"Kami dengan susah payah membantu Kongcu keluar dari terowongan maut itu dan sekarang Kongcu malah hendak ke kota yang penuh dengan bahaya itu! Kian Lee merasa terharu. Dara ini benar-benar seorang wanita yang memiliki watak halus dan berbudi mulia. Berbahagialah pria yang dicintai oleh seorang wanita seperti Cui Lan ini, pikirnya dan diam-diam dia agak iri juga kepada Siluman Kecil dan juga diam-diam berjanji pada diri sendiri bahwa kelak tentu Siluman Kecil akan berhadapan dengan dia sebagai lawan. Hanya seorang yang berhati mati saja yang tidak akan menerima cinta kasih seorang dara berperasaan halus dan berbudi mulia seperti Cui Lan!
"Ah, Cui Lan, engkau belum tahu siapa adanya Suma-taihiap ini! Engkau masih menganggap dia seorang pemuda terpelajar yang lemah. Ha-ha!"
Kata Gubernur Hok.
"Nona Phang, ketahuilah bahwa Suma taihiap ini tidak kalah saktinya dengan pendekar yang berjuluk Siluman Kecil itu!"
Kata pula Souw Kee An.
"Ahhh....!"
Sepasang mata itu memandang Kian Lee penuh selidik dan pemuda ini tersenyum, diam-diam menyesal mengapa panglima itu lancang mulut sehingga selain mengejutkan juga menurunkan pandangan nona itu yang teramat tinggi terhadap Siluman Kecil.
"Jangan percaya kepadanya, Cui Lan, Souw-ciangkun hanya berkelakar. Nah, aku harus berangkat sekarang juga. Harap Taijin dan Cui Lan menanti di sini, dan kau lindungi dia dulu, Souw-ciangkun. Setelah aku kembali, baru kita berunding lagi bagaimana baiknya. Syukur-syukur kalau aku berhasil menolong dan membawa Pangeran Yung Hwa ke sini."
Maka berangkatlah Kian Lee, diiringkan pandang mata penuh harapan oleh Gubernur Hok dan Souw-ciangkun, akan tetapi pandang mata Cui Lan penuh kekhawatiran.
Tidaklah sukar bagi Kian Lee untuk menyelundup masuk ke dalam kota Lok-yang di Ho-nan. Dengan ilmunya yang tinggi, mudah saja dia meloncati dinding tembok di sekeliling kota dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk menuju ke istana Gubernur Ho-nan. Malam itu sunyi. Semenjak peristiwa keributan yang terjadi di taman istana, memang keadaan ibu kota menjadi sunyi dan penduduk banyak yang merasa takut keluar malam. Penjagaan diperketat, akan tetapi dengan mudah Kian Lee menggunakan ginkangnya meloncat ke atas pagar tembok istana dan terus meluncur ke dalam. Dengan sigapnya dia telah menotok roboh seorang penjaga yang sedang meronda di dekat taman, menyeretnya ke semak-semak dan mengancamnya,
"Kubunuh kau kalau kau berani berteriak!"
Di dalam keadaan yang remang-remang itu, penjaga ini tidak dapat melihat muka Kian Lee dengan jelas, dan andaikata dapat melihat pun, dia tidak akan mengenal wajah pemuda ini yang baru satu kali datang sebagai tamu dan belum banyak dikenal, kecuali oleh pasu-kan yang dulu mengha-dangnya.
"Ampun, Hohan....!"
Penjaga itu memohon.
"Aku tidak akan membunuhmu asal engkau suka menceritakan di mana adanya Pangeran Yung Hwa!"
Kian Lee mengancam
"Ampun.... siapa Pangeran Yung Hwa....? Saya tidak tahu, Hohan...."
Kian Lee mengerutkan alisnya.
"Tidak kenal? Pangeran yang menjadi utusan Kaisar tempo hari...."
"Ah, kalau beliau tentu saja saya tahu. Yang menjadi utusan Kaisar dan kemudian terjadi keributan di taman?"
"Ya, benar. Di mana dia ditahan?"
"Ditahan? Saya sungguh tidak mengerti apa maksudmu, Hohan."
"Bukankah kau sendiri bilang terjadi keributan di taman ketika Pangeran itu muncul, kemudian diserang dan ditangkap?"
"Ah, sama sekali tidak, Hohan. Memang terjadi keributan antara jagoan-jagoan Ho-nan melawan jagoan-jagoan Ho-pei, akan tetapi tidak ada yang berniat buruk terhadap Pangeran utusan Kaisar. Bahkan pada keesokan harinya pun utusan itu telah kembali ke kota raja dengan pengawalan ketat."
"Bohong! Kubunuh kau kalau membohong!"
"Saya.... saya tidak berani membohong Hohan!"
Kian Lee menjadi bingung, lalu dia menotok lagi agar orang itu tidak mampu bergerak atau mengeluarkan suara, kemudian dia meninggalkannya di balik semak-semak dan karena penasaran, Kian Lee lalu mencari dan akhirnya dia berhasil menyergap dan menangkap seorang perwira pengawal seperti yang dilakukannya kepada perajurit itu. Akan tetapi, keterangan perwira pengawal ini pun sama dengan apa yang didengarnya dari si perajurit. Sungguh mengherankan! Kian Lee menjadi penasaran sekali. Para perajurit dan perwira, itu tentu saja sudah diperintahkan untuk membuat pengakuan seperti itu setiap kali ada penyelidik datang hendak menolong Pangeran Yung Hwa.
Betapa bodohnya dia! Satu-satunya orang yang akan dapat dia paksa membebaskan Pangeran Yung Hwa hanyalah si gubernur sendiri. Dia harus menangkap Gubernur Kui Cu Kam dan memaksanya membebaskan Pangeran Yung Hwa! Dia sudah memperhitungkan bahayanya. Menurut penglihatannya kemarin dulu ketika terjadi pertempuran, yang patut dianggap lawan berat hanya beberapa orang, yaitu Mauw Siauw Mo-li dan Ho-nan Ciu-lo-mo serta beberapa orang panglima pengawal saja. Bahkan baginya, hanya dua orang ltulah yang merupakan lawan yang cukup tangguh, namun dia yakin akan dapat mengatasi mereka berdua. Yang dikhawatirkan hanya kalau semua pasukan dikerahkan.
Tentu saja tidak mungkin dia dapat meng-hadapi pengeroyokan ratusan orang pasukan, apalagi di dalam istana yang asing baginya. Kalau sampai demikian halnya, tentu akan gagal usahanya menangkap gubernur itu. Yang penting adalah menyelundup dan diam-diam menangkap gubernur itu, karena kalau gubernur itu sudah ditawannya, tentu yang lain-lain akan mundur teratur. Juga dia akan membawa pula gubernur yang memberontak itu sebagai tawanan ke kota raja! Dengan keputusan hati yang bulat ini Kian Lee lalu melayang naik ke atas wuwungan istana, mendekam karena khawatir kalau-kalau di atas genteng terdapat penjaga-penjaga pula. Ternyata dugaannya betul. Akan tetapi hanya terdapat dua orang yang menjaga di menara untuk mengamati keamanan di atas genteng-genteng.
"Aku harus merobohkan mereka dulu, baru dapat bergerak dengan leluasa mencari kamar gubernur,"
Pikir Kian Lee. Bagaikan seekor kucing saja, dia bergerak-gerak di atas genteng tanpa mengeluarkan suara, menghampiri tempat pejagaan di menara itu, sedikit pun tidak diketahui oleh dua orang penjaga yang sedang bercakap-cakap.
"Ahhh, kenapa kita masih harus melakukan penjagaan yang begini ketat? sampai-sampai semua atap harus diawasi seolah-olah ada musuh yang akan terbang ke sini,"
Seorang di antara mereka mengeluh.