Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 42

NIC

Dua orang pemuda yang lain bernama Siok Boan, yang bertubuh gendut dengan muka seperti kanak-kanak, dan Poa Kian So yang pendek dengan hidung pendek pesek pula. Mereka ini suheng dan sute, murid dari Lui Seng Cu yang berjuluk Hok-houw Toa-to (Golok Besar Penakluk Harimau), seorang berusia lima puluh tahun dan terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang ditakuti. Akan tetapi dia kini telah mengundurkan diri dan menjadi seorang di antara pimpinan suatu aliran kepercayaan baru yaitu para penyembah Thian-te Kwi-ong (Raja Setan Langit Bumi), yang katanya dapat membuat orang menjadi kaya raya, sakti dan panjang umur!

Demikianlah, melihat empat orang pemuda ini tiba-tiba muncul dan menghadangnya, Giok Cu mengerutkan alisnya. Seperti juga Siangkoan Tek, empat orang pemuda yang menjadi tamu gurunya ini bersikap amat manis kepadanya, terlalu manis bahkan menjilat-jilat dan jelas merayu, kadang- kadang kurang ajar. Mengingat akan pengalamannya yang baru saja mengancam keselamatannya, Giok Cu yang tidak ingin pula mengalami hal tidak enak di tempat sunyi itu, lalu tersenyum manis dan menegur mereka lebih dulu.

"Selamat pagi! Cu-wi Toa-ko (ParaKakak) hendak pergi ke manakah?"

Empat orang pemuda itu memandang kagum dan mata mereka mengandung nafsu berahi. Hal ini adalah karena mereka tadi melihat pergulatan Giok Cu dan Siangkoan Tek, kemudian mereka, melihat pula betapa Giok Cu berganti pakaian di belakang batu, lalu betapi gadis itu menelanjangi Siangkoan Tek Kini, gadis yang memang membuat mereka tergila-gila itu berdiri di depan mereka sambil tersenyum manis. Dalam pandangan mata empat orang pemuda ini, mereka yang masih teringat akan penglihatan tadi seolah-olah gadis itu berdiri di depan mereka tanpa pakaian!

"Siauwmoi-moi Giok Cu, engkau tampak segar dan cantik jelita, juga rambutmu masih basah. Dari manakah engkau?" tanya Siok Boan sambil terseyum simpul.

Biarpun hatinya mendongkol oleh puji-pujian yang sifatnya merayu ini, namun Giok Cu menahan sabar dan ia pun menjawab, suaranya masih lincah dan manja. Digerakkannya kepalanya agar rambut yang terurai basah itu pindah ke atas pundak bagian depan, terjuntai panjang sampai ke perutnya, kemudian jari-jari tangannya mempermainkan ujung rambut yang halus itu. "Aku baru pulang dari mandi di laut. kalian hendak ke manakah?"

"Mandi di laut? Dengan siapakah, nona Manis?" tanya Ji Ban To yang kurus kering dan mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, bahkan kakinya melangkah maju mendekat. Melihat ini Giok Cu melangkah mundur, seolah tak disengaja.

"Dengan siapa? Tentu saja seorang diri, dengan siapa lagi?" jawab Giok Cu. Empat orang itu tertawa bersanma dan Giok Cu memandang dengan alis semakin berkerut. "Kenapa kalian tertawa?" tanyanya, mulai marah.

"Ha-ha-ha!" Gak Su yang tampan akan tetapi bopeng itu kini tertawa. "Engkau mandi sendiri saja, Siauw-moi? bagus, lalu siapa itu pemuda yang bergelut denganmu di lautan sampai hampir mampus, dan siapa pula pria yang kautelanjangi tadi? Sesudah engkau……. eh, berganti pakaian di belakang batu besar?" Wajah Giok Cu berubah dan ia mandang mereka dengan mata terbelalak.

"Kalian… kalian melihat itu muanya?" Tentu saja mereka

melihatnya pikirnya cepat, kalau tidak, mana mungkin Si Bopeng ini dapat bercerita seperti itu? "Salahnya sendiri! Siangkoan Tek sungguh tak tahu diri dan hendak kurang ajar kepadaku, maka aku telah menghajarnya! Sudahlah, urusan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, harap jangan mencampurinya!" berkata demikian, Giok Cu lalu meloncat dan melarikan diri untuk pulang ke rumah gurunya. Empat orang itu tertawa.

"Heiii, Siauw-moi, aku pun ingin engkau telanjangi seperti Siangkoan Tek! Kapan engkau mau menelanjangi aku? Ha- ha-ha!" Ji Ban to yang kurus kering dan pucat itu berteriak. Giok Cu pura-pura tidak mendengar saja dan ia terus saja berlari. Hatinya merasa tidak enak. Mereka telah melihatnya tadi. Dan orang-orang macam mereka itu tentu tidak akan tinggal diam. Siapa tahu mereka akan melaporkan hal itu

kepada subonya dan kepada ayah Siangkoan Tek, dan ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau kedua orang tua itu mendengar akan apa yang dilakukannya pada Siangkoan Tek. Ia merasa yakin bahwa Siangkoan Tek sendiri tidak akan mau bercerita kepada siapapun juga. Pemuda itu angkuh dan tinggi hati, dan di antara para pemuda yang saat itu menjadi tamu subonya, boleh dibilang SiangkoanTek yang paling menonjol, paling tampan dan bahkan paling kaya, juga dapat diduga memiliki ilmu kepandaian paling tinggi. Bagaimana mungkin dia akan bercerita bahwa dia telah dipermainkan dan dihajar, bahkan dihina oleh seorang gadis remaja?

Empat orang pemuda itu sambil tertawa-tawa meninggalkan tempat itu,bahkan kini mereka mempergunakan ilmu berlari cepat keluar dari kota menuju ke utara. Menjelang senja, empat orang pemuda itu telah kembali ke Ceng-touw dan dua orang di antara mereka, yaitu Siok Boan dan Pao Kian So, murid-murid Hok-houw Toa-to Seng Cu, kini memanggul sebuah karung, sedangkan dua orang kawan mereka, yaitu Ji Ban To dan Gak su, dua orang murid Ouw Kok Sian, mengikuti saja dari belakang.

Posting Komentar