"Akan tetapi ilmu silatmu itu.... aku pernah mendengar subo bercerita tentang ilmu-ilmu keluarga itu. Katanya ada ilmu yang sifatnya seperti mencorat"coret dengan tangan atau pedang, yang disebut Hong-in Bun-hoat, dan tadi engkau menggunakan ilmu itu, bukan?"
Terhadap gadis ini Keng Han tidak ingin berbohong.
"Memang sesungguhnya aku tadi memainkan ilmu Hong-in Bun"hoat."
"Dan kau bilang bukan murid Pulau Es?"
"Bukan, Su-i. Aku tidak berbohong. Kudapatkan ilmu ini di sebuah gua di Pulau Hantu, bersama ilmu-ilmu lain."
"Ilmu apa saja? Ah, kau tidak perlu mengaku kalau hendak merahasiakannya."
"Kepadamu aku tidak ingin menyembunyikan apa-apa, Su-i. Selain Hong-in Bun-hoat, aku juga menemukan pelajaran ilmu silat Toat-beng Bian-kun, ilmu tenaga sakti Hwi-yang Sin-kang dan Swat"im Sin-kang."
Gadis itu terbelalak dan Keng Han terpesona. Sepasang mata itu demikian indahnya ketika terbelalak, seperti bintang kembar yang bercahaya terang.
"Tapi semua itu adalah ilmu-ilmu keluarga Pulau Es!"
"Entahlah, Su-i. Aku hanya menemukannya di Pulau Hantu dan telah kupelajari semua itu selama lima tahun."
"Pantas saja engkau mampu menandingi Swat-hai Lo-kwi dan Toat-beng Kiam-sian. Dan suci telah mengangkatmu sebagai murid! Betapa lucunya. Padahal suci sendiri tak mungkin mampu menandingimu. Bahkan subo sendiri belum tentu mampu. Engkau telah menguasai ilmu"ilmu langka yang sakti, Keng Han."
Keng Han tersipu.
"Aih, Bibi Guru terlalu memuji. Aku hanya seperti seekor burung yang baru belajar terbang dan baru saja meninggalkan sarangnya. Aku tidak mempunyai pengalaman apa-apa, maka kalau Su-i sudi melakukan perjalanan bersamaku, aku dapat belajar banyak."
"Tidak bisa! Kalau subo mengetahui aku melakukan perjalanan dengan seorang pemuda, tentu ia akan marah sekali dan aku harus membunuhmu! Nah, pergilah!"
"Akan tetapi, Su-i.... Suara Keng Han penuh permohonan dan penuh kekecewaan.
"Tidak ada tapi-tapian, Keng Han. Kita harus berpisah. Pergilah, atau aku akan marah kepadamu!"
"Su-i....!"
Kata Keng Han, akan tetapi melihat sinar mata itu mencorong marah, dia lalu memberi hormat dan berkata,
"Baiklah, Su-i, aku tidak berani membantah. Harap Su-i berhati-hati di jalan dan jagalah dirimu baik-baik, Su-i."
Dengan wajah sedih sekali Keng Han lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan gadis itu.
Dia merasa tubuhnya menjadi lemas dan segala sesuatu nampak buruk baginya. Dia merasa kesepian, merasa ditinggalkan oleh sesuatu yang amat berharga baginya. Kalau tadinya, segala hal nampak menyenangkan, kini menjadi menyedihkan. Dia menengok dan tidak melihat lagi bayangan Cu In. Kesedihan dan kesepian melanda dirinya sehingga Keng Han tidak mampu melangkah lagi. Dia menjatuhkan dirinya duduk di atas batu dan termenung. Hidupnya terasa hampa. Kerinduan kepada Cu In begitu mencengkeram hatinya. Membayangkan bahwa dia tidak akan dapat bertemu lagi dengan gadis itu, membuat matanya menjadi basah dan hampir saja dia menangis seperti anak kecil kalau tidak ditahan-tahannya. Tiba-tiba dia, menyadari keadaannya dan menepuk kepalanya sendiri.
"Huh! Kenapa engkau menjadi cengeng seperti itu?"
Dia merasa malu kepada diri sendiri, malu kepada Souw Cu In. Kalau bibi gurunya itu melihat keadaannya, tentu ia akan menegurnya.
"Tolol! Cengeng!"
Keng Han memaki diri sendiri sambil bangkit berdiri dan dengan langkah tegap dia melanjutkan perjalanannya menuju ke timur, ke kota raja! Dia masih memiliki tugas yang teramat penting. Mencari ayah kandungnya.
Souw Cu In sendiri merasa kesepian dan hatinya terasa berat harus berpisah dari Keng Han. Gadis ini merasa heran sekali. Belum pernah ia merasa kehilangan seperti ini! Apalagi kehilangan seorang sahabat, seorang pria. Tekanan yang diberikan subonya sejak ia masih kecil membuat ia menganggap setiap orang pria itu palsu dan jahat. Apalagi setelah ia melihat sendiri betapa kaum pria selalu bersikap menjemukan kalau bertemu dengannya di manapun. Pria semua mata keranjang dan ingin menggoda kalau bertemu dengannya. Akan tetapi kini ia bertemu Keng Han yang sama sekali berlainan dengan pria yang seringkali ia bayangkan dan yang pernah ia temukan. Keng Han sama sekali tidak kurang ajar, bahkan amat sopan dan bersikap baik sekali kepadanya. Maka, begitu Keng Han meninggalkannya dengan sikap demikian kecewa dan sedih, ia merasa kasihan sekali dan ikut pula berduka dan kehilangan. Baru sekarang ia merasa kesepian melanda hatinya.
Akan tetapi gadis yang dididik menjadi keras hati ini dapat menekan perasaannya dan ia pun melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat sekali. Pada suatu hari tibalah ia di sebuah dusun yang cukup besar dan ramai. Bahkan ia menemukan sebuah kedai makan di dusun itu. Karena perutnya sudah lapar Souw Cu In memasuki kedai itu dan memesan makanan dan minuman teh. Kedai teh itu sudah banyak tamu yang sedang makan. Seperti biasa dialami Cu In, begitu ia memasuki kedai makan itu, banyak mata memandang dan banyak kepala menengok lalu terdengar suara berbisik-bisik dan tawa yang dibuat-buat. Namun ia tidak mempedulikan,itu semua dan memesan makanannya kepada pela"yan yang menghampirinya. Tiga orang pria yang duduk di meja sebelahnya, menghentikan makan mereka ketika melihat Cu In. Mereka itu terdiri dari orang-orang yang berpakaian, gagah, berusia antara tiga puluh dan empat puluh tahun. Seorang di antara mereka, yang berusia tiga puluh tahun, agaknya menjadi pemimpin mereka.
"Sayang ia bercadar sehingga kita tidak dapat melihat. mukanya,"
Kata seorang di antara mereka yang berusia hampir empat puluhan tahun.
"Aku yakin ia cantik seperti bidadari,"
Kata orang kedua yang usianya empat puluhan tahun.
"Sudahlah, lanjutkan makan kalian dan jangan pedulikan orang lain."
Kata pemuda yang berusia tiga puluhan tahun. Dia itu bertubuh tinggi besar dan nampak gagah dan tampan, mukanya bundar dan sepasang matanya lebar sehingga wajah itu nampak asing.
"Akan tetapi, Kongcu, yang ini berbeda dengan wanita biasa. Kami berani bertaruh bahwa ia seorang yang luar biasa sekali, penuh rahasia karena muka itu bercadar."
Kata orang pertama. Orang yang disebut kongcu itu mencela,
"Kalau orang menutupi mukanya, apalagi kalau ia wanita, tentu itu cacat. Sudahlah, mari kita cepat selesaikan makan, kita harus melanjutkan perjalanan!"
Mereka melanjutkan makan minum dan karena Cu In makan cepat dan tidak banyak, gadis ini lebih dulu selesai dan segera membayar makanan dan pergi meninggalkan kedai makanan itu tanpa mempedulikan orang lain. Tiga orang itu juga sudah selesai makan dan mereka juga cepat-cepat meninggalkan kedai. Ketika Cu In berjalan keluar dari dusun itu, ia pun tahu bahwa tiga orang itu membayanginya. Ia pura-pura tidak tahu dan melangkah terus. Akan tetapi setelah tiba di jalan yang sepi, tiga orang ini berlari cepat menyusulnya.
"Tahan dulu, Nona!"
Terdengar suara pria pertama yang berkumis dan berjenggot seperti kambing. Cu In berhenti dan menghadapi tiga orang itu. Ia melihat bahwa dua, diantara mereka memandangnya dengan mulut menyeringai, akan tetapi pemuda berusia tiga puluhan tahun yang berwajah tam"pan dan gagah itu bersikap acuh tak acuh.
"Nona, tadi kita melihatmu di rumah makan."
Kata orang kedua yang hidungnya pesek.
"Lalu, mengapa kalian mengejarku?"
Tanya Cu In dengan ketus.
"Begini, Nona. Aku dan temanku ini bertaruh. Aku yakin bahwa wajahmu cantik seperti bidadari, sebaliknya dia yakin bahwa wajahmu cacat dan buruk. Nah, karena itu kami harap Nona suka membuka cadar Nona itu sebentar saja agar kami dapat melihatnya dan menen"tukan siapa yang menang bertaruh."
"Aku tidak peduli kalian bertaruh atau tidak, akan tetapi aku tidak akan membuka cadarku!"
Kata Cu In dengan suara ketus dan marah.
"Aih, Nona. Mengap Nona begitu pelit? Memperlihatkan muka sebentar saja, apa keberatan. Nah, kalau begitu biarlah aku yang membuka dan menying"kap cadar itu!"
Kata si jenggot kambing dan tangannya meraih ke arah cadar di muka Cu In. Gadis ini mengelak mundur dan sambaran tangan itu luput.
"Siapa berani membuka cadarku dia akan mati!"
Kata Cu In dengan suara membentak. Akan tetapi agaknya si jenggot kambing dan si hidung pesek menganggap kosong gertakan Cu In ini. Bahkan si hidung pesek tertawa,
"Ha-ha-ha, Thian"ko. Mari kita bertaruh lagi, siapa di antara kita yang lebih dulu dapat mem"buka cadar Nona ini!"
Si jenggot kambing tertawa.
"Ha-ha"ha, baik sekali! Jadi taruhan kita ada dua, mengenai muka gadis ini dan siapa yang lebih dulu menyingkap cadar!"
Keduanya lalu menerjang maju dan tangan mereka meraih untuk menyambar cadar putih yang menutupi muka Cu In.
Laki-laki ketiga yang berwajah tampan itu masih memandang dengan tidak peduli. Marah sekali hati Cu In. Cepat ia mengelak sambil berloncatan dari serangan kedua orang yang hendak merenggut cadarnya dan ia pun menampar dengan pukulan Tangan Beracun. Akan tetapi kagetlah ia melihat betapa dua orang itu pun mampu mengelak dengan cepat. Kini keadaannya berubah. Dua orang itu bukan berebutan membuka cadar melainkan mengeroyok gadis itu. Terjadilah perkelahian yang seru. Akan tetapi, dua orang itu kecelik karena kini mereka bertemu batunya. Ternyata gadis bercadar itu lihai bukan main dan mereka terdesak hebat oleh pukulan dan tendangan Cu In. Padahal, kedua orang itu mengira bahwa mereka adalah orang-orang lihai yang jarang bertemu tanding! Melihat ini, sepasang mata lebar dari pemuda tampan itu bersinar-sinar.