"Ada sebuah hal pada diri cici Pauw Lian yang membuat hatiku tidak puas, bahkan selalu terasa di hatiku. Dan hampir-hampir aku benci kalau mengenangkan hal ini." Hong Ing telah dapat mengatur suaranya demikian rupa hingga mau tak mau Han Liong merasa tertarik. Tak terasa lagi pemuda ini cepat-cepat bertanya.
"Apa? Apakah Cacatnya maka kau merasa penasaran?" Suaranya mengandung keinginan tahu besar sekali hingga diam-diam Honi Ing hatinya merasa geli. Baru dicela sedikit saja Han Liong sudah bingung tak karuan!
"Cacatnya ialah kesombongannya. Agaknya kecantikan dan kepandaiannya membuat ia sombong dan tak tahu diri!"
"Hm, benarkah begitu?" Han Liong masih ragu-ragu akan kebenaran kata-kata adiknya ini.
"Ah, tentu kau tak mau percaya, koko, karena kau sudah... anggap dia seorang dewi yang tiada Cacat!" selanya lagi.
"Eh, eh, jangan main-main, adik Ing. Sebenarnya, mengapa kau katakan dia sombong dan tak tahu diri?"
"Tidak, ah. Kau nanti marah." Han Liong makin bernafsu, ingin tahu.
"Aku berjanji takkan marah."
"Kau berjanji? Bagus kalau begitu. Nah, tahukah kau apa katanya padaku setelah kau dan menyerbu menyerbu barisan Ngo-heng-tin fa bilang bahwa jika ia maju seorang diri menggunakan Ouw-liong Pokiamnya, tentu dengan mudah ia dapat memukul pecah barisan itu, tapi karena ada kau, maka ia menjadi canggung, karena gerakannya kacau oleh permainmu!" Han Liong tiba-tiba mengerutkan keningnya.
"Betul dia berkata begitu"" suaranya mengandung ketidakpercayaan.
"Kau tidak percaya bukan? Biarlah, masa bodoh kau mau percaya atau tidak, tapi tahukah kau apa jawabnya ketika kutanya apakah dia telah bertunangan? Ia jawab bahwa agaknya ia takkan kawin selama hidupnya karena ia telah bersumpah bahwa ia hanya mau kawin dengan seorang pemuda yang dapat mengalahkan Ilmu pedangnya! Yang membuat hatiku lebih panas lagi ialah ketika kukatakan padanya bahwa ilmu pedangmu juga lihai dan tinggi, tapi la menjawab dengan suara dingin bahwa biarpun Pek-liong Pokiam juga sebuah pedang pusaka yang baik dan setara dengan pedangnya, namun ilmu pedangmu hanya indah dilihat saja, tapi isinya kurang dan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Ouw-liong Kiamsut!" Hio Liong merasa mukanya panas dan ia tidak tahu bahwa kulit mukanya menjadi merah, tanda bahwa hatinya telah berubah menjadi kayu kering yang dimakan oleh api yang dilepas Hong Ing. Tapi ia masih dapat menekan perasaan dan penasarannya, dan mencoba membantah keterangan adiknya ini dengan jawaban.
"Benar-benarkah ia berkata begitu?" Hong Ing menghela nafas panjang.
"Ah, sudahlah. Kau mana mau percaya! Rupanya kau telah jatuh hati betul-betul padanya! Agaknya kau takkan percaya juga jika kukatakan bahwa cici Pauw Lian telah mengundang kau untuk mencoba ilmu pedang di sini pada malam ini jam dua belas tengah malam nanti?" Han Liong lompat berdiri.
"Apa katamu?" Hong Ing juga lompat berdiri dan bertolak pinggang.
"Kataku, nanti jam dua belas tengah malam, cici Pauw Lian akan datang di sini antuk mencoba ilmu pedangmu, yakni kalau kau berani!"
"Kalau aku berani?" jawab Han Liong marah.
"Mengapa aku takkan berani? Tapi, benar-benarkah demikian besar hasrat Pauw sumoi itu?"
"Buktikan saja malam ini. Tapi jangan lupa, kau harus pakai kedok sapu tangan."
"Eh, ada apa lagi ini? Harus pakai kedok? Mengapa?"
"Begitulah kehendak Pauw ciei! Dia sendiri juga pakai kedok, agaknya ia malu bertemu muka denganmu tanpa kedok!" Habis berkata begini, Hong Ing pergi, tak perduli akan panggilan Han Liong yang masih hendak bertanya. Pemuda ini merasa heran sekali. Benar-benarkah semua keterangan Hong Ing tadi? Mustahil Pauw Lian demikian sombong! Tapi, biar demikian Hong Ing tak pernah membohong, sekalipun ia amat nakal. Ah, biarlah, ia akan menanti sampai tiba saatnya tengah malam! Hong Ing langsung menuju ke kamar Pauw Lian yang memang mendapat kamar bersama-sama dia. Pauw Lian sedang duduk seorang diri membereskan rambutnya yang hitam dan panjang itu. Hong Ing tak berkata sesuatu, hanya dengan muka asam terus saja membanting diri di atas pembaringan dan rebah telentang.
"Ea, kau kenapa, Ing moi! Kenapa mukamu merah padam seperti orang marah? Apakah kau ribut mulut dengan Tan Kongcu?" Hong Ing gigit bibirnya karena datang-datang ia diganggu oleh Pauw Lian yang jenaka. Awas, pikirnya. Awas pembalasanku!
"Memang aku baru saja ribut mulut. Tapi bukan dengan pemuda she Tan itu, dan aku bertengkar karena membelamu, cici. Sebaliknya yang dibela tidak mengerti, bahkan datang-datang menggoda, Ah, memang dunia ini tidak adil!" Pauw Lian mendekati dan memegang lengannya.
"Kau membelaku sampai bertengkar dengan orang lain? Ah, maaf, adikku yang manis. Kenapa kau bertengkar dan dengan siapa?"
"Ah, aku tak berani memberi tahu, takut kau akan menjadi marah." Tentu saja kata-kata ini membuat Pauw Lian makin ingin tahu dan ia mendesak.
"Aku takkan marah, adik Ing, katakanlah."
"Aku bertengkar dengan Han-ko karena dia mencelamu!"
"Sie suheng? Dia mencelaku? Biarlah, itu hal yang lumrah, mengapa kau harus membelaku?"
"Hm, hm, rupa-rupanya ada apa-apa dalam dadamu, cici, hingga kau menerima saja dicela dan dipandang ringan olehnya, sedangkan aku yang mendengarnya saja menjadi panas hati."
"Tapi... benar benarkah Sie suheng mencela dan memandang ringan padaku? Agaknya... ha! Itu tak boleh jadi. Tak mungkin dia berwatak demikian."
"Nah, nah, itulah kalau orang sudah tertawan! Kau baru saja bertemu padanya, sedangkan aku sudah bertahun-tahun kumpul dengannya, siapakah yang tidak tahu akan wataknya?"
"Ya sudahlah, kau yang benar. Tapi ia mencela dalam hal apakah?"
"Ia mencela ilmu pedangmu! Ia katakan bahwa ilmu pedangmu masih mentah dan lemah dan bahwa hanya di luarnya saja tampak bagus dipandang, tapi kalau dipakai bertempur tidak berarti banyak! Tentu oaja hal ini kubantah karena aku tak senang melihat kesombongannya, tapi kalau kau tidak percaya dan masih penasaran, malam ini jam dua belas tengah malam nanti, ia menanti di dalam kebun belakang untuk mencoba dan mengukur Ilmu Pedang Ouw-liong Kiam-sut!"
Siapa orangnya yang takkan merasa panas hati mendengar kata-kata yang membakar yang keluar dari mulut kecil mungil dengan bibirnya yang manis dan wajah yang bersungguh-sungguh itu? Pauw Lian biarpun orangnya jenaka dan cukup mendapat didikan ilmu batin dari gurunya, namun pada hakekatnya ia memang mudah juga menjadi marah seperti Hong Ing, mana ia dapat menahan hatinya? Warna merah mulai menjalar di kulit muka sampai ke telinganya. Kepalanya yang cantik bergerak-gerak hingga sepasang anting-anting di kedua telinganya berbunyi kelentang-kelenting. Melihat sinar mata yang berapi itu terkejutlah hati Hong In dan ia merasa telah membakar terlampau panas. Segera ia berkata.
"Tapi, cici jangan marah kepada Han-ko. Sebenarnya dia bilang demikian itu karena sedang bertengkar denganku, hingga karena marah ia lalu bicara demikian. Tentu saja dia tidak sengaja bermaksud memandang rendah padamu. Tapi aku ada jalan yang baik, Cici. Bagaimana kalau kau layani dia dengan pakai kedok saputangan? Kau tak usah banyak cakap, begitu datang berhadapan terus saja menggunakan pedangmu, agar dia bisa membuktikan, sampai di mana kelihaianmu. Kita kaum wanita janganlah mudah dipandang ringan oleh pria, cici! Tak perlu kita harus kalah terhadap pria, biar pria itu setampan dan segagah Han-ko sekalipun!" Karena pandainya Hong Ing membujuk dan membakar hati, maka tak heran bila pada waktu Han Liong dengan hati penasaran menunggu di dalam kebun, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan hitam dan sinar hitam dari Ouw-liong Pokiam menyambarnya diikuti bentakan.
"Rasakan tajamnya Ouw-liong Pokiam!" Baiknya Han Liong sudah siap dan waspada, maka cepat ia berkelit dan mencabut Pek-Liong Pokiam. Ia melihat bahwa penyerangnya adalah seorang gadis berkedok saputangan merah dan ia maklum siapakah gadis ini. Sebaiknya Pauw Lian melihat bahwa Han Liong juga memakai kedok saputangan kuning hingga ia kini percaya apa yang diucapkan Hong Ing tadi.
"Sumoi, tahan! Kenapa kau begini keterlaluan?" Kalau tadi hati Pauw Lian sudah terbakar, kini makin berkobar mendengar dirinya disebut keterlaluan!
"Kau yang sombong. Kau kira Pek-liong Pokiam-mu yang tertajam di dunia ini?" Kembali ia menyerang, kini dengan hebat karena ia memakai gerakan Ouw-liong-pok-sai atau Naga Hitam Sambar Air. Pedang hitamnya berkelebat laksana seekor naga hitam terjun, mengerikan. Dalam keheranan dan penasarannya, Han Liong menangkis serangan itu dengan gerakan Pek-liong-hian-bwee atau Naga Putih Perlihatkan Ekor. Demikianlah, sebentar saja mereka saling menyerang dengan hebat sehingga Hong Ing yang bersembunyi di balik pohon dan mengintai, kini menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Hebat sekali pertarungan itu, merupakan dua sinar hitam dan putih saling belit membelit dengan gerakan cepat. Diam-diam Hong Ing merata gemetar dan hatinya berdebar. Ia mengkhawatirkan keselamatan kedua orang itu, terutama keselamatan Han Liong. Walaupun ia tak dapat mengikuti benar-benar gerakan kedua pedang naga itu, namun ia maklum bahwa pertempuran kali ini jauh lebih hebat dari pada yang sudah-sudah! Han Liong dan Pauw Lian diam-diam mengeluh. Memang kepandaian ilmu pedang mereka seimbang dan memang Ouw-liong Kiamsut sama lihainya dengan Pek-liong Kiam-sut. Hanya bedanya, Han Liong lebih tinggi ilmu lweekangnya atau tubuhnya lebih kuat sehingga tiap kali kedua pokiam beradu, Ouw-liong Pokiam-lah yang lebih banyak mengeluarkan bunga api dan lengan Pauw Lian tergetar.
Tetapi kekalahan ini dapat ditutup pula oleh kemenangan Pauw Lian dalam hal ilmu ginkang atau meringankan tubuh, sehingga ia dapat menghindarkan benturan senjata dengan mengharapkan kegesitannya. Ratusan jurus terlewat sudah dan macam-macam tipu simpanan telah dikeluarkan, namun belum juga ada yang tampak terdesak. Hong Ing sudah merasa lemas. Sejam lebih kedua orang ita beradu pedang dan Hong Ing tak berdaya apa-apa. Maksud hatinya hendak memilah tapi ia tak berani sembarangan maju. Maka diam-diam ia mulai merasa menyesal akan perbuatannya dan dengan tak disengaja dari kedua matanya mengalir air mata yang membanjiri kedua pipinya. Tiba-tiba ia merasa sebuah tangan yang kuat meraba lengannya dengan sentuhan halus dan terdengar suara beibisik.
"Cici Hong Ing kenapa menangis? Mereka tak bertempur sungguh-sungguh, jangan kau khawatir." Mendengar kata-kata ini. Hong Ing menjadi demikian girang hingga ia lupa untuk mengherankan Un Kiong yang tiba-tiba itu. Ia pegang lengan pemuda itu dengan keras.
"Benar-benarkah mereka berkelahi tidak sungguh-sungguh!" Senyum manis terbayang di wajah Un Kiong yang tampan itu.
"Mereka hanya bermain- main!" Setelah hatinya tenang kembali, barulah Hong Ing ingat betapa mesranya ia saling berpegangan lengan dengan Un Kiong. Cepat-cepat ia melepaskan tangannya dan mundur dua langkah lalu tunduk kemalu-maluan. Memang Un Kiong berkata benar. Biarpun keduanya merasa penasaran dan ingin sekali menang, namun mereka menjaga benar agar pedang mereka jangan sampai saling melukai. Pernah ujung pedang Pek-Liong Pokiam menyambar leher Pauw Lian yang halus, tapi sebelum menyentuh kulitnya, pedang itu telah dirobah gerakannya ke atas hingga sebaliknya hanya merobek kain pengikat rambut saja.
Sedangkan ketika ujung Ouw-liong Pokiam menyambar dan hampir menembus jantung dalam dada kiri Han Liong, pedang itu ditahan demikian rupa oleh Pauw Lian hingga akibatnya hanya merobek baju Han Liong di bagian bahu kiri saja. Un Kiong yang sejak tadi dengan diam-diam menonton pula, dapat melihat hal ini. Kemudian ia melihat betapa Hong Ing tiba-tiba menangis. Biarpun tadinya ia merasa malu bertemu dengan gadis itu karena kata-kata gurunya tadi, namun melihat gadis yang telah mencuri hantinya itu menangis, ia tak dapat menahan hatinya dan datang menghampiri lalu menghiburnya! Pada saat itu, tiba-tiba dari bawah Gunung Beng-san terdengar suara hiruk-pikuk dari kaki kuda dan teriakan-teriakan orang banyak. Mendadak Un Kiong melihat suhunya, Khouw Sin Ek melayang turun dari scbuah pohon dan berkata.