"Bukan karena berebutan pusaka, adalah karena Ibun heng tidak senang mereka turut campur dalam urusan ini "
Laksana tajam golok sinar mata ci-hu-sin-kun menyapu pandang kearah Ibun Hoat, katanya tertekan dengan nada dingini "urusan merebut pusaka setiap orang yang hadir disini mempunyai bagiannya, semua orang boleh mengandal kepandaian dan kecerdikan otaknya, Mana bisa secara liar dan ganas merintangi orang lain turut terjun dalam rimba ini.
Kalau begitu apakah buku dalam mata air didalam rawa naga beracun itu sudah menjadi milik pribadi seseorang ?"
Hening lelap suasana seluruh gelanggang, air muka Ibun Hoat berubah bergantian, namun tak berani ia mengumbar wataknya lagi. Kuatir kedua gembong bangkotan ini terjadi kelahi yang hebat, cepat-cepat Li Pek-yang tampil kedepan, katanya tergagap.
"Meskipun pusaka itu belum diambil keluar, tapi..."
Tak terkira sekali lagipandangan ci-hu-sin kun menyapu pandang ke empat penjuru, sembari membentak keras. "
Kalau begitu, siapapun yang bakal dapat menjemput buku rahasia itu lantas menjadi sasaran utama dari keroyokan kalian yang goblok dan tak mengenal tata krama ini, Apakah ini yang dinamakan keadilan ?"
Semua hadirin seperti sadar dan mawas diri akan petunjuk Cihu-sin-kun ini. Memang para hadirin lantas berpikir "betul juga, seandainya secara mati matian aku berhasil mendapatkan buku rahasia itu, masakah aku mampu lolos dari kejaran Lamcutoksyam ?"
Maklum sebelum ini pikiran dan pandangan seluruh hadirin sudah buta dan tumpul saking kemaruk mendapatkan pusaka, semula memang mereka mengikuti arus situasi memberi suara dan semangat kepada pihak istana beracun.
Sungguh untung kesalahan yang tidak disadari ini telah dipecahkan dan ditunjuk secara langsung oleh kata-kata Cihu- sin- kun yang penuh mengandung arti kebenaran.
satu persatu hati mereka lantas menjadi sadar dan mulai goyah akan kepercayaan terhadap pihak istana beracun.
Tak ketinggalan Yu-bing mo khek Li Pek- yang sendiri yang semula sehaluan sekomplot dengan istana beracun menjadi ragu-ragu dan bimbang, serta merta matanya melirik kearah Ibun Hoat, kakinya juga lantas melangkah mundur.
Mata kecil cukong beracun Ibun Hoat berkedip-kedip menyipit giginya, berkeriut terang betapa besar rasa gusar dan dendam hatinya terhadap uraian ci-hu-sin-kun yang mengecilkan arti intrik nya dengan berbagai pihak itu Akan tetapi kata-kata Ci hu-sin-kun masih terus memberondong keluar.
"siapa yang mampu boleh silakan menerjang seorang diri kedalam Rawa naga beracun mengambil buku rahasia itu, kalau bisa berhasil bolehlah dikatakan beliau seorang gagah seorang perwira yang harus diagungkan, Lain pula bagi mereka yang pintarnya mengatur tipu daya dan mengadu domba mengerjakan tenaga orang lain demi keuntungan diri sendiri sedang dia sendiri mandah menonton dan berpeluk tangan, dengan maksud mengambil keuntungan setelah semua pihak empas empis dan kehabisan tenaga gampang saja ia merebut dari tangan orang, ini bukan seorang gagah sebaliknya seorang pengecut, seorang kerdil yang harus ditumpas dan tak perlu diindahkan dalam kalangan Kangouw."
Seketika seluruh hadirin menjadi sadar, berbareng mereka berseru.
"
Ucapan sinkun memang benar"
"sin-kun silakan tegakkan keadilan dan kebenaran"
Mendadak Ci-hu-sinkun menarik suara, katanya lebih lantang.
"
Kedatanganku ini bukan bertujuan hendak merebut atau memperoleh buku rahasia itu, yang terutama aku hanya ingin menegakkan keadilan demi kebersihan nama kalangan Bulim.
Malam ini seluruh hadirin tak peduli dari aliran mana besar atau kecil entah berkedudukan tinggi atau rendah kaya atau miskin.
Entah ada yang suka bergabung atau tampil seorang diri silakan saja.
siapa yang mampu mengambil pusaka dalam mata air rawa naga beracun itu, pusaka itu menjadi milik pribadinya"
Kata-katanya yang gagahi dan keras penuh wibawa seketika mendapat sambutan tampik sorak dari seluruh hadirin.
Hanya Cukong istana beracun Ibun Hoat saja yang berkerutuk giginya menahan gusar yang tak terkendalikan lagi, matanya beringas buas seperti bara api.
Habis berkata Ci hu-sin- kun berputar sekali sambil layangkan pandangannya, katanya pula.
"Aku orang she Kiong tentu menepati kata-kataku, siapa saja yang bisa mengambil pusaka dalam rawa itu, kutanggung keselamatannya turun dari Bu ih-san ini."
Seluruh hadirin berteriak dan bertepuk tangan gegap gempita.
sementara itu Giok- liong yang sempunyi dibela kang pohon itu menjadi kuatir dan girang pula mendengar kata-kata Cihun- sin-kun itu.
girang karena iblis besar ini ternyata bisa menegakkan keadilan inilah merupakan setitik penerangan demi kejayaan kaum cendekia yang berpikir jernih dan lurus.
Kuatirnya seumpama pusaka dalam air ini betul betul di tangan seseorang saat itu.
cara bagaimana dirinya harus merebutnya.
Cihu sin kun sudah berjanji untuk melindungi siapa saja yang bisa mengambil buku rahasia, lalu bagaimana dirinya harus menghadapi tanggung jawab ini? Tengah ia terlongong tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba terasa angin berkesiur di belakangnya, lantas dipinggir telinganya terdengar sebuah suara berbisik "Tidak ikut keramaian disana, kenapa sembunyi disini secara plintat plintut?"
Karuan kaget Giok liong seperti disengat kala baru saja ia hendak menggerakkan tangannya.
"jangan bergerak"
Bentaknya lirih tertekan telah mengancam aksinya, terasa dua jalur angin kencang menutuk kejalan darah di kedua pundaknya, asal sipenutuk mau tambah tiga bagian tenaganya lagi sedikit surung jarinya saja, seumpama tidak mati paling ringan dirinya sudah terluka parah.
Bokongan yang secara tiba-tiba dan menggelap ini betulbetul membuat Giok- liong mati kutu dan mengucurkan keringt dingin.
Tatkala mana para hadirin dilapangan depan sana sudah banyak yang tahu bahwa di belakang pohon siong besar ini ada orang sembunyi, pandangan semua orang lantas tertuju kemari.
ci-hu-ju-lo siap menubruk kearah sini.
"siapa? Hayo keluar"
Terdengar bentaknya Cihu sin- kun yang menggeledek.
"Yah Inilah aku Hihihihi"
Meluncurlah sesosok bayangan abu- abu diiringi dengan kumandang suara tawanya yang terkikik nyaring.
Terasa tekanan tenaga dibela kang punggungnya lepas Giok- liong melihat Ci hu giok li Kiong Ling-ling melesat setombak lebih dari atas kepalanya melesat ke depan sana.
Dalam keadaan demikian tempat sembunyi Giok liong menjadi kenangan, terpaksa ia harus keluar dari tempat persembunyiannya, membuntut di belakang Kiong Ling ling iapun menukik turun ketengah geleng gang.
Meskipun mereka bergerak beruntun satu didepan dan yang lain dibelakang, tapi waktu meluncur hinggap ditanah dalam waktu yang bersamaan.
Begitu melihat yang muncul bersama putrinya ini adalah Giok-liong seketika Cihu sin kun memicingkan mata, air mukanya bersemu ungu terang ia teringat akan dendam lama.
Melihat gelagat yang meruncing ini cepat-cepat Kiong Ling ling memburu kehadapan ayahnya, mulutnya dimonyongkan dan berteriak "Yah "
Agaknya Ci- hu-sin kun dapat menahan gejolak hatinya, sikap marahnya berangsur hilang warna ungu dimukanya juga mulai sirna. sekenyong-kenyong sesosok bayangan hitam melekat disertai gerungan keras.
"Bocah keparat, kembalikan putriku "
Kiranya Yu-bing khek-cu Li Pek- yang menerjang kearah Giok liong dengan mata mendelik dan muka beringas, cengkeraman tangannya mengancam dada dan lambung Giok liong. Giok liong berkelit kesamping, merunya tertawa.
"Apa kau serahkan putrimu kepadaku?"
Ci hu giok-li Kiong Ling Ling menjadi tertawa geli mendengar banyolan Giok liong, Para hadirin sebagian turut bergelak tawa, mereka merasa lucu dengan kedudukan dan ketenaran Li Pek-yang begitu berhadapan muka lantas menyerang orang dan minta putrinya kepada orang lain, ini menurunkan derajat dan sangat memalukan sekali, apalagi mendengar banyolan jawaban ,Giok- liong yang lucu lagi keruan mereka terpingkel-pingkel.
Li Pek yang menjadi murka saking malu, giginya gemerutuk menahan amarah yang tak terkendali, sambil membanting kaki ia menghardik keras.
"Hayo maju, ringkus dia "
Dia memberi aba-aba kepada anak buahnya, seketika delapan belas Hek-i Tong cu bergerak diikuti para rasul berpakaian abu-abu, dengan sikap mengurung berbentuk setengah lingkaran seperti kipas lempit mereka meluruk kearah Giok liong.
situasi menjadi tegang, semua menahan napas akan terjadi pertempuran besar main keroyok ini.
Kalau ganti orang lain mungkin saat itujuga sudah berlangsung pertempuran besar-besaran yang serabutan tak karuan.
sebab biasanya dibawah perintah Li Pek-yang para Tong-cu dan rasul itu pasti serempak beramai-ramai menerjang maju seperti lomba untuk membinasakan musuhnya dengan sekali grebek untuk menunaikan tugas sekaligus menunjukkan wibawa supaya menggetarkan nyali para hadirin lainnya.
Tapi kali ini musuh yang mereka hadapi adalah Giok- liong, Mereka sudah kenal siapa Giok-liong ini bukan saja gerak tubuhnya lihay, Iwekangnya tinggi, kepandaian apa saja mereka sudah pernah belajar kenal, insaf mereka bahwa musuh muda yang dihadapi ini bukan sembarang tokoh yang gampang dilayani meskipun mereka main kerubut.
Maka dengan membentuk barisan melingkar setengah bundaran pelan-pelan mereka mendesak maju, Delapan belas Tongcu rata-rata membekal kepandaian tunggal masing masing yang tinggi dan lihay.
Buat tokoh-tokoh silat kalangan Kangouw tiada yang tidak tahu bahwa mereka merupakan gembong- gembong silat yang kenamaan, sampaipun para rasul dari tingkat rendah juga tak boleh dipandang ringan.
sebanyak seratusan orang semua siaga dan mendesak siap menerkam maju, betapa situasi gawat ini takkan mengejutkan nyali orang.
Namun bagi Giok- liong mandah tersenyum simpul saja dengan sikap tenang dan wajar ia berkata.
"Nanti dulu sabar sabar "
"Kunyuk "
Hardik Li Pek-yang sambil berjingkrak gusar.
"Takabur dan congkak benar ya"
Giok-liong tidak menunjukkan reaksi apa-apa, tetap berdiri tegak kedua tangannya dilebarkan katanya.
"Dalam hal apa aku takabur dan congkak sejak datang aku tiada menantang arau mencari perkara kepada siapapun yang hadir disini "
Sikapnya yang wajar dan kata katanya yang tenang ini diam-diam membuat para hadirin yang biasanya bertabiat kasar berangasan itu menjadi kagum dan memuji dalam hati, benar-benar mereka tunduk lahir dan batin.
Ci hu-sin-kun Kiong Ki sendiri sebagai iblis bangkotan juga diam-diam manggut-manggut merasa kagum.
saat mana ratusan jago lihay dari Yu-bing-mo-khek sudah siap melancarkan serangannya, jarak mereka tidak lebih tinggal setombak lebih, semula sudah menggerakkan lengan serta mengerahkan tenaga tinggal melancarkan pukulan.
Melihat keadaan yang gawat ini Giok liong tak berani ayal, segera ia memasang kuda-kuda dan bergaya dengan mengerahkan hawa jilo melindungi badan, sepasang tangannya sudah dilandasi seluruh kekuatan Iwekangnya.
serunya lantang.
"Kalau betul-betul mendesak orang, jangan salahkan aku berlaku kejam tanpa sengaja membunuh kalian"
Maklum ia memberi peringatan dulu sebelum bergebrak karena sangsi dan takut larangan suhunya. Tapi kata-kata peringatan yang bermaksud baik ini dalam pendengaran Yu-bing-khekscu, seperti pelita disiram minya ki ia berjingkrak murka, geramnya.