Katanya. Pada saat itu terdengar suara melengking panjang dan suara ini disusul bentakan,
"Kembalilah kalian penakut-penakut menjemu-kan!"
Mendengar suara ini, Jiu Koan dan dua belas orang anak buahnya berhenti dan mereka cepat menjura kepada seorang pemuda yang baru muncul.
"Am-pun, Kongcu.... ada.... ada siluman...."
Jiu Koan berkata akan tetapi dia menoleh dan memandang ke arah dua orang gadis itu, ternyata mereka adalah dua orang gadis cantik yang tadi dan tidak -nampak ada naga di situ. Pemuda tampan itu tidak mempedulikan Jiu Koan dan dia segera bertindak menghampiri Siang In dan Syanti Dewi.
Dua orang dara itu pun memandang penuh perhatian dan mereka dapat menduga bahwa tentulah orang ini yang disebut kongcu dan menjadi majikan atau ketua dari Perkumpulan Liong-sim-pang yang markasnya seperti benteng di puncak bukit itu. Ketika pemuda itu yang bukan lain adalah Hwa-i-kongcu Tang Hun, melihat bahwa yang ribut-ribut di situ adalah dua orang dara yang demikian cantik jelitanya, diam-diam dia merasa terkejut, terheran dan juga girang sekali. Jantungnya sudah bergoncang hebat karena harus dia akui bahwa selama hidupnya belum pernah dia melihat wanita sedemikian hebat dan cantiknya seperti dua orang dara ini! Sejenak dia bengong dan pandangan matanya seperti terasa oleh dua orang gadis itu, menggerayangi wajah dan tubuh mereka.
Siang In memandang sambil tersenyum, penuh perhatian. Pemuda itu memang tampan, bahkan terlalu tampan dan wajah yang dibedaki putih, alis yang dipertebal dengan cat alis, bibir yang di beri sedikit pemerah bibir, dan pipi yang agak kemerahan itu mendekati kecantikan wajah seorang wanita. Pemuda itu pesolek sekali, pakaiannya serba indah dan terbuat dari sutera mahal, bajunya berkembang-kembang dan biarpun pemuda itu berdiri dalam jarak empat metet darinya, dia dapat mencium bau wangi semerbak datang dari tubuh pemuda itu! Diam-diam Siang In bergidik. Pemuda ini betul-betul mengerikan! Usianya tentu tidak lebih dari dua puluh tahun, pikirnya. Dia tidak tahu bahwa Tang Hun sesungguhnya sudah berusia tiga puluh tahun.
"Enci, mari kita pergi,"
Kata Siang In, menggandeng tangan Syanti Dewi dan mengajak untuk turun kembali dari lereng bukit itu karena dia merasa tidak enak menyaksikan pandang mata pemuda pesolek yang mengerikan itu.
"Eh-eh, harap perlahan dulu, Ji-wi Siocia (Nona Berdua)....!"
Terdengar suara halus dan ada angin menyambar dari samping mereka. Kembali Siang In terkejut karena ternyata pemuda pesolek itu kini telah berdiri di depan mereka, tanda bahwa pemuda itu memiliki ginkang yang hebat juga! Kini mereka berhadapan dekat dan bau harum semerbak makin menyengat hidung kedua orang dara itu. Siang In pura-pura tidak mengenal orang itu dan dia bertanya,
"Siapa engkau dan perlu apa engkau menghadang perjalanan kami?"
Hwa-i-kongcu Tang Hun menjura de-ngan sikap hormat dan dengan tersenyum ramah dia berkata,
"Harap Ji-wi Siocia suka memaafkan anak buah kami kalau mereka itu lancang dan membikin Jiwi tidak senang hati."
"Hemmm, anak buahmukah mereka itu?"
"Benar, Nona. Saya adalah Tang Hun, majikan atau ketua dari Liong-Sim-pang dan di atas itu adalah tempat tinggal kami".
"Ah, kiranya begitu? Memang anak buahmu tadi kurang ajar terhadap kami, akan tetapi telah kami beri hajaran kepada mereka. Kalau kau hendak membela mereka...."
"Aih, tidak sama sekali, Nona! Bahkan kalau mereka itu berani kurang ajar terhadap tamu-tamu kami yang terhormat, mereka patut dihukum. Jiu Koan, ke sini engkau!"
Pemuda itu membentak dan Jiu Koan, komandan pasukan itu cepat datang menghampiri ketuanya dengan sikap takut dan hormat.
"Siap, Kongcu,"
Katanya dengan berdiri tegak seperti perajurit.
"Aku melihat tadi engkau dan se-orang lagi bertanding melawan Nona ini. Siapa yang seorang lagi? Panggil sini!"
Jiu Koan berteriak memanggil temannya, si raksasa tadi digajul kedua tulang kering kakinya oleh Syanti Dewi. Raksasa ini pun datang menghadap dengan sikap hormat dan takut.
"Mereka inikah yang telah meng-ganggu. Ji-wi?"
Tang Hun bertanya sambil kini memandang kepada Syanti Dewi. Puteri ini yang dipandang oleh sepasang mata yang mempunyai sinar tajam dan aneh itu bergidik lalu mengangguk. Sinar mata pemuda ini amat tajam dan aneh, hampir setajam mata Siang In, akan tetapi kalau mata Siang In tajam lembut dan jujur, mata orang ini tajam akan tetapi mengandung gairah nafsu-nafsu yang mengerikan.
"Baik, kalian lihatlah, Ji-wi Siocia. Aku menghukum mereka karena kekurangajaran mereka. Kupenggal kepala mereka!"
Syanti Dewi terkejut bukan main melihat pemuda itu mencabut pedang dan dengan satu kali gerakan kilat, pedangnya itu berkelebat membacok ke arah leher dua orang itu.
"Wuuuttttt.... crak-crakkk!"
Dan leher dua orang itu terbabat putus, kepala mereka terpental dan darah muncrat-muncrat!
"Ihhh....!"
Syanti Dewi menjerit dan meloncat ke belakang dengan hati penuh kengerian. Akan tetapi Siang In memegang lengannya dan berbisik, suaranya berwibawa sekali.
"Tidak apa-apa, Enci. Lihat lagi baik-baik, badut itu hanya membohongi kita."
Syanti Dewi terheran, mengangkat mukanya dan benar saja. Dia melihat dua orang tadi masih berdiri dan tidak terjadi sesuatu dengan leher mereka! Pemuda itu tersenyum.
"Tang-pangcu, kami bukan anak kecil. Tidak perlu kau menipu, kami dengan sulapan yang hanya pantas kau pertunjukkan di pasar itu. Dan kami pun tidak ingin melihat dua ekor babi ini disembelih!"
Berkata demikian, Siang In menggerakkan tangan ke arah dua orang anak buah Liong-sim-pang itu dan kini pemuda itu terbelalak dan meloncat ke belakang karena tiba-tiba dia melihat dua orang pembantunya itu berubah menjadi dua ekor babi!
"Aihhhhh...., bukan main....!"
Dia lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya, kelihatan mengerahkan sinkang dan seluruh tenaga batinnya, barulah dia melihat dua orang pembantunya itu kembali menjadi manusia seperti biasa.
"Hebat....!"
Dia berseru lagi dan kini dia saling pandang dengan Siang In. Dia lalu menjura.
"Engkau hebat, Nona. Marilah kita naik ke puncak, kita bicara di sana. Ji-wi adalah tamu-tamu agung kami."
Akan tetapi Siang In menggeleng kepala.
"Terima kasih. Kami akan pergi saja"
"Mana bisa begitu, Nona? Bukankah kalian sudah naik sampai ke sini? Kemana lagi kalau bukan hendak mengunjungi Liong-sim-pang?"
Pemuda pesolek itu bertanya heran. Siang In menggeleng kepala dan berkata,
"Maaf, sesungguhnya bukan niat kami untuk mengunjungi Liong-sim-pang atau siapapun juga. Dari bawah bukit tadi kami mengira bahwa yang di atas itu adalah sebuah dusun atau kota, maka kami hendak mengunjunginya. Kemudian kami bertemu dengan orang-orangmu dan terjadi salah paham. Sekarang biarkan kami pergi dan kami akan menganggap Liong-sim-pang perkumpulan orang-orang gagah yang tidak suka mengganggu wanita."
Pemuda itu menjura dengan hormat.
"Maaf, Ji-wi Siocia. Mungkin orang-orangku telah berlaku lancang, akan tetapi sekali lagi aku mengundang kalian menjadi tamu kehormatan kami. Hari sudah hampir malam dan Ji-wi akan kemalaman di jalan. Maka sebaiknya bermalam ditempat kami ini."
Akan tetapi, bujukan ini tidak dapat menundukkan hati dua orang gadis itu. Dari pandang mata pemuda itu saja mereka sudah dapat menduga bahwa pemuda seperti ini tidak boleh dipercaya.
"In-moi, mari kita pergi saja,"
Syanti Dewi berkata.
"Pangcu, kami berterima kasih atas undangannmu, akan tetapi kami akan pergi saja. Selamat berpisah."
Pada saat itu, terdengar suara ketawa yang melengking panjang dan terkejutlah Siang In karena dia mengenal suara ini. Syanti Dewi juga terkejut karena ada suara ketawa akan tetapi tidak ada orangnya. Dia menoleh ke arah Siang In dan mengikuti arah pandangan mata temannya itu. Tampak olehnya ada asap hitam yang bergumpal-gumpal dan bergulung-gulung datang dari atas, kemudian setelah tiba di situ, asap itu membuyar dan tampaklah seorang nenek tua India yang berpakaian serba hitam, sudah tua sekali, berdiri di situ. Syanti Dewi terkejut karena dia pun mengenal nenek ini yang dulu merupakan pembantu dan guru mendiang Tambolon, raja liar yang sakti itu.
"Subo....!"
Siang In juga cepat memberi hormat dengan menjura ke arah nenek itu. Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan dengan jelas siapa adanya nenek ini. Seorang nenek India ahli sihir yang berilmu tinggi, isteri dari See-thian Hoatsu, yaitu guru Siang In. Oleh karena itu, Siang In menyebut subo (ibu guru) kepada nenek itu.
"Eh, eh, Subo, siapakah Nona ini dan mengapa menyebutmu Subo?"
Hwa-i-kongcu bertanya dengan heran, kaget dan juga girang.
"Ho-ho, dia itu adalah murid See-thian Hoatsu,"
Kata Si Nenek sambil tertawa sehingga mulutnya yang tidak ada giginya sama sekali itu terbuka seperti gua gelap.
"Aih, kiranya masih Sumoiku sendiri!"
Tang Hun berseru girang.
"Heh, bocah, siapa namamu? Aku sudah lupa lagi!"
Nenek itu dengan kata-katanya yang logatnya kaku bertanya.
"Teecu (Murid) Teng Siang In...."
"Oya, Siang In! Mana tua bangka gurumu itu? Biar kuketuk kepalanya, hoho!"
Durganini celingukan ke kanan kiri.
"Suhu sedang bertapa di Gua Tengkorak di Po-hai, Subo...."
"Hi-hik, dia, tentu akan mampus dan menambah jumlah tengkorak di sana."
Tiba-tiba dia memandang ke arah Syanti Dewi yang sejak tadi menunduk dengan jantung berdebar.
"Hei! Ini.... bukankah ini Puteri Bhutan itu?"
Siang In terkejut, tidak menyangka bahwa nenek itu mengenal Syanti Dewi. Memang Durganini seorang yang aneh, kadang-kadang pikun sekali, akan tetapi kadang-kadang ingatannya tajam.