Sebegitu jauh dia menyaksikan, hati Sin Cie panas, tetapi ia masih dapat berlaku sabar. Ia pikir tak boleh ia lancang mencampuri urusan yang ia belum tahu duduknya.
"Baik aku tunggu sebentar, nati aku minta bertemu dengan Un Ceng, untuk kembalikan uangnya, lantas aku pergi pula," pikirnya. Siapa tahu setelah lihat nasibnya si orang usia pertengahan, ia pun tampak bencana yang mengancam kedua pemuda tani itu, dengan mendadak saja ia ubah pikirannya. Lupa ia segala apa. Mendadak ia berlompat, dengan sangat sebat ia sambuti tubuhnya kedua petani muda itu hingga tak usahlah mereka jatuh terbanting! Kemudian dengan pelahan-lahan, ia turunkan tubuh mereka itu.
Gerak sebat dan luar biasa itu ada "Gak Ong Sin Ciang", atau "Panah gaib dari Gak Hui", ialah salah satu pelajaran yang Sin Cie peroleh dari Bhok Siang Toojin. Sebenarnya dia tak pikir untuk pertontonkan kepandaian yang istimewa itu, tetapi untuk tolong kedua pemuda tani, ia tak dapat berbuat lain. Ia pun sudah pikir setelah ketahui rumah si orang she Ung, baik sebentar malam saja ia datang pula, untuk kembalikan emasnya Un Ceng. Ia pun tahu, si jangkung-kurus akan jadi tidak senang, maka untuk singkirkan kerewelan, lantas ia memutar tubuh, akan bertindak pergi.
Kedua petani muda, yang ketolongan, berdiri bengong bahna kaget dan heran.
Si jangkung kurus tak terkecuali, ia heran dan kagumi kegesitan dan tenaga besar dari pemuda tak dikenal ini. Tapi kapan ia lihat orang hendak pergi, ia memburu.
"Sahabat, tunggu dulu!" menegur dia sambil tepuk pundaknya pemuda kita. Ia menepak bukan menepak belaka, berbareng ia telah gunai ilmu mengerahkan tenaga "Cian kin lat" -"Tenaga seribu kati".
Sin Cie tidak berkelit, cuma dengan turunkan sedikit pundaknya, ia sudah bebas dari tepakan yang akan merupakan bandulan seribu kati itu. Iapun tidak lakukan serangan membalas, Ia cuma memutar tubuh.
Kembali si jangkung-kurus terkejut.
"Apakah tuan ada undangan mereka itu untuk mempersulit aku?" tanya dia.
Ditanya begitu, Sin Cie lekas memberi hormat. "Maafkan aku," ia mohon. "Aku kuatir nanti terbit perkara jiwa, yang bisa membuat banyak berabe, maka dengan lancang aku tolongi mereka. Lauhia mempunyai kepandaian begini rupa, kenapa kau berpandangan sama seperti orang-orang dusun ini?"
Melihat sikap menghormat dan perkataan itu halus, sedang kepandaian orang pun ia puji, si jangkung-kurus ini surut separuh hawa-amarahnya.
"Kau she apa , tuan? Ada urusan apa kau datang ketempat kami ini?" ia tanya.
"Aku she Wan," Sin Cie sahuti. "Ada satu sahabatku yang she Un, apa dia tinggal disini?"
"Aku pun orang she Un. Siapa itu yang tuan cari?" "Sahabat itu berumur delapan atau sembilan belas tahun,
romannya cakap sekali, ia dandan sebagai mahasiswa," Sin
Cie terangkan.
Si jangkung-kurus manggut-manggut. Lantas ia hadapi beberapa puluh orang tani itu, yang masih belum bubaran.
"Apakah kamu cari mampus? Buat apa kamu masih berdiam disini?" ia tanya mereka, suaranya, sikapnya, bengis sekali.
Melihat orang asing itu bicara bagaikan sahabat dengan si orang she Un itu, sedang keduanya mereka ini berilmu silat tinggi, orang banyak itu lantas saja ngeloyor pergi.
"Silakan masuk, tuan. Mari minum teh!" si jangkung- kurus lantas undang tetamu asing itu.
Sin Cie terima baik undangan itu, ia turut masuk, maka ia dapati sebuah rumah jang besar, dengan thia jang lebar, dibagian tengah ia lihat pian dengan empat huruf besar : "Sie Tek Bian Tiang". Itu adalah pujian untuk kebijaksanaan kekal-abadi bagi keluarga itu. Perabotan lainnya menunjukkan bahwa keluarga Un ada satu keluarga besar dan berharta.
Tuan rumah undang tetamunya duduk dan orangnya segera suguhi mereka air teh, kemudian ia tanya siapa gurunya tetamu ini, menanya secara berulang-ulang.
Sin Cie merasa, walau sikapnya ramah-tamah, tuan rumah itu masih kandung perasaan tak puas terhadapnya, dari itu, ia berlaku hati-hati.
"Tolong minta Un Ceng Siangkong keluar, aku hendak serahkan serupa barang kepadanya," ia minta tanpa jawab pertanyaan orang.
"Un Ceng itu ada adikku," sahut si jangkung-kurus. "Aku sendiri ada Un Cheng. Adikku sedang pergi keluar, baik saudara tunggu sebentar."
Sebenarnya tak ingin Sin Cie bergaul dengan tuan rumah ini, yang ia duga ada bangsa cabang atas yang galak dan jahat, tetapi karena Un Ceng tidak ada, terpaksa ia menunggu juga.
Sampai tengah-hari, Un Ceng masih belum kembali. Tak suka Sin Cie serahkan emas ditangan orang lain, terpaksa ia menunggu terus. Selama itu, Un Cheng telah perintah siapkan barang hidangan yang lezat, terdiri dari masakan daging, ayam, ikan dan sayur, hingga mau atau tidak, tetamu ini mesti turut dahar.
Sampai mulai lohor, selagi matahari mulai doyong ke Barat, masih Un Ceng belum pulang. Sampai itu waktu, habis sudah kesabaran Sin Cie. Ia lantas letaki bungkusannya diatas meja. Sekarang ia pikir, karena itu ada rumahnya Un Ceng, tak perlu ia bersangsi pula. "Inilah barang adikmu itu, tolong saudara sampaikan kepadanya," ia bilang. "Ijinkan aku pamitan. "
Justru itu, dari luar rumah terdengar suara tertawa riuh, suaranya orang-orang perempuan. Sin Cie kenali, diantaranya ada suara tertawanya Un Ceng.
"Nah, itu adikku pulang!" berkata Un Cheng, yang segera berbangkit, untuk pergi keluar.
Sin Cie putar tubuhja, untuk turut, tetapi tuan rumah mencegah.
"Harap saudara Wan duduk saja dulu," ia minta.
Sin Cie heran, akan tetapi ia batal ikut keluar. Aneh, ia menunggu sekian lama, tidak juga Un Ceng muncul. Un Cheng adalah yang kembali sendirian.
"Adikku hendak salin pakaian, sebentar ia keluar," kata tuan rumah ini.
Masih pemuda ini menantikan sekian lama, Baru kelihatan Un Ceng muncul, dengan wajah berseri-seri.
"Saudara Wan, aku sangat bersyukur dengan kunjunganmu ini!" katanya.
"Kau lupai barang ini, saudara Un, aku bawakan," bilang Sin Cie. Ia tunjuk bungkusan emas diatas meja.
"Kau tak lihat mata padaku, bukan?" Un Ceng tanya, tampangnya berubah.
"Tidak, itulah aku tak berani," sahut Sin Cie. "Aku hendak pergi sekarang."
Ia memberi hormat kepada dua saudara itu.
Un Ceng tidak membalas hormat, ia hanya cekal tangan baju orang. "Aku larang kau pergi!" katanya. Pemuda itu melengak.
Un Cheng nampaknya heran, wajahnya pun berubah.
"Ada satu hal aku hendak tanyakan kepada kau, Wan Toako," Un Ceng, menambahkan. "Maka aku harap hari ini kau berdiam sama kami disini."
"Aku mempunyai urusan penting di kota Kie-ciu, lain hari saja aku mampir pula kemari," Sin Cie menampik.
"Ah, tidak," Un Ceng mencegah, dengan memaksa. "Kalau Wan toako mempunyai urusan penting, tak dapat
kita halangi dia," Un Cheng turut bicara. "Jangan kita
menghambat dia."
"Baik!" kata Un Ceng akhirnya. "Jikalau kau tetap hendak pergi, bawalah ini bungkusan bersamamu! Kau tak sudi berdiam di rumahku, terang kau tak pandang mata kepadaku!"
Sin Cie berdiam.
"Kau baik sekali, saudara Un,baiklah," sahut ia akhir- akhirnya.
Dengan tiba-tiba, Un Ceng jadi sangat girang. "Lekas siapkan kue!" ia menitah kepada bujang.
Un Cheng nampaknya tak senang, tetapi ia tidak meninggalkan mereka, ia terus duduk menemani, hanya selama itu, ia bicara kadang-kadang saja.
Un Ceng ajak tetamunya bicara tentang pelbagai kitab. Mengenai ilmu syair, Sin Cie merasa asing, tapi mengenai ilmu perang, itu adalah keyakinannya sejak masih kecil. Tuan rumah bisa imbangi kegemaran tetamunya, ia lantas omong banyak tentang peperangan.
228 "Heran," pikir Sin Cie. "Dia bertabeat aneh akan tetapi pembacaannya luas."
Dipihak lain, Un Cheng beda dari adiknya itu. Dia mengerti ilmu silat dengan baik akan tetapi budek atau buta mengenai ilmu surat. Nampaknya ia sebal mendengari orang bicara hal sastera tetapi toh ia tidak hendak undurkan diri... Karena merasa tak enak hati sendirinya, Sin Cie ajak si jangkung-kurus itu bicara tentang ilmu silat, suka dia melayani, akan tetapi belum mereka bicara banyak, Un Ceng sudah lantas menyelak dan geser pembicaraan ke lain soal.
Dimata Sin Cie, dua saudara itu beda satu dari lain. Dan juga, walaupun Un Cheng ada sang kakak, nampaknya dia jeri terhadap adiknya, sama sekali dia sungkan bentrok. Malah kalau kena disenggapi, kakak ini tertawa....
Sementara itu juga kelihatan nyata, Un Ceng bermaksud baik, kecuali sangat ramah-tamah, dia senantiasa berseri- seri, dia gembira sekali.
Kapan sang sore tiba, orang menghadapi pula barang hidangan, kali ini, semua-semua ada lebih hebat daripada yang disuguhkan tadi tengah hari.
"Aku merasa lelah, ingin aku tidur siang-siang," kata Sin Cie sehabis bersantap.
"Tempat kediamanku ini ada satu tempat kecil, maka adalah sukar untuk mendapat kunjungan tetamu sebagai kau ini, saudara Wan," berkata Un Ceng. "Sebenarnya aku ingin sekali kita menghadapi lampu untuk pasang omong tentang pelbagai soal, tetapi sebab kau lelah dan ngantuk, baiklah, besok saja kita bicara lebih jauh."
"Saudara Wan, mari tidur dikamarku," berkata Un Cheng. "Dikamarmu mana bisa ketempatan tetamu?" kata Un Ceng. "Tentu saja kamarku!"
Wajah Un Cheng, sang kanda, berubah. "Apa?" tegasi dia.
"Ada apa sih jeleknya?" Un Ceng tanya. "Aku sendiri akan tidur sama ibu!"
Bukan kepalang tak senangnya Un Cheng, tetapi tanpa bilang suatu apa, malah tanpa permisi lagi dari Sin Cie, dia ngeloyor pergi.
"Hm, tak tahu aturan!" Un Ceng , sang adik, ngoceh sendirian. "Dia tak kuatir orang nanti tertawai!"
Tak enak hatinya Sin Cie karena engko dan adik itu bentrok karena urusannya.
"Sudah biasa bagi aku akan tinggal ditempat sunyi, untukku tak usah saudara terlalu memusinginya," kata dia.
Un Ceng lantas saja bersenyum.
"Baik, aku tak akan terlalu memusingi!" katanya. Tapi toh ia sembat ciaktay, ia bawa itu : "Mari turut aku!"
Sin Cie mengikuti. Mereka melewati dua pekarangan dalam, sampai diruangan ketiga dimana dari arah timur mereka mendaki tangga lauteng. Dimuka kamar, tuan rumah menolak daun pintunya.
Sekelebatan, mata Sin Cie kesilauan. Hidungnya pun segera terserang serupa bau harum.
Kamar itu diterangi sebatang lilin besar, yang apinya terang. Kelambu terbuat dari kain mahal, sedang sprei tersulam burung hong warna kuning. Ditembok ada gambar seorang wanita lukisannya Tong In. Didepan pembaringan ada satu meja yang lengkap dengan bakhie, kertas dan lainnya perabot-tulis, malah pitnya sampai enam-tujuh batang. Diujung meja sebelah barat ada satu pot bunga sui- sian, sedang diatas para-para ada seekor burung nuri putih.
Dia datang dari gunung, tak heran Sin Cie kagum dengan kamar ini, hingga ia tercengang.
"Inilah kamarku," Un Ceng beritahu. Ia tertawa. "Baik saudara beristirahat disini satu malam ini."
Tanpa tunggu tetamunya menyahuti, Un Ceng singkap muilie, akan berlalu pergi.