Seruling Samber Nyawa Chapter 146

CSI

Teringat pula akan kata-kata Kim-Iing-cu yang mengatakan bahwa dirinya mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Ping- goan di laut utara itu, sekarang demi pusaka itu su-lo telah diutus kemari, sudah tentu mereka bertekad untuk dapat merebut pusaka itu, kalau dirinya....

Bukankah dirinya sendiri juga bertekad untuk mendapatkan pusaka itu, bagaimana baiknya? Tanpa merasa Giok liong tertawa kecut, ujarnya.

"Majikan Pak-hay kalian kiranya juga senang akan keributan, sedemikian jauh menyuruh kalian meluruk kemari."

King-thian-sin Lu say berkata.

"Bukan itu saja, sebelum berangkat kita ada dipesan wanti wanti betapa pun dengan cara apa saja harus mendapatkan barang pusaka didasar Rawa naga beracun."

Giok Liong semakin was- was, tanyanya.

"Jikalau sukar memperolehnya bagaimana ?"

Kata Wi-thian-eng YU PaU dengan serius. "Majikan ada pesan seumpama harus berkorban juga harus berhasil merebutnya, dapatlah dibayangkan betapa teguh keputusannya ini "

Keruan ,Giok- liong semakin kwatir dan cemas, mulutnya hanya mengiakan saja. Sekarang Li Hian membuka kata mengalihkan pokok pembicaraan.

"Sungguh tak kira ternyata siau hiap sudah lebih dulu tiba diBu-ih san "

Giok-liong menjadi heran, tanyanya .

"Majikan Pak-hay tahu kalau kau hendak kemari ?"

Li Hian menggeleng kepala, sahutnya .

"Majikan terima laporan bahwa katanya siau- hiap sudah beranjak menuju ke utara menepati janji ke Pak-hay, maka beliau segera mengeluarkan perintah sepanjang jalan ini supaya melayani dan menjemput siau- hiap. Maka cepat sekali beliaupun tahu kalau ditengah jalan siau-hiap putar balik menuju ke Bu-ih-san sini "

Giok- liong bersoja lagi, ujarnya.

"Majikan kalian terlalu prihatin terhadap aku "

Lahirnya ia berlaku tenang dan angkat bicara, hakikatnya hatinya semakin was-was dan cemas berpikir keras, Dengan kepintaran dan kecerdikan otak Giok Liong, sesaat ini rasanya menjadi bebal dan tak terpikirkan olehnya cara bagaimana ia harus menerangkan kepada Pak hay-su-Io bahwa ia sendiripun sudah bertekad hendak merebut pusaka yang tersimpan di dasar Rawa naga beracun itu.

Pak-hay-su-lo merupakan tokoh kelas wahid yang banyak pengalaman dalam dunia persilatan sikap Giok liong yang tidak tenang dan dirundung kecemasan itu siang-siang sudah dapat diketahui oleh mereka, maka segera Li Kian berkata sambil tersenyum.

"siau-hiap, harap maaf kalau aku terlalu banyak mulut, naga-naganya kaupunya persoalan yang mengganjal lubuk hatimu ?"

Giok Liong menjadi jengah, sahutnya tersekat.

"Ah Tidak Tidak ada persoalan apa-apa."

Li Hian mengerutkan kening, ujarnya.

"Tidak itulah baik Kalau ada silahkan katakan saja kita berempat pasti membantu sekuat tenaga dengan kemampuan kita berempat."

Giok liong berpikir.

"soal sulit ini kukira kalianpun takkan dapat menyelesaikan sebab menurut perkiraannya, betapapun mereka tidak mungkin membantu kepentingan dirinya sehingga berani mengingkari perintah majikannya,"

Maka dengan tersenyum kecut ia berkata.

"sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih "

Lalu ia mendengar melihat cuaca, sambungnya.

"Hari sudah hampir pagi, silahkan kalian pergi ke Tok-liongtam dulu "

Segera King-thian-sin menjura, ia tanya .

"

Untuk memperebutkan pusaka dalam dasar Tokiliong-tam itu, kami harap siau-hiap suka memberi muka dan mengalah."

Giok Liong tergagap dan mengiakan seadanya, Keadaannya sungguh serba sulit, tak bisa ia memberikan jawaban yang pasti, cara yang terbaik adalah melihat situasi dan bertindak menurut keadaan nanti. Kata Pak-hay-su-Io bersama . "

Hamba berempat mendengar siau hiap sudah memasuki pegunungan Bu- ih, maka sejak tadi kita menanti disini, Kami kwatir mungkin siau-hiap juga bertekad mendapatkan pusaka itu maka perlu memberi penjelasan supaya tidak salah paham."

Sebetulnya inilah kesempatan terbaik untuk Giok Liong menuturkan maksud tujuannya yang sebenarnya. tapi sebelum duduk perkara di Tok-liong-tam menjadi jelas lebih baik tetap bungkam saja, maka dengan hambar ia berkata .

"Boleh kita bicara pada waktunya saja, kukira diantara kita jika ada persoalan toh gampang dirundingkan."

"Ya, siau-hiap silakan "

Ujar pak-hay-su-Io berbareng.

"Maaf aku yang rendah mendahului "

Tanpa banyak kata lagi ,Giok-liong langsung melejit menuju puncak di sebelah depan, dimana tadi para gembong iblis tadi menuju.

Mendadak tergerak hatinya, secepat itu otaknya berputar, batinnya, kenapa tidak begitu saja, Maka cepat-cepat ia menghentikan larinya terus melompat balik, Kebetulan Pak-hay su-lo serempak tengah melejit maju sudah puluhan tombak jauhnya.

Maka Giok- liong lanras berteriak.

"Para sahabat tua, harap tunggu sebentar"

Pak hay-su-lo bersama menghentikan luncuran tubuhnya, terus melenting balik, tanyanya.

"siau-hiap ada urusan apa ?"

"Para jagoan yang meluruk ke Bu ih san malam itu termasuk Ci hu-sin-kun yang paling digjaya, maka harap kalian berempat berlaku hati hati "

Ucapan Giok- liong ini bermaksud memancing pandangan pak-hay su-lo terhadap Ci hu sin- kun. Pak-hay-su-Io menunjukkan sikap prihatin, katanya bersama.

"Memang dia merupakan tokoh yang paling sukar dilayani, tapi kita berempat tidak perlu gentar menghadapi ci-hu sinkun itu."

Giok liong rada lega, katanya.

"Tapi kukira kalian perlu waspada."

"Terima kaiih atas perhatian siau hiap "

Sahut Pak hay sulo.

"Silakan "

Lenyap suaranya tubuh Giok Liong lantas meluncur laksana anak panah melesat.

Pak hay su-lo juga ikut mengembangkan ilmu ringan tubuhnya terus berlari kencang langsung menuju ke TOkliong- tam.

Dalam pada itu, sekejap saja Giok-liong sudah terbang jauh sekali, masih tubuhnya terapung ditengah ndara, lapat-lapat kupingnya sudah mendengar suara gaduh dari percakapan orang banyak yang berkumpul menjadi satu, tahu dia bahwa para gembong-gembong iblis itu sudah saling berhadapan dan tengah berdebat dengan seru.

Waktu Giok Liong meluncur turun dan menghinggapkan kaki di tanah, terasa hawa dingin lantas merangsang badannya terlihat sebidang rawa yang permukaan airnya kemilau ditimpa sinar sang putri malam, letak TOk liong-tam ini memang benar-benar sangat berbahaya, luas rawa tidak lebih puluhan tombaki airnya berwarna biru kelam, sekelilingnya dipagari lamping gunung yang curam serta licin tak gampang kaki berpijak disana karena seluruhnya sudah lumutan.

Dari kejauhan sudah terasa hawa dingin menembus tulang menghembus dari permukaan Rawa naga beracun ini, betul

betuI merupakan tempat yang penuh mengandung mara bahaya.

sekitar pinggir Rawa berkelompok para kawanan iblis, masing-masing tengah saling bersitegang leher mendebat dan menarik kawan untuk memperkuat kelompok masing-masing.

Pandangan mata ci-hu-sin-kun laksana bara api tengah menatap permukaan air yang tenang tak bergeraki dibelakangnya berdiri ci-hu-Ji lo, sikap mereka serius dan prihatin agaknya tengah menghimpun tenaga untuk berjaga menghadapi seggla kemungkinan.

Kiong Ling-ling sendiri juga tidak ketinggalan menahan napas mengawasi permukaan air.

Lambat laun suasana menjadi tenang dan sunyi, perhatian seluruh hadirin mulai tertuju ke permukaan air rawa.

Giok liong hinggap diatas sebuah dahan pohon tua yang rimbun di sebelah kanan sana, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, agaknya tiada seorangpun diantara hadirin yang mengetahui kehadirannya itu.

Tatkala itu permukaan air rawa yang berputar tenang itu mendadak bergelombang keras mengeluarkan suara seperti mendidih kemana-mana.

"Hah"

"sudah keluar... ke.."

Hadirin menjadi gempar dan berseru kejut, serempak memburu maju lebih dekat ke pinggir rawa, tiap bergerak untuk menubruk.

sekonyong-konyong seekor burung air yang besar berpekik kejut dari rumpun alang-alang di pinggir rawa sebelah sana terus terbang ketakutan.

Semua hadirin menjadi menghela napas panjang, mereka menjadi geli dan mengelus dada.

Melihat sikap dan tindak dan tanduk orang-orang itu, Giok Liong menerka dalam hati, tentu ada orang yang sudah terjun ke dalam air, kalau tidak masa mereka berlaku begitu gugup dan tegang.

Memang tepat dugaannya, diantara para gembong gembong iblis itu tampil, keluar seorang laki laki pertengahan umur berpakaian ala sastrawan umumnya, jubah biru yang panjang melambai tertiup angin, sembari tersenyum simpul mulutnya komat-kamit seperti menggumam seorang diri, suaranya keras.

"Suhu air rawa ini sungguh luar biasa, rawa ini merupakan tempat paling berbahaya dari segala danau laut atau sungai yang pernah kulihat. Mengandal kepandaian renang Siangkang- siang-hiong (dua orang gagah dari sungai naga), kukwatir mereka bakal menemui ajalnya di sini."

Nada bicaranya wajar dan sikapnya acuh tak acuh, terang bahwa dia sendiri punya pegangan akan kepandaiannya.

"Pek-tocu."

Terdengar Cukong istana beracun ibun Hoat membuka kata.

"Tuan sebagai majikan dari Ham kang-it-to, ilmu renangmu tentu mempunyai keistimewaan tersendiri, apa kau ada maksud mencobanya ?"

Laki laki pertengahan umur yang bicara tadi bukan lain adalah majikan Ham kang-it-to Pek su-in, sembari gelak tawa ia berkata lantang .

"Aku belajar ilmu renang selama empat puluh tahun, Ham kang merupakan aliran terdingin di seluruh jagad ini, suhu bekunya kukira tidak lebih rendah dari rawa ini, bukan aku orang she Pek suka mengagulkan diri, Hehehehe, hanya mata air semacam ini belum dapat mempersukar diriku "

Tergerak hati Giok- liong, pikirnya.

'Jikalau pusaka rahasia itu terjatuh di tangannya, tidak sukar aku dapat merebutnya,' Muka Cukong istana beracun ibun Hoat yang tepos dan kering itu menyeringai dingin, katanya "Kalau begitu, kenapa tidak kau tunjukkan kemampuanmu itu."

Ham kang-it-ho Pek su-in semakin takabur karena dieluelukan, katanya lantang.

"Tak perlu aku malu sungkan dan pura pura, Kalau aku berani kemari sudah tentu akan kucoba terjun kedalam rawa nanti tapi..."

Posting Komentar