Seruling Samber Nyawa Chapter 143

CSI

"

Keparat, takabur betul, serbu,,"

"Haaaaiiit..."

Para Tonscu dan rasul baju abu abu serentak bergerak sembari berteriak panjang, tubuh mereka melenting dan berloncatan seperti anjing kelaparan yang memperebutkan sekerat tulang saling berlomba menerjang kearah Giok liong.

Tergetar kedua tangan ,Giok- liong, kontan tiga kelompok mega putih bergulung ke luar menerpa kedepan memapak para musuh yang menyerbu datang.

sedetik sebelum rangsekan kedua belah pihak saling bentur itulah mendadak Cihu-sin-kun menghardik keras.

"Tahan "

Gelombang kabut ungu bergulung maju terus menerjang di tengah seperti dinding baja layaknya secara kekerasan menahan dan mendorong ,Giok- liong dan para Tongcu kedua belah pinggiran, begitu hebat tenaga pemisah ini sehingga masing-masing pihak terdesak surut tiga kaki jauhnya.

Kedua belah pihak sama tidak tahu maksud tujuan sepak terjang Cihu-sin-kun ini, keruan mereka menjadi kaget dan beringas, semua siap dan siaga menanti perkembangan selanjutnya.

Demikianjuga Giok liong menjadi kaget dan berubah air mukanya, Tahu dia bahwa Cihu sin-kun mempunyai dasar latihan Lwe-kang yang sangat ampuhi kepandaiannya bukan seolah-olah hebat, ci-hu giok-li sendiri juga menjadi kuatir, lekas ia berteriak memanggil.

"Ayah"

Li Pek-yang segera tampil maju, wajahnya serius tanyanya.

"Harap tanya sin-kun ..."

Ci hu-sini kun angkat sebelah tangannya, menghentikan kata-kata Li Pek- yang selanjutnya, katanya menunjuk Giok liong.

"Aku sendiri juga punya persengketaan dengan bocah ini "

Giok liong merasa serba sulit, timbul rasa was-was dalam benaknya, maka seluruh kekuatan Iwekang terkerahkan di kedua lengannya, bawa jilo juga terhimpun sampai tingkat tertinggi menyelubungi seluruh tubuhnya.

Perasaan Li Pek- yang menjadi sedikit lega, katanya menyeringai "

Kalau begitu, biarlah anak muridnya yang mewakili sinkun meringkus bocah ini, silakan siu-kun menonton saja sambil berjaga-jaga supaya bocah ini tidak melarikan diri"

Tak diduga, Ci hu-sini kun menggeleng kepala menggoyangkan tangan ujarnya.

"Tak perlu, maksud baik Khek cu kuterima dengan setulus hati"

Keruan Yu-bing-khek cu semakin tembarang batinnya kau sendiri turun tangan itu lebih baik, Kita tinggal berpeluk tangan menonton pertarungan.

Dua harimau itu berkelahi tentu salah satu bakal terluka atau cidera, tak peduli pihak mana yang menang dan kalah, situasi kelak urusannya pasti menguntungkan pihak kita.

Karena ketetapan pikirannya ini, diam-diam ia geli dalam hati segera tangan diulapkan memberi tanda kepada delapan belas Tongcu dan para rasulnya serunya "

Kalian boleh sebera mundur"

Melihat gerombolan orang-orang Yu bing-mo-khek mengundurkan diri, legalah hati Giok liong.

Bukan ia takut karena musuh terlalu banyaki adalah karena banyaknya orang bertempur pasti berlangsung dalam keadaan kacau balau, ini menyusahkan dirinya dalam gerak gerik penyerangan, siapa tahu kalau kesalahan tangan dirinya melanggar pantangan gurunya, kalau hal ini terdengar oleh gurunya, bukankah dirinya bakal konyol karena berdosa melanggar pantangan gurunya.

Adalah lain persoalannya kalau seorang diri ia menghadapi pertarungan dengan ci-hu-sin-kun.

Maka hilanglah kekhawatiran hatinya, semangatjuga lantas bangkit sembari menggerakkan lengannya ia berkata.

"

Kalau Cianpwe memang menghendaki aku turun tangan, terpaksa aku mengiringi keinginan sin-kun"

Tak sangka air muka Cihu-sin-kun tiba-tiba merengut naganaganya tiada niat untuk berkelahi setelah mendengus hidung berkata.

"Hm buyung Akan datang suatu hari aku membuat perhitungan dengan kau tunggu saja waktunya"

Lalu ia mendongak berkata lantang kepada hadirin.

"Perhatian diBusan hari ini adalah karena kepancing oleh barang pusaka dalam Rawa naga beracun itu. segala dendam permusuhan sebelum ini silakan dikesampingkan dulu, ini adalah pendapatku pribadi sebab, permusuhanku dengan buyung kurang ajar ini juga tak ku singgung lagi"

Pernyataan ini benar-benar diluat dugaan para hadirin. Keruan para iblis besar itu melongo. Cihu gio ki li Kiong Lingling berjingkrak kegirangan berloncat- loncat seperti burung gereja sambil bertepuk tangan, teriaknya.

"Yah, sungguh baik kau"

Adalah Yu-bing-khek cu Li Pe ki yang sendiri yang merasa dikibuli, hatinya dongkol dan penasaran.

Tapi apa yang dapat ia lakukan, menurut situasi gelanggang saat itu pihak Yu-bingmo khek keluar tiba waktunya untuk berhadapan langsung di medan lagi dengan pihak Ci hu sin kun bukankah tadi Cihu sin-kun sendiri sudah memberikan pernyataan terbuka yang mempunyai kekuatan terpendam dalam sanubari setiap hadirin tentang perebutan pusaka di Rawa naga beracun.

Yang terang dan nyata hati setiap orang gagah yang hadir ini sebagian besar sudah takluk dan tunduk kepihak Cihu sin-kun.

Dalam keadaan yang kepepet dan apa boleh buat ini, ia mandah mengertak gigi dan melampiaskan kedongkolan hatinya kepada Giok liong, serunya.

"Buyung, kupandang muka sin kun, biarlah .kuampuni kau hidup beberapa hari lagi "

Kata-kata menjual muka bagi kebaikan ci hu-sin- kun ini hakekatnya adalah untuk memuluskan jalan mundurnya saja, memang biasanya dikatakan lombok semakin tua semakin pedas, semakin tua pengalaman dalam kelana di Kangouw semakin luas.

Giok liong mandah tertawa tawar katanya.

"Aku tiada minat bertentangan dengan siapapun, maka kalian juga jangan mencari perkara dengan aku, ini akan banyak mengurangi pertikaian yang tiada manfaat-nya "

"Anak muda bau ingusan."

Semprot ci hu-sin kun dengan menggeram.

"

Mulutmu tajam ya "

Baru Giok liong hendak menyahut, Kiong Ling ling sudah menyelak.

"Yah Memang dia benar "

Cihu sin-kun menjadi melengak, tanyanya.

"siapa yang berkata benar ?"

"Dia"

"Dia siapa ?"

Meiahjengah selebar muka Kiong Ling- ling, lari sambil menubruk kedalam pelukan ayahnya tangannya memukulmukul dada sang ayah, mulutnya mengoceh aleman.

"Yah Kau menggoda aku "

Serta merta Ci hu-sin- kun melirik kearah Giok- liong semula memang ia tidak sengaja baru sekarang ia maklum dan menyelami perasaan putrinya, Pikirnya, putriku sudah besar sudah saatnya aku mencarikan jodoh baginya.

Pada saat itulah mendadak meluncur datang dua sosok bayangan orang, ditengah udara terdengar mereka berseru.

"

Lapor ciang bun..."

Setelah hinggap ditanah seketika mereka berdiri kesima menghadapi sekian banyak gembong-gembong iblis.

GoBeng-hui yang bersikap lesu dan berdiri mendelong tanpa bersuara sejak tadi kini menggerakkan kakinya melangkah dua tindak dengan lemas, tanyanya lirih.

"Ada kejadian apa ?"

Melihat sikap dan semangat Ciang-bun-jin yang sudah runtuh dan lesu ini kedua murid Bu-ih-san itu menjadi terbelalaki sikap tegang dan tergesa waktu datang semula seketika lenyap. kepalanya seperti diguyur air dingin sahutnya lirih.

"Banyak orang telah menyerbu kepandaian gunung belakang"

Agaknya tekad hidup Go Beng bui sudah ludes, mendengar berita yang mengejutkan ini sikapnya tawar saja, katanya.

"oh, aku sudah tahu"

Sebaliknya Ci hu-sin- kun melangkah maju tanyanya.

"Siapa mereka yang menerjang di gunung belakang?"

Kedua murid Bu ih san itu memandang kearah Ciang-bunjin, sesaat mereka tergagap tak berani angkat bicara. sambil menggendong tangan Im-yang-kiam Go Beng-hui bertanya.

"Adakah saudara-saudaramu yang terluka ?"

"Ya. banyak saudara dari tingkat kelas tiga yang terluka parah"

Wajah Im-yang-kiam Go Beng hui dirundung kekesalan dan rawan, setelah menghela napas panjang ia berkata.

"suruh mereka mundur semua, seluruh penjagaan dan pospos rahasia semua harus kembali ke pangkalan"

Kedua muridnya itu seketika menjubleki serunya bersama.

"Ciang-bun..."

"Lekas pergi "tukas Go Beng-Hui sambil goyang kepala.

"turutilah menurut pesan- ku"

Sesaat lamanya murid itu tertegun lalu menyahut berbareng.

"Murid terima perintah "

"Tunggu sebentar"

Tiba-tiba ,Go Beng-hui berseru memanggil, katanya kalem.

"siapakah yang datang? Bicara secara terus terang saja. Agaknya sudah menjadi takdir ilahi bahwa malam ini Bu-ih-san bakal menjadi tempat semacam pasar atas restoran yang bakal diinjak dan berpeta pora, siapapun boleh berlalu lalang tanpa rintangan"

Sebuah cikal bakal suatu aliran kenamaan akhirnya menemui kenaasan yang mengenaskan.

sebagai seorang ciang bun-jin mengeluarkan kata-kata yang begitu merawan hati, betapa pedih dan duka hatinya dapatiah dibayangkan.

Kedua murid Bu ih-pay yang baru datang menjadi kesima memandangi wajah ciangbunjin mereka yang menjadi begitu loyo dan patah semangat.

Tak tertahan lagi mereka mengalirkan air mata ikut bersedih dan sepenanggungan.

Persoalan yang paling dikhawatirkan dan menarik perhatian seluruh gembong-gembong silat yang hadir ini adalah siapa saja para penyerbu dari belakang gunung itu Mereka menjadi menduga dan menerka-nerka, terjadilah suara ribut dan gempar, disana-sini terdengar bisikan dan omelan panjang pendek yang tak menentu.

"Kalian harap tenang sebentar "

Terdengar ci-hu sin-kun berseru lantang.

"Dengar apa yang mereka katakan"

Im yang-kiam Go Beng-hui juga ikut tertarik, tanyanya lemah.

"

Katakan kepada mereka "

Terpaksa kedua murid Buta-ih-pay itu berkata.

"Yang menerjang paling depan dalam kelompok pertama adalah Tocu dari Pek-bun-to yaitu Ham-kang-it-ho Pek su-in"

Ci-hu sin kun mandah tertawa tawar, ujarnya.

"

Kiranya diapun gemar keramaian, sedemikian jauh ikut meluruk datang "

Seorang murid Bu-ih-pay itu berkata lagi.

"To-ou-cin-kui Ang To bok juga ikut menerobos masuk "

Tergerak hati Giok-liong, cepat ia bertanya .

"siapa lagi yang ikut datang bersama mereka ?"

"seorang la galaki pertengahan umur yang telanjang setengah badan"

Memicing mata Ci-hu sin- kun, bertanya mengawasi Giokliong.

"Jadi Ang To-bok sekomplotan dengan kau ?"

Giok-Hong menjengek dingin, ujarnya.

"selamanya aku malang melintang seorang diri belum pernah bergabung dengan orang lain"

Merah wajah Ci hu-sin- kun, "Mulutmu tajam betul "

Takut sang Ayah menjadi jengkel dan bertengkar terus dengan ,Giok- liong cepat-cepat Kiong Ling ling menukas.

"Yah masih ada siapa lagi yang datang biar mereka katakan "

Memang seorang lain dari kedua murid Bu-ih-pay itu tengah berseru keras.

"Masih ada lagi empat orang tua yang belum pernah kita lihat, Kepandaian mereka rata-rata sangat lihay, Iwekangnya tinggi bersikap gagah dan angker, gerak gerik mereka gesit cara turun tangannya secepat kilat, untung mereka tidak berlaku terlalu kejam cara turun tangannya punya perhitungan "

Bicara sampai disini tak terasa muka mereka menjadi merahi malu serta saling pandang dengan kikuk. Tak perlu dijelaskan lagi terang sekali bawah pihak Bu-inisan sudah runtuh total. Berkerut alis Ci hu-sin-kun, tanyanya.

"siapa mereka ? Adakah mereka menyebut namanya?"

"Tidak, tapi Lwekaag mereka betul- betul jarang dicari tandingannya di dunia ini."

Para gembong iblis itu mendengarkan dengan cermat tiada satucun yang ikut bicara.

Giok liong sendiri juga menerka-nerka dan was was.

sebab para gembong iblis yang dihadapi ini saja sudah sulit dilayani, jikalau masih ada lagi tokoh silat kenamaan lain ikut campur dalam urusan ini, siapa bakal menang dan kalah benar benar susah diramalkan.

Terdengar Li Pek- yang membuka kata dengan berangasan "Peduli siapa mereka Tak mungkin seorang tokoh yang punya tiga kepala dan enam tangan, kenapa kita takut dan khawatir "

Posting Komentar