Jodoh Rajawali Chapter 37

NIC

"Saya mengerti, Taijin. Biarpun saya hanya pelayan di sini, akan tetapi saya memperhatikan semua dan mengenal Taijin. Bukankah Taijin adalah Hok-taijin, gubernur dari Ho-pei?"

"Benar, anak baik. Biarkan aku bersembunyi di sini sampai aman"

"Justeru kalau bersembunyi di sini tidak akan aman, Taijin. Sebaiknya Taijin cepat dapat pergi dari tempat ini, pergi dari Ho-nan dan kembali ke utara."

"Tapi.... tapi bagaimana?"

"Saya akan membantu Taijin. Taijin hrus menyamar, marilah, Taijin"

Dengan tabah sekali wanita muda itu lalu membantu Gubernur Ho-pei itu melakukan penyamaran. Dicukurnya kumis gubernur tua itu dan jenggotnya yang panjang dipotong pendek, rambut kepala diawut-awut dan topi kebesarannya dlilepas, lalu rambutnya digelung biasa secara sederhana dan diikat dengan kain kepala yang kotor. Kemudian Cui Lai, menyerahkan seperangkat pakaian tukang kebun dan menyuruh gubernur itu berganti pakaian sebagai tukang kebun.

"Bagaimana dengan Pangeran....?"

Gubernur yang setia itu mengeluh dan merasa khawatir sekali.

"Jangan khawatir, Taijin. Saya yakin Pangeran yang menjadi utusan Kaisar tidak apa-apa"

"Eh, engkau seorang pelayan, bagaimana tahu ?"

"Saya memperhatikan, Taijin, dan saya mendengarkan percakapan mereka, antara gubernur dan Ouw-teetok dan para pengawal. Pangeran tidak akan diganggu, akan tetapi memang Paduka yang akan ditawan "

"Celaka....!"

"Jangan khawatir, kini tidak akan ada yang mengenal Paduka. Mari, saya antar ke luar"

Cui Lan menggandeng tangan pembesar tua itu.

"Nanti dulu....!"

Pembesar itu berhenti, lalu membalik kepada Cui Lan dan dirangkulnya dara itu penuh keharuan.

"Nona.... kau seorang pelayan akan.... tetapi.... ah, berhasil atau tidak usahamu ini percayalah bahwa aku Hok Thian Ki tidak akan melupakan pertolonganmu ini!"

Cui Lan menjadi terharu.

"Sudahlah, Taijin, saya berani melakukan ini karena saya memperoleh suatu keyakinan dari seorang yang saya puja bahwa hidup haruslah diisi dengan perbuatan yang berguna, yaitu antaranya menolong orang yang berada di fihak benar. Marilah!"

Dia menggandeng tangan pembesar itu, ditariknya keluar, kemudian mereka menyelinap di antara rumah-rumah, pohon--pohon dan di antara orang-orang yang masih ribut bertempur tanpa ada yang mempedulikan mereka. Siapa yang akan mempedulikan seorang pelayan dan seorang tukang kebun di saat geger seperti itu?

"Kita harus melalui taman...."

"Tempat pertempuran itu?"

Gubernur Hok terkejut.

"Benar, akan tetapi hanya di sana terdapat pintu belakang untuk lolos. Pula, sebagai tukang kebun berada di taman, Paduka tidak akan menarik perhatian dan kecurigaan. Marilah, Taijin...."

Mereka berjalan terus memasuki taman di mana benar saja masih terjadi pertempuran hebat antara para pengawal utusan kaisar, para jagoan Ho-pei dan para perajurit pengawal Ho-nan yang amat banyak.

Juga nampak Kian Lee masih dikurung oleh Mauw Siauw Mo-li, Bun Hok Ti pengawal Ouw-teetok yang mata keranjang itu, Ho-nan Ciulo-mo jagoan dari Ho-nan dan banyak lagi tokoh-tokoh pengawal yang berkepandaian tinggi karena mereka melihat betapa lihainya pemuda tampan yang tadinya menjadi tamu mereka akan tetapi ternyata kini membantu fihak Ho-pei itu. Kian Lee memang sengaja mengamuk untuk menarik tenaga-tenaga yang terkuat dari Ho-nan agar. mengeroyoknya sehingga dengan demikian, fihak Ho-pei akan dapat meloloskan diri. Kalau dia mau, tentu saja dengan ilmunya yang tinggi, dia bisa mengirim pukulan-pukulan maut dan menewaskan banyak orang namun pemuda ini tidak bermaksud membunuh, hanya merobohkan saja beberapa orang tanpa membunuhnya.

Akan tetapi menghadapi orang-orang seperti Mauw Siauw Mo-li dan Ho-nan Ciu-lo-mo, tentu saja tidak akan mudah merobohkan mereka tanpa membunuhnya. Sambil menghadapi pengeroyokan itu, menggunakan kaki tangan untuk menang-kisi senjata-senjata yang menyambar, juga mengelak ke sana-sini, pandang mata Kian Lee masih terus mencari-cari. Bagaima-na dengan Pangeran Yung Hwa? Bagaimana dengan Gubernur Hop-ei? Demikian pikirnya dengan hati khawatir juga. Tiba-tiba dia mengenal wajah Cui Lan. Terkejut dia. Apa yang dilakukan oleh gadis pelayan cantik itu di dalam taman, tempat yang telah menjadi medan pertempuran itu? Dan siapa yang jalan tergesa-gesa bersama pelayan itu?. Pada saat itu, Cui Lan juga menengok dan memandang ke arah pemuda yang dilayaninya tadi, pemuda yang amat baik dan sopan.

"Aiiiiihhh....!"

Cui Lan menjerit ketika melihat Si Rambut Merah, yaitu Honan Ciu-lo-mo, dengan dahsyat menggerakkan guci araknya menghantam dan mengenai dada Kian Lee yang agak terpecah perhatiannya memandang Cui Lan.

"Desssss....!"

Kian Lee terkejut, tubuhnya sudah terlindung sinkang yang otomatis, dan ia tidak mengalami luka parah, namun tetap saja dia terlempar ke belakang dan karena dia berdiri membelakangi kolam besar di taman itu, otomatis dia jatuh ke dalam kolam.

"Byuuuuurrr....!"

"Aiiiiihhhhh....!"

Kembali Cui Lan menjerit dan banyak orang menoleh ke arah suara jeritan itu, akan tetapi karena yang menjerit itu hanya seorang pelayan yang berdiri bersama seorang tukang kebun, maka mereka tidak memperhatikan lagi, juga pada waktu itu si tukang kebun sudah memegang tangan Cui Lan dan diajaknya pergi dari situ dengan cepat, menyelinap ke dalam gelap. Tok-gan Sin-ciang dan dua orang temannya juga sudah mengamuk di dalam taman. Mereka tadi dapat memancing para pengeroyoknya untuk menjauhi tempat di mana Gubernur Ho-pei bersembunyi dan kini, Tok-gan Sin-ciang biarpun hanya bermata sebelah, namun dia mengenal "tukang kebun"

Yang tadi berdiri di sana bersama pelayan itu.

Dia berteriak girang dan terus, mengamuk, agar fihak musuh tidak memperoleh kesempatan memperhatikan tukang kebun itu! Sedangkan komandan pasukan pengawal yang gagah perkasa, yaitu komandan Pasukan Garuda yang melihat betapa pemuda perkasa yang membantu fihaknya itu terjengkang ke dalam air kolam, dia cepat meloncat dan terjun ke dalam air. Komandan ini adalah seorang yang pandai renang, maka dia khawatir akan keadaan pemuda yang membantu fihaknya itu, maka dia ingin menolong. Akan tetapi, sebetulnya Kian Lee tidak apa-apa dan bagi pemuda yang lahir dan dibesarkan di Pulau Es ini tentu saja bergerak di air bukan merupakan hal yang asing baginya. Melihat komandan yang perkasa itu berenang menghampirinya, Kian Lee berkata,

"Tidak apa-apa, Ciangkun!"

"Awas....!"

Posting Komentar