Ia menghentikan kata-katanya sembari tersenyum penuh arti. Hadirin yang tengah pasang kuping mendengar perca kapan ini dengan cermat, melihat ia mendadak menghentikan kata-katanya, seketika banyak yang menjadi ribut dan menimbrung.
"Akan tetapi apa? Kenapa kau tidak segera coba turun ke air?"
Sepasang mata ibun Hoat yang bersinar tajam menerawang ke meluruh hadirin, mulutnya lantas berteriak.
"Ya. kenapa Peksto-cu tidak segera mencobanya."
Ham- kang it-to Pek su-in tertawa dingin, katanya sambil melebarkan tangan.
"
Kalian bersitegang leher begini, siapa yang berani terjun menempuh bahaya."
"Terjun menempuh bahaya?" "Coba pikirkan, suhu dingin air rawa ini dapat membekukan darah, mengeraskan tulang menghancurkan nadi, bagi orang yang berani terjun meski betapapun kuat pertahanannya, setelah keluar dari air tentu akan kehilangan hawa murni dan kehabisan tenaga, bocah umur tiga tahunpun gampang saja dapat mencabut jiwanya, apalagi....Hahaha Pek su in bukan seorang goblok masa harus melakukan pekerjaan orang bodoh Hahaha... .."
Gelak tawanya kumandang mengguntur menggetarkan alam sekitarnya.
"Eh"
Cukong istana beracun mulutnya mendesir alisnya berkerut dalam, tiba-tiba dengan langkah enteng ia maju beberapa langkah mendekati Ham-kang in ho Pek su in, katanya perlahan.
"Pek-tocu Aku ingin merundingkan sesuatu dengan kau"
Ham-kang-it-ho tertawa nyengir serba misterius, ujarnya.
"Ada urusan?"
"Ibun Hoat jangan kau mengacau"
Belum lagi ibun Hoat menjawab, Ci-hu-sin-kun Kiong-ki sudah melesat di belakang Ham-kang-it-ho Pek su-in sembari menggeleng keras, katanya.
"Pek-tocu kalau kau benar-benar mampu terjun ke dalam rawa ini..."
Belum habis ia bicara, mendadak putaran air rawa menjadi semakin keras dan bergelombang mengeluarkan suara gemuruh, seketika perhatian seluruh hadirin tertuju ke arah rawa lagi.
sekian lama air rawa bergolak seperti mendidih, mendadak tergulung keluar dua sosok tubuh manusia "Sudah keluar" "Liong-kang-siang-hiong sudah keluar."
Giok ling yang berada dipuncakpohon melihat paling tegas, apa yang dipanggil Liong-kang-siang-hiong tidak lebih hanyalah dua sosok mayat yang sudah kaku, masing-masing berwarna putih dan merah, pakaian renang mereka masih melekat di- atas badannya.
Mengikuti gelombang air rawa kedua sosok mayat itupun berputar-putar cepat seperti kitiran.
"blup", tiba-tiba tersedot teng gelam pula kedalam air terus menghilang. seluruh hadirin mengawasi dengan mata terbuka lebar, napaspun ditahan saking tegang. Ham kang-it-ho su-in tertawa tawar, ujarnya .
"Bagaimana dugaanku tadi ?"
Berkatalah Ci-hu-sin-kun deagan semangat menyala .
"Ada Lohu disini, Pek Tocu silakan kau terjun saja, setelah naik kedaratan nanti, biar Lohu membantumu menghadapi mereka."
Seketika bersinar biru kelam sepasang biji mata Cukong istana beracun ibun Hoat, pandangannya mengandung kebencian dan nafsu membunuh yang tebal, mulutnya menyeringai dingin.
sebetulnya Cukong istana beracun ibun Hoat bukan takut seratus persen menghadapi Ci-hu-siu-knn, dalam hal adu Lwekang sedikit banyak cukup untuk bertahan sekian lama, justru karena perhitungan yang dianggapnya sempurna maka sejauh ini ia berlaku sabar dan mengalah saja, hakikatnya yang diincar adalah buku rahasia dalam rawa itu, sebelum duduk perkaranya dibikin jelas, tak sudi ia paling bentrok dengan orang sehingga menghabiskan tetaga sendiri, yang penting harus menghimpun tenaga untuk bergerak pada babak terakhir merebut pusaka itu.
ci-hu-sin-kun tidak memandang sebelah mata kepada seluruh gembong-gembong iblis yang hadir, maka tiada sesuatu yang dikwatirkan dengan bengis ia menghardik .
"Ibun Hoat Apa yang kau tertawakan ?"
Acuh tak acuh ibun Hoat berkata .
"Lwe-kang sin-kun meski lihay dan menjagoi didalam dunia persilatan, tapi jangan lupa dua kepelan sukar menghadapi empat tangan, orang gagah paling gentar menghadapi keroyokan orang banyak."
Demikian sindirnya. Ci-hu-sin-kun menjengek dengan berang.
"Bila hendak main keroyok untuk mencapai kemenangan, Huh, Lohu tidak akan mundur setapakpun."
Ibun Hoat menggoyangkan tangan kecil yang kurus kering katanya .
"Bukan hanya aliran Tok-liong saja. Coba kau buka matamu lebar-lebar."
Tangannya menunjuk keseluruh gelanggang lalu tambahnya lagi.
"Mentang-mentang kau tidak pandang sebelah mata kepada para kawan kangouw ini, apa kau tidak kwatir menimbulkan angkara murka mereka, ketahuilah orang yang sudah gugup dapat melompati belandar, anjing yang kepepet dapat melompati dinding, sampai kelinci yang terdesakpun bisa menggigit orang, Hehehehehe"
Ibun Hoat tua-tua keladi, mulutnya tajam dan licik lagi, banyak tipu dayanya dengan kata-kata sindiran ini hakikatnya ia mengobarkan kemarahan hadirin untuk memusuhi Ci-hu sin-kun.
sepihak ia mendesak orang banyak untuk menekan Ci-husin- kun, lain pihak mengadu domba mereka kepada Cihu-sinkun menanamkan rasa dendam dan sakit hati.
Betul juga ada berapa banyak gembong-gembong iblis diantara para hadirin lantas mendelik dengan pandangan berapi api mengawasi kearah Ci-hu-sin-kun, dari sikap mereka yang garang ini jelas kelihatan mereka berani berlaku nekad untuk mengadu jiwa.
Melihat hasutannya yang licik ini membawa hasil akan reaksi yang nyata ini, Cukong istana beracun semakin takabur, mulutnya lagi-lagi menggumam "Kalau kau Ci-hu-sin-kun sendiri yang terjun ke air dan berhasil mengambil pusaka itu mungkin orang lain tak berani sembarangan bergerak tapi..."
Saking menahan gusar muka Ci-hu-sin kun sudah berselubung hawa ungu yang tebal, mulutnya mendesis berat.
"Tapi apa?"
"Tapi, hehehe orang yang mampu terjun kedalam rawa bukan kau Ci-hu-sin kun"
"
Kata- kata Lohu seumpama perintah saja, selalu kutepati betapa juga akan kulindungi orang yang terjun kedalam air."
"Kalau begitu kenapa kau tidak melindungi Liong-kangsiang- hiong?"
Sungguh sangat kebetulan, belum lagi lenyap suaranya, tampak tubuh Liong-kang-siang-hiong terpental mumbul dari permukaan air karena tergulung cepat oleh pusaran air yang dahsyat "Plung "
Kedua mayat tadi tersembul ke luar dari permukaan air itu kecemplung lagi terus tenggelam, air muncrat kemana-mana pemandangan ini sungguh sangat menggiriskan dan mengerikan. Cihu-sinkun menjadi murka, dengan berjingkrak sambil melangkah maju.
"Ibun hoat, kalau kau tidak terima, boleh silakan rasakan kemplangan Lohu "
Dasar wataknya memang berangasan dan keras, seiring dengan lenyap suaranya, langsung tubuhnya menubruk maju berubah segulung kabut abu-abu terus merangsang ke arah ibun Hoat.
Asap biru bergulung mengembang terbang kesamping setombak lebih, gesit sekali Cukong istana beracun melejit menyingkir dari rangsekan yang dahsyat ini.
"Byar"
Tenaga pukulan Ci-hu-sin kun masih terus menerpa kedepan berubah segulung angin puyuh yang dahsyat menerjang ke permukaan air rawa yang berputar kencang itu, air lantas muncrat dan berombak tinggi laksana tonggak perak mengeluarkan suara gaduh yang mendebarkan hati.
"Plak,plak"
Kebetulan kedua mayat Liong-kang-siang-hiong terbawa arus tonggak air yang muncrat itu sehingga terpental jauh dan terdampar diatas pasir kuning.
Kelihatan seluruh tubuhnya sudah berobah hitam legam, kaki tangannya kaku, keadaan sungguh sangat menyedihkan.
Melihat pukulannya tidak mengenai sasarannya, Cihu-sinkun semakin murka.
sebaliknya Cukong istana beracun ibun Hoat semakin takabur dan bergelak tawa sepuasnya, serunya.
"Coba lihat saudara-saudara bukti pernyataan tadi yang hendak melindungi siapa saja yang berani terjun kedalam air, siapa saja yang tidak takut akan Ci-hu sin kuog-ciang, silakan dengar dan patuhilah petunjuknya tadi"
Seluruh hadirin menjadi gempar, berkobar hawa amarah mereka, seketika yang berdarah panas lantas mencaci maki . "Tujuan yang keji sekali "
"Tindakan yang ganas licik sekali "
Sampai matipun tak diampuni, keterlaluan...
begitulah dari sana sini terdengar umpat caci saling bersahutan serta saling lomba.
semua mencerca dan menista Ci hu-sin- kun.
sebagian besar adalah hasil dari adu domba Cukong istana beracun ibun Hoat yang bermulut tajam, selebihnya karena merekapun berwatak tamak mengincar buku catatan rahasia yang tersimpan di dasar mata air rawa naga beracun ini.
Kemarahan masai sukar dibendung, begitulah menghadapi caci maki yang ribut itu Cihu-sin- kuo semakin berang seperti kebakaran jenggot, namun semakin marah napas memburu, mulutnya sukar bicara.
Melihat adegan yang serba runyam bagi tuan dan ayahnya Ci-hujulo dan Ci-hu-giok-li berubah hebat air mukanya, masing-masing melejit maju kedua samping Ci-hu sin kun bersiaga sembari mengerahkan tenaga dalam.
suara makin semakin riuh dan ribut seperti bergolak.
kuping sampai terasa judek.
Diantara mereka yang mengudal ludah dan pentang bacot, terutama pihak anak buah istana beracun dan Mo khek adalah yang paling keras dan paling kotor makiannya.