Lalu perjalanan ke laut utara .. ."
Tersipu-sipu Giok- liong berkata.
"Nantikan saja setelah pertemuan di Gak- yang nanti, mungkin aku sendiri harus pergi bersama kau ke Ping-goan di laut utara "
"Bibi terlalu baik terhadap aku"
"Anak bodoh, apakah perlu diantara kita main sungkan apa segala."
Seiring dengan gelak tawanM yang merdu nyaring dan suara kelintingan yang melengking tinggi, kelihatan Kim lingcu mengebutkan lengan bajunya, laksana seekor bangau terbang sekejap saja bayangan putih telah melayang jauh dan menghilang.
"Bibi "
Giok-liong berseru memanggil sambil melesat tinggi sejauh tiga tombak- "Nak- kunanti kedatanganmu di Gak-yang lau "
Dari kejauhan terdengar seruan Kim-ling cu.
Terpaksa Giok-liong menghentikan pengejarannya, sambil menghela napas ia menjublek di tempatnya sambil memandang jauh kebawah gunung sana- Sekonyong-konyong suara suitan panjang lalu disusul suara gemuruh yang menggetarkan terdengar dari bawah bukit sana- Di lain kejap terlihat selarik sinar biru yang menyala terang meluncur ke tengah angkasa dari hutan gelap dikejauhan sana, sekejap saja sinar biru menyala itu telah meluncur turun diatas bukit tak jauh kira-kira puluhan tombak dimana Giok-liong berada- Giok-liong menjadi tercengang, batinnya.
"
Iblis dari aliran mana lagi ini ? Kalau menurut tabiat biasanya tentu segera memburu kesana untuk melihat dengan mata kepala sendiri.
Tapi sekarang ia sudah berpedoman, lebih baik tiada tersangkut paut dalam suatu perkara daripada terlibat dalam suatu pertikaian.
supaya tidak melanggar larangan gurunya, walaupun Kimling cu sendiri sudah memberi hati hendak menanggung segala sepak terjangnya, tapi bagaimana juga kalau bisa berlaku sabar dan menghindari saja.
Karena itu pelan-pelan ia memutar tubuh terus beranjak turun gunung.
siapa tahu tiba-tiba terdengar lambaian pakaian yang menderu terhembus angin.
Dari belakang gunung sebelah sana terlihat puluhan bayangan hitam laksana kilat meluncur ditengah udara langsung melesat kearah di mana sinar biru tadi lenyap.
Jelas kelihatan puluhan bayangan hitam itu rata-rata membekal kepandaian yang tidak boleh di pandang ringan.
terang semua adalah tokoh-tokoh silat kelas wahid- Cepat-cepat Giok- liong menyelinap menyembunyikan diri dibelakang semak batu.
Baru saja Giok-liong berjongkok mengumpatkan diri, terlihat sebuah bayangan biru tua yang besar meluncur lewat dari atas kepalanya.
Meskipun saat itu dalam kegelapan, namun dengan kejelian mata Giok liong, sekilas saja dapat dilihatnya, jelas bayangan itu bukan lain adalah guru Lan-i long-kun Hoa sip-i yaitu ketua Lan ing-hwe Lan-ing-mo-ko Le siang san.
seorang diri Lan-ing mo-ko Le Siang san berlari kencang menuju ke puncak bukit di mana rombongan bayangan hitam tadi menuju.
Mau tak mau Giok-liong harus menerka-nerka dalam hati, sikap yang semula tak mau campur segala urusan tetek bengek akhirnya menjadi kabur dan lenyap dalam benaknya, karena terasa olehnya keganjilan menurut apa yang dilihatnya ini, betapa juga harus diselidiki kesana.
Demikian ia membatin dalam hati, serta sudah tetap pikirnya, tanpa ayal lagi dengan cermat ia menggeremet dan main sembunyi terus menyelinap di antara kegelapan menuju kebukit itujuga.
Tak duga belum jauh ia berjalan dari arah timur, selatan barat dan utara berbagai penjuru beruntun terlihat gerak-gerik bayangan orang yang serba misterius, sama menunjukkan kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan.
Tanpa berjanji terang tujuan mereka tak lainjuga puncak bukit didepan sana itu.
Kira-kira setengah jam telah berlalu.
Mungkin ada puluhan rombongan yang sudah kelihatan bergerak meluruk kearah tujuan sana, jelas dan terang bukit Bu-ih-san ini sudah menjadi arena tempat yang bakal menjadi pertempuran seru antara gembong-gembong silat kenamaan.
Maka Giok-liong tidak berani berlaku ayal, berapa-kali loncatan tubuhnya berkelebat cepat langsung melesat kebelakang sebuah pohon siong besar dipinggir bukit dari tempat sembunyian nya ini diam-diam ia mengintip ke arah puncak bukit sana.
setelah tiba diatas puncak dan dari dekat barujelas kelihatan situasi dan keadaan bukit yang menyerupai punggung seekor unta ditengah puncak tanahnya melekuk dalam dan gundul seluas puluhan tombak- Diatas tempat lekuk yang datar ini dibagian timur dan barat sudah berkelompok dibagi dua gerombolan tokoh-tokoh silat dari berbagai golongan dan aliran dari seluruh penjuru dunia.
golongan satria dari aliran lurus tak kelihatan seorangpun yang ikut hadir dalam pertemuan besar ini
Diantara mereka sebagian besar adalah musuh-musuh yang pernah bergebrak dengan Giok-liong, setelah menerawang situasi dalam gelanggang diam-diam bercekat hati Giok liong, seumpama tak usah hiraukan larangan suhunya, hanya para iblis dan gembong-gembong silat yang harus dihadapinya ini saja cukup membuat kepalanya pusing.
seumpama benar-benar harus berkelahi dan harus menang tanpa membunuh atau melukai mereka ini benar-benar sesukar memanjat keatas langit, Giok liong menjadi serba sulit dan menghela napas panjang ditempat sembunyinya.
Kecuali ia mengundurkan diri dan meninggalkan gunung Bu ih san ini, kalau tidak pertempuran besar dan mati-matian harus ditakuti.
Bolehkah dirinya mengundurkan diri atau berpeluk tangan saja? Tak mungkin jadi.
Disaat Giok liong dirundung kebingungan inilah tiba-tiba terdengar sebuah gerungan keras disertai melebarnya kabut biru.
Kiranya Cukong istana beracun I bun Hoat telah tampil kedepanserta berseru.
"Go B eng- hui benar-benar bertingkah dan main jual mahal seaala Berulang-kali sudah kita undang dan desak untuk keluar sampai sekarang masih tak sudi unjukkan diri, apa memandang ringan kita orang orang dari aliran samping dan luar pintu ini. Atau hendak mengagulkan kedudukan sendiri sebagai pentolan suatu aliran lurus yang berbau busuk itu?"
Begitu iblis besar ini mempclopori makiannya seketika seluruh lapangan menjadi ribut dan berbisik-bisik, yang bertabiat kasar malah lantas mengumpat caci makian kotor.
"Go-ciang-bun tiba"
Kumandang sebuah gerung a n keras dan kumandang di tengah udara, lantas terlihat pancaran sinar biru berkilau meluncur ke tengah gelanggang, ternyata itulah salah seoarang dari anak buah istana beracun.
Dalam sekejap lain terlihatlah sesosok bayangan kuning meluncur turun pula, itulah Im yang klam Go Beng-hui, Ciangbunjio Bu ih pay telah tiba.
Di belakangnya mengintil empat orang muridnya yang paling diandalkan, punggung mereka menyoreng pedang, semua berdiri tegak dengan sikap serius dan waspada.
Sambil berputar Go Beng-hui angkat tangan memberi hormat keempat peajuru, serunya lantang.
"Para tuan-tuan malam-malam berkunjung keatas gunung kita, aku yang rendah terlambat..."
Tak menanti ia bicara habis, terlihat tubuh kecil cebol I bun Hoat Cukong istana beracun kelihatan bergerak maju, teriaknya dengan angkuh.
"Tay ciang-bun. Tak perlu banyak cerewet, silakan bicara yang penting saja."
Membesi air muka Go Beng-hui, sikapnya dingin membeku,jengeknya dingin.
"Tujuan tuan-tuan..."
Li Peklyang ketua dari yu-bing mo-khek mendadak melompat maju ke hadapan Im-yang-klam, semprotnya dengan beringas.
"Apa perlu ditanyakan lagi maksud kedatangan kita. Kita hanya menanti saja bagaimana sikap pihak B u-ih-pay kalian terhadap persoalan di Rawa naga beracun itu."
Sikapnya yang congkak dan takabur ini sungguh sangat menyebalkan dan tengik sekali. Go Beng hui tertawa getir, ujarnya.
"Gamblang sudah bahwa peristiwa kali ini terjadi diatas gunung kita, betapa juga kita takkan berpeluk tangan mandah menonton saja " "Sret"
Ke empat murid Bu ih-pay serempak mencabut pedang masing-masing terus berpencar ke empat penjuru, empat batang pedang mereka berkilau menyilaukan mata melintang di depan dada, semua siap dan waspada untuk menghadapi pertempuran besar.
Cukong istana beracun I bun Hoat terkekeh keras, suaranya menusuk telinga dan menyedot sukma, katanya.
"Menurut pendapat aku orang she I bun, lebih baik pihak Bu ih-pay kalian tidak ikut campur dalam air keruh ini supaya tidak - - Hehehe Hehe-hehe"
Beruntun jengek dinginnya ini betul-betul mengandung ancaman seram dengan nada yang kejam dan sadis.
Menghadapi musuh sekian banyak yang berkepandaian tinggi sekali, mau tak mau Go Beng hui merasa keder juga.
Tapi sebagai seorang ketua dari satu partai, betapa juga malu untuk menyesali begitu saja, sekilas ia memberi isyarat dengan kedipan mata kepada empat muridnya, artinya agar keempat muridnya jangan sembarangan bergerak lalu dengan sikap tenang yang dibuat-buat ia tertawa kering, katanya.
"Ha Haha-hahaha jadi tuan-tuan sekalian bermaksud main tangan ?"
Dengan suaranya yang serak dan keras yu bing-khek cu Li Pek-yang mengancam.
"Semua terserah dari ucapan Go ciangbun saja "
Delapan belas Hek-i Tongcu serta para rasul yang tak terhitung jumlahnya dari yu-bing mo khek- anak buah dari istana beracun mengenakan pakaian aneh dengan kedok aneh pula seperti laba-laba diatas kepalanya, serta entah berapa banyak gembong-gembong silat dari berbagai aliran serentak merubung maju.
Im yang kiam Go Beng hui sudah terkepung dalam barisan manusia yang berlapis-lapis banyaknya, kalau sedikit ia bicara kurang hati-hati dan menyinggung perasaan mereka, tak ayal lagi puluhan atau ratusan kepalan tangan pasti serempak memberondong kearah dirinya, betapa lihay kepandaian sendiri seumpama setinggi langit juga takkan mungkin dapat membela diri atau meloloskan diri dari serangan gabungan yang dahsyat itu, terang jiwanya bakal melayang secara konyol.
Karena itu sebisanya ia menekan gejolak hatinya dengan muka rada pucat ia berkata gemetar sambil menelan air liur.
"ini urusan besar dalam dunia persilatan betapa juga harus dirundingkan masak-masak, mana mungkin tergantung dari sekejap dua patah kata saja?"
Namun cukong istana beracun tak memberi hati. Bentak I bun Hoat.
"Tidak perlu rundingan apa segala, Go Tay-ciang bun, hayolah kau putuskan sekarang juga."
Go Beng hui menjadi serba salah, saking kewalahan akhirnya ia membuka kata dengan nada sember.
"Terus terang saja perguruan kita tiada menaruh minat terhadap buka catatan rahasia yang berada didalam rawa naga beracun itu"
"Ini terhitung kau pandai melihat gelagat"
"Tapi kejadian hari ini justeru terjadi didalam markas besar kita yang terlarang, kalau pihak kita tidak unjuk muka apakah tidak ditertawakan oleh sesama kaum Dan yang terpenting generasi muda partai kita untuk selanjutnya susah hidup dan tampil di Kangouw" "Hahahahahahihihihi"
Cukong istana beracun I bun Hoat mengudal gelak tawanya yang menusuk telinga menggetarkan sukma mengalun tinggi menembus angkasa. setelah gelak tawanya berhenti, mulutnya lantas menggerung.
"seorang kesatria harus pandai melihat gelagat memutar haluan menurut arah angin, perguruan Bu-ih-bun kalian kalau bisa terhindar dari malapetaka kali ini sudah terhitung suatu keberuntungan besar, masih masih mau mengurus generasi muda apa segala Go Ciang bun terlalu jauh pandanganmu "