"Ang coa-kiam!" tosu yang merampas pedangnya membentak.
"Pinto adalah Gan Tian Cu dan sudah lama pinto mengenal suhumu Lui Thian Sianjin di Kim liong-pai! Kalau tidak memandang muka suhumu, sekarang juga kau tentu telah kami bunuh tanpa banyak bertanya lagi. Akan tetapi, karena kau adalah anak murid Kim-liong-pai dan pedang Ang. coa-kiam berada di tanganmu, pinto masih hendak memberi kesempatan kepadamu. Mengapa kau membunuh seorang anak murid kami berdasarkan kejahatan dan kesesatanmu? Murid kami itu adalah seorang yang menjunjung tinggi keutamaan dan mendengar tentang kesesatan Ang coa-kiam, dia sengaja datang menegurmu, akan tetapi kau bahkan telah menjatuhkan tangan maut kepadanya."
"Totiang, apakah artinya semua ini?" Tiong Han memandang dengan heran dan penasaran,
"teecu tak pernah bertemu dan tak pernah bertempur dengan seorang anak murid Kun-lun-pai, bagaimana teecu dapat membunuh seorang murid Kun- lun-pai?"
"Ang-coa-kiam! Kau telah berani memakai nama julukan Ang-coa kiam, meninggalkan tanda gambar pedang ini pada tiap tempat kau melakukan kejahatan. Suatu perbuatan yang amat berani dan sombong! Akan tetapi sekarang ternyata dihadapan pinto kau berlaku amat pengecut. Kau telah membunuh Lo Ban Tek murid kami di kota l-kiang, apakah kau masih mau menyangkal lagi?"
Lenyaplah keheranan Tiong Han dan hatinya tertusuk sekali, karena ia telah merasa yakin bahwa yang melakukan hal itu tentulah adiknya, Tiong Kiat! Maka lemaslah tubuhnya lenyaplah semangat perlawanannya. Apakah yang hendak dikata? Menyangkal? Sama dengan mendakwa adiknya sendiri. Mengaku? Dia tidak melakukan perbuatan itu.
"Totiang, apakah yang hendak totiang lakukan terhadap diriku?" tanyanya perlahan.
"Kau harus ikut dengan kami ke Kun-lun-pai dan di sana para ketua akan menjatuhkan hukumannya! Tinggal kau pilih saja, ikut dengan patuh atau melawan dengan kekerasan kami dapat membunuhmu di tempat ini juga!" Kata Gan Tian Cu dengan suara tegas.
"Untuk apa aku melawan? Marilah kalau ngowi totiang hendak membawaku ke Kun lun pai, aku akan ikut dengan patuh." Demikianlah, Tiong Han lalu diikat kedua tangannya dengan tali sutera yang amat kuat. Pemuda ini menurut saja, kemudian kelima orang tosu itu lalu mengajaknya berjalan cepat turun dari Ta pie.san, menuju ke Kun-lun-san.
Akan tetapi baru saja rombongan itu tiba di kaki gunung Ta pie san yang mereka tinggalkan, tiba tiba berkelebat bayangan putih yang didahului oleh sinar merah menyambar ke arah lima orang tosu itu! Gan Tian Cu dan sute-sutenya (adik-adik seperguruannya) adalah tosu-tosu tua yang memiliki kepandaian tinggi, maka melihat sinar pedang itu, mereka cepat melompat mundur untuk mengelak.
"Jangan, nona Suma Eng, jangan serang mereka!" Tiong Han cepat menggerakkan tubuhnya dan sekali bergerak saja tali-tali yang kuat itu terlepas dari kedua tangannya. Ia terpaksa melakukan ini untuk mencegah Suma Eng yang hendak menyerang Gan Tian Cu.
Dengan mata menyala dan dada berombak, wajahnya merah penuh kemarahan, Eng Eng menunda serangannya dan memandang kepada lima orang tosu itu dengan marah sekali. Tiong Han tak terasa lagi mengulur tangannya dan memegang lengan Eng Eng yang memegang pedang.
"Jangan nona, jangan . .., mereka adalah tosu-tosu dari Kun lun pai!" Tiong Han mencegah sambil memegang erat lengan tangan Eng Eng.
"Tidak perduli! Biarpun mereka tosu-tosu dari neraka sekalipun aku tidak takuti! Mereka mengandalkan keroyokan untuk menangkapmu sungguh pengecut!"
Sementara itu, Gan Tian Cu dan kawan-kawannya tadi merasa terkejut sekali melihat kehebatan seorang gadis cantik jelita yang memegang pedang merah menyilaukan mata. Lebih-lebih kaget mereka ketika melihat betapa dengan sekali gerakan saja ikatan pada kedua tangan Tiong Han telah putus dan tangannya sudah terlepas! Alangkah hebatnya kepandaian dan tenaga pemuda itu yang tadi menyerah demikian patuhnya.
"Nona, siapakah kau dan mengapa kau mencampuri urusan kami, pendeta-pendeta dari Kun-lun.pai?"
Sebelum Eng Eng menjawab Tiong Han mendahuluinya,
"Ngowi totiang, ini adalah nona Suma Eng murid dari Hek sin mo yang terkenal!"
Terbelalak mata kelima orang tosu itu, karena sesungguhnya nama Hek sin-mo merupakan nama yang amat terkenal dan dikagumi oleh semua tokoh persilatan. Gan Tian Cu mengangkat kedua tangan ke dada untuk memberi hormat kepada murid orang sakti itu dan berkata,
"Nona, harap kau tidak salah sangka. Pinto berlima datang sengaja hendak membawa pemuda ini yang telah berdosa besar telah membunuh Lo Ban Tek, anak murid dari Kun-lun pai. Kami datang untuk membawanya ke Kun.lun-san agar mendapat pengadilan dari para ketua Kun-lun-pai.
"
"Apa buktinya bahwa Sim twako telah membunuh anak murid Kun lun-pai?" tanya Eng Eng yang belum hilang kemarahannya.
"Nona, nama Ang coa kiam telah amat terkenal. Pemuda ini tidak hanya membunuh Lo Ban Tek murid kami, bahkan ia telah terkenal sebagai seorang jai hwa cat dan pencuri yang amat jahay dan keji! ia telah membunuh keluarga Lui wangwe yang dermawan, hanya untuk memenuhi permintaan seorang pelacur rendah. Murid Kami Lo Ban Tek datang untuk menegurnya akan tetapi bahkan dibunuhnya! Nona, kau adalah murid seorang pendekar, seorang locianpwe yang ternama, maka sudah menjadi kewajibanmu pula untuk membasmi orang-orang macam Sim Tiong Kiat yang berjuluk Ang.coa-kiam murid Kim-liong-pai yang durhaka ini. Bagaimana seorang murid dari Hek sin-mo locianpwe dapat bersahabat dengan seorang jahat seperti dia ini?"
"Pendeta-pendeta tersesat, bukalah matamu baik-baik! Eng Eng berseru marah sekali dan menggerakkan pedangnya.
"Dia ini bukanlah Sim Tiong Kiat dan........"
"Nona Suma .......!" Tiong Han mencegahnya membuka rahasia adiknya.
Akan tetapi Eng Eng tidak memperdulikannya dan melanjutkan kata-katanya,
"dan orang yang melakukan semua kejahatan yang kau sebutkan tadi, orang jahat yang menggunakan nama julukan Ang-coa kiam bukanlah dia ini, akan tetapi adiknya!"
"Apa.."."apa maksudmu, nona?" Gan Tian Cu bertanya dengan heran, demikian pula adiknya membelalak matanya dengan kaget.
"Eng-moi........ jangan""Tiong Han mencoba lagi untuk mencegah Eng Eng membuka rahasia adiknya dan dalam kegugupannya sampai lupa dan menyebut nona itu Eng-moi (adik Eng).
Eng Eng menengok dan menatap wajah pemuda itu. Sepasang matanya yang indah itu tampak terbaru, akan tetapi bibirnya dirapatkan dengan gemas.
"Orang lemah...." katanya perlahan, kemudian ia berpaling kepada Gan Tian Cu lalu berkata.
"Totiang, bukan kau saja yang salah pandang, bahkan aku sendiri pun tadinya telah salah sangka. Orang muda ini bernama Sim Tiong Han, dan Sim Tiong Kiat si jahanam adalah adik kembarnya. Adiknya itulah orang yang harus kau cari dan kau tangkap bukan Sim twako ini."