"Kalian mundurlah!"
Bentaknya, dan kini dia sendiri yang maju melawan Cu In. Dua orang kawannya menaati perintahnya dan mundur menjadi penonton. Cu In terkejut setengah mati. Pemuda itu ternyata lihai bukan main, berani menangkis Tangan Beracunnya dan setiap kali tertangkis ia merasa lengannya tergetar hebat.
Pemuda itu memiliki ilmu silat yang aneh dan juga memiliki tenaga sinkang amat kuatnya. Cu In yang maklum bahwa kawannya tangguh, segera melolos sabuk suteranya yang menjadi senjatanya yang ampuh, dan mulai menyerang dengan sabuk suteranya. Akan tetapi pemuda itu dapat mengelak atau menangkis sambil men"coba untuk menangkap ujung sabuk sutera putih itu. Akan tetapi usahanya selalu gagal. Sabuk sutera itu seolah hidup di tangan Cu In, bergerak seperti seekor ular dan setiap kali ditangkap dapat melesat cepat menghindar lalu menyerang lagi dengan patukan yang mengarah jalan darah karena sesungguhnya senjata lemas itu dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah. Selagi ramai-ramainya kedua orang ini bertanding, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar suara Keng Han,
"Bibi guru harap minggir biar aku yang menghadapinya?"
Bagaimana Keng Han dapat tiba di situ! Perjalanannya dengan Cui In memang searah, sama-sama ke timur sehingga tidak aneh kalau dia juga lewat di situ.
Ketika dari jauh melihat perkelahian itu, jantungnya berdebar penuh kegembiraan dan ketegangan karena seorang wanita yang berpakaian putih bersenjata sabuk sutera putih itu siapa lagi kalau bukan Souw Cu In? Melihat orang yang dirindukannya ini hatinya merasa girang sekali, akan tetapi juga tegang melihat betapa lawan bibi gurunya itu amat tangguh. Apalagi setelah dekat dia mengenal pemuda itu sebagai Gulam Sang yang pernah ditandinginya! Gulam Sang, putera mendiang gurunya! Bahkan gurunya sebelum meninggal dunia berpesan agar dia bekerja sama dengan puteranya itu. Maka cepat dia meloncat datang dan menyuruh bibi gurunya minggir. Gulam Sang juga mengenal Keng Han sebagai pemuda tangguh yang pernah dilawannya. Dia menjadi penasaran karena tadi belum sempat mengalahkan Cu In yang sudah didesaknya.
"Siapakah engkau yang mencampuri urusan kami?"
Bentaknya dan dia memandang kepada Keng Han dengan mata yang lebar itu mencorong.
"Bukankah namamu Gulam Sang dan engkau adalah putera dari Gosang Lama?"
Tanya Keng Han sambil membalas pan"dang mata mencorong itu. Gulam Sang nampak terkejut dan melangkah mundur setindak mendengar pertanyaan itu.
"siapa engkau? Apa hubunganmu dengan Gosang Lama?"
Keng Han melihat betapa kekejutan pemuda tinggi besar itu dibuat-buat karena suaranya Masih biasa saja, hanya tadi seolah sengaja melangkah mundur.
"Aku adalah muridnya. Sebelum suhu Gosang Lama meninggal dunia, dia berpesan kepadaku agar dapat bekerja sama denganmu. Akan, tetapi kenapa engkau bertempur melawan bibi guruku ini? Ia adalah bibi guruku dan mustahil ia melakukan kesalahan sehingga engkau turun tangan bertempur dengannya."
Wajah Gulam Sang berubah kemerahan dan dia menoleh kepada dua orang kawannya.
"Kawan-kawanku ini yang usil maka terjadi perkelahian. Mereka hendak menyingkap tabir yang menutupi wajah Nona ini."
Keng Han mengerti mengapa mereka berkelahi. Tentu saja bibi gurunya tidak sudi dibuka cadarnya dan masih beruntung mereka berdua itu tidak sampai dipukul mati.
"Kalian sudah bertindak lancang. Mengingat engkau putera suhu Gosang Lama, biarlah aku mintakan ampun kepada bibi guruku."
Kata Keng Han sambil menoleh. Akan tetapi ternyata Cui In sudah tidak nampak, sudah pergi dari tempat itu tanpa pamit. Ketika tadi Keng Han muncul, Cu In juga merasa berbahagia sekali. Akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda tinggi besar itu putera guru Keng Han, Cu In menjadi marah dan pergi tanpa pamit.
"Eh, ke mana bibi guru?"
Si jenggot kambing yang menjawab.
"Ia sudah pergi sejak tadi."
Keng Han memandang kepada si jenggot kambing dan si hidung pesek dengan marah.
"Kalian berdua telah melakukan kesalahan, hayo cepat minta maaf kepadaku dan aku akan memaafkan atas nama bibi guruku!"
Kedua orang itu memandang kepada Gulam Sang yang mengangguk. Keduanya lalu mengangkat kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada Keng Han,
"Harap sampaikan maaf kami kepada nona tadi."
"Saudara yang baik, siapakah namamu dan sejak kapan engkau menjadi murid ayahku?"
"Namaku Si Keng dan sejak berusia sepuluh tahun aku menjadi murid Gosang Lama selama lima tahun."
"Kalau begitu engkau masih saudaraku sendiri walaupun aku sendiri sejak kecil tidak pernah bertemu dengan mendiang ayahku. Apa saja yang dipesankan ayah kepadamu sebelum dia meninggal?"
"Dia berpesan agar aku bekerja sama denganmu, saling bantu."
"Bagus sekali! Mari kita kembali ke dusun dan mencari penginapan agar kita leluasa bicara."
Keng Han tidak menolak, karena percuma saja andaikata dia akan mengejar Cu In yang pergi tanpa pamit . Dan dia pun ingin mengenal lebih baik putera suhunya ini yang berkepandaian tinggi dan yang menurut Dalai Lama pernah menjadi murid Dalai lama yang sakti. Mereka kembali ke dusun dan menyewa kamar, kemudian bercakap-cakap berdua saja di kamar yang disewa Keng Han.
"Nah, sekarang katakan apa yang hendak kaubicarakan, Gulam Sang. Kerja sama yang bagaimana yang dapat kita bersama lakukan."
"Nanti dulu, Keng Han. Aku ingin tahu siapakah orang tuamu dan sekarang ini engkau hendak ke mana? Kita harus terbuka dan menceritakan keadaan masing-masing, baru kita dapat bekerja sama, bukan?"
Keng Han mengangguk-angguk. Dia belum percaya kepada pemuda tinggi besar ini, akan tetapi bagaimanapun juga, pemuda ini adalah putera Gosang Lama yang pernah menjadi gurunya yang baik.
"Terus terang saja, saudara Golam Sang. Ibuku adalah seorang wanita Khitan, puteri seorang kepada suku di sana dan ayahku...."
Ia berhenti dan meragu. Harus dikatakankah rahasia tentang ayahnya?
"Dan ayahmu tentu bukan orang Khi"tan!"
Kala Golam Sang.
"Engkau benar. Ayahku adalah seorang pangeran kerajaan Ceng."
"Ahhh....!"
Gulam Sang nampak ter"kejut.
"Siapa nama ayahmu yang pangeran itu?"
"Nama ayahku adalah Tao Seng, jadi aku she Tao Keng Han."
"Ahhh....!"
Kembali Golam Sang terkejut.
"Apakah Pangeran Tao Seng yang dihukum buang itu?"
"Agaknya engkau mengetahui banyak hal tentang ayahku, saudara Golam Sang."
"Aku hanya mendengar saja bahwa ada dua orang pangeran yang dihukum buang."
"Dan tahukah engkau di mana ayahku itu sekarang?"
"Aku tidak tahu, mungkin di kota raja, mungkin masih di tempat pembuangannya, di Barat. Akan tetapi engkau tentu dapat mencari keterangan di kota raja. Kebetulan aku mengenal seorang pensiunan pejabat tinggi yang dahulu berhubungan erat dengan ayahmu. Kau carilah dia di kota raja dan dia pasti akan dapat memberitahu di mana ayahmu. Namanya Ji Soan dan dikenal dengan sebutan Ji-wangwe (hartawan Ji) karena sekarang dia telah menjadi seorang saudagar yang kaya raya. Kau tanyakan kepada siapa saja di mana ru"mahnya Ji-wangwe dan tentu engkau akan dapat menemukannya."
"Ah, terima kasih, Gulam Sang. Keteranganmu ini penting sekali bagiku. Besok pagi-pagi aku akan langsung menuju ke kota raja untuk mencari Ji"wangwe itu."
"Kabarnya, ayahmu itu difitnah dan dia dihukum dalam keadaan penasaran sekali."
"Difitnah?"
Tanya Keng Han, ingin sekali tahu.
"Ya, kabarnya yang melakukan fitnah adalah seorang pangeran lain yang kini menjadi Pangeran Mahkota."
"Aku mendengar dari ibuku bahwa ayahku itu adalah Pangeran Mahkota."
"Mungkin benar demikian. Mungkin karena dia seorang Pangeran Mahkota, ada pangeran lain yang iri hati dan melakukan fitnah sehingga dia dihukum buang."
"Siapakah pangeran jahat itu?"
"Dia adalah Pangeran Mahkota Tao Kuang. Akan tetapi urusan itu aku pun tidak tahu banyak. Yang lebih mengetahui adalah Hartawan Ji itulah. Bagaimanapun juga, Pangeran Tao Kuang dan Kaisar Cia Cing itu adalah musuh be"sarmu karena merekalah yang mencelakakan dan menghukum ayahmu."
"Kalau benar ayah terhukum dengan penasaran, aku akan membalas dendam!"
Kata Keng Han dengan hati panas.
"Bagus! Dalam hal ini, kita dapat bekerja sama. Kita sama-sama berjuang menggulingkan pemerintahan Ceng yang dipegang oleh Cia Cing dan kelak di"pegang oleh Pangeran Tao Kuang itu!. Kita bekerja sama dengan teman-teman seperjuangan."
"Hemmm, kau maksudkan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang dulu kaubantu mengeroyok kami itu? Mereka itu bukan orang-orang baik. Aku sudah mendengar sepak terjang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai itu. Mereka adalah orang"orang jahat yang berkedok perjuangan. Bagaimana kita dapat bekerja sama dengan mereka?"