Seruling Samber Nyawa Chapter 141

CSI

Sebagai Ciang-bun-jin dari suatu aliran, tingkah aku atau tindak tanduk Im-yang-kiam Go Beng hui selalu mewakili perguruan-nya serta nama dan gengsi Bu-ih-pay, bagaimana juga ia harus menegakkan kebenaran dan berani menanggung sebala resiko, maka katanya..

"Ucapan saudara I bun Hoat sukar dapat kusetujui"

Beringas muka I bun Hoat, dengusnya.

"Hah Kenapa?"

"Sebagai seorang ciang-bun, sudah selayaknya aku mengembangkan dan menegakkan keharuman nama dan gengsi perguruan"

I bun Hoat terloroh-loroh sambil menekan perutnya, matanya yang menyipit hampir terpejam karena tertawa itu. sekonyong-konyong gelak tawanya lenyap mukanya berubah bengis dan menjengek dengan ketus.

"Cuh mengembangkan apa segala, kentut busuk jangan kau mimpi"

Umumnya kalau dua orang berhadapan saling bermusuhan karena urusan pribadi masing-masing saling caci maki dan mencemooh atau menghina lawannya adalah jamak dan biasa, ini tak terhitung keluar batas.

Tapi adalah lain kalau kedua belah pihak berhadapan secara masa membawa nama baik perguruan atau golongan, umpat caci atau makian yang menghina secara umum di muka sekian banyak orang belum pernah terjadi, sehingga para gembong-gembong silat yang biasanya berlaku ganas itu juga tercengang dan melenggong mendengar kata-kata I bun Hoat yang terlalu mengandung nada kasar itu.

seumpama seorang tanah liat, betapa juga Go Beng hui punya perasaan, seketika pucat pasi selembar mukanya, bibirnya sampai biru, seluruh badan gemetar saking gusar, serunya.

"

I bun Hoat Kau..."

"Coba kau tanya dirimu sendiri, bagaimana kalau kalian dibanding kekuatan dan kebesaran pihak Go bipay "

Demikian semprot I bun Hoat.

Giok liong yang sejak tadi sembunyi dan mengintip menjadi gusar bukan main, rasanya nadi dan jalan darahnya menjadi melembung dan tangan juga gatal ingin rasany segera menerjang keluar merangsak I bun Hoat si manusia laknat itu.

satu pihak karena merasa sebal dan gemas melihat tingkah polahnya yang congkak dan takabur itu, lain pihak karena pencucian bersih diatas gunung Go b i san itu oleh pihak istana beracun sehingga dirinyalah yang terkena getahnya dicap sebagai durjana yang menumpas habis seluruh Go bipay- sungguh penasaran.

Akan tetapi, demi mematuhi larangan gurunya, terpaksa ia harus menelan keinginannya bulat-bulat, dengan menahan sabar ia mandah menonton dan melihat perkembangan selanjutnya.

saat mana Im yang-kiam Go Beng bui memutar tubuh memandang ke empat penjuru lalu katanya dengan mendelu.

"Melihat situasi hari ini, sebenarnya kalian kemari karena benda pusaka di Rawa naga beracun itu, atau hendak mencari perkara dengan perguruan kita?"

Dalam keadaan ujang terdesak ini apa boleh buat ia berusaha hendak memecah urusan besar ini dalam dua persoalan, supaya pihak sendiri tidak konyol dan rugi besar.

siapa tahu Cukong istana beracun ternyata tak mau memberi muka, secara langsung ia menantang.

"Dua-duanya boleh kita bicarakan menjadi satu"

Jawaban yang terus terang ini betapa juga Go Beng hui tak bisa main ulur atau banyak alasan lagi.

Keempat muridnya sudah tak tahan sabar lagi, serempak empat batang pedang mereka bergerak melingkar mematikan sebuah lingkaran besar, mereka siaga bertempur, katanya bersama .

"ciang-bun kau tahan sabar, kita tak kuat lagi, meski harus menentang ajal kita takkan mundur setapakpun"

Belum sempat Go Beng-hui membuka mulut. Cukong istana beracun I bun Hoat terkekeh kekeh, makinya.

"Keparat, agaknya kalian memang harus diberantas"

"I bun Hoat Kau terlalu takabur"

"Bangkotan tua beracun lihat pedang"

Seiring dengan makian mereka empat sinar pedang yang menyilaukan mata berbareng meluruk ke arah I bun Hoat, Mereka turun tangan dengan nekad untuk mengadu jiwa, maka jurus serangan ini dilancarkan cukup lihay dan ganas.

"Hehehehe Cari mampus Hai, hayo maju" - ternyata I bun Hoat tak balas menyerang cukup dengan teriakannya ini serta isyarat tangan bergerak lantas terlihat empat pancaran sinar biru yang menyala meluncur datang dari belakang-nya. seluruh gelanggang kontan menjadi geger.

"Lan cu tok yam "

Terdengar teriakan kejut di mana-mana dari mulut orang-orang sekitarnya, semua melompat mundur karena gentar menghadapi kehebatan ilmu sesat ini.

Empat pancaran, sinar biru melembung tinggi ke angkasa lalu menukik turun dengan deras mengeluarkan suara mendesis yang keras, laksana empat cakar iblis yang ganas tiba-tiba menyemburkan bara api yang menjilat ke empat penjuru, seketika hidung semua orang terendus bau hangus, rumput menjadi kering batu menjadi hangus.

Pancaran sinar pedang ke empat murid Bu-ih pay begitu keterjang lidah api yang dahsyat itu seketika pudar.

Kini hanya terlihat empat kerangka manusia, bukan saja pakaian mereka sudah hancur luluh menjadi abu, sampai daging mereka juga menjadi hangus seluruhnya, tinggal tulang-tulang kerangka yang memutih bersemu kuning atau hitam itulah yang masih teaak berdiri diatas tanah pemandangan ini sungguh mengejutkan dan menakutkan.

Udara pegunungan yang jernih seketika berbau amis dan busuk serta hangus tercampur aduk.

yang terang semua merasa mual dan kepala pening.

seluruh hadirin menjadi melongo dan merinding serta bergidik Memang Lan ca-tok-yam pihak istana beracun sudah lama menggetarkan Bulim, akan tetapi banyak diantaranya yang baru sekali ini melihat dengan mata kepala sendiri betapa hebat dan mengerikan ilmu ganas ini.

Im-yang-kiam Go Beng-hui terkesima menjublek di tempatnya seperti orang sinting tanpa bergerak- Matanya nanar memandang ke depan tanpa berkesip

Cukong istana beracun I bun Hoat terliuk-liuk kegelian dengan senangnya ia mementang mulut menarik suara.

"Hahahahaha----"

Tak lama kemudian pelan-pelan kaki Im-yang kiam Go Beng-hui mulai bergerak beranjak maju, mukanya kaku tanpa emosi, setindak demi setindak dengan langkah tetap ia menghampiri kearah I bun Hoat yang masih terloroh itu, mulutnya mendesis sepatah demi sepatah.

"Kau- juga bunuh aku sekalian"

I bun Hoat menghentikan gelak tawanya, bentaknya dengan bengis.

"Kau sangka aku tak berani ? "

"Kau... berani.... kau..."

"Baik, kau sendiri yang cari penyakit dan minta digebuk Biarlah Cukongmu ini menyempurnakan keinginanmu "

Sembari berkata kedua biji matanya yang kecil itu memancarkan cahaya biru kelam, mukanya di-rundung hawa membunuh yang tebal, pelan-pelan dua lengan kecilnya yang kurus kering seperti kayu bakar itu mulai terangkat.

Asal lengan keringnya ini sedikit terayun saja tanggung jiwa Im-yang-kiam Go Beng-hui bakal melayang dalam sekejap itu saja, arwahnya pasti menyusul keempat muridnya yang sudah mendahului menghadap Giam-lo-ong tinggal tulang kerangkanya yang masih utuh berdiri Tepat pada saat itulah sekuntum mega kelabu bergulung mendatangi.

Dua laki-laki kekar berusia pertengahan abad meluncur tiba di tengah gelanggang, serempak mereka berseru.

"

Cukong istana beracun, harap tunggu sebentar "

Melihat kedatangan kedua orang tua ini Giok-liong lantas membatin.

"Ternyata ci-hu-ji-lo juga ikut dalam keramaian ini"

Dalam pada itu, I bun Hoat sedikit tertegun, kedua lengannya tetap terangkat tinggi, nadanya berkata hina.

"Kalian datang terlambat hendak main kayu juga ? Berani menghalangi Lohu "

Kedua lengannya mulai bergerak memberi aba-aba kepada anak buahnya supaya segera turun tangan melenyapkan jiwa Im-yang-kiam Go Beng huici huji lo mandah tertawa tawa, katanya bersama.

"Mana kita berani. Lihatlah majikan telah tiba "

Sinar kelabu berkelebat terbungkus oleh kabut ungu yang bergulung mendatangi seperti lambat namun cepat sekali dalam sekejap mata saja Ci hu-sin kun Kiong Ki dengan sikap angker dan penuh wibawa meluncur turun tanpa mengeluarkan suara.

ci-hu bun sudah angkat nama dan gengsi dalam kalangan hitam dan putih, selama ratusan tahun sudah malang melintang dan mendirikan pangkalannya yang kokoh dan digdaya, sudah tentu kedatangannya ini membuat para hadirin menjadi ribut dan berbisik-bisik- Cukong istana beracun I bun Hoat, sendiri juga harus sedikit memberi muka oleh karena itu serta merta tangannya sudah terangkat itu mulai merandek dan pelan-pelan diturunkan lagi- Biji mata Ci-hu-sin kun laksana mata api yang berkilau tajam, sekilas ia menyapu pandang ke seluruh hadirin lalu berkata dengan suara yang menggeledek.

"Disini berkumpul sekian banyak orang, kalian meluruk kemari perorangan atau ada pentolannya ?"

Lagi-lagi semua hadirin menjadi gempar, entah berapa banyak pasang mata sekaligus menatap kearah I bun Hoat.

Meski rada keder, namun sikap I bun Hoat yang congkak dan takabur masih kelihatan nyata, tiga tindak ia tampil kedepan sembari angkat kedua tangannya terus digoyanggoyangkan, katanya dengan lantang.

"Aku yang rendah I bun Hoatlah yang mengundang mereka "

ci hu-sin kun acuh tak acuh, sikapnya tetap kereng, katanya getir.

"cukong istana beracun sebagai pentolannya, sungguh sangat kebetulan"

Lalu matanya memandang ke empat kerangka manusia yang masih berdiri ditengah gelanggang itu, tanyanya sambil mengerut alis.

"Dari aliran manakah mereka ini?"

Ibun Hoat menyeringai puas, katanya.

"Empat murid andelan pihak Bu-ih-pay"

"o ? Siapa yang membunuh mereka ?"

"Istana beracun "

"Kenapa?"

"Karena mereka juga berani mengincar buku catatan rahasia yang berada di dalam Rawa naga beracun, maka..."

Mendadak ci hu-sin- kun menarik muka, tanyanya serius. "Apakah buku catatan dalam Rawa naga beracun sudah muncul ?"

"Belum"

Sela Li Pek yang sambil meIangkah kedepan. ci hu-sin-kun semakin heran dan tak habis mengerti, tanyanya.

"Kalau belum, kenapa mereka harus mati sebelum memperebutkan benda pusaka itu ?"

Yu-bing-khek Cu Li Pek yang tertawa geli serunya.

Posting Komentar