"Ah, siapa tahu!"
Bantah orang ke dua.
"Semenjak utusan Kaisar itu datang dan pulang, kita harus berjaga-jaga karena sudah pasti fihak Ho-pei tidak mau tinggal diam begitu saja. Demikian yang kudengar dari para perwira."
Kian Lee yang sudah siap untuk menerjang itu menunda gerakannya dan merasa makin heran. Dua orang ini sedang bercakap-cakap tanpa paksaan dia, akan tetapi toh mereka menyatakan bahwa utusan kaisar sudah pulang.
Bagaimana ini? Benarkah Pangeran Yung Hwa tidak menjadi tawanan Gubernur Ho-nan? Dua orang itu kini membalikkan tubuh untuk memeriksa keadaan di sekeliling mereka dan pada saat itu Kian Lee meloncat dan dua kali tangannya bergerak, dua orang penjaga itu roboh pingsan karena tengkuk mereka kena disambar oleh jari tangan Kian Lee. Cepat pendekar ini menotok mereka sehingga untuk waktu yang agak lama mereka akan lumpuh dan menyumpal mulut mereka dengan robekan baju mereka sendiri kemudian dia berloncatan di atas genteng mencari-cari kamar gubernur. Selagi dia mencari-cari dan mengintai, tiba-tiba dia mendengar suara ketawa yang mengejutkan hatinya. Suara ketawa macam itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki khikang tinggi dan amat kuat!
Suara itu bergema dan menggetarkan genteng yang diinjaknya, kemudian dia mendengar suara orang bercakap-cakap dari arah datangnya suara ketawa itu. Dengan hati tertarik dan amat hati-hati karena dia tahu bahwa ada orang pandai di bawah sana, Kian Lee lalu menghampiri tempat itu dan mendekam di atas genteng lalu mengintai ke bawah. Akan tetapi, berbeda dengan ruangan-ruangan lain, ruangan di bawah ini ternyata rapat dan di bawah genteng itu terdapat langit-langit sehingga dia tidak dapat melihat ke dalam ruangan. Kian Lee mendongkol sekali karena kini dia merasa yakin bahwa sang gubernur yang dicari-cari itu berada di bawah genteng ini! Hal ini dapat dia ketahui karena suara yang besar dan mengandung tenaga khikang amat kuat, agaknya suara orang yang tertawa tadi, berkata dengan nyaring.
"Percayalah, Kui-taijin, semua akan berjalan dengan baik menurut rencana!"
Kemudian mendengar langkah kaki yang berat sekali, seperti gajah berjalan, dan suara itu terdengar lagi,
"Harap Taijin beristirahat dan besok kita sambung lagi perundingan kita."
Kian Lee cepat melayang turun dari atas genteng, bersembunyi di balik dinding dan mengintai.
Dilihatnya seorang laki-laki yang tubuhnya amat besar, seperti raksasa, kepalanya botak dan besar sekali, keluar dari ruangan itu. Raksasa ini sukar ditaksir usianya, akan tetapi tentu sudah lebih dari setengah abad, sungguhpun tubuhnya besar sekali namun gerak-geriknya lemas dan gesit, pakaiannya mewah dengan memakai sehelai jubah mantel berwarna merah dan sepatunya memakai tapal baja. Langkahnya lebar dan tetap, kadang-kadang mengeluarkan bunyi seperti seekor gajah lari, kadang-kadang tidak berbunyi sama sekali seperti seekor harimau melangkah. Sebentar saja kakek ini lenyap dan diam-diam Kian Lee menarik napas panjang. Orang itu jelas merupakan lawan yang amat tangguh, taksirnya. Akan tetapi karena yang dicarinya berada di kamar itu, dia tidak mempedulikan lagi kakek raksasa itu, dan mengintai dari jendela.
Ruangan itu luas, merupakan ruangan perundingan agaknya, dengan banyak kursi dan meja yang panjang besar. Hatinya girang bukan main ketika dia melihat sang gubernur kini duduk seorang diri di sudut ruangan itu, di atas kursi dan menghadapi sebuah meja, agaknya sedang menuliskan sesuatu di atas buku yang terletak di atas meja, di depannya. Inilah kesempatan yang baik, pikir Kian Lee. Lebih baik dia cepat turun tangan sebelum ada penga-wal datang. Dengan gerakan kilat, Kian Lee menerobos melalui pintu dari mana kakek raksasa tadi keluar dan sedetik kemudian dia telah berdiri di tengah ruangan itu, memandang kepada Gubernur Kui Cu Kam yang masih duduk di atas kursi. Akan tetapi, tiba-tiba gubernur itu menoleh, memandang kepadanya dan tiba-tiba kursi yang diduduki gubernur itu berikut. mejanya amblas ke dalam lantai!
"Heiiiii!"
Kian Lee terkejut dan meloncat, akan tetapi ketika dia tiba di sudut tempat itu, meja dan kursi berikut sang gubernur telah lenyap dan lantai itu telah tertutup kembali! "Ha-ha-ha-ha!"
Suara ketawa yang menggetarkan seluruh ruangan itu terdengar dan ketika Kian Lee menengok, ternyata kakek botak raksasa itu telah berdiri di ambang pintu, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan perutnya yang besar bergoncang-goncang ketika dia tertawa. Mengertilah Kian Lee bahwa dia telah tertipu, maka dengan marah dia lalu meloncat ke depan, menggerakkan kedua tangannya mendorong kakek raksasa itu sambil membentak,
"Pergilah!"
Kian Lee adalah seorang pemuda yang berwatak halus dan dia sama sekali tidak mau membunuh orang begitu saja. Dia tidak mengenal kakek ini, sungguhpun dia tahu bahwa kakek ini adalah kaki tangan Gubernur Ho-nan yang agaknya tadi telah mengetahui akan kedatangannya dan mengatur siasat untuk menjebaknya di ruangan itu. Maka ketika dia menyerang untuk meloloskan diri,
Dia hanya menggunakan setengah tenaga sinkangnya karena dianggapnya itu sudah cukup dan agar jangan sampai dia melukai orang yang membahayakan keselamatan orang itu. Kakek itu dengan kedua kaki masih terpentang lebar, agaknya memandang rendah kepada pukulan kedua tangan pemuda itu. Buktinya, dia sama sekali tidak mengelak dari pukulan itu, juga tidak menangkis, melainkan juga menggerakkan kedua tangannya menyambut dengan pukulan telapak tangan yang didorongkan. Kian Lee terkejut sekali. Dia mengenal keampuhan pukulannya sendiri yang dilakukan dengan tenaga Swat-im-sin-kang, yaitu Tenaga Sakti Inti Es yang amat ampuh, tenaga sakti dari, ayahnya, yang dilatihnya di Pulau Es. Karena dia tidak ingin mencelakakan orang, maka kembali dia mengurangi tenaganya dengan agak menahan pukulan kedua tangannya yang mendorong itu.
"Desssss....!"
Akibat benturan dua pasang telapak tangan itu, tubuh Kian Lee terjengkang dan terlempar sampai jauh ke dalam ruangan itu!
"Ha-ha-ha-ha-ha!"
Kakek raksasa itu tertawa bergelak, suara ketawanya menggetarkan ruangan dan tadi ketika bertemu tenaga sakti, tubuhnya hanya bergoyang sedikit saja! Dan pada saat itu, kelihatan dua orang menubruknya dan mereka ini bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li dan Ho-nan Ciu-lo-mo! Kiranya dua orang ini juga sudah bersembunyi di balik pintu-pintu rahasia dan begitu melihat dia terjengkang dan bergulingan, mereka kini menubruk dengan serangan maut mereka. Mauw Siauw Mo-li menggunakan pedangnya yang bersinar hijau itu menusuk ke arah dadanya, sedangkan Honan Ciu-lo-mo menggunakan guci arak menghantam ke arah kepalanya! Akan tetapi biarpun tubuhnya terlempar dan bergulingan, Kian Lee sama sekali tidak terluka.
Kalau dia terpental, hal itu hanyalah karena dia hanya menggunakan tenaganya sedikit saja, hanya kurang dari setengahnya dan ternyata, di luar dugaannya, kakek botak raksasa itu benar-benar lihai bukan main! Kiranya kalau dia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, baru dia akan dapat menandingi kakek itu! Betapa bodohnya! Dengan ginkangnya yang amat hebat, yang hanya kalah oleh ilmu mujijat ayahnya yang disebut Gerakan Angin dan Petir, yaitu gerakan khas ayahnya sebagai seorang pendekar kaki tunggal yang terkenal sebagai Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Kian Lee menggerakkan tubuhnya melesat dari bawah sehingga hanya nampak bayangan berkelebat dan dua serangan maut itu hanya mengenai tempat kosong! Nyaris dia celaka, pikirnya dan karena tahu bahwa usahanya gagal sama sekali, tubuhnya mencelat lagi ke arah daun jendela yang masih tertutup.
"Brakkk!"
Daun jendela pecah kena terjangan tubuhnya dan terdengar pekik kesakitan ketika empat orang pengawal di luar jendela itu kena diterjang pula oleh kaki Kian Lee sehingga mereka terpental dan terguling-guling. Kiranya di luar ruangan itu telah menanti banyak sekali pengawal! Kian Lee tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Sebelum kakek raksasa yang lihai bersama dua orang lihai tadi keluar, dia sudah meloncat ke atas genteng dan melarikan diri. Teriakan disusul sambaran anak panah sama sekali tidak ada artinya bagi Kian Lee yang melarikan diri secepatnya. Untung bahwa kakek raksasa itu, mungkin karena tubuhnya yang terlalu berat dan besar, tidak memiliki ginkang yang terlalu tinggi sehingga tidak mengejarnya. Di antara mereka, yang ginkangnya paling lihai adalah Mauw Siauw Mo-li,
Akan tetapi wanita ini agaknya tidak berani mengejar sendirian karena dia pun maklum bahwa pemuda itu luar biasa sekali dan amatlah berbahaya kalau dia berhadapan seorang diri saja melawan pemuda itu. Sambil melarikan diri, Kian Lee merasa heran dan menduga-duga siapa adanya kakek yang lihai itu. Ketika terjadi keributan tempo hari, dia tidak melihat kakek itu dan andaikata pada waktu itu terdapat kakek itu di pihak Gubernur Ho-nan, agaknya dia tidak akan dapat lolos dengan selamat, juga Gubernur Ho-pei dan Cui Lan tidak akan dapat lolos demikian mudahnya. Tentu saja pemuda ini tidak mengenal kakek raksasa itu, bahkan seluruh tokoh dunia kang-ouw agaknya juga tidak ada yang mengenalnya, kecuali mereka yang pernah pergi ke negeri Nepal, jauh di barat, di sebelah selatan Pegunungan Himalaya.
Kakek ini adalah utusan dari negeri Nepal dan selain utusan, juga dia adalah seorang yang berpangkat tinggi di negeri itu, yaitu sebagai kok-su (guru negara). Selain berkedudukan tinggi dan dipercaya oleh Raja Nepal, kakek ini memiliki kepandaian yang hebat, karena dia masih peranakan Han dan dahulu di waktu mudanya dia memperoleh pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi dan setelah dia merantau ke Nepal dia dapat meraih kedudukan tinggi berkat kepandaian-nya itu. Ketika mendengar betapa pemberontakan dua orang Pangeran Liong yang gagal itu mengakibatkan kemunduran sinar kekuasaan Kaisar Kang Hsi yang sudah tua, maka Kerajaan Nepal yang tadinya juga menjadi negara taklukan atau lebih tepat lagi sebagai negara yang mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng-tiauw (Mancu),
Lalu berusaha mendekati daerah-daerah yang menentang kaisar untuk bersekutu! Untuk memberontak sendiri, Nepal merasa kurang kuat, akan tetapi kalau ada gubernur yang memberontak, mereka akan membonceng. Demikianlah, ketika mendengar akan sikap Gubernur Kui Cu Kam dari Propinsi Ho-nan yang kelihatan mulai menjauhkan diri dari pemerintah pusat, raja mengirim utusan untuk mendekatinya. Utusan itu adalah kakek itu, yang di timur mengaku berjuluk Ban-hwa Seng-jin. Nama ini memang sudah terkenal di wilayah Tiongkok bagian barat, dari Tibet sampai ke wilayah Secuan. Dan baru sekarang Ban-hwa Seng-jin membawa belasan orang pengawal pilihan yang menjadi pembantu-pembantunya untuk berkunjung ke Ho-nan dan kebetulan sekali dia mendengar akan keributan di gubernuran itu.
Tetapi Ban-hwa Seng-jin sedang mengadakan perundingan dengan Gubernur Kui, dia yang berilmu tinggi dapat mengetahui bahwa ada orang pandai datang mengintai, maka diam-diam dia lalu memberi isyarat kepada gubernur dan sang gubernur juga cepat membunyikan alat rahasia untuk memberi tahu kepada kepala pengawal. Kemudian diaturlah oleh Ban-hwa Seng-jin untuk menjebak musuh, akan tetapi ternyata pemuda yang lihai itu berhasil juga meloloskan diri. Cui Lan girang bukan main melihat Suma Kian Lee kembali dalam keadaan selamat, akan tetapi Gubernur Ho-pei dan Komandan Souw Kwe An kecewa melihat pemuda itu kembali seorang diri saja tanpa membawa Pangeran Yung Hwa.
"Bagaimana dengan Sang Pangeran?"
Gubernur Hok bertanya gelisah. Kian Lee lalu menceritakan pengalamannya ketika dia mendengar pengakuan para pengawal yang ditawannya dan juga percakapan antara dua orang penjaga yang semua menyatakan bahwa Pangeran Yung Hwa telah kembali ke kota raja pada keesokan harinya setelah terjadi keributan di dalam taman! Tentu saja dua orang pembesar itu menjadi terheran akan tetapi juga ragu-ragu untuk percaya berita itu.
"Sebaiknya kalau Souw-ciangkun cepat-cepat kembali ke kota raja,"
Kata gubernur itu,
"Kalau benar Pangeran telah kembali dengan selamat, syukurlah. Kalau belum, maka perlu cepat melaporkan kepada Kaisar agar dapat diambil tindakan terhadap Gubernur Ho-nan yang khianat itu!"
"Sebaiknya begitu,"
Kata Kian Lee.