"Tiong Han, biarpun suhu sendiri yang datang mengambil pedang ini, agaknya ia takkan dapat mengambilnya begitu saja tanpa membuktikan bahwa kepandaiannya masih lebih tinggi dari padaku. Siapa yang memiliki kepandaian ilmu pedang Ang coa kiamsut lebih tinggi, dialah yang berhak memiliki pedang ini! Aku memegang pedang ini, nah, apakah kau memiliki keberanian untuk menentangku. Apakah kau tidak tahu bahwa pemegang pedang ini harus dihormati dan ditaati oleh semua anak murid Kim-liong-pai?"
"Tiong Kiat, jangan kau berkeras! Lebih baik kembalikan pedang itu dan kalau kau menginginkan sebatang pedang yang baik, kau boleh ambil pedangku Hui-liong-kiam ini. Aku tidak bisa menyerangmu, kau adalah adikku dan kau tahu betapa besar cinta kasihku kepadamu.
"
"Jangan omong kosong! Aku memegang Ang.coa-kiam, kalau kau mau menjadi murid Kim-liong pai yang mendurhaka, kau boleh melawan aku!"
Sedih benar hati Tiong Han menyaksikan sikap adiknya ini. Terpaksa ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan kitab Ang coa.kiam coansi.
"Kau Iihat ini, Tiong Kiat! Akulah yang lebih berhak dari padamu, karena kitab pusaka ini dipercayakan kepadaku oleh suhu!"
Terbelalak mata Tiong Kiat memandang kepada kitab Iapuk di tangan kakaknya itu. Ketika ia hendak pergi, ia telah mencari-cari kitab ini, akan tetapi ia tak terdapat olehnya. Kalau saja ia dapat memiliki kitab itu, tentu ilmu pedangnya akan menjadi maju pesat sekali. Otaknya yang cerdik bekerja cepat dan ia lalu tersenyum ramah kepada kakaknya.
"Han-ko, terpaksa aku mengakui keunggulanmu karena kau memegang kitab itu. Baiklah aku akan kembalikan Ang coa kiam kepadamu, akan tetapi kau harus memberi pinjam kitab itu selama beberapa bulan kepadaku agar adikmu ini dapat melanjutkan pelajaran ilmu pedang."
Tiong Han menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin, Tiong Kiat. Kitab ini tidak boleh kuberikan kepada siapapun juga. Lekas kau berikan pedang itu padaku."
"Berikan? Mari, terimalah!" Akan tetapi ucapan ini disambung dengan gerakan menusuk dengan pedangnya ke arah dada kakaknya! Sungguh kejam dan jahat sekali hati pemuda yang sudah tertutup oleh hawa nafsu busuk itu.
Baiknya Tiong Han sudah berlaku waspada. la kenaI baik adiknya yang cerdik dan semenjak kecil memang mempunyai banyak akal licin ini. Ia cepat mengelak, menyimpan kitabnya dan mencabut pedang Hui-liong-kiam.
"Tiong Kiat, dengan hati perih terpaksa aku harus memberi hajaran kepadamu dan mengambil kembali pedang itu dengan paksa!" katanya sambil membalas dengan serangan yang kuat.
"Ha, ha, ha! Baik mari kita mencoba siapa yang lebih kuat diantara kita." jawab Tiong Kiat memandang rendah, oleh karena ia tahu bahwa kepandaiannya masih lebih menang dari pada kakaknya.
Akan tetapi begitu mereka bergebrak selama beberapa jurus saja terkejutlah Tiong Kiat. Ilmu pedang kakaknya ini sudah maju jauh sekali, bahkan tenaga lweekangnya lebih mantap dan berisi dari pada dulu! Ia menjadi gemas, mengertak gigi dan melakukan serangan mati-matian, menggerakkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Beberapa kali ia sengaja mengadu pedang Ang-coa-kiam untuk membabat putus pedang di tangan Tiong Han, akan tetapi biarpun bunga api berpijar menyilaukan mata, pedang Hui-Iiong kiam itu ternyata tidak rusak sedikitpun juga.
Pertempuran dilanjutkan dengan amat sengitnya. Serang-menyerang terjadi, desak mendesak antara kedua saudara kembar itu. Mereka sama lincah, kuat dan sama mahir ilmu pedangnya. Hanya ada sedikit perbedaan, yakni kalau Tiong Kiat menyerang dengan mati-matian dengan nafsu merobohkan dan membunuh kalau perlu dalam usahanya untuk merampas kitab Ang coa kiam coansi, adalah Tiong Han bertempur dengan terpaksa. Hatinya tidak tega untuk melukai adiknya yang amat dicintanya ini, dan ia hanya mempertahankan diri dan serangan balasannya hanya ditujukan untuk merampas pedang!
Sesungguhnya, setelah mematangkan ilmu pedangnya dari kitab yang dibawanya, kemajuan Tiong Han luar biasa sekali dan ia telah dapat melampaui kepandaian adiknya. Banyak jurus-jurus rahasia yang menjadi bagian-bagian tersulit dari ilmu pedang Ang coa-kiamsut telah dipelajarinya sedangkan Tiong Kiat belum pernah mempelajari jurus-jurus ini. Kalau Tiong Han mau menyerang mati-matian seperti adiknya, tak dapat disangsikan Iagi bahwa ia pasti akan menang. Akan tetapi keraguannya membuat ia selalu bahkan terdesak oleh Tiong Kiat!
"Engko Han yang baik," Tiong Kial berkata mengejek,
"biarpun kepandaianmu sudah maju, tetap saja kau takkan dapat menangkap aku. Lebih baik kau serahkan kitab itu agar aku tidak akan berdosa melukaimu!"
"Kau buta oleh nafsu jahatmu, Tiong Kiat." Tiong Han menjawab sambil menangkis sebuah sambaran pedang adiknya. Pertempuran dilanjutkan Iebih hebat lagi, karena Tiong Kiat kini menyerang Iebih bernafsu. la merasa penasaran juga karena telah bertempur lebih dari lima puluh jurus, belum juga Tiong Han dapat dikalahkan. Padahal dulu, di dalam latihan, ia dapat mengalahkan kakaknya ini dalam waktu tiga puluh jurus saja.
Bukan main hebatnya pertempuran kakak beradik ini, dua saudara kembar ini. Gulungan sinar pedang Ang coa kiam yang berwarna merah bergulat dengan sinar pedang dari Hui liong kiam, merupakan dua ekor naga yang saling membelit. Pertempuran ini hanya disaksikan oleh bulan, angin dan pohon pohon di sekitar mereka. Seratus jurus terlewat dan Tiong Han makin terdesak saja. Tiba-tiba serangan kilat yang amat hebat dari Tiong Kiat dan yang ditangkisnya kurang cepat membuat pedang Ang-Coa kiam meleset dan melukai pundak Tiong Han! Bajunya di bagian pundak terbabat robek, berikut sedikit daging dan kulitnya sehingga mengucurkan darah dari pundak Tiong Han!
"Serahkan kitab itu!" Tiong Kiat membentak sambil menahan serangannya. Betapapun juga, ia tidak ingin membunuh kakaknya dan timbul rasa kasihan di hatinya melihat betapa wajah kakaknya menjadi meringis menahan sakit.
"Tiong Kiat, kau terlalu!" Tiong Han menegur dan kini pemuda inilah yang mendahului maju menyerang adiknya.
Tiong Kiat menangkis dan sebentar kemudian terkejutlah dia karena gerakan pedang Tiong Han bukan main kuat dan hebatnya, penuh dengan gerakan dan gaya yang aneh dan tak dapat terduga sama sekali olehnya! la merasa seakan-akan pedang Hui-liong-kiam berobah menjadi banyak sekali, mengelilingi dan menyerang ke arah dirinya dari segenap penjuru! Barulah Tiong Kiat tahu bahwa kepandaian kakaknya sudah mencapai tingkat tinggi sekali! Akan tetapi terlambat ia sadar akan kesombongannya karena sebelum ia tahu apa yang terjadi, ia merasa perih sekali pada lengan kanannya dan tahu-tahu pedangnya telah pindah ke tangan kiri Tiong Han dan Iengan bajunya telah robek berikut kulit lengannya yang mengalirkan darah lebih banyak daripada darah yang mengucur dari pundak Tiong Han.
"Aduh..." Tiong Kiat mengeluh. kemudian saking jengkel, marah dan malunya ia lalu menjatuhkan diri di atas tanah, menutupi mukanya dan menangis!
Tiong Han tidak merasa heran melihay kelakuan adiknya ini. Semenjak dulu ketika mereka masih kecil, tiap kali dia marah kepada adiknya atau memukulnya, Tiong Kiat selalu menangis seperti itu. Dan juga ia tidak merasa heran ketika mendengar adiknya meratap.
"Ayah ibu, mengapa kalian tidak membawa aku mati saja! apa artinya hidup bersama seorang kakak yang kejam terhadap adiknya sendiri?"
Memang, sikap Tiong Kiat ini benar benar lucu dan bersifat kekanak-kanakan, akan tetapi memang pemuda ini memiliki kelemahan hati yang akhirnya menjadi kebiasaan, bahkan seringkali dipergunakan sebagai siasatnya untuk mengalahkan hati kakaknya! Kali inipun, melihat haI adiknya sedemikian rupa, biarpun Tiong Han maklum bahwa hal itu mungkin hanya siasat, hatinya tersinggung dan sambil mengalirkan air mata, ia menubruk dan memeluk Tiong Kiat!
"Adikku, jangan kau berduka. lni ambillah pedangku Hui.liong-kiam! Kau sudah menyaksikan sendiri bahwa ketajaman dan keampuhannya tidak kalah oleh Ang.coa-kiam. Mana lenganmi, biar aku balut agar jangan banyak darah yang keluar!" sambil berkata demikian, Tiong Han lalu merobek pinggir Jubahnya dan membalut lengan tangan Tiong Kiat yang memandang dengan muka terharu. Alangkah baik hatinya kakaknya ini. Lukanya sendiri di pundak tidak dlperhatikan, sebaliknya malah membalut luka di tangannya.
"Han ko, bisakah kau memaafkan aku yang sudah menyakiti hatimu?" tanyanya dengan terharu, rasa haru yang timbul dari hati murninya, bukan pura-pura.