Seruling Samber Nyawa Chapter 119

NIC

"Karena beliau ?"

"Sebelumnya aku belum pernah kenal dengan coh jian kun soalnya karena dijalan raya yang menuju ke kotajiang-ek- la melukai salah seorang anggota agama kita- Waktu itu aku belum lama berkecimpung di Kangouw, mendapat perintah suhu untuk menagih pertanggungan jawabnya, maka aku lantas meluruk ke Kwi-hun san-cheng membuat perhitungan."

"Begitulah cara perkenalan pertama ?"

"Benar, kenal sih tidak menjadi soal, siapa tahu, selain merasa rikuh dan minta maaf kepadaku, iapun menyambut dan berlaku sedemikian rupa."

Giok,-liong manggut-manggut, ujarnya.

"Sebagai tuan rumah sudah jamak kalau ia berlaku ramah dan sopan santun."

Kim Eng tertawa getir ujarnya.

"Ibu-nya Thi koan im, sebaliknya marah-marah, berkeras menantang aku untuk berkelahi"

"inipun tak bisa disalahkan dia,"

Kata Giok liong sambil tersenyum. "Sudah jamak bukan ada orang meluruk datang menantang, karena besar rasa cintanya terhadap putra tak menghiraukan siapa salah atau benar, betapapun aturanaturan Kangouw harus ia patuhi-"

"ya akupun- tidak salahkan bukan, malah aku mengalah sampai diserang tiga kali, mandah berkelit saja tak berani balas menyerang "

"Betul-betul pambek seorang Kaucu"

"Pambek apa segala, seorang cendekiawan bisa melihat gelagat, bicara sebenarnya kepandaian waktu itu masih bukan tandingannya "

Giok-liong tertawa lagi ujarnya.

"

Kaucu berkata sungkan Bagaimana selanjutnya ?"

"Akhirnya dengan berbagai bujukan manis Coh Jian- kim menahan ibunya, malah mengiringi aku menghadap suhuku untuk minta maaf"

"Kejadian itu sudah mencapai penyelesaian yang paling sempurna, pertikaian ini kukira sudah selesai sampai disitu saja bukan "

"Ai, siapa tahu... sungguh durhaka "

"Durhaka ? Adakan kesalah pahaman lain terjadi ?"

"siapa tahu disepanjang jalan pulang itu kita berdua"

Sampai disini merah malu selebar muka ui-hoa-kaucu Kim Eng, sambil menunduk kepala dalam ia terpekur.

Giok-liong sendiri sudah maklum apa yang telah terjadisebab kejadian dirinya dengan cek Ki-sia merupakan suatu rangkaian penjelasan yang paling tepat.

Maka sambil tersenyum Giok-Liong berkata.

"Ini merupakan suatu berita menggembirakan bagi kaum persilatan, jodoh yang cocok dan pernikahan yang penuh bahagia kiranya " "Berita gembira ? jodoh takdir apa segala?"

Membeku air muka Kim Eng setelah berkata.

tiba tiba ia menengadah terloroh-loroh seperti orang kesurupan, tawanya tersendatsendat bernada tinggi seperti teriakan orang hutan yang menyedihkan membuat pendengarannya pilu juga.

Giok.-liong merasa heran, tanyanya.

"Apakah Coh Jian-kun mengingkari hubungan.... hubungan mesra itu?"

"Tidak"

"Lalu kenapa...?"

"Ibunya anggap aku merupakan musuh yang meluruk mencari perkara di rumahnya, bagaimana ia juga menolak dan tidak merestui perjodohan ini "

"Wah, serba runyam..."

"Bukan begitu saja, persoalannya lebih celaka lagi, ia menekan dan memaksa Coh Jian kun mempersuntingkan Tam-kiong-sian-ci Hoanji-hoa itu, pernikahan mereka merupakan perjamuan terbesar dalam kalangan Bu-lim."

"Eh"

Tak tertahan Giok-liong berseru tertahan, sebab urusan ini rada mengandung paksaaan yang melanggar peradatan, tidak di landasi kebenaran lagi maka maklumlah kalau Ui hoa-kiaucu sampai sedemikian merana dan duka nestapa.

"Tak duga kejadian itu, masih terus membawa buntut yang tiada akhirnya."

Terdengar Kim Eng menyambung lagi dengan air muka penuh duka dan rawan.

"Lebih celaka lagi karena hubungan diperjalanan itu aku sudah mengandung..."

"Hah urusan ini lebih rumit lagi"

Memang coba pikirkan, sebagai ibu yang belum menikah bagaimana selanjutnya aku harus menjadi manusia muncul dimuka umum.

"Benar, betapapun kau harus mencari penyelesaian terhadap Coh Jian-kun "

"suhuku sendiri yang meluruk ke Hwi-hun-san-ceng menemui Thian-koan im untuk mencari titik pertemuan untuk menyelesaikan urusan melainkan ini"

"Bagaimana katanya?"

"Bukan saja tidak menaruh belas kasihan terhadap aku, malah ia mencaci mati suhuku lagi, katanya undang undang ui-hoa-kiau kurang keras dan melarang anak muridnya untuk memincut laki-laki apa segala "

"

Orang tua itu keterlaluan..."

"saking murah- sejak hari itu juga lantas suhuku menghilang mengasingkan diri tak pernah muncul lagi, entah kemana beliau sekarang tak terdengar kabar beritanya-"

Giok-liong gelang-gelens kepala, keluhnya.

"Ai, mengenaskan"

"Takkala itu dua orang suciku yang terbesar menjadi berang, berbareng mereka menantang ke Hwi-hun-sanceng..."

"ya, terpaksa memang harus demikian"

"siapa tahu, mereka menghadapi gabungan tenaga Thikoan- im dan Tam-kiong-sian-ci, dalam pertempuran yang seru itu kedua belah pihak sama menderita luka-luka berat, setelah kembali sampai di markas besar, beruntun mereka meninggal dunia kerena luka-lukanya itu"

"Sungguh tak duga bakal terjadi bencana besar yang sia-sia ini" "Hari ke hari perutku semakin besar, berulang kali aku sudah berusaha hendak bunuh diri"

"Mana boleh kau mengambil jalan senekad itu, satu pihak kau harus memanggul tugas dan warisan ui-hoa-kiau, dan yang terpenting adalah orok dalam perutmu itu harus tetap hidup dan tumbuh besar "

Ucapan Giok-liong terakhir ini betul-betul mengenai lubuk hati ui-hoa-kiau cu Kim Eng. Maka sekilas pancaran matanya menjadi bersinar cemerlang, ujarnya penuh haru dan girang.

"ya, karena itulah maka mencuri hidup dan sampai sekarang, aku harus hidup meskipun nista dan hina meliputi diriku"

Giok,-liong seperti teringat apas, katanya.

"Dalam jangka waktu selama ini seharusnya Coh Jian-kun datang menengok dan menghiburmu bukan"

"Coh Jian-kun ?"

"Apakah diapun berubah hatinya ?"

"Tidak"

"Dari mana kau tahu?"

"Bukan saja ia tidak melupakan aku, malah sejak pernikahan itu ia tidak pernah tidur sekamar dengan isterinya"

"Eh, kami menderita. Tam kiong-sian-cijuga harus ikut sengsara."

"Tapi ia memang tidak mungkin datang menengokku"

"Kenapa bisa begitu ?"

"Thi koan-im tidak memberi ijin ia meninggalkan rumah, setiap saat selalu ia suruh Tam-kiong sian-ci mendampinginya. Kemana saja ia pergi." "

Orang tua itu sungguh terlalu keras menjaga putranya "

"Akhirnya tiba saatnya juga aku melahirkan seorang anak perempuan"

"

Anak perempuan Dimanakah putrimu itu sekarang ?"

Air muka Kim Eng rasa terang, sinar matanya memancarkan rasa riang, tanpa berkedip ia terlongo memandang bintang-bintang dilangit, mulutnya menggumam.

"Masih untung, ia hidup bahagia "

"Dimanakah sekarang dia berada ?"

"Aku tidak tahu"

"Tidak tahu ?"

"ya "

"Akh, kan aneh "

"Tidak lama setelah ia lahir, terus dibawa pergi"

"siapa ?"

"Tam-kiong-sian-ci Hoan ji-hoa "

"oh, dia, kenapa ?"

"sebab dia sendiri belum pernah melahirkan juga tiada tanda-tanda mengandung bakal melahirkan anak "

"Bagaimana kau bisa berlega hati ?"

Kata-kata Giok-liong menusuk perasaannya yang rindu akan cinta kasih kepada putrinya, tak tertahan lagi Kim Eng menjerit menangis sesenggukan. Giok.-liong ikut meresapi kedukaan orang, cepat-cepat ia membujuk.

"Kalau sudah kau serahkan sejak dulu, apa untungnya kau menangis sekarang ?" "Apa kau kira aku rela menyerahkan putriku kepadanya. Tapi bagaimana kalau sudah besar nanti ia merajuk kepadaku ingin melihat bapaknya, apalagi setelah menanjak dewasa bagaimana pula ia harus mengambil namanya, bagaimana ia harus hidup ?"

Giok.-liong menjadi kagum dan memuji.

"ya, demi generasi muda, Kaucu sikapmu ini sungguh mengharukan dan agung serta suci "

"setelah Tam-kiong-sian-ci membawa pulang putriku, Thikoan- im menyuruh orang mengirim surat kepadaku, katanya sejak saat itu aku dilarang menemui putriku supaya ia tidak mengetahui masa lalunya "

"Katanya kalau sekali aku berani menengok putriku, beliau tidak mau lagi mengakui cucunya itu, malah mungkin menganiaya dan mengusirnya dari keluarga Coh mereka. Demi kebahagiaan anakku, terpaksa aku menurut saja "

"Kaucu, kau mengorbankan dirimu sendiri demi kebahagiaan putrimu"

"Untung Tam kiong-sian-ci Hoanji hoa tidak melahirkan, dipandang dan dirawatnya sebagai anak kandung sendiri, ini terhitung suatu keberuntungan dalam kejadian yang tidak menguntungkan"

Melonjak hati Giok, liong, tanyanya cepat.

"selamanya dia belum pernah melahirkan?"

"Ah, entah karena Coh Jian-kun berkukuh tidak mau tidur sekamar atau karena apa?"

Kini Giok, liong tidak menaruh perhatian akan persoalan lain, desaknya lebih lanjut.

"Jadi putrinya itu adalah Coh Ki-sia yang sekarang ini"

"siapa bilang bukan?"

Sahut Kim Eng sambil angkat alis.

Jantung Giok liong seperti bertambah berdegup dan darahnya semakin menggelora, hatinya menjadi was-was dan perasaannya tidak tentram.

Hal ini memang serba runyam dan menyulitkan dirinya.

Ada niat ia hendak membuka rahasia hubungan dirinya dengan coh Ki-sia, tapi cara bagaimana ia harus membuka mulut.

Kalau tidak dibicarakan langsung, hati kecil merasa tidak tentram, sesaat perang batin tengah bergejolak dalam benaknya, satu sama lain saling kontras.

Apa lagi persoalan ini sulit untuk mencari jalan tengahsaat itu terdengar Kim Eng berkata lagi.

"Maka kali ini aku mengetahui seluruh anggota kami malam-malam menuju ke Hwi - hun san - cheng, tujuanku hendak mencuri lihat saja darah dagingku ini"

"Berapa tahun sudah perpisahan ini?"

"Waktu itu dia baru lahir tiga bulan, sampai sekarang sudah enam belas tahun, sejak saat itu kita ibu beranak belum pernah jumpa barang sekalipun"

"Kalau begitu berarti ia tidak mengenal akan ibunda yang agung ini"

Posting Komentar