Tubuh Bi Lan terbanting, biarpun tidak keras akan tetapi pinggulnya terasa pegal juga karena tubuhnya memang lemah. Karena ia sudah kehabisan tenaga, maka ketika pondongan itu dilepaskan, ia terbanting.
"Hemm, kau berani membanting aku, ya? Awas kau, kalau sudah sembuh, akan kuhajar kau!"
Bi Lan semakin marah dan dengan pedang masih di tangan kanan, ia menggunakan tangan kirinya mengusap-usap pinggul yang tadi menimpa tanah berbatu yang keras.
"Ah, maaf.... bukankah kau yang minta agar aku melepaskanmu, nona?"
Karena memang demikian keadaannya dan pihaknya memang keliru, Bi Lan hanya mengomel,
"Kau memang laki-laki kurang ajar sekali!"
Hong Beng memandang wajah yang cemberut itu dengan bingung. Bukan main cantik dan manisnya wajah cemberut itu tertimpa sinar bulan yang redup terang kehijauan.
"Nona, aku datang dan melihat engkau dikeroyok, maka aku segera turun tangan membantumu, dan karena mereka tadi mengejar, engkau kularikan sampai di sini dan sekarang kau sudah aman. Akan tetapi, kenapa engkau malah menodongku dan marah-marah kepadaku?"
"Siapa menyuruh engkau memondongku seperti itu!"
Bentak Bi Lan, hatinya masih panas karena malu mengenangkan betapa tadi ia dipondong seperti anak kecil dan dilarikan.
"Tapi.... tapi.... bagaimana aku akan dapat menyelamatkanmu kalau tidak memondongmu?"
Hong Beng membantah sambil mengerutkan alisnya karena dia mulai merasa marah juga. Sungguh seorang gadis yang tidak mengenal budi, sudah ditolong malah marah-marah dan menyalahkannya!
"Sedikitnya engkau bisa minta ijin dulu apakah aku suka atau tidak kau pondong. Enak saja memondong orang semaunya. Huh, dasar laki-laki tak mengenal sopan santun!"
Bi Lan menggigit bibir menahan rasa nyeri di pundaknya, lalu mengomel lagi,
"Sudah begitu masih membanting aku lagi, sudah tahu bahwa aku terluka. Laki-laki kejam dan tidak berperikemanusia-an!"
Bi Lan mendengar tentang sopan santun, tentang perikemanusiaan dan sebagainya itu selama ia menjadi murid Pendekar Naga Sakti. Hong Beng merasa betapa mukanya menjadi panas. Dia merasa terpukul, malu dan juga penasaran. Dia malu karena bagaimanapun juga, dia teringat bahwa memang tidak pantas seorang laki-laki seperti dia memondong tubuh seorang gadis tanpa perkenan si pemilik tubuh, akan tetapi dia juga merasa penasaran karena selama hidupnya baru satu kali ini dia bertemu dengan orang yang begini tidak mengenal budi.
"Maafkan, nona, maafkan semua kelancanganku,"