Si Tangan Sakti Chapter 46

NIC

Dia tidak tertawa lagi, juga sinar matanya tidak liar dan mulut-nya, tidak mengandung senyum iblis.

Dia nampak tenang dan termenung berdiri memandang ke arah dua mayat suheng dan sucinya yang telah dibunuhnya.

Pikir-annya bekerja, penuh kelicikan.

Dia su-dah berhasil membunuh ketua dan wakil ketua Thian-lipang.

Hanya ada satu lagi pengganjal yang akan menjadi penghalang dia memimpin Thian-lipang, yaitu guru-nya sendiri, Lauw Kang Hui! Kakek itu tentu tidak akan tinggal diam kalau men-dengar betapa kedua orang murid ter-sayang itu tewas, apalagi kalau tahu bahwa dia membunuh mereka, pikirnya.

Kalau penghalang yang tinggal seorang ini disingkirkan, siapa lagi yang akan berani dan mampu menghalanginya men-jadi ketua Thian-li-pang" Tak lama kemudian, di pagi hari buta itu, dia sudah mengetuk pintu kamar Lauw Kang Hui.

Seperti biasa, kakek ini sejak pagi sekali sudah terbangun dan sudah duduk samadhi.

Mendengar ketuken pintu, hatinya merasa tidak senang.

Siapa berani demikian lancangnya mengganggu samadhinya di pagi hari seperti itu" "Siapa?" tanyanya, suaranya halus namun mengandung ketidaksabaran karena merasa terganggu.

"Suhu, teecu ingin melaporkan hal yang amat penting dan gawat!" terdengar suara Seng Bu dari luar, juga lirih akan tetapi dapat didengar jelas oleh orang pertama Thian-li-pang itu.

"Masuklah, pintunya tidak terkunci." kata Lauw Kang Hui.

Seng Bu masuk dan berlutut di depan gurunya.

"Seng Bu, ada apakah engkau sepagi ini menggangguku dari samadhi?" "Maaf, Suhu.

Telah terjadi sesuatu dengan suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin.

Marilah Suhu tengok sendiri dan melihat keadaan mereka.

"Hemmm, ada apa dengan mereka?" "Mereka....

ahhh, teecu khawatir sekali, Suhu.

Marilah, kita ke sana dan Suhu melihat sendiri!" kata Seng Bu sam-bil bangkit dan keluar dari kamar itu.

Tentu saja Lauw Kang Hui menjadi heran dan tertarik, lalu dia bangkit dan mengikuti muridnya.

Dia menjadi semakin heran ketika muridnya itu pergi ke tem-pat sunyi yang dikeramatkan, yaitu di daerah yang terdapat sumur yang dahulu dipakai sebagai tempat menghukum kakek Ciu, yaitu mendiang supeknya (uwa guru-nya).

Lauw Kang Hui mengerutkan alisnya.

"Seng Bu, kenapa engkau mengajakku ke tempat ini?" Dia merasa tidak enak juga melihat ke arah dua buah sumur itu, yang sebuah tertimbun batu, yang sebuah lagi tersembunyi di balik semak belukar dan tempat ini merupakan tempat yang mengerikan.

"Lihatlah, Suhu." kata Seng Bu dan dia berhenti tak jauh dari semak yang menyembunyikan sumur ke dua yang masih belum ditimbuni apa-apa.

Lauw Kang Hui menghampiri dan dia terbelalak memandang kepada tubuh dua orang muridnya yang rebah telentang dengan muka, leher dan tangan meng-hitam seperti arang! Kakek itu mengeluarkan suara ter-tahan, berjongkok untuk memeriksa mereka, makin heran dan terkejut ketika mendapat kenyataan.

bahwa mereka tewas oleh pukulan beracun yang tidak dikenal-nya.

"Apa yang telah terjadi" Siapa yang telah membunuh mereka?" tanyanya sam-bil berdiri dan memandang Seng Bu de-ngan muka agak pucat dan mata ter-belalak.

Dan tiba-tiba dia melihat perubahan pada wajah yang tampan itu.

Sepasang mata pemuda itu mencorong liar, dan senyum aneh berkembang di bibirnya, senyum iblis! "Mereka mengajak teecu berlatih silat dan mereka roboh terpukul oleh teecu," katanya dengan nada suara mengejek walaupun kata-katanya masih menghormat.

Sepasang mata kakek itu semakin dilebarkan dan dia mengamati muridnya itu dari kepala sampai ke kaki.

"Tidak mungkin! Engkau tidak akan mampu me-ngalahkan mereka, apalagi memukul mati seperti ini!" "Hemmm, kalau Suhu tidak percaya, boleh Suhu buktikan sendiri.

Apalagi mereka, Suhu pun tidak akan mampu menandingiku dan aku dapat membunuh-mu dengan mudah." Tentu saja kakek itu menjadi marah bukan main.

"Engkau telah gila!" teriak-nya marah.

"Dan engkau akan mati bersama me-reka!" kata Seng Bu dan dia pun kini sudah menggerakkan kaki tangannya me-nyerang gurunya sendiri.

Lauw Kang Hui kini sudah menjadi marah sekali.

Dua orang muridnya tersayang tewas, padahal mereka baru saja dia angkat menjadi ketua dan wakil ketua.

Kalau tadinya dia masih tidak percaya bahwa Seng Bu yang membunuh mereka, bukan saja karena dia tahu betapa tingkat kepandaian Seng Bu masih kalah dibandingkan Lu Sek juga tidak ada alasan mengapa pemuda ini harus membunuh suci dan suhengnya, kini tiba-tiba dia teringat.

Ketua dan wakil ketua dibunuh! Ini berarti bahwa Seng Bu merasa iri dan ingin merebut kedudukan ketua! Akan tetapi, dia tidak sempat berpikir lagi karena melihat Seng Bu berani menyerangnya, dia cepat mengerahkan tenaga dan menangkis, dengan maksud sekali tangkis dapat merobohkan dan menangkap murid yang agaknya tiba--tiba menjadi gila itu.

"Dukkk....!!" 144 Lauw Kang Hui mengeluarkan gereng-an kaget dan marah ketika benturan lengan itu membuat dia terhuyung ke belakang! Seng Bu sendiri hanya tergetar saja, namun dapat mempertahankan kuda--kudanya.

Ini tidak mungkin, pikirnya! Akan tetapi, pemuda itu menyeringai dan kini melakukan gerakan yang aneh, lalu menerjang lagi ke depan, tangan kirinya menyambar.

Hawa pukulan yang panas sekali menerjangnya! Kakek itu cepat menyambut dengan kedua tangannya.

"Desss....!!" Dan sekali ini, dia ter-jengkang! Sambil mengerahkan seluruh tenaganya, Lauw Kang Hui meloncat bangun berdiri dan memandang kepada murid itu dengan mata hampir tidak percaya.

Ilmu....

siluman apakah itu....?" Saking herannya, dia bertanya, keheranan yang melampaui kemarahannya.

"Ha-ha-heh-heh-heh, Suhu, engkau selalu memuji-muji Yo Han dengan ilmu Bu-kek Hoatkeng! Nah, inilah Bu-kek Hoat-keng! Bukan hanya Yo Han yang menguasainya, aku pun telah menguasai-nya dan kalau dia berani muncul, akan kuhancurkan kepalanya.

Sekarang, ber-siaplah untuk menemani suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin!" Lauw Kang Hui marah bukan main dan dia pun mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kepandaiannya, bah-kan melakukan gerakan ilmu silat Tok-jiauw-kang dan Kiamciang yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Maklum bahwa kalau dia mengandalkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari kakek itu, dia tidak mungkin akan menang, maka Seng Bu segera memainkan ilmunya yang di-dapat dengan rahasia di dalam sumur, yaitu ilmu Bu-kek Hoat-keng yang di-pelajarinya secara ngawur dan terbalik--balik.

Dan memang hebat bukan main ilmu ini.

Ilmu Bu-kek Hoat-keng yang aselinya, seperti yang dikuasai Yo Han, sudah merupakan ilmu ajaib, memiliki daya atau pengaruh yang aneh, yaitu selain gerakannya aneh dan lihai, me-ngandung tenaga sin-kang yang amat kuat, kalau ada lawan, betapapun lihai-nya, menyerang dengan kemarahan dan kebencian dalam hati, maka serangan itu akan membalik dan menghantam si penyerang sendiri! Kini, ilmu aneh yang dipelajari secara ngawur dan terbalik oleh Seng Bu itu, memberinya ilmu yang luar biasa kejamnya, walaupun pengaruh ilmu itu membalik kepada dirinya, mem-buat dia kalau sedang kumat seperti orang gila, atau lebih tepat seperti iblis sendiri.

Lauw Kang Hui adalah seorang datuk yang sudah memiliki tingkat tinggi dalam ilmu silat.

Jarang ada tokoh mampu menandinginya.

Akan tetapi sekarang, bertanding mati-matian melawan murid-nya sendiri, dia mulai terdesak setelah mampu bertahan sampai lima puluh jurus.

Kedua lengan sudah terasa panas seperti dibakar setelah beberapa kali bertemu dengan lengan Seng Bu.

Dia merasa me-nyesal, mengapa tadi tidak membawa golok besar, senjata andalangya.

Sejak melepaskan kedudukan ketua Thian-li--pang dan bersamadhi, dia sudah menyingkirkan golok itu, maka tadi ketika pergi ke tempat ini, dia pun tidak membawa senjata.

"Heh-he-heh, Lauw Kang Hui, seka-rang engkau mati!" kata Seng Bu, sikap-nya sama sekali berubah dan tidak lagi menyebut suhu.

Lauw Kang Hui menjadi nekat dan dia pun mengerahkan seluruh tenaganya, menerjang ke depan.

"Hyaaaaattt....!!" bentaknya dan suara gerengannya seperti seekor binatang buas yang terluka.

145 Seng Bu tersenyum mengejek.

Ketika kedua tangan gurunya yang mendorong itu meluncur ke arah dadanya, tiba-tiba dia merendahkan diri hampir berjongkok sehingga kedua tangan Lauw Kang Hui menyambar lewat atas kepalanya dan pada detik itu juga, tangan kiri Seng Bu sudah mencuat ke depan, menghantam dengan telapak tangannya ke arah dada Lauw Kang Hui.

"Hukkk....

!!" Mata kakek itu melotot, punggungnya melengkung dan dia pun terbanting ke belakang, terjengkang.

"Kau....

Kau...." Suaranya terhenti ka-rena dia muntah darah, tubuhnya ber-kelojotan sebentar, matanya mendelik memandang Seng Bu dan akhirnya dia tidak bergerak lagi, kulit tubuhnya ber-ubah menghitam seperti dibakar sampai hangus! Kembali Seng Bu mengeluarkan suara tawa yang mengerikan itu sambil berdiri memandang tiga buah mayat yang ha-ngus.

Tiba-tiba sikapnya berubah lagi, termenung dan pendiam, dan segera dia lari ke perkampungan Thian-li-pang, dan dipukulnya kentungan tanda bahaya de-ngan gencar.

Tentu saja para anggauta Thian-li-pang terkejut.

Bahkan yang masih tidur, segera terbangun dan mereke ber-lari-larian menuju ke gardu di mana Seng Bu memukuli kentungan dengan gencar seperti orang kesetanan.

Posting Komentar