"Tahan dulu! Yang baru datang bukankah murid dari Kim Iiong pai dan yang kau pegang itu bukankah Ang.coa-kiam?"
Eng Eng dan Tiong Han menahan pedang mereka, Tiong Han menghadapi Ban im Hosiang dan berkata sambil tersenyum sinis.
"Betul, aku yang muda adalah murid dari Kim-liong-pai dan pedang ini adalah Ang-coa-kiam. Saudaramu Ban Hwa Yong telah bertemu dengan aku dan melihat watak dari adikmu yang buruk, tak perlu kita bicara lagi."
"Anak muda yang sombong! Terhadap lain orang kau boleh menyombongkan ilmu pedangmu dari Kim-Iiong pai, akan tetapi aku tidak takut, biarpun kau memegang pedang Ang coa-kiam!" Seru Ban Im Hosiang marah dan mendongkol sekali.
"Kami memusuhi iblis wanita ini yang liar dan ganas, yang telah membacok putus lengan suteku. Ada sangkut paut apakah dengan kau murid Kim Iiong pai?"
"Thian te Sam-kui, dengarlah baik-baik, biarpun aku tidak mempunyai urusan dengan kalian dan urusanmu dengan nona ini tidak ada hubungannya denganku, namun sebagai murid Kim liong pai, aku selalu berada di pihak yang benar. Kalian adalah orang-orang berkepandaian tinggi yang menyalahgunakan kepandaian, berlaku jahat dan kejam sebagaimana yang dilakukan oleh Ban Hwa Yong, maka terpaksa aku akan membela nona ini!"
Tiba-tiba Ban Hwa Yong tertawa bergelak," Ha,ha,ha, Ang-coa-kiam! Dulu ketika kita bertemu, aku masih belum kenal sebenarnya Ang-Coa kiam. Kau bilang aku jahat, penjahat cabul? Ha, ha, ha! Siapa tidak tahu bahwa Ang coa kiam adalah seorang pengganggu perempuan yang lebih ganas dari padaku? Kau lebih cabul dari padaku, sungguh lucu sekali kau masih dapat memaki-makiku! Seperti seorang perampok besar memaki seorang maling kecil! Ang-coa-kiam, kita adalah orang-orang segolongan yang memiliki kesukaan yang sama, Kalau kau tergila-gila kepada bunga indah ini, biarlah aku mengalah atau tidak bisakah kita bagi rasa?"
Bukan main marahnya Tiong Han mendengar ucapan manusia cabul itu. Akan tetapi berbareng hatinya menjadi perih juga karena ia dapat menduga bahwa yang dimaksudkan oleh penjahat cabul ini tentulah adiknya, Tiong Kiat! Maka ia tidak dapat menjawab, hanya berkata kepada Eng Eng.
"Nona, mari kita basmi penjahat-penjahat ini!"
Eng Eng semenjak tadi memang telah habis sabar melihat Tiong Han bercakap-cakap dengan penjahat itu. Mendengar omongan Ban Hwa Yong, ia juga dapat menduga bahwa yang dimaksudkan oleh penjahat itu tentulah Tiong Kiat, sehingga kembali Tiong Han menjadi korban perbuatan adiknya dan dia yang mendapat nama busuk! Ia merasa kasihan kepada pemuda ini, maka ketika mendengar ucapan Tiong Han, Eng Eng tidak menjawab lagi, hanya melompat maju dan menyerang dengan hebatnya, ia disambut oleh Ban Yang Tojin yang dibantu oleh Ban Hwa Yong. Adapun Sim Tiong Han, yang bergerak maju mendapat lawan Ban Im Hosiang, orang terpandai dari Thian.te Sam-kui.
Pertempuran berjalan lebih ramai dari pada tadi. Akan tetapi tidak berlangsung lama. Ban Im Hosiang yang menghadapi Tiong Han, sebentar saja terdesak hebat. Ilmu pedang Ang-coa kiamsut telah dipelajari oleh pemuda ini sampai tingkat tinggi. Telah delapan puluh bagian lebih ilmu pedang itu ia kuasai dan kini karena ia mainkan ilmu petang itu dengan pedang Ang.coa.kiam, tentu saja kelihaiannya bertambah-tambah. Biarpun Ban Im Hosiang mempunyai kelebihan dalam tenaga Iweekang, namun kelebihan ini ditutup oleh kekalahannya dalam hal pedang. Pedangnya-pun bukan pedang buruk, namun kalau dibandingkan dengan Ang-coa-kiam, pedangnya itn tidak berarti sama sekali. Hwesio ini tahu akan kelemahan pedangnya, maka iapun bersilat dengan amat hati hati, tidak berani mengadu mata pedangnya dengan mata pedang Ang coa-kiam.
Pertempuran yang terjadi di antara Eng Eng yang dikeroyok dua oleh Ban Yang Tojin dan Ban Hwa Yong, lebih seru lagi. Gadis ini sekarang dapat mengamuk lebih hebat daripada tadi karena sesungguhnya yang paling berat dilawan adalah Ban Im Hosiang. Dua orang pengeroyoknya, yang seorang sudah kehilangan lengan kiri dan yang kedua, yakni Ban Hwa Yong yang mata keranjang dan sayang akan kecantikan gadis ini, tidak menyerang dengan sekuat tenaga. Ban Yang Tojin telah mengganti senjatanya, karena ia telah maklum akan keampuhan pedang gadis itu, namun tetap saja tombak bintangnya yang sekarang tiba-tiba putus ujungnya ketika beradu dengan keras sekali dengan pedang merah di tangan Eng Eng.
Dan sebelum Ban yang Tojin dapat mengelak, ujung pedang di tangan Eng Eng telah menusuk paha kanannya sehingga tosu ini roboh sambil mengeluarkan teriakan keras. Kalau saja luka di pahanya itu disebabkan oleh tusukan pedang biasa, mungkin ia masih akan dapat melarikan diri. akan tetapi bekas tusukan pedang merah di tangan Eng Eng mendatangkan rasa panas dan sakit luar biasa sehingga ia hanya rebah sambil merintih-rintih!
Bukan main kagetnya Ban Hwa Yong melihat betapa suhengnya telah roboh. la memutar sepasang besi kaitannya dengan cepat untuk melindungi diri, akan tetapi sebuah sabetan dari Eng Eng telah membuat sebuah dari kaitannya putus pula! Ban Hwa Yong melompat ke belakang dan pada saat itu terdengar lain teriakan dan tubuh Ban Im Hosiang terlempar karena tendangan Tiong Han! MeIihat haI ini, Ban Hwa Yong lalu melemparkan kaitannya yang telah putus itu ke arah Eng Eng kemudian cepat melarikan diri dari situ. Eng Eng mengangkat pedangnya menangkis, kemudian sebelum Tiong Han dapat mencegahnya, gadis ini dengan gerakan kilat melompat ke dekat Ban Im Hosiang.
Sekali pedang merahnya berkelebat, putuslah leher hwesio itu! Setelah itu, kembali pedangnya berkelebat dibarengi bentakannya yang keras ke arah leher Ban Yang Tojin maka tewaslah orang pertama dan kedua dari Thian te Sam kui yang pernah menggoncangkan dunia kang ouw. Eng Eng hendak mengejar Ban Hwa Yong, ternyata bahwa penjahat itu telah lenyap tidak dapat ia ketahui ke mana perginya.
"Mengapa kau tidak mengejarnya?" gadis berkata menyesal dan kecewa kepada Tiong Han. Adapun pemuda ini yang memang masih agak lemah, kini menjadi makin pucat melihat keganasn Eng Eng ini, ia tidak menjawab pertanyaan yang mengandung teguran itu, bahkan dialah yang kini menegur sambil mengerutkan keningnya.
"Nona, mengapa kau begitu kejam? Mengapa kau membunuh lawan-lawan yang sudah terluka tak berdaya? Apakah kesalahan mereka terhadapmu sehingga kau demikian ganas terhadap Thian-te Sam-kui?"
"Lagi-lagi kau memperlihatkan kejernihan hatimu," gadis ini mencela.
"Kau mudah terharu dan tergerak hatimu menyaksikan sebuah peristiwa yang hanya merupakan akibat dari pada sebab yang lebih mengerikan lagi. Tentu sedikitpun tidak terduga atau terpikir olehmu mengapa aku berlaku sedemikian ini yang kau anggap ganas dan kejam."
Merahlah wajah Tiong Han. Memang ia tidak tahu permusuhan apakah yang ada antara gadis aneh ini dengan Thian-te Sam-kui. Menurut pendengarannya tadi, gadis ini pula yang telah membuntungkan lengan Ban Yang Tojin dan disangkanya itulah sebenarnya maka Thian-te Sam kui datang memusuhi Eng Eng.
"Maaf nona, memang aku belum mengerti. Tolong kau ceritakanlah kepadaku agar hatiku tidak penasaran lagi."
"Mungkin kau sudah tahu akan sifat-sifat buruk ketiga orang penjahat ini. Sebab pertama timbulnya permusuhan antara mereka dan aku disebabkan oleh Ban Yang Tojin." Gadis ini dengan jelas lalu menceritakan betapa Ban Yang Tojin mengganggu dan merampok Pek-eng piauwkiok dan betapa ia telah menolong Ting kwan Ek dan mengusir Ban Yang Tojin.
Kemudian Ban Yang Tojin dengan bantuan kedua orang saudaranya itu datang membalas dendam karena kekalahannya dan di luar tahu Eng Eng lalu ketiga orang Iblis itu membasmi Pek-eng-piauwkiok dan membunuh seluruh keluarga Ting Kwan Ek dan Ouw Tang Sin, bahkan lalu membawa lari Nyonya Ouw yang muda lagi cantik.
Setelah mendengar penuturan Eng Eng marahlah Tiong Han.
"Hm, kalau begitu, sayang sekali kita melepaskan Ban Hwa Yong lari. Dia juga patut dilenyapkan dari muka bumi ini!" Ia lalu menceritakan kepada Eng Eng betapa iapun pernah bertempur dengan Ban Hwa Yong telah membunuh Lo Kim Bwe atau Nyonya Ouw yang diculiknya itu, yakni ketika Ban Hwa Yong bertempur menghadapi keroyokan piauwsu dan Gin houw-piauwkiok.
"Lo Kim Bwe memang sudah sepantasnya mengalami kematian di tangan penjahat itu," kata Eng Eng yang memang merasa gemas dan benci sekali kepada nyonya muda yang genit itu. Maka diceritakanlah kepada Tiong Han akan segala pengalamannya ketika ia berada di rumah Ting Kwan Ek yang dianggapnya sebagai kakak sendiri itu.
Tak terasa lagi keduanya berjalan perlahan menuruni bukit Ta-pie san sambil bercakap-cakap dengan asyik sekali, sama sekali tidak merasa kikuk atau asing seakan-akan mereka telah bertahun-tahun menjadi kenalan karib, Tiong Han makin tertarik hatinya terhadap gadis ini dan diam-diam ia memaki adiknya yang sudah begitu keji terhadap gadis seperti ini.
"Nona Suma Eng ketahuilah bahwa antara suhumu dan sucouwku masih terdapat ikatan persahabatan yang amat erat. Sucouwku adalah Bu Beng Sianjin, apakah suhumu tidak pernah menceritakan padamu tentang sucouw?"
Gadis itu menggeleng kepala. Bercakap-cakap dengan Tiong Han mengenai masa Iampau membuat ia seakan-akan berjalan dengan seorang yang telah lama di nanti-nanti, dikenang dan diharapkan kedatangannya. la merasa bahagia tenteram dan semua pemandangan di atas bukit itu nampak indah dan berseri. Ia merasa seakan-akan berada di dalam perlindungan yang kuat yang dapat dipercaya penuh, yang membuat ia merasa seperti seorang anak kecil dipangkuan ibunya. Alangkah bahagianya kalau ia selalu dapat berada di dekat pemuda yang sopan, halus dan juga lihai ini! Akan tetapi tiba tiba wajahnya yang cantik jelita itu menjadi merah sampai ke telinganya. Ia teringat lagi kepada Tiong Kiat dan teringat lagi akan keadaan dirinya yang sudah terhina oleh Tiong Kiat. Tiong Han kebetulan mengerling dan menatap wajahnya, maka pemuda ini dapat melihat perobahan pada muka Eng Eng.
"Ada apakah nona? Apakah kau Ielah dan ingin istirahat?"
"Tidak, aku....... aku harus berpisah darimu. Kan baik sekali, Sim twako dan aku akan selalu menyebutmu twako karena kau baik, baik seperti twako Ting Kwan Ek yang sudah mati. Akan tetapi, aku harus pergi, aku harus mencari adikmu yang jahanam itu untuk kuhancurkan kepalanya!"
Muramlah wajah Tiong Han yang tadinya sudah nampak gembira, ia menarik napas berulang ulang dan dengan menyesal sekali berkata,
"Apa yang dapat kukatakan? Tiong Kiat memang telah berlaku jahat sekali. Kau berhak penuh untuk membalas dendam...... dan aku....... ah, apa yang dapat kukatakan?"
Pemuda ini lalu menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon besar untuk mengaso karena ucapan Eng Eng tadi seketika itu juga menimbulkan semua kelelahan yang tadi tidak terasa olehnya, ia memandang dengan sedih ketika gadis itu meninggalkannya setelah menengok tiga kali seakan gadis itupun merasa menyesal harus berpisah darinya.
Perasaan kecewa, menyesal, duka, ditambah oleh kelelahan karena pertempuran-pertempuran tadi sedangkan luka pada pundaknya oleh tusukan pedang adiknya masih belum sembuh membuat Tiong Han tertidur di bawah pohon itu. Angin berhembus perlahan mengipasi tubuhnya sehingga tidurnya makin nyenyak.
Tiba tiba ia merasa betapa pedang di pinggangnya bergerak. Cepat ia membuka mata dan melompat bangun. Ternyata ia telah dikurung oleh lima orang berpakaian sebagai tosu dan sudah tua-tua dan ketika ia meraba pinggangnya ternyata bahwa pedangnya itu berikut sarungnya telah dibawa oleh seorang tosu yang nampak tertua dan yang mempunyai sinar mata berpengaruh. Kelima orang tosu itu bagaikan patung berdiri mengurung dan memandangnya dengan sinar mata tajam!
"Apa" apa artinya ini? Siapakah ngowi Suhu?" tanya Tiong Han dengan gagap.
"Ang coa.kiam, bukalah matamu lebar-lebar! Kami adalah tosu-tosu dari Kun lun pai!"
Akan tetapi, lima orang tosu tokoh Kun-lun.pai itu menjadi heran ketika melihat betapa pemuda ini memandang mereka dengan tak mengerti.
"Harap maafkan apabila teecu tidak mengetahui akan kedatangan ngowi suhu. Akan tetapi, mengapakah pedang teecu dirampas dan apakah maksud kedatangan ngowi ini?"