"Terkutuk! Jadi kaulah orangnya?" sambil menjerit nyaring Eng Eng lalu menyerang dengan pedang merahnya. Tiong Kiat cepat mengelak dan melompat mundur.
"Nona, pikirlah baik-baik. Hal itu telah terjadi. Kau adalah istriku, dan aku takkan menyia-nyiakanmu, aku akan mengawinimu, kita menjadi suami istri yang bahagia. Pikirlah."
Dengan muka merah dan mata bercahaya bagaikan berapi-api, Eng Eng memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian. Sungguhpun bentuk tubuh wajahnya serupa benar dengan Tiong Han, namun kini ia melihat perbedaannya. Tahi lalat kecil di atas dagu pemuda ini ! Ya, benar, inilah orangnya. la masih teringat akan wajah pemuda ini, dan tahi lalat itu! Inilah titik yang tadi meragukan hatinya ketika Tiong Han mengaku sebagai seorang yang berdosa. Inilah orangnya! Dan sinar mata penuh gairah serta bibir yang tersenyum memikat ini, ah, alangkah besar perbedaannya dengan Tiong Han.
"Keparat jahanam! Aku sudah bersumpah akan menghancurkan kepalamu!" la menyerang lagi dengan hebatnya.
Terkejut juga hati Tiong Kiat ketika melihat datangnya serangan ini. Ia cepat memutar Hui liong kiamnya dengan sekuat tenaga, berusaha memukul pedang gadis itu agar terlepas dari pegangan. Akan tetapi alangkah herannya ketika pedang itu tidak rusak atau terlepas. Bahkan ketika Eng Eng menyerang lagi dengan penuh kebencian, pedang di tangan gadis itu berobah menjadi segulung sinar merah yang dahsyat sekali! Hampir sama dengan pedang Ang coa kiam.
Bukan! Apalagi setelah ia menghadapi gadis ini beberapa jurus, makin gelisah hatinya. Ilmu pedang gadis ini benar-benar kukoai (ganjil), gerakannya demikian kacau balau dan setiap Jurus yang agaknya ia merasa seperti mengenalnya, ternyata perkembangannya jauh berbeda dengan gerak atau jurus yang lajim. Gerakan gadis ini seakan-akan menjadi kebalikan dari pada ilmu pedang biasa. Namun kelihaiannya bahkan lebih dari ilmu pedang biasa. Nampak kacau balau, namun di dalam kekacauan itu tersembunyi daya serang dan kekuatan yang membingungkannya.
Terpaksa Tiong Kiat lalu mengeluarkan kepandaiannya dan ia melawan dengan penuh perhatian dan hati-hati sekali. la makin kagum dan rasa sayangnya makin tebal. Gadis ini jauh lebih cantik dari pada Kui Hwa, dan jauh lebih tinggi kepandaiannya. Bahkan, ilmu pedang gadis ini belum tentu berada di bawah tingkat kepandaiannya sendiri. Aduh, alangkah bahagianya kalau ia bisa menjadi suami gadis yang cantik dan gagah perkasa ini.
"Nona...... tahan dulu, nona! Biarkan aku bicara sebentar.."
"Anjing hina dina, kau masih mau bicara apa lagi?" berkata Eng Eng dengan marah, akan tetapi ia menahan pedangnya juga karena ia ingin sekali mendengar bicara pemuda yang menghancurkan kehidupannya ini.
"Nona, tidak bisakah kau memaafkan aku? Aku cinta kepadamu dan biarpun aku telah dikuasai oleh nafsu sehingga berlaku salah kepadamu, akan tetapi aku bersumpah bahwa aku menyesal sekali, dan berilah kesempatan kepadaku untuk menebus dosaku. Aku akan memberi kebahagiaan kepadamu, biarlah aku berlaku seperti pelayanmu, biarlah aku melindungimu sampai di hari tua. Nona ""
"Tutup mulut dan mampuslah!" Eng Eng menjerit makin marah dan kini dua titik air mata berloncat keluar dari pelupuk matanya. Ia menyerang dengan sepenuh semangatnya, mengerahkan kepandaian dan tenaganya sehingga Tiong Kiat menjadi sibuk sekali. Pemuda ini maklum bahwa tanpa membalas, ia akan celaka. Maka kini, ia merubah gerakan pedangnya dan membalas serangan gadis itu. Terjadilah pertandingan yang luar biasa sekali serunya.
Akan tetapi, ilmu pedang gadis itu terlalu ganas dan kuat bagi Tiong Kiat. Kalau saja ia tidak sedang bingung dan tidak telah terluka lengannya oleh pedang Tiong Han kemarin, mungkin ia akan dapat bertahan sampai puluhan atau sampai seratus jurus. Akan tetapi kini ia hanya dapat bersilat sambil mundur, terus terdesak hebat oleh gadis yang ganas sekali gerakan pedangnya itu.
"Akan kubeset kulitmu, kukeluarkan isi dadamu!" berkali-kali Eng Eng berseru sambil memperhebat serangannya.
Akhirnya Tiong Kiat tidak tahan lagi menghadapi Eng Eng. Dengan seluruh tenaga yang masih ada, ketika pedang merah di tangan Eng Eng meluncur dan menusuk ke arah ulu hatinya, ia lalu menyampok pedang ini dengan pedangnya. Tenaga sampokannya keras sekali dan biarpun pedang di tangan Eng Eng tidak terlepas namun terpental sehingga gadis ini mengeluarkan seruan kaget dan melompat mundur untuk menghindarkan diri dari serangan balasan yang mendadak. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Tiong Kiat. Ia cepat melompat jauh dan berlari pergi dari situ!
"Jahanam busuk, kau hendak lari kemana?" Eng Eng cepat mengejar, Tiong Kiat tidak berani melawan lagi. Biarpun ia sanggup menjaga diri dan menahan serangan gadis ini, akan tetapi ia merasa gelisah kalau teringat kepada Tiong Han. Tak lama lagi Tiong Han akan bebas dari totokan dan kalau kakaknya itu turun tangan, celakalah dia!
Dengan secepatnya ia melarikan diri, Rasa takut membuat larinya Iebih cepat dari pada biasanya. Namun Eng Eng juga memiliki ginkang serta ilmu lari cepat yang tinggi tingkatnya sehingga gadis ini merupakan bayangan yang tak pernah tertinggal jauh oleh Tiong Kiat!
Ketika tiba di sebuah hutan kecil, Eng Eng kehilangan bayangan pemuda itu dan ia terus mengejar turun. Padahal pemuda itu bersembunyi di dalam serumpun alang-alang lebat. Melihat gadis itu sudah melewatinya, Tiong Kiat cepat keluar dan berlari mengambil jalan ke arah lain.
Bukan main panas dan penasaran rasa hati Eng Eng ketika ia tidak dapat mencari Tiong Kiat. Pemuda itu telah lenyap bagaikan ditelan bumi. Kecewa sekali hatinya. Ia hendak melanjutkan pengejarannya, akan tetapi ia lalu teringat kepada Tiong Han, maka ia lalu kembali naik ke atas bukit itu.
Ketika ia tiba di tempat itu, ia mendapatkan Tiong Han sudah bangun dan duduk di bawah pohon. Pemuda ini sedang membersihkan pipi dan bibirnya yang berdarah karena tamparan-tamparan Eng Eng tadi. Biarpun nampaknya masih lemas dan agak pucat namun kesehatannya sudah pulih kembali. Totokan itu telah dapat dilepaskannya sebelum waktunya dengan pengerahan tenaga dalamnya.
Bukan main malu dan terharu hati Eng Eng ketika ia melihat pemuda ini. Melihat betapa pipi pemuda itu menjadi bengkak dan kemerahan bekas tamparannya, hampir saja ia tidak dapat menahan air matanya. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan menghampiri Tiong Han yang telah berdiri dan memandangnya dengan tenang.
"Aku ........ aku telah berlaku salah" harap kau suka maafkan padaku," kata Eng Eng dengan suara gagap juga.
"Tidak apa nona Suma. Sudah sewajarnya kau sebenci itu kepadaku. Bahkan sekarang juga aku masih bersedia untuk menerima, biar akan kau bunuh juga."
"Akan tetapi mengapa?? Mengapa kau melindungi orang itu? Siapakah dia?"
Tiong Han menarik napas panjang. Setelah gadis ini bertemu sendiri dengan Tiong Kiat, ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi.
"Dia adalah adik kembarku, Sim Tiong Kiat."
"Akan tetapi, dia yang berbuat dosa, mengapa kau yang mengakuinya dan membiarkan aku melakukan kesalahan kepadamu?" Eng Eng berkata penuh penasaran.
Tiong Han mencoba tersenyum.
"Lupakah kau nona, bahwa tadinya aku telah menyangkal akan tetapi kau tidak percaya kepadaku? Setelah aku menduga bahwa perbuatan keji itu tentu dilakukan oleh Tiong Kiat, sudah sepatutnya kalau aku yang menerima hukumannya. Aku rela mati untuknya, aku adalah kakaknya dan juga pengganti orang tuanya. Kami berdua telah menjadi yatim piatu semenjak kecil, hidupnya hanya bersandar kepadaku dan kalau ia menjadi tersesat, tanggung jawabku pulalah itu." Entah mengapa, pemuda ini menceritakan segala hal kepada Eng Eng dan akhirnya ia menjadi demikian berduka memikirkan Tiong Kiat sehingga ia hanya menundukkan mukanya.
"Kau lemah, kau terlalu baik hati." Eng Eng mencela.
"Manusia macam adikmu itu harus dibasmi dari muka bumi! Aku akan mencarinya sampai dapat, biar berlari ke neraka akan kukejar!" Sambil berkata demikian, Eng Eng lalu membalikkan tubuh dan hendak lari dari situ.
"Nanti dulu nona"" Tiong Han menahan dan terkejutlah Eng Eng ketika melihat betapa dengan sekali lompatan saja pemuda ini telah berada di hadapannya! Ah, kepandaiannya hebat juga pikirnya.
"Kuharap kau jangan pergi mencari Tiong Kiat, katanya.
Marahlah Eng Eng dan dicabutnya pedangnya, mengeluarkan sinar kemerahan.
"Apa? Kau masih juga hendak membela adikmu yang durhaka dan jahat itu? Sim Tiong Han, kalau kau masih mabok dalam kelemahan hati dan kasih sayang terhadap adik secara membuta boleh kau merasai pedangku! Tak perduli siapa yang hendak membela si pendurhaka Tiong Kiat dia adalah musuhku!"
"Nona kau kira aku seorang yang demikian jahat? Adik kandungku telah berbuat dosa besar terhadapmu, apakah aku bahkan hendak menambag dosa itu dengan memusuhimu? Tidak, nona Suma Eng, tidak. Biarpun kau hendak membunuhku, aku takkan melawan. Dosa adikku adalah dosaku juga karena akulah yang mendidiknya semenjak kecil. Aku mencegahmu mengejar Tiong Klat, hanya karena". aku kuatir kalau kalau kau malah akan menjadi korban di ujung pedangnya. Ketahuilah bahwa dia telah merampas kitab ilmu pedang Ang coa-kiamsut dan apabila ia telah dapat menamatkan pelajarannya dalam ilmu pedang itu, sukar bagimu untuk dapat mengalahkannya!"
"Sombong! Siapa takut menghadapi Ang-Coa kiamsut palsu? Mau tahu Ang coa-kiam? Inilah pedang ular merah yang asli!" Ia memperlihatkan pedangnya.
"Mau tahu ilmu pedang Ang coa kiamsut yang sesungguhnya? Lawanlah ilmu pedangku, karena hanya ilmu pedangku saja yang disebut Ang-coa-kiamsut!"
Tiong Han tertegun mendengar ini dan ia memandang ke arah pedang ini dengan penuh perhatian.