Pusaka Pulau Es Chapter 41

NIC

Baru dilihat dari rambutnya yang hitam panjang dan ikal mayang, melihat sinom (anak rambut) yang melingkar-lingkar di dahi dan pelipisnya, dahi yang halus dan putih mulus alis yang seperti dilukis seorang pelukis pandai, melengkung dan kecil hitam, mata yang bagaikan sepasang bintang kejora, tulang pipi yang agak menonjol dan selalu kemerahan bukan oleh pemerah muka, itu saja sudah menunjukkan kecantikan yang luar biasa. Hidung dan mulutnya tidak nampak, juga dagunya, akan tetapi Keng Han berani bertaruh bahwa hidung dan mulut itu tentu indah sekali. Setelah makan daging burung pang"gang, Cui In mengeluarkan seguci anggur. Ia lalu membawa mulut guci ke balik topengnya dan menengadah, minum anggur itu langsung dari mulut guci ke mulutnya. Kemudian ia menyerahkan guci itu kepada Keng Han.

"Nah, kau minumlah. Anggur ini tidak keras, hanya se"bagai penyegar setelah makan."

Keng Han tertegun.

"Tapi.... mana cawannya, Su-i?"

"Cawan? Untuk apa? Aku tidak mempunyai cawan."

"Untuk minum tentu saja. Kalau tidak ada cawannya, bagaimana aku dapat minum?"

"Bodoh! Minum saja dari mulut guci, apa sukarnya?"

Jantung dalam dada Keng Han berdebar. Mulut guci itu baru saja beradu dengan mulut nona itu, dan sekarang nona itu menyuruh dia minum dari mulut guci pula!

"Akan tetapi, mana aku berani? Bukankah guci anggur ini milikmu, Su-i? Bagaimana aku berani mengotori dengan minum dari mulut guci?"

Gadis tu memandang heran, matanya bersinar-sinar tertimpa cahaya api unggun.

"Engkau ini kenapa? Apakah mulut"mu mengandung penyakit? Apakah engkau sedang menderita sakit batuk yang parah?"

"Tidak, Su-i."

"Nah, kalau begitu minumlah dari mulut guci!"

Kalau gadis itu merasa heran melihat kesungkanan Keng Han yang agaknya terlalu sopan santun itu, sebaliknya Keng Han terheran-heran melihat keterbukaan nona itu yang wataknya begitu polos dan bersih! Maka dia lalu menenggak anggur, itu dari mulut guci dan memang rasanya segar sekali. Setelah merasa cukup dia mengembalikan guci kepada pemiliknya dan Cu In menutupkan kembali mulut guci, menyimpannya dalam buntalannya seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang janggal, Kemudian Keng Han teringat. Bibi gurunya itu perlu beristirahat dan tempat itu demikian kotor. Dia segera mencari daun-daun kering untuk membersihkan dan menyapu lantai gua yang paling rata. Kemudan dia mempersilakan Cu In un"tuk duduk atau cebah di situ.

"Silakan Bibi Guru mengaso di sini, tempat ini sudah bersih. Aku akan menjaga di luar gua sambil menjaga agar api unggun tidak padam. Cu In mengikuti pekerjaan Keng Han dengan penuh perhatian, kemudian ketika dipersilakan mengaso, ia mengangguk, bangkit dan melangkah ke dalam gua. Langkahnya! Demikian indah lenggangnya, seperti seekor harimau betina melangkah, demikian lemah gemulai akan tetapi juga demikian kokoh kuat! Cu In duduk di tempat yang sudah dibersihkan itu, lalu merebahkan diri miring berbantalkan buntalan pakaiannya. Sebentar saja gadis itu sudah pulas. Hal ini diketahui oleh Keng Han dari pernapasannya yang lembut dan teratur. Keng Han merasa berbahagia sekali. Dia sendiri merasa heran. Pernah dia merasakan kebahagiaan seperti ini, yaitu ketika dia bertemu dengan Kwi Hong.

Dia juga merasa tertarik dan suka sekali kepada dara itu, akan tetapi semenjak dia mengetahui bahwa Kwi Hong bermarga Tao, puteri Pangeran Mahkota, masih saudara sepupunya sendiri, hatinya terasa perih dan dia mencoba melupakan gadis itu. Kemudian dia melakukan perjalanan bersama Bi-kiam Nio-cu. Harus diakuinya bahwa dia juga suka sekali kepada Nio-cu, akan tetapi rasa sukanya itu sekadar bersahahat, bahkan dia menjadi muridnya. Maka ketika Nio-cu bertanya tentang cinta, terus terang dia mengatakan bahwa dia tidak mencinta Nio-cu sebagai seorang pria mencinta wanita, melainkan sebagai murid mencinta guru atau seorang sahabat men"cinta sahabatnya. Dan kini.... perasaannya lain lagi. Dia tertarik kepada Souw Cu In, tertarik oleh kepribadiannya dan dia merasa amat berbahagia dapat bersama dengan gadis itu walaupun hanya semalam!

Keng Han termenung memandangi api unggun dan menambah kayu pada api unggun. Dia sama sekali tidak tahu betapa Cu In juga kini membuka matanya memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Gadis ini merasa gelisah sekali ketika ia merasa bahwa hatinya tertarik kepada pemuda ini. Seorang pemuda yang lain sekali daripada pemuda lain. Kaum lelaki yang dijumpainya, selalu ingin membuka kedoknya, selalu memujinya cantik dan selalu mengeluarkan cumbu rayu seribu satu macam untuk menarik perhatiannya. Akan tetapi Keng Han sama sekali tidak! Bahkan ketika disuruh minum anggur dari mulut guci, jelas pemuda itu merasa rikuh sekali. Pemuda ini sungguh sopan dan pandai membawa diri. Di samping itu, juga pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Tadi sudah dibuktikannya ketika dia melawan Swat-hai Lo-kwi. Pemuda ini memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya dan ilmu silatnya juga aneh sekali. Namun, sikapnya demikian biasa, bahwa begitu rendah hati seolah dia seorang pemuda yang lemah dan bodoh sehingga mau mempelajari ilmu totok dari sucinya! Dan wajahnya! Sungguh tampan dan gagah. Tiba-tiba Souw Cu In memejamkan matanya kuat-kuat untuk mengusir perhatiannya terhadap pemuda itu. Tidak! ia tidak ingin tertarik kepada pemuda itu. Ia tidak ingin harus membunuh pemuda itu. Dan ia menghela napas panjang. Ia dan sucinya sudah bersumpah kepada subo mereka untuk tidak jatuh cinta, dan kalau ada pria yang jatuh cinta kepada mereka harus mereka bunuh! "Semua lelaki jahat,"

Demikian subo mereka selalu menekankan ke dalam hati mereka.

"Semua lelaki itu jahat dan palsu, bagaikan kumbang yang selalu mendekati kembang dengan suaranya yang merayu-rayu. Akan tetapi setelah dia memghisap madu kembang itu sampai habis, lalu ditinggalkannya kembang itu begitu saja!"

Dan, kalau menurut keterangan gurunya itu, tidak ada laki-laki yang baik. Berarti Keng Han juga bukan seorang yang baik. Mungkin sikapnya yang baik itu pun hanya merupakan akal untuk merayunya belaka! Tidak, ia tidak boleh tertarik kepadanya! Lewat tengah malam, Souw Cu In terbangun dari tidurnya. ia menggeliat karena tubuhnya terasa kaku tidur di lantai yang kasar itu, lalu menutupi mulut dari luar topeng untuk menahan luapnya, dan ia bangkit berdiri. Dihampirinya Keng Han dan ia berkata dengan suara yang kasar.

"Sekarang engkau boleh mengaso dan tidur, giliranku berjaga."

Katanya. Keng Han merasa heran sekali mendengar ucapan yang bernada ketus itu. Dia memandang dan berkata.

"Tidak perlu, Su-i. Su-i mengaso dan tidurlah, biar aku berjaga di sini sampai malam lewat."

"Tidak!"

Suara Cu In membentak karena dalam perasaannya, sikap baik pemuda ini hanya akal untuk merayunya saja.

"Kau kira aku ini orang macam apa? Engkau sudah berjaga setengah malam, maka setengah malam yang lain menjadi bagianku untuk berjaga!"

Melihat sikap gadis itu demikian galak dan tegas, Keng Han merasa heran sekali.

"Kalau bagitu, biarlah aku juga berjaga di sini saja. Aku tidak merasa mengantuk."

Cu In duduk di dekat api unggun berhadapan dengan pemuda itu terhalang api unggun. Mereka saling pandang dan Keng Han tak dapat menyembunyikan perasaan kagumnya. Wajah yang biarpun hanya kelihatan bagian atasnya saja itu demikian indahnya tertimpa sinar api unggun, kemerahan dan begitu halusnya dahi itu. Ditambah lagi anak rambut yang berjuntai melingkar-lingkar itu. Begitu manisnya!

"Kau melihat apa?"

Bentak gadis itu dan Keng Han baru menyadari bahwa terlalu lama dia menatap wajah itu.

"Tidak apa-apa, Su-i. Hanya aku heran mengapa Su-i tidak tidur saja mengaso. Malam sudah larut dan biarkan aku yang berjaga di sini.

"Tidak, aku tidak mau tidur."

"Kalau begitu, kita berdua tidak tidur."

Kata Keng Han bersikeras.

"Engkau bandel!"

"Bukan cuma aku bandel."

Keduanya diam dan terasa amat heningnya malam itu. Yang terdengar hanya suara api makan kayu kering. Keng Han maklum bahwa gadis ini berwatak aneh sekali. Bukankah Nio-cu pernah berkata betapa sumoinya ini.lebih kejam darinya? Akan tetapi dia tidak percaya. Seorang gadis dengan sinar mata selembut itu tidak mungkin kejam.

"Engkau berasal dari mana?"

Tiba-tiba gadis itu bertanya dan nada suaranya sambil lalu saja, seolah pertanyaan itu hanya untuk mengisi kesepian. Terhadap Souw Cu In, entah bagaimana, Keng Han tidak ingin menyembu"nyikan rahasianya.

"Aku berasal dari daerah Khitan."

"Engkau orang Khitan?"

"Peranakan Khitan. Ibuku orang Khi"tan, ayahku orang Han."

Dia masih belum berani mengakui ayahnya sebagai seorang pangeran Mancu.

"Pantas. Aku sudah menduga bahwa engkau seorang peranakan. Di mana orang tuamu sekarang?"

"Ibuku masih di Khitan bersama kakekku akan tetapi ayahku...."

"Bagaimana dengan ayahmu? Sudah matikah?"

Keng Han menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang.

"Aku belum pernah melihat ayahku. Semenjak aku dalam kandungan ibu, ayah telah pergi meninggalkan ibu dan sejak itu tidak pernah kembali."

Souw Cu In melempar sepotong kayu di api unggun sehingga bunta-bunga api membubung ke atas.

"Huh!"

Katanya gemas.

"Benar juga kata subo. Lelaki adalah mahluk yang palsu dan kejam!"

"Akan tetapi aku memang sedang mencari ayahku, Su-i. Dia harus menjelaskan mengapa dia tidak pernah pulang menengok ibu. Kalau memang benar dia telah melupakannya dan mengkhianatinya, aku sendiri yang akan menghajarnya!"

"Hemmm, apalagi yang terjadi kalau bukan ayahmu bertemu dengan wanita lain yang lebih cantik lalu ayahmu mengawini wanita itu dan melupakan ibumu?"

"Belum tentu. Kurasa ayahku tidak sejahat itu! Akan tetapi, aku ingin mencarinya sampai dapat! Dan engkau sendiri, Su-i. Maukah engkau bercerita tentang dirimu? Dari Nio-cu aku sudah tahu bahwa engkau juga murid Ang Hwa Nio"cu, dan bawa engkau mempunyai pendirian yang sama dengan Bi-kiam Nio"cu tentang pria. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Maukah engkau bercerita?"

"Hemmm, untuk apa bercerita tentang diriku padamu?"

Sepasang mata itu menatap tajam penuh selidik. Keng Han menghela napas panjang.

"Bukan apa-apa, Su-i. Akan tetapi engkau adalah bibi guruku, dengan adanya hubungan ini, tidak pantaskah kalau aku mengenalmu lebih baik lagi? Agar engkau tidak menjadi seperti orang asing lagi bagiku."

"Engkau sudah mengetahui namaku."

"Ya, aku masih ingat. Nama Su-i adalah Souw Cu In, hanya itu yang kuketahui."

"Aku juga seperti engkau. Hidup keluargaku tidak berbahagia. Ayah ibuku telah meninggal dunia, terbunuh musuh. Ketika itu aku baru berusia lima tahun, lalu aku diambil murid oleh subo. Nah, hanya begitu saja riwayatku dan aku pun sedang mencari-cari seseorang untuk membalas kematian ayah ibuku."

"Musuh besar yang membunuh ayah ibumu itu?"

"Benar. Ah, sudahlah. Kenapa aku menceritakan semua ini kepadamu?"

Ia seperti menegur diri sendiri.

"O ya, ke mana engkau hendak mencari ayahmu itu, Keng Han?"

Mendengar gadis itu tiba-tiba membelokkan percakapan, tahulah Keng Han bahwa gadis itu tidak mau lagi bercerita tentang dirinya, dan dia pun menjawab sejujurnya,

Posting Komentar