pong yang memang seorang manusia dewa yang bertubuh anak-anak, namun luar biasa lihainya itu. Dan tujuh orang itu adalah sebagian dari anak buahnya! Maka, Si Kumis Tebal berjuluk Setan Merah atau Ang-kwi itu menyeringai ketika Hok-taijin memperkenalkan Kian Lee. Dia memandang ke arah Kian Lee, lalu meludah di lantai perahu,

"Cuihhh! Mengapa setangkai mawar yang demikian indahnya hanya diberikan kepada seorang nelayan kotor?"

Katanya. Tentu saja Hoktaijin tidak berani berkata apa-apa lagi dan Cui Lan menjadi merah sekali mukanya merah saking marahnya mendengar penghinaan yang dilontarkan orang kasar itu kepada Kian Lee.

Tentu Kian Lee juga mendengar ini akan tetapi pemuda itu pura-pura tidak mendengar apa-apa. Melihat betapa Kian Lee tetap mengemudikan perahu dan mukanya tidak memperlihatkan suatu perasaan apa pun, diam-diam Cui Lan menjadi makin kagum kepada pemuda ini, juga kasihan. Pemuda itu adalah pelindungnya pada saat itu, juga pelindung Gubernur Ho-pei, maka boleh dibilang jiwa raganya dan jiwa raga ayah angkatnya itu berada di tangan Kian Lee. Kini pemuda itu sudah mengalami penghinaan luar biasa karena dia. Dia maklum bahwa kalau tidak karena dia, penghinaan semacam itu yang dilontarkan oleh seorang kasar seperti itu, tentu tidak akan didiamkan saja oleh pendekar sakti ini. Cui Lan lalu menuangkan secangkir teh dan keluar dari bilik menghampiri Kian Lee dengan cangkir air teh di tangan.

"Minumlah...."

Katanya halus sambil menyodorkan cangkir teh itu. Kian Lee tersenyum, menerima cangkir teh dan meminumnya. Tanpa menggerakkan bibir, terdengar dia berkata lirih sekali, hanya untuk telinga Cui Lan,

"Tenanglah dan jangan takut selama aku berada di sini."

Posting Komentar