Terdengar ia bersuit sekali, setelah menyedot hawa terus berseru.
"Kemarilah "
"Aduh"
Terdengar orang tua jubah kuning mengeluh tertahan, sambil berontak sekuat tenaga, namun sia-sia belaka karena jalan darah dipundak kena dipencet oleh Giok-liong sedang tangan kanan mengancam jalan darah Giok-sia yang mematikan.
Cara turun nya tangan Giok-liong ini betul betul secepat kilat, belum lagi para pengepungnya melihat tegas, tahu-tahu sang ketua sudah diringkus menjadi sandera pihak musuh, terdengar Giok-liong membentak lantang.
"siapa berani bergerak, ku bunuh dia dulu"
Karena jalan darah besar dipencet, orang tua jubah kuning menjadi pucat dan ketakutan sedikit bergerakpun tidak berani, saking gusar air mukanya menjadi pucat dan basah oleh keringat dingin, bibirnya membiru dan gemetar, demikianjuga seluruh tubuhnya bergidik.
Anak buah yang mengepung diempat penjuru menjadi tertegak diam tanpa bersuara diliputi gelapnya sang malam.
Giok-liong berkata lantas.
"Aku yang rendah selamanya belum kenal dengan kalian, belum pernah mengikat permusuhan dan sekarangpun tiada dendam kesumat kalian..
."
Tak kira orang tua jubah kuning yaag jalan darahnya sudah terpencet dan mati kutu tiba-tiba berontak berteriak beringas.
"
Kalian serbu terus sampai titik darah penghabisan tegakkan dan lindungilah nama baik perguruan kita, aku mati tidak menjadi soal, lekas serbu bersama"
Giok-liong menjadi sengit, hardiknya.
"Kau betul-betul tidak takut mati ?"
Tanpa menyahut gentakan Giok-liong, orang tua jubah kuning berteriak lagi dengan suara serak.
"Kalau tidak menumpas bocah kurcaci ini, tentu perguruan kita tiada kesempatan hidup jaya dan sentosa di rimba persilatan. Mari para muridku hayo turun tangan, jangan pedulikan jiwa ku yang tak berarti ini"
Baru saja Giok-liong berniat merintangi, tahu-tahu di antara kelompok pengepung itu ada orang berteriak- "Ketua berkorban demi nama baik perguruan. Hayo kawankawan serbu bersama"
"Maju Serbu "
Gegap gempita bersahutan, beratus orang menyerbu sambil menggerakan senjata tajam tanpa hiraukan lagi sang ketua yang dijadikan sandera ditangan Giok-liong.
Nyata kemurkaan masa memang tukar dibendung lagi.
kejadian ini benar-benar diluar sangka Giok liong, akhirnya ia menjadi sengit pula, teriaknya.
"Kubunuh..."
Sekonyong- konyong - "Giok liong jangan "
Bentakan serak ini laksana samberan geledek seperti keluhan naga kumandang di tengah udara, suarnya, tidak keras tapi tebal kuat dan kokoh terdengar jelas sekali, sampai mendengung dipinggir kuping menggetarkan langit dan bumisupyr gaduh, dari ratusan orang itu menjadi sirap tertelan oleh gema yang menusuk telinga ini- Giok-liong sendiri jaga tersentak kaget seperti baru siuman dari impian batinnya.
"suara ini kukenal betul... ."
Belum lagi habis pikirannya mendadak ia lepaskan cengkeraman sebat sekali tubuhnya lantas melenting tinggi tiga tombak langsung meluncur kearah tanjakan tinggi dari mana suara tadi terdengar, ditengah udara ia berteriak dengan nada kegirangan dan penuh kejut.
"suhu suhu "
Dibawah penerangan cahaya bulan yang redup kelihatan diatas batu yang menonjol keluar diatas gugusan puncak sebelah kiri sana berdiri seseorang laksana malaikat dewata, jubah panjang melambai terhembus angin.
Beliau bukan lain adalah majikan Lembah kematian salah satu dari Ih-lwe-sucun Toji Pang Giok- Tampak air muka Toji Pang Giok serius, alis yang lentik memutih diangkat tinggi, mata jehnya memancar sinar terang dan tajam berwibawa, sikap yang sungguh dan angker ini sedikitpun tiada tawa serinya, sekian lama ia hadapi Giok liong tanpa bersuara.
Kecut perasaan Giok iiok.
tersipu-sipu ia bertekuk lutut terus menyembab, sapanya.
"Suhu"
Dingin muka Toji Pang Giok, dengusnya. "Kau masih ingat aku ?"
Tanpa marah sudah memperlihatkan perbawanya yang menggetarkan hati, nadanya berat. Giok liong tersentak kejut, berulang-ulang ia menyembah tanpa berani angkat kepala, ratapnya.
"Harap suhu suka mengoreksi "
Toji Pang Giok mendengus keras, tanpa hiraukan Giokliong, tidak menyuruhnya bangun tiba-tiba ia kebutkan lengan bajunya enteng sekali badannya lantas melayang turun dari puncak bukit entah bagaimana ia bergerak tahu-tahu di kejap lain ia sudah hinggap dihadapan orang tua jubah kuning itu, katanya berseri sambil unjuk hormat.
"cio Ciang-bun Baik-baik saja selama berpisah "
Kiranya orang tua jubah kuning ini adalah Ciang-bun-jin dari aliran Bu ih-pay, beliau bukan lain Im yang-kiam cio Beng-hui yang kenamaan itu.
sebagai tertua dari I-lwe-su cun kedudukan tingkat Toji Pang Giok boleh dikata sangat tinggi tiada keduanya yang di dunia persilatan.
Meskipun Im yang-kiam cio Beng-hui sebagai ketua dariBu-ih pay, kalau mau dikata menurut urutan aturan kalangan persilatan boleh dikata tiada hak untuk dijajarkan dengan kedudukan Toji Pang Giok- Pada waktu Go Beng-hui masih ingusan sebagai kacung diBu-ih pay, nama Toji Pang Giok sudah menggetarkan maya pada ini, tokoh kelas satu yang disanjung puja, dulu memang mereka pernah bertemu muka sekali, sekarang sudah berselang puluhan tahun, menurut perkiraannya Toji Pang Giok Giok tentu seorang orang tua bangka yang sudah reyot dan ubanan.
Tak terduga setelah bertemu mula baru dilihatnya tegas, bahwa Toji Pang Giok ternyata masin begitu segar dan sehat, sikap dan semangatnya masih begitu kuat dan muda- Tak heran lantas timbul rasa hormatnya tersipu-sipu ia membungkuk dalam balas menghormat seraya sapanya.
"Beng-hui menghadap pada Ciang-pwe "
Anak murid Bu ih-pay hanya pernah dengar akan keharuman nama ToJi Pang Giok, selamanya belum pernah melihat.
Kini melihat sang ketua begitu hormat, dan merendah terhadap orang, seketika mereka turut membungkuk dengan hormat, menghela napas besarpun tak berani.
Karena hormat Go Beng-hui yang merendahi diri ini Toji Pang Giok menjadi rikuh cepat ia berkata.
"Kenapa Go Ciang bun begitu sungkan. Muridku yang nakal dan kurang ajar itu, biarlah aku orang she Pang yang mintakan maaf dan ampun baginya "
Im-yang-kiam Go Beng-hui menjadi terkejut, berulang kali ia mengiakan.
"Mana Wanpwe berani terima, tak berani terima "
Toji Pang cijiok mendongak dan membentak berat kearah Giok-liong yang masih berlutut di puncak gunung sana.
"
Giok-liong Kemari"
Giok-liong menjadi ketakutan, bergegas ia meluncur turun terus berdiri disamping menundukkan kepala tak berani bersuara.
Menurut adat kebiasaan dalam aturan kalangan Kangouw, sesuatu aliran atau golongan kalau hendak menghukum atau melaksanakan hukuman menurut undang-undang perguruan tak boleh ada orang luar hadir Maka cepat-cepat Go Beng-hui maju selangkah, katanya.
"Cian-pwe berkunjung keBu-ih-san, Wanpwe tidak menyambut selayaknya, harap suka dimaafkan sebesarbesarnya "
Toji Pang Giok tertawa, ujarnya.
"Aku malah mengganggu kalian, tak perlu sungkan"
Kata Im yang-kiam Go Beng hui.
"Akhir akhir ini banyak urusan di wilayah kita. Belakangan ini kulihat banyak kaum persilatan yang meluruk datang dan mengobrak-abrik tempat semayan kita disini- Karena itu untuk melindungi nama baik perguruan yang didirikan oleh para Cosu, tak dapat tidak kita harus bertindak tegas, tak duga tak duga..."
Toji pang Giok manggut-manggut, ujarnya.
"Memang benar ucapan Go Ciang-bun, sudah jamak dan semestinya kalian bertindak demikian "
Kuatir berlarut membicarakan pertikaian yang memalukan barusan tadi, Go Beng-hui segera mengalihkan pokok pembicaraan katanya tertawa getir.
"
Urusan ini sudah kujelaskan maka Wanpwe mohon diri "
"Go Ciang bun silakan"
"Mari pulang "
Dengan lantang Go Beng-hui memberi perintah pada anak buahnya, sekejap saja mereka beriring mengundurkan diri menghilang dilamping sebelah kiri Di pegunungan yang sunyi di bawah penerangan cahaya bulan yang remang-remang kini tinggal Toji Pang Giok dan Giok-liong berdua.
Memberanikan diri Giok liong coba bertanya mengambil hati.
"Suhu selama ini apakah baik-baik saja kau orang tua ?"
"Kau duduk "
ToJi Pang Giok membentak dengan suaya berat. Lalu ia melangkah dua tindak memilih sebuah batu besar dan duduk dengan angkernya. Mana Giok-liong berani duduk, mulutnya mengiakan terbata-bata.
"Dimana Tecu ada kesalahan, harap guru berbudi suka menghukum"
"Baik, asal kau masih mengaku aku sebagai gurumu, terhitung hati nuranimu belum padam, kau masih punya perasaan "
Giok-liong bergidik seram, mulutnya hanya mengiakan saja.
"Coba kutanya,"
Kata Toji Pang Giok.
"selama kau kelana di Kangouw, apa saja yang pernah kau lakukan ?"
"Tecu memang bersalah, boleh dikata satupun tiada yang sukses."
"Kaupun tahu bukan saja tiada satupun yang beres, malah mencuci bersih seluruh Go bi, menimbulkan kemarahan delapan partai besar yang meluruk mencari perkara kepada gurumu-"
"Pencucian bersih pihak Go-bi, bukan perbuatan Tecu "
"Aku tahu bukan perbuatanmu tapi kalau kakimu sudah terbenam kedalam lumpur maka kau harus berusaha mencucinya sampai bersih untuk membuktikan kesucian diri "
"Benar, Tecu pasti akan menyelesaikan hal ini"
"Masih ada lagi, kau berkutet dan bermain pat-gulipat tiada habisnya dengan pihak hutan kematian, sehingga mengorbankan jiwa Wi-thian-ciang Liong Bun" "Tecu memang harus dihukum"
"Yang paling menyengitkan adalah kau memimpin para kawanan anjing menyerbu ke-tempat semayan sip-hiat-Hongpian Koan le kini dan melukai muridnya siau-pa ong"
"Harap suhu suka periksa bersekongkol dan memimpin gerombolan liar adalah salah paham belaka, tentang melukai siau pa ong..."
"Kau tak perlu main debat"