"Kau masih berpura-pura ataukah aku yang mimpi? Orang she Sim, kau dulu bertemu dengan aku di dalam hutan, bukan?"
"Betul, kau berada dalam keadaan pingsan dan kehujanan."
"Kau lalu membawaku ke kuil tua bukan?"
Tiong Han menggeleng kepalanya.
"Tidak, aku hanya menyelimuti tubuhmu dengan mantelku, agar jangan terserang air hujan. Aku tidak tahu adanya kuil di tempat itu, kalau tahu tentu kau akan kubawa ke sana agar terhindar dari serangan hujan lebat. Aku hanya menyelimutimu dan ketika kau siuman, tiba-tiba kau menyerang dan melukai pundakku,"
"Bohong!" tiba-tiba Eng Eng menampar dan "plak!" pipi Tiong Han terkena tamparan keras sehingga pemuda yang masih lemas ini tak dapat menahan. Darah segar mengalir keluar dari bibirnya.
"Manusia pengecut! Kau telah berani melanggar dosa, berani berbuat akan tetapi tidak berani mengaku. Laki laki macam apakah kau ini? Kau telah membawaku ke kuil ketika aku sedang pingsan dan kau..... kau telah berbuat hina kepadaku! Karena itu aku harus menghancurkan kepalamu sebelum aku menghabiskan nyawaku sendiri!"
"Nona, tidak salahkah kau? Apakah orang terkutuk itu orang lain?"
"Bangsat! Kaukira aku dapat melupakan muka orang?" ia menatap dengan tajam dan merasa yakin bahwa pemuda yang dulu menghinanya adalah orang inilah!
Tiba-tiba Tiong Han teringat kepada Tiong Kiat dan ia menghela napas dengan hati perih!
"Ah. Mungkinkah"..? Ya Tuhan mengapa kau tersesat sedemikian jauhnya...?"
"Apa maksudmu? Siapa tersesat?" Eng Eng bertanya.
"Sudahlah, nona. Kalau kau mengira bahwa orang yang berbuat tidak patut terhadapmu itu adalah aku, maka bunuhlah aku! Aku takkan menyangkal lagi dan memang barangkali akulah orang itu!"
"Kau mengaku?"
"Ya, boleh, kau sebutkan aku mengaku. Boleh bunuh saja dan habis perkara!"
Tiba-tiba Eng Eng menangis sedih. Entah mengapa, setelah melihat wajah dan sikap Tiong Han, rasa bencinya lenyap secara aneh. Kalau tadi ketika Tiong Han tidak mau mengaku, ia menjadi penasaran dan marah, adalah sekarang setelah pemuda itu mengaku, ia sendiri merasa ragu-ragu! Sungguh aneh, tadi ketika Tiong Han menyangkal dan membuatnya merasa yakin bahwa pemuda inilah orangnya yang berdosa, ia tidak melihat perbedaan sedikitpun dan wajah pemuda yang mengganggunya dengan wajah pemuda dihadapannya ini. Akan tetapi sekarang timbullah keraguan besar.
Tak mungkin pemuda yang bersikap halus, sabar dan gagah ini melakukan perbuatan sedemikian rendahnya! Dan kini ada sesuatu yang membisikinya bahwa bukan inilah orangnya yang berdosa! Ada satu titik perbedaan antara orang di kuil itu dengan pemuda ini, akan tetapi Eng Eng tidak tahu dan tidak ingat lagi apakah perbedaan itu. Akan tetapi pemuda ini telah mengaku dan harus dibunuh untuk membalas dendam hatinya. Kemudian dia akan membunuh diri sendiri, karena untuk apa hidup lebih lama lagi menanggung derita batin yang hebat? la akan selalu merasa dirinya kotor dan tidak berharga lagi!
Tiba-tiba Eng Eng menangis terisak-isak, menutupi mukanya dengan kedua tangannya, sehingga Tiong Han merasa heran sekali.
"Nona Suma Eng mengapa menangis? Kau telah menganggapku orang yang berdosa telah mencelakakan hidupnya. Nah bunuhlah, aku takkan merasa penasaran mati di tanganmu setelah aku ketahui apa sebabnya kau hendak membunuhku."
"Kau .... kau bohong! Bersumpahlah bahwa kau bukan yang melakukan hal itu dan aku akan melepaskanmu!"
Tertegun Tiong Han mendengar ini. Tentu saja ia ingin bersumpah untuk menyatakan kebersihan dirinya akan tetapi ia teringat kepada Tiong Kiat! Ia tahu bahwa gadis ini tentu telah diganggu oleh Tiong Kiat dan hatinya hancur memikirkan kejahatan dan kesesatan adiknya itu. Kalau ia bersumpah, tentu gadis ini akan mencari Tiong Kiat dan dia sendiri pun tidak akan dapat memaafkan Tiong Kiat untuk perbuatannya yang biadab itu. la menggeleng kepala.
"Tidak, nona. Aku tidak dapat bersumpah,"
Tiba-tiba Eng Eng menjadi marah lagi.
"Begitu? Hm, kau seorang pengecut! Tadi kau menyangkal bahwa kau yang melakukan perbuatan itu, sekarang kau bahkan tidak berani berkata terus terang! Kau"kau menyebalkan hatiku!" Kembali Eng Eng menampar dan untuk kedua kalinya bibir Tiong Han berdarah! Pipi pemuda yang telah ditampar dua kali oleh tangan Eng Eng yang mengandung tenaga hebat itu telah menjadi bengkak.
"Bunuhlah saja, nona"."
"Tentu saja kubunuh kau laki laki pengecut!" Diangkatnya pedang di tangannya dengan maksud untuk memenggal leher Tiong Han.
Akan tetapi pada saat itu sebutir batu melayang cepat dan tepat menangkis pedangnya itu.
"Trang! Eng Eng terkejut sekali dan cepat melompat ke arah pohon besar dari mana batu tadi melayang. Ia melihat berkelebatnya bayangan orang melompat pergi dari situ, maka cepat ia berlari menyusul.
Ternyata bahwa Tiong Kiat yang menyambit dan menangkis bacokan pedang Eng Eng tadi. Betapapun juga Tiong Kiat merasa terharu sekali melihat dan mendengar betapa Tiong Han membela dan melindungi namanya! Alangkah mulianya hati kakaknya itu. Kakaknya telah dikhianati, telah ditotok dan dilukai, bahkan telah dicurinya pula kitab yang dibawa oleh kakaknya. Dan sekarang, kakaknya masih berusaha melindunginya dari nama busuk.
Bagaimana ia dapat membiarkan kakaknya terbunuh oleh gadis liar ini? Melihat Eng Eng mengangkat pedangnya, cepat Tiong Kiat lalu menggunakan kepandaiannya, menyambit dengan batu untuk menangkis pedang itu. Ia telah mempergunakan sepenuh tenaganya, dan percaya bahwa pedang di tangan nona itu tentu akan terpukul jatuh dan terlepas. Siapa kira pedang itu tidak terlepas bahkan batu yang dipergunakan untuk menyambit itu ketika beradu dengan pedang telah terpentaI jauh!
Ketika Eng Eng melompat mengejar, lebih kaget lagi hati Tiong Kiat karena sebentar saja gadis itu sudah hampir dapat mengejarnya! Tak jauh dari tempat tadi, terpaksa ia berhenti dan dengan pedang Hui-Iiong kiam di tangan, ia menanti kedatangan Eng Eng. Setelah gadis itu tiba di hadapannya, ia terpesona oleh kecantikan yang murni dari gadis ini. Hatinya berdebar. Alangkah jelitanya gadis ini, dan alangkah gagahnya. Untuk kedua kalinya, Tiong Kiat merasa betapa hatinya berdenyut aneh. Pandangan matanya melembut dan senyumnya menjadi mesra sekali.
Di lain fihak, ketika Eng Eng menghadapi pemuda ini wajahnya berubah pucat sekali. la merasa seakan-akan berada di dalam mimpi, atau seakan-akan melihat seorang iblis di siang hari. Tak terasa pula ia menengok ke belakang ke arah tempat tadi. Dari jauh ia masih melihat Tiong Han rebah miring di atas rumput.
Apakah pandangan matanya sudah menjadi rusak? Mengapa ada dua orang yang demikian sama dan serupa segala-galanya?
"Siapa kau? Mengakulah, siapa kau?" tanyanya dengan bibir gemetar.
"Nona sudah Iupa lagikah kau kepadaku? Kita pernah saling bertemu."
"Di kuil.."...?"
Tiong Kiat mengangguk.
"Ya, di kuil"""
Eng Eng merasa kepalanya pening. Bumi yang dipijaknya serasa berputaran dan ia terhuyung-huyung ...... Tiong Kiat melompat mendekat dan hendak memeluknya, akan tetapi Eng Eng mengelak dan berkata,
"Jangan sentuh aku!"
"Nona, aku........ aku cinta kepadamu. Maafkanlah aku, aku ... aku menyesal sekali telah melukai hatimu. Ikutlah aku, jadilah istriku dan kuperlihatkan padamu bahwa aku akan menjadi suami yang baik untuk menebus dosaku ..."