Akan tetapi, bayangan khayal menye-ramkan itu membuyar ketika ia men-dengar suara sutenya, "Lu-suci, aku su-dah menunggumu sejak tadi." "Ouw-sute, kenapa tergesa-gesa" Ma-tahari juga belum muncul, baru nampak sinarnya saja." "Suci, latihan kedua ilmu simpanan dari suhu ini merupakan ilmu yang hanya diajarkan kepada kita berdua.
Murid lain tidak boleh mempelajarinya, bahkan su-heng Lauw Kin juga tidak diajari kedua ilmu itu.
Maka, sebaiknya kalau kita latihan secara tersembunyi.
Di tempat ini sunyi, juga pagi-pagi seperti ini, be-lum ada anggauta Thian-li-pang yang keluar.
Amat baik kalau kita berlatih sekarang, Suci.
Aku ingin agar dapat menguasai Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang sepenuhnya.
Agar aku dapat paham benar, sebaiknya kalau kita melatih dua macam ilmu itu sekaligus.
Bagaimana, Suci?" "Baiklah.
Akan tetapi kita harus ber-hati-hati.
Kedua macam ilmu pukulan ini amat berbahaya dan dapat mendatangkan luka beracun atau bahkan kematian.
Kita tidak boleh kesalahan tangan.
Nah, aku sudah siap, engkau mulailah!" kata Lu Sek sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.
Ouw Seng Bu tersenyum dan kembali Lu Sek merasa bulu tengkuknya meremang dan terasa dingin.
Senyum itu sungguh aneh dan tidak wajar, seperti senyum iblis! "Suci sambutlah seranganku ini!" Tiba-tiba Seng Bu menyerang dengan pukulan tangan miring dan terdengar suara bersiut dibarengi angin dahsyat.
Itulah Kiam-ciang (Tangan Pedang).
Ilmu ini membuat tangan yang memukul itu seperti sebatang pedang saja, dapat membuntungi anggauta badan lawan, bahkan dapat menyambut senjata tajam lawan seperti sebatang pedang! Melihat betapa pukulan yang menyambar itu amat dahsyat, Lu Sek cepat mengelak.
Akan tetapi begitu tangan kiri Seng Bu yang menyambar itu luput, tangan kanannya sudah meluncur ke arah dada sucinya dan ketika terpaksa Lu Sek menangkis serang- mencengkeram.
Kembali ada angin menyambar dan itulah sebuah jurus Tok- jiauw-kang yang amat ampuh! "Ihhh....!!" Lu Sek berseru kaget "Sute, gerakanmu sudah hebat," dan karena serangan sutenya ini benar-benar amat kuat ia berseru kaget, akan ter-amat berbahaya, juga tidak sopan karena mencengkeram ke arah dadanya tapi kembali ia merasa ngeri melihat.
sutenya.
Sinar mata sutenya yang demikian aneh, Tidak begitu seharusnya dalam latihan.
Tidak sopan namanya.
Akan tetapi masih menganggap bahwa sutenya tidak sengaja, maka ia pun cepat mengelak lalu balas menyerang dengan Kiam-ciang yang dikombinasikan dengan cengkeraman -Tok-jiauw-kang.
Akan tetapi tentu ia menahan dan membatasi tenaganya agar jangan sampai melukai sutenya yang ia tahu belum begitu sempurna menguasai kedua ilmu itu! Akan tetapi, semua serangannya ternyata dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Seng Bu, dan pemuda itu membalas lagi semakin lama semakin dasyat! "Duk-duk-plakkk!" tiga kali beruntun kedua tangan mereka saling bertemu ketika terpaksa Lu Sek menangkis serangan sutenya yang amat dasyat, dan karena ia membatasi tenaganya, akibatnya ia terdorong dan terhuyung ke belakang.
"Sute, gerakanmu sudah hebat dan amat kuat!" Ia berseru kaget, akan tetapi kembali ia merasa ngeri melihat sinar mata sutenya yang demikian aneh,mencorong dan senyumnya semakin menakutkan.
Bahkan tanpa mengeluarkan kata apa pun, sutenya kini meloncat ke depan dan menerjang lagi dengan dasyat.
Lu Sek semakin kaget.
Sutenya nyerangnya dengan Kiam-ciang atau Tok-jiauw-kang, akan tetapi dengan tenaga yang dahsyat dan sama sekali bukan orang yang sedang mengajaknya berlatih.
Sutenya menyerangnya seperti orang yang berkelahi, menyerang sungguh-sungguh, dengan pukulan-pukulan maut! Terpaksa ia mengerahkan tenaganya untuk me-mukul mundur sutenya.
Ketika sutenya memukul ke arah dadanya dengan Kiam-ciang, ia pun mengerahkan seluruh te-naga dan menangkis dengan gerakan Kiam-ciang pula.
"Wuuuttt....
desss....!!" Dua tenaga bertemu melalui pukulan tangan miring dan akibatnya, tubuh Lu Sek terjengkang dan tentu ia terbanting roboh kalau saja tidak cepat membuat gerakan bergulingan.
Ketika ia meloncat bangun, ia merasa napasnya agak sesak dan ia memandang kepada sutenya dengan mata terbelalak.
"Sute, kau...." "Lu-suci, kita belum selesai latih-an.
Sambut seranganku ini!" katanya dan tanpa memberi kesempatan lagi kepada Lu Sek, Seng Bu sudah menerjang lagi dengan pukulan kombinasi antara Kiam--ciang dan Tok-jiauw-kang (Cakar Beracun).
"Hemmm....!" Kini Lu Sek menjadi marah.
Kiranya sutenya ini benar-benar hendak memamerkan kepandaiannya dan biarpun ia terkejut menyaksikan kemaju-an sutenya, namun ia merasa lebih ung-gul dan ia pun tidak mau kalah.
Apalagi, ia adalah menjadi ketua Thianli-pang.
Bagaimana ia sampai dapat dikalahkan seorang pembantunya, juga sutenya yang minta petunjuk dalam ilmu silat darinya" Lu Sek kini mengerahkan seluruh tenaga-nya dan memainkan kedua ilmu itu se-baik mungkin.
Terjadilah serang-menyerang yang hebat dan seru.
Memang harus diakui oleh Seng Bu bahwa dalam hal penggunaan kedua ilmu itu, dia masih kalah mahir dibandingkan sucinya.
Kalau dia hanya mempergunakan kedua ilmu itu tanpa menambah tenaga mujijat yang dihimpunnya melalui latihan ilmu rahasia Bu-kek-hoat-keng, jelas dia tidak akan mampu menandingi sucinya.
Akan tetapi, setiap kali beradu lengan, diam-diam dia mengerahkan tenaga mujijat itu dan se-lalu sucinya terpental dan terhuyung ke belakang.
Karena kalah tenaga, maka Seng Bu dapat menutupi kekalahannya dalam kemahiran memainkan kedua ilmu itu, bahkan kini dia yang mendesak he-bat! "Desss....!!" Kembali kedua tangan mereka saling bertemu dan kembali Lu Sek terpental dan terjengkang, dengan dada terasa makin sesak.
Dan pada saat itu, Seng Bu sudah meloncat ke depan dan mengirim tamparan susulan dengan Kiam-ciang ke arah kepala sucinya yang masih belum sempat bangun.
"Sute, kau....!" Lu Sek mengangkat tangan menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Plakkk!" Tubuhnya terdorong dan bergulingan, dan dari mulutnya keluar darah, dadanya terasa nyeri.
"Ouw-sute, apa yang kaulakukan ini?" bentak Lauw Kin yang tiba-tiba sudah berada di situ.
Melihat tunangannya ter-desak bahkan muntah darah, tentu saja Lauw Kin terkejut dan marah sekali.
Dia memang sudah merasa curiga kepada Seng Bu kemarin, maka pagi ini dia se-ngaja datang ke tempat itu untuk me-lihat keadaan tunangannya.
Dan ternyata kekhawatirannya terbukti.
Dalam berlatih melawan Seng Bu, agaknya tunangannya terluka, dan latihan itu agaknya menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh.
"Dia....
dia menjadi gila....!" kata Lu Sek yang sudah dapat bangkit kembali.
"Ouw-sute, apa yang kaulakukan ini" Kenapa engkau melukai.
ketua kita?" kembali Lauw Kin menegur Ouw Seng Bu dengan alis berkerut.
Tiba-tiba Seng Bu tertawa dan kedua orang itu saling pandang, merasa ngeri.
Itu bukan tawa manusia waras! Mirip tawa iblis, atau tawa orang sinting.
"Heh-heh-ha-ha-hah....! Engkau boleh maju sekalian, Lauw-suheng.
Atau engkau tidak berani" Takut berlatih melawan sutemu seperti Lu-suci" Heh-heh-heh, ketua dan wakil ketua Thian-li-pang be-gini pengecut! Sungguh tidak pantas!" Lauw Kin dan Lu Sek terbelalak, ter-kejut dan heran, akan tetapi juga marah sekali.
Gila atau tidak, Ouw Seng Bu ini sungguh merupakan seorang murid yang murtad! "Ouw-sute, sadarlah! Sudah gilakah engkau?" bentak Lu Sek marah, akan tetapi karena ia tadi melihat kenyataan betapa lihai sutenya ini, ia kini sudah siap waspada dan sudah meraba gagang pedangnya, sedangkan Lauw Kin meraba gagang goloknya.
"Ha-ha-ha, berani atau takut, tetap saja aku akan menyerang kalian! Nah, sambutlah ini!" Dia sudah menyerang lagi dengan tamparan-tamparan Kiam-ciang.
Karena maklum betapa serangan itu amat berbahaya, Lu Sek meloncat ke belakang, diikuti Lauw Kin dan mereka kini sudah mencabut pedang dan golok.
"Ouw-sute, sadarlah! Atau terpaksa kami akan menghadapimu dengan senjata.
Engkau dapat merupakan bahaya besar bagi Thian-li-pang kalau tidak mau sadar dan berubah gila!" Ouw Seng Bu tersenyurn dan sekali ini bukan hanya Lu Sek yang merasa ngeri, juga Lauw Kin memandang dengan terbelalak karena dia pun tidak lagi me-ngenal sutenya dengan senyum seperti itu.
"Kalian mencabut senjata" Bagus, ba-gus! Kesempatan bagiku untuk menguji ke-pandaianku sendiri.
Nah, sambutlah serang-anku dengan senjata kalian, heh-heh-heh!" Sambil tertawatawa Ouw Seng Bu sudah menyerang lagi, akan tetapi kedua orang kakak seperguruannya itu terkejut dan ter-heran bukan main karena kini gerakan sute mereka itu sama sekali berlainan dengan gerakan ilmu silat yang pernah mereka pe-lajari.
Gerakan itu aneh sekali dan nampak-nya seperti gerakan yang kacau, gerakan pesilat yang mungkin gila! Karena mak-lum betapa besar bahayanya kalau sute yang gila ini dibiarkan saja, Lu Sek su-dah meloncat ke depan menyambut se-rangan itu dengan pedangnya, dengan maksud merobohkan sutenya, menangkap atau kalau perlu membunuhnya.
Lu Sek yang memiliki gerakan ringan dan cepat itu, sudah memutar pedang dan meloncat ke depan, menyambut ge-rakan kedua tangan sute yang seperti hendak mencakar itu dengan sambaran pedangnya! "Wuuut....
singgg....! Krakkk....!" Pedang itu bertemu dengan jari tangan kanan Seng Bu dan pedang itu patah--patah, kemudian tangan kiri Seng Bu menampar ke depan dengan jari tangan terbuka, bukan gerakan Kiam-ciang, me-lainkan gerakan aneh.
Angin yang panas sekali menyambar ke arah dada Lu Sek dan wanita itu mengeluarkan jerit ter-tahan, tubuhnya roboh dan tak bergerak lagi.
Ketika Lauw Kin memandangnya, dia terbelalak dengan wajah pucat me-lihat betapa tunangannya itu telah tewas dalam keadaan tubuh menghitam seperti hangus terbakar! 142 "Kau....
jahanam....
kau membunuh-nya....!" Lauw Kin menjadi marah dan sedih sekali.
Dengan nekat dia maju menggerakkan goloknya, menerjang maju dan menyerang Seng Bu dengan cepat sekali.
"Bagus, memang engkau harus pergi untuk selamanya agar tidak menjadi peng-halang bagiku!" bentak Seng Bu dan dia menyambut golok itu dengan kedua ta-ngannya.
Tangan kirinya begitu saja, dengan jari terbuka, menerima golok itu dan mencengkeramnya.
Bukan main hebatnya jari-jari tangan itu karena begitu kena dicengkeram, golok itu pun patah--patah dan remuk! Kemudian, tangan ka-nan Seng Bu sudah memukul ke depan.
Dada Lauw Kin terkena tamparan itu dan dia pun terjengkang dan tewas se-ketika di dekat mayat tunangannya de-ngan tubuh hangus pula.
Ouw Seng tertawa bergelak seperti seekor binatang buas, akan tetapi hanya sebentar karena kemudian sikapnya itu berubah kembali.