"Aku hendak mencari ayahku di kota raja."
"Ahhh....!"
"Kenapa Su-i terkejut mendengar itu?"
"Tujuan perjalananku juga ke kota raja!"
Bukan main girangnya hati Keng Han mendengar ini.
"Kalau begitu kebetulan sekali, Su-i. Kita dapat melakukan perjalanan bersama."
"Tidak! Besok pagi kita harus berpisah, melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Kalau subo mengetahui, baru malam ini saja kita berada di sini berdua, sudah cukup bagi subo untuk menuduh yang tidak-tidak dan membunuhku!"
"Gurumu amat kejam terhadap laki"laki, Su-i!"
Keng Han memrotes.
"Tidak! Guruku sudah adil. Engkau tidak tahu betapa hatinya telah dihancurkan, kehidupannya telah dilumatkan, oleh kaum pria! Ia hanya membalas dendam! Aku mencari musuh besarku itu, juga untuk mencari musuh besar yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup guruku. Orangnya sama!"
"Ahhh....!"
Keng Han bukan hanya terkejut mendengar ucapan itu, melainkan juga terkejut mendengar suara lain, suara gerakan orang-orang di sekitar mereka! Akan tetapi karena malam itu gelap sekali dan api unggun itu tidak terlalu besar, dia tidak melihat apa-apa.
"Engkau dengar tadi?"
Souw Cu In bertanya. Keng Han mengangguk dan keduanya waspada. Tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan keras di sekitar mereka. Mereka terkejut dan meloncat berdiri, tidak tahu harus berbuat apa karena musuh tidak nampak dan ledakan-ledakan masih terjadi di sekeliling mereka. Agaknya musuh menyerang mereka dengan bahan ledakan yang mengeluarkan asap tebal. Kedua orang itu tidak berani sembarang bergerak karena khawatir kalau-kalau diserang musuh yang tidak kelihatan. Akan tetapi tiba-tiba keduanya mencium bau keras sekali dan Souw Cu In berseru.
"Tahan napas....!"
Akan tetapi sudah terlambat. Keduanya sudah menghisap asap terlalu banyak dan mereka terbatuk"batuk roboh terkulai, pingsan. Kiranya bahan peledak itu mengandung racun pembius yang kuat sekali. Tubuh Keng Han memang sudah kebal terhadap racun, berkat dia makan daging ular merah. Akan tetapi yang kebal adalah tubuhnya sehingga andaikata dia terkena makan racun atau dilukai oleh racun, tentu hawa beracun dalam tubuhnya menolak dan membuatnya kebal.
Akan tetapi sekali ini dia terkena racun pembius berupa asap yang memasuki paru-parunya, maka dia pun tidak dapat bertahan dan roboh pingsan seperti Souw Cu In. Beberapa bayangan orang yang memakai kedok tebal berkelebatan memasuki tabir asap itu dan menghampiri kedua orang yang sudah pingsan itu. Akan tetapi ketika empat orang itu menghampiri Keng Han dan Cu In, Cu In melompat dan dua orang roboh tewas seketika ter"kena pukulan Tok-ciang (Tangan Beracun). Kiranya Cu In belum pingsan seperti keadaan Keng Han. Ketika wanita ini tahu bahwa ada musuh menggunakan asap beracun, ia meneriaki Keng Han, akan tetapi Keng Han yang terlambat. Ia sendiri baru sedikit menghisap asap beracun dan untuk menyelamatkan diri, ia menjatuhkan diri agar tidak terpengaruh asap yang membubung ke atas.
Setelah ada empat orang datang, Ia cepat menyerang dan setelah merobohkan dua orang, ia pun melompat jauh keluar dari tabir asap itu. Dua orang berkedok lain menggotong Keng Han membawanya pergi dari situ. Souw Cu In merasa khawatir sekali, akan tetapi tidak dapat mencegah dengan adanya tabir asap pembius yang menghalanginya. Setelah tabir asap menipis dan mulai menghilang, barulah ia melakukan pengejaran, akan tetapi dia tidak menemukan jejak mereka, apalagi malam itu gelap sekali dan api unggun yang mereka buat malam tadi sudah hampir padam. Terpaksa ia duduk kembali dekat api unggun dan menambahkan kayu bakar sehingga api unggun itu membesar kembali. Akan tetapi ia sudah tidak mungkin dapat tidur lagi dan sambil menanti lewatnya malam, ia duduk bersila, dekat api unggun dan memperhatikan sekelilingnya dengan pendengarannya.
Hatinya gelisah bukan main memikirkan Keng Han dan menduga-duga siapa yang menangkap pemuda itu dan apa alasannya. Juga ia mengingat-ingat siapa tokoh dunia kang-ouw yang suka mempergunakan alat peledak yang mengandung racun pembius itu. Ia lalu teringat kepada seorang datuk sesat dari selatan yang berjuluk Ban-tok Kwi-ong (Raja Iblis Selaksa Racun). Datuk inikah yang melakukannya? Akan tetapi rasanya tidak mungkin. Seorang datuk seperti dia itu biasanya memiliki ketinggian hati, tidak mungkin kalau hanya hendak menangkap seorang pemuda saja harus menggunakan peledak racun pembius. Siapapun yang menangkap pemuda itu, Keng Han berada dalam bahaya dan dia harus menolong pemuda itu.
Keng Han merasa seperti dalam mimpi. Tahu-tahu setelah dia sadar kembali, dia sudah terbelenggu kaki tangannya, rebah di atas sebuah dipan dan tubuhnya dalam keadaan tertotok. Semua itu tidak merisaukan hatinya, akan tetapi yang membuat dia khawatir adalah kepalanya. Kepala itu pening sekali dan masih pening sehingga sukar dia berpikir. Dia membuka sedikit matanya dan melihat bahwa dirinya berada dalam sebuah kamar, seperti kamar tahanan karena pintunya dari besi dan ada jeruji besi pula di atas pintu.
Di luar kamar itu, dia dapat melihat beberapa orang melalui jeruji besi dan agaknya mereka melakukan penjagaan. Perlahan-lahan dia pun teringat. Dia sedang duduk menghadapi api unggun bersama Souw Cu In dan tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan dan asap mengepul tebal lalu dia tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu telah berada di tempat ini dalam keadaan terbelenggu dan tertotok. Dia merasa bahwa belenggu itu tidak sukar dipatahkan, juga totokan itu dapat dengan mudah dia punahkan. Akan tetapi kepeningan kepalanya masih terasa, maka dia pun diam saja rebah berbaring menanti perkembangan lebih lanjut sambil memberi waktu kepada kepalanya agar bebas dari kepeningan akibat asap racun pembius itu. Tidak terlalu lama dia menanti. Dia mendengar daun pintu besi dibuka orang dan nampak tiga orang memasuki tempat tahanan itu.
Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang segera di"kenalnya. Kakek Itu adalah Toat-beng Kiam-sian yang pernah bentrok dengan dia. Dia menegur kakek yang terlalu kejam menghukum tiga orang anak buahnya dan karena itu kakek ini marah sekali kepadanya. Dia diberi waktu untuk menghadapinya selama sepuluh jurus dan kalau selama itu dia tidak roboh, dia akan dibebaskan. Dan dia berhasil bertahan sampai sepuluh jurus. Ketika kakek itu merasa penasaran hendak menggunakan tongkat yang sekarang dipegangnya itu, Bi-kiam Nio-cu menegurnya dan mengingatkan akan janjinya dan kakek itu lalu pergi. Sekarang kakek itu agaknya yang menyuruh anak buahnya menawannya. Entah apa yang hendak dilakukan atas dirinya. Dia pura-pura masih pingsan akan tetapi memperhatikan mereka bertiga dengan telinganya.
"Nah, inilah pemuda itu. Bagaimana pendapatmu, Siu Lan?"
Gadis yang datang bersamanya itu memandang wajah Keng Han penuh perhatian. Gadis ini cukup cantik, dengan pakaiannya yang mewah.
"Dia kelihatan seperti seorang dusun, Ayah."
Kata gadis itu setelah mengamati Keng Han.
"Ha-ha-ha!"
Kakek itu tertawa.
"Jangan melihat pakaiannya, Siu Lan. Lihatlah wajahnya. Bukankah dia tampan dan gagah? Dan tentang ilmu silat, sudah kukatakan bahwa dia lihai juga dan pantas untuk menjadi jodohmu."
"Suhu, saya tidak percaya bahwa dia mampu melawan Sumoi"
Kata pemuda yang datang bersama mereka. Pemuda ini bertubuh tinggi besar, berwajah gagah namun pandang matanya membayangkan kecongkakan hati. Jelas dia memandang rendah kepada Keng Han yang meng"geletak tidak berdaya di atas dipan itu.
"Dia tidak pantas untuk melawan Sumoi. Biarlah dia melawan saya lebih dulu. Kalau dia mampu menandingi saya, baru Sumoi boleh mencobanya!"
Toat-beng Kiam-sian tertawa dan mengangguk-angguk.
"Hmmm, pikiran yang baik itu. Boleh engkau mencobanya dulu, Bu Tong."
"Biar saya bebaskan dulu dia dari totokan dan belenggunya!"
Kata pemuda itu yang bernama Gan Bu Tong. Akan tetapi ketika dia menghampiri dipan, Keng Han mengerahkan tenaganya dan totokan itu pun sudah punah, lalu sekali dia menggerakkan kaki tangannya, ikatan itu pun putus semua! Keng Han lalu bangkit dan meloncat berdiri menghadapi tiga orang itu.
"Mengapa kalian menangkap aku? Aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, mengapa kalian berbuat begini?"
Tegurnya. Toat-beng Kiam-sian Lo Cit, puterinya yang bernama Lo Siu Lan dan muridnya itu terkejut bukan main melihat betapa pemuda itu telah terbebas dari totokan dan dengan mudahnya mematahkan semua belenggu. Toat-beng Kiam-sian maju dan tertawa.
"Ha-ha-ha, tempo hari engkau dapat menahan sepuluh jurus seranganku, maka hatiku tertarik untuk mengujimu, orang muda. Sekarang lawanlah muridku ini, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"
"Aku tidak ingin bertanding dengan siapapun tanpa sebab. Di antara kita tidak ada urusan, mengapa kita harus bertanding?"
"Hemmm, bocah sombong. Ada atau tidak ada urusan, aku akan menandingimu. Kalau engkau takut, engkau boleh berlutut dan mencium kaki, guru sambil meminta ampun, baru kami akan melepaskanmu."
Kata Bu Tong yang memandang rendah. Keng Han mengerutkan alisnya.
"Aku tidak bersalah apa pun, mengapa harus minta ampun? Aku tidak sudi melakukannya, jangan engkau menghinaku!"
"Aku memang sengaja menghinamu, habis kau mau apa? Aku menantangmu untuk mengadu kepandaian, kalau engkau menolak berarti engkau takut?"
Panas juga rasa hati Keng Han. Dia ditangkap tanpa sebab, kemudian ditantang dan dianggap pengecut kalau tidak berani. Tentu saja dia berani.
"Siapa takut kepada kalian? Aku tidak bersalah apa pun, maka tentu saja aku tidak takut!"
"Ha-ha-ha, bagus. Itu suara seorang laki-laki sejati. Orang muda, marilah kita ke lian-bu-thia dan di sana kita melihat sampai di mana kepandaianmu."
Kata Toat-beng Kiam-sian. Makin senang hati"nya menyaksikan kegagahan sikap Keng Han. Sebetulnya, pangcu dari Kwi-kiam"pang ini sudah tertarik sekali kepada Keng Han ketika Keng Han mampu menahan sepuluh jurus serangannya, bahkan mampu menangkis Pukulan Halilintar darinya. Karena itu, ketika melihat Keng Han bersama Souw Cu In, dia lalu menyuruh para anggauta Kwi-kiam-pang menggunakan obat peledak dan pembius untuk menangkapnya. Dia bermaksud untuk menjodohkan pemuda ini dengan puterinya,
Lo Siu Lan yang selalu menolak pinangan para pemuda karena di antara mereka tidak ada yang mampu menandinginya. Memang kepandaian Siu Lan sudah hebat sekali. Bahkan suhengnya, Gan Bu Tong juga tidak dapat menandinginya! Keng Han menjadi penasaran sekali. Karena ditantang, maka dia mengikuti mereka menuju ke sebuah ruangan yang luas dan ini merupakan tempat para anggauta Kwi-kiam-pang berlatih silat. Juga dia melihat bahwa anggauta perkumpulan itu banyak sekali, tidak kurang dari lima puluh orang! Agaknya sulit baginya untuk meloloskan diri menggunakan kekerasan karena selain harus menghadapi tiga orang itu, juga harus menghadapi para anggauta Kwi-kiam-pang. Maka dia hendak menebus kebebasannya dalam per"tandingannya itu. Setelah tiba di lian-bu-thia (tempat berlatih silat), Keng Han telah dihadapi oleh Bu Tong yang bersikap angkuh.
"Nah, bersiaplah engkau untuk melawan aku!"
Kata Bu Tong.
"Nanti dulu."
Kata Keng Han lalu menoleh kepada Toat-beng Kiam-sian.
"Locianpwe adalah seorang yang berkedudukan tinggi, apakah ucapannya da"pat dipercaya?"
Lo Cit membelalakkan matanya, kakek yang kakinya timpang ini marah sekali mendengar pertanyaan itu.
"Bocah sombong, tentu saja ucapanku dapat dipercaya!"
"Heh, nanti dulu. Kalau engkau mampu mengalahkan muridku, engkau harus dapat mengalahkan pula puteriku ini, dan selanjutnya harus mampu bertahan menghadapi aku sampai lima puluh jurus. Kalau sudah begitu barulah engkau tidak akan diganggu lagi bahkan akan kunikahkan dengan puteriku ini. Ha-ha-ha-ha"ha!"
"Nah, kalau begitu, setelah aku dapat mengalahkan pemuda muridmu ini, apakah aku akan dibebaskan dan dibiarkan pergi tanpa diganggu?"
Bukan main kagetnya hati Keng Han mendengar ucapan itu. Dia hendak dinikahkan dengan gadis cantik itu? Sungguh keterlaluan sekali peraturan kakek itu. Dia sendiri tidak ditanya apakah dia suka atau tidak!