Pusaka Pulau Es Chapter 44

NIC

Berkata demikian, Lo Siu Lan telah mencabut pedangnya. Souw Cu In mendengus seperti orang mengejek.

"Dan engkau, sungguh tidak malu hendak memaksa seseorang menjadi suamimu!"

"Keparat!"

Lo Siu Lan menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi bagaikan bayangan saja, tubuh Souw Cu In telah meloncat ke samping dan tiba-tiba ada sinar putih mencuat dan tahu-tahu pedang di tangan Siu Lan terlibat dan terampas! Siu Lan terkejut dan melompat mundur. Cu In mengambil pedang itu dan melemparkannya kembali kepada Siu Lan.

"Siapa yang keparat masih patut diselidiki!"

Kata Cu In. Biarpun marah sekali, Siu Lan tidak berani sembarangan lagi bergerak. Dalam segebrakan saja pedangnya telah terampas! Lo Cit juga kaget melihat hal ini. Gadis bercadar itu lihai bukan main.

"Siapa yang sudah masuk ke sini tidak boleh sembarangan keluar. Kalau Si Keng Han ingin membebaskan diri, dia harus melalui pertandingan denganku. Tidak usah sampai lima puluh jurus, melihat dia masih muda biarlah kuberi waktu...."

"Sepuluh jurus!"

Kata Keng Han.

"Sepuluh jurus sudah merupakan waktu yang lama, melihat aku yang masih begini muda harus melawan Pangcu yang tua dan berpengalaman!"

Toat-beng Kiam-sian tertegun. Dulu pernah dia menyerang pemuda ini sampai sepuluh jurus dan ternyata dia tidak dapat merobohkan. Akan tetapi ketika itu dia tidak menggunakan pedang tongkatnya. Kalau dia menggunakan pedang tongkatnya, mungkin dalam satu atau dua jurus saja dia sudah mampu mengalahkan pemuda itu.

"Keng Han, sepuluh jurus pun sudah terlalu lama. Engkau tidak akan dapat bertahan menghadapi pedangnya walau hanya lima jurus saja!"

Ucapan ini bernada sungguh-sungguh penuh kekhawatiran, padahal sebenarnya merupakan pancingan yang amat cerdik dari Souw Cu In. Gadis ini sudah melihat kelihaian Keng Han yang dapat menandingi seorang datuk besar seperti Swat-hai Lo-kwi. Kalau pemuda itu mampu menandingi Swat-hai Lo-kwi, maka menghadapi Toat"beng Kiam-sian dalam sepuluh jurus saja tidak mungkin dia dikalahkan, apalagi dalam lima jurus. Bahkan mungkin sampai puluhan jurus akan mampu bertahan. Mendengar ucapan dan melihat sikap Souw Cu In, Toat-beng Kiam-sian membentak,

"Baiklah, sepuluh jurus! Kalau pedangku selama sepuluh jurus belum mampu mengalahkanmu, engkau boleh pergi dari sini tanpa diganggu!"

"Keng Han, berhati-hatilah. Pedang tongkat itu amat lihai sekali!"

Kembali Souw Cu In berseru.

"Hayo, orang muda. Kau boleh menggunakan senjata apa pun, boleh kau pilih dari rak senjata itu untuk menghadapi pedangku!"

Kata kakek itu sambil mengangkat tongkat di tangannya yang dalamnya terisi pedang.

"Lo-pangcu! Keng Han tidak pernah menggunakan senjata, maka kalau kau menggunakan pedang, itu licik sekali namanya!"

"Dia boleh memilih senjata yang di"sukainya! Aku tidak peduli, dia mau ber"senjata atau tidak!"

"Jangan khawatir, Bibi Guru. Aku memiliki pedangku ini!"

Keng Han mencabut pedang bengkoknya yang selama ini belum pernah dia pakai untuk berkelahi. Akan tetapi, mendengar nasihat Souw Cu In, dia tahu bahwa tentu ilmu pedang kakek timpang itu hebat dan dahsyat, maka kini dia menggunakan pedang pemberian ibunya atau pedang peninggalan ayah kandungnya. Melihat pemuda itu memegang sebatang pedang bengkok, Gan Bu Tong tertawa.

"Ha-ha-ha, dia memegang sebatang pisau pemotong ayam!"

Dia mengejek.

"Diam, Suheng! Engkau sudah dikalahkannya dengan mudah!"

Kata Lo Siu Lan ketus. Akan tetapi Toat-beng Kiam-sian memandang rendah pedang bengkok itu.

"Orang muda, bersiaplah menghadapi seranganku!"

Bentaknya dan pedangnya sudah menyambar bagaikan kilat cepatnya.

"Singgggg....!"

Keng Han terkejut bukan main. Dahsyat sekali pedang itu menyambar, beberapa kali lipat lebih cepat dan kuat daripada pedang yang dimainkan Lo Siu Lan tadi. Akan tetapi dia sudah siap, dengan gerakan tangkas dia mengelak sambil memutar pedang bengkoknya menangkis.

"Tranggg....!"

Nampak bunga api berpercikan dan keduanya merasa betapa tangan yang memegang pedang menjadi panas den tergetar.

"Jurus pertama....!"

Souw Cu In menghitung dengan suara nyaring sekali.

Lo Cit merasa penasaran dan mulailah dia mengayun pedangnya dan menyerang dari segala jurusan dan dengan kecepatan kilat. Memang tidak kosong saja julukannya Dewa Pedang karena memang hebat sekali ilmu pedangnya. Namun, Keng Han juga memiliki ilmu Hong-in Bun-hoat yang sakti. Dengan berloncatan ke sana-sini dan pedang bengkoknya mencorat-coret menuliskan huruf-huruf, dia dapat menghindarkan diri dari semua serangan kakek itu.

"Jurus ke dua.... ke tiga....ke empat....!"

Souw Cu In menghitung terus jurus-jurus yang dimainkan oleh kakek itu.

Pada jurus ke enam, Keng Han sama sekali belum tersentuh pedang lawan, bahkan kini dia mampu membalas dengan gerakan corat-coretnya yang membingungkan lawan.

"Jurus ke delapan....!"

Toat-beng Kiam-sian menjadi marah bukan main. Sudah delapan jurus lewat dan lawannya masih mampu menandinginya, bahkan mampu membalas serangan"nya. Dan dia sendiri tidak mengenal ilmu silat pedang lawan yang seperti corat-coret menuliskan huruf itu. Dia membentak keras sambil berjongkok dan menyabetkan pedangnya untuk membabat kedua kaki lawan.

"Hyaaaaattttt....!"

Keng Han meloncat ke atas dengan gerakan ringan seperti seekor buruhg terbang sehingga babatan itu hanya lewat di bawah kedua kakinya.

"Jurus ke sembilan....!"

Cu In berseru girang, akan tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan ia memandang, dengan hati cemas ketika melihat serangan jurus ke sepuluh. Kini Lo Cit menggerakkan pedangnya ke atas, menyambut tubuh Keng Han yang melompat turun dan bukan pedangnya saja yang menyerang, akan tetapi juga tangan kirinya menghantam dengan ilmu pukulan Halilintar! Bukan main hebatnya pukulan dan tusukan pedang ini dan tubuh Keng Han masih berada di udara. Sementara itu, melihat serangan lawan yang nekat dan berbahaya, Keng Han menggerakkan pedang bengkoknya untuk menangkis dan tangan kirinya juga dihantamkan ke depan menyambut pukulan Halilintar lawan.

"Tranggg.... desss....!"

Hebat bukan main pertemuan kedua pedang itu, akan tetapi lebih dahsyat lagi pertemuan kedua telapak tangan. Akibatnya, tubuh Lo Cit terdorong sehingga dia terhuyung ke belakang, sedangkan Keng Han turun ke bawah dengan selamat.

"Jurus ke sepuluh!"

bentak Cu In. Akan tetapi agaknya Lo Cit tidak mempedulikan teriakan itu dan kini bahkan menyerang lagi dengan lebih dahsyat ke arah Keng Han. Dan bersama dengan majunya Lo Cit, kini beberapa orang murid, di antaranya Gan Bu Tong juga hendak melakukan pengeroyokan. Melihat gelagat yang tidak baik ini, Cu In sudah meluncurkan sabuk suteranya yang berubah menjadi sinar putih menyerang kearah Lo Siu Lan. Siu Lan terkejut akan tetapi tidak sempat mengelak dan tahu-tahu pinggangnya telah terlibat ujung sabuk dan sekali Cu In menarik, tubuh Siu Lan terdorong ke arahnya dan ia sudah menangkap gadis itu dan menodongkan jari-jari tangan kirinya ke atas ubun-ubun kepala Siu Lan.

"Tahan semua senjata atau aku akan membunuh Siu Lan!"

Teriak Cu In dengan suara nyaring. Toat-beng Kiam-sian Lo Cit menengok dan wajahnya berubah ketika dia melihat puterinya telah berada dalam ancaman tangan Cu In. Dia maklum bahwa sekali menggerakkan tangan itu ke arah ubun-ubun kepala anaknya, gadis itu tentu akan tewas!

"Tahan semua senjata dan mundur!"

Bentaknya kepada para muridnya. Semua mundur dan memandang ke arah Cu In yang masih mengancam Siu Lan.

"Keng Han, mari kita pergi dari sini. Awas, jangan ada yang mengikuti kami kalau ingin gadis ini selamat!"

Kembali Cu In membentak dan ia mendorong Siu Lan berjalan di depan sedangkan ia dan Keng Han berjalan di belakangnya. Dengan cara ini mereka dapat keluar dari sarang Kwi-kiam-pang tanpa ada yang berani menghalangi. Setelah tiba di luar, Cu In menotok Siu Lan sehingga gadis ini menjadi lemas dan roboh tak berdaya, kemudian mereka berdua berlari cepat meninggalkan tempat itu. Belasan li mereka berlari meninggalkan tempat itu sampai mereka memasuki sebuah hutan di lereng bukit. Mereka berhenti melepas lelah dan Keng Han berkata dengan nada suara menegur,

"Su"i, kenapa menggunakan cara yang curang itu untuk menyelamatkan diri?"

"Curang katamu? Bagaimana dengan Toat-beng Kiam-sian itu? Sudah sepuluh jurus engkau bertahan terhadap serangannya, ehhh, dia malah menyerang lagi dan maju mengeroyok. Mereka demikian banyak, bagaimana mungkin kita dapat melawan mereka? Kalau aku tidak menggunakan akal itu, apa kaukira kita bisa keluar dengan selamat. Keng Han menundukkan mukanya, harus mengaku kebenaran ucapan gadis itu.

"Ah, mengapa di dunia ini banyak orang yang tidak sungkan berlaku curang seperti ketua Kwi-kiam-pang tadi?"

"Itulah! Merupakan pelajaran pertama bagimu kalau engkau memasuki dunia kang-ouw, yaitu, jangan mudah percaya kepada siapapun juga atau engkau akan tertipu. Lebih banyak orang yang curang daripada yang jujur, lebih banyak yang jahat daripada yang baik. Nah, sekarang tiba saatnya kita harus berpisah mengambil jalan masing-masing."

"Su-i,"

Kata Keng Han dengan suara sungguh-sungguh.

"Kalau perjalanan kita sama, menuju ke satu jurusan, yaitu kota raja, kenapa kita tidak melakukan perjalanan bersama saja?"

"Tidak pantas seorang pemuda melakukan perjalanan bersama seorang gadis!"

"Aih, Su-i, bukankah engkau ini bibi guruku? Kenapa tidak pantas? Yang penting kita tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas. Pula, agaknya memang sudah semestinya kita melakukan perjalanan bersama sehingga dapat saling melindungi. Bayangkan saja, kalau kita tidak melakukan perjalanan bersama, engkau sudah celaka di tangan Tung"hai Lo-mo dan aku sudah celaka di tangan Toat-beng Kiam-sian! Dengan berdua, kita dapat mengatasi semua bahaya itu."

Souw Cu In termenung, agaknya melihat kebenaran dalam ucapan pemuda itu dan ia mempertimbangkan. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan bertanya.

"Keng Han, apakah engkau murid keluarga Pulau Es?"

"Bukan, Su-i. Bahkan aku selama hidup belum pernah bertemu dengan mereka."

Posting Komentar