Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 41

NIC

"Ngekkkkk!" Pukulan itu tidak dapat dilakukan terlalu keras karena jaraknya yang amat dekat, namun cukup membuat Siangkoan Tek menjadi mulas dan rangkulannya terlepas. Giok Cu meloncat ke belakang. Siangkoan Tek mem¬bungkuk memegangi perutnya, lalu mengangkat muka dan matanya yang memandang Giok Cu menjadi beringas.

"Hemmm, ludahmu manis rasanya, Akan tetapi pukulanmu memulaskan perutku. Untuk itu, engkau harus mengobatinya dengan lima kali ciuman!" Tiba-tiba dia menubruk maju, gerakannya demikian cepat sehingga hampir saja pundak Giok Cu kena dicengkeram. Gadis tu menggerakkan tubuh mengelak sehingga cengkeraman itu hanya menyerempet pakaian saja.

"Brettttt… !" Baju di bagian pundak itu robek dan karena

baju itu adalah baju dalam, maka di sebelah dalamnya tidak ada pakaian lain sehingga begitu robek, nampaklah kulit pundak dan bagian kulit dada yang membukit, halus dan mulus! Giok Cu meloncat dan melarikan diri, akan tetapi karena ia berada di tepi laut, larinya bahkan menuju ke laut. "Duhai Indahnya pundak dan dadamu, Siauw-moi!" kata

pemuda itu sambil mengejar. Giok Cu berlari terus ke lautan, ditertawai oleh Siangkoa Tek.

"Hendak lari ke mana kau? Ke laut Ha-ha-ha, mana mungkin engkau akan berdiam terus di lautan? Kesinilah manis dan mari kita bersenang-senang!"

Akan tetapi Giok Cu tidak peduli dan melihat betapa pemuda itu terus mengejarnya, ia pun lalu melarikan diri terus ke laut yang semakin dalam lalu ia pun berenang dan menyelam!

Sebagai seorang putera to-cu ( Majikan pulau) dan ia pun hidup di atas sebuah pulau, tentu saja Siangkoan Tek juga pandai berenang. Akan tetapi kepandaiannya dalam hal renang ini bias biasa saja, seperti orang biasa. Dibandingkan dengan Giok Cu, tentu saja dia kalah jauh. Akan tetapi dia tidak tahu bahwa gadis itu adalah seorang ahli bermain dalam air yang amat pandai. Dia hanya tertawa dan menghadang di lautan yang agak pinggir, yang dalamnya hanya sebatas pinggangnya.

Setelah Giok Cu muncul kembali, pemuda itu tertawa bergelak. "Ha-ha, hendak kulihat sampai berapa lama engkau dapat bertahan di situ. Eh, Siauw-moi, tahukah engkau bahwa kalau air laut pasang begini, ikan-ikan hiu biasanya suka bermain-main ke tepi pantai? Awas, jangan-jangan kakimu yang mungil itu akan lenyap sebuah dicaplok hiu, kan sayang!"

Berdebar rasa jantung di dada Giok Cu. Sebagai seorang murid mendiang kakek nelayan yang pandai, pernah ia mendengar dari gurunya itu bahwa ucapan pemuda itu bukan sekedar menakut-nakutinya saja. Kalau sampai benar terjadi ada ikan-ikan hiu bermain-main di situ, celakalah ia! Ia pun mencari akal untuk mengalahkan pemuda yang nakal dan lihai itu, dan tiba-tiba ia menjerit. "Aduhhhhh ……, kakiku…… ah, kakiku yang kanan kejang….. !" Ia menyelam, muncul kembali dan terengah-engah, wajahnya menunjukkan kesakitan. Tadinya, Siangkoan Tek hanya mentertawakannya saja, mengira gadis itu berpura-pura. Akan tetapi melihat betapa gadis itu gelagapan minum air laut, dan mukanya terbelalak ketakutan, tenggelam timbul, dia menjadi khawatir. Tentu ja dia tahu bahwa kejang kaki di waktu berenang di laut amatlah berbahaya. Apalagi kalau kekejangan itu menjalar ke perut. Dia melemparkan pakaian kering yang dipegangnya dan tanpa mebuka sepatunya atau jubahnya lagi, pemuda yang mengkhawatirkan gadis yang dicintainya itu tenggelam, lalu berlari ke depan dan meloncat ke dalam gulungan ombak dan berenang secepatnya menuju ke arah gadis yang mulai hanya agak ke tengah itu.

"Siauw-moi…….! Pertahankan dengan kedua lenganmu agar tubuhmu tidak sampai tenggelam!" teriaknya. "Tekuk pergelangan kakimu ke atas sekuat tenaga….., jangan khawatir, aku datang menolongmu!"

"Toako ……. Cepat ah, aku tidak kuat lag " terdengar

suara gadis itu memohon. Besarlah rasa hati Siangkoan Tek mendengar gadis itu menyebutnya toako. Hem, sudah terbayangkan olehnya betapa nanti kalau gadis itu sudah ditolongnya dan didukungnya ke pantai, gadis itu akan bersukur dan berterima kasih sekali dan tentang ciuman yang dia harapkan, tidak perlu lagi dia minta apalagi dia paksakan. Tentu dengan suka rela gadis itu akan memberinya ciuman seratus kali! Dengan penuh semangat Siangkoan Tek mempercepat renangnya menuju ke arah gadis yang tenggelam timbul itu.

Ketika dia sudah tiba dekat, tangannya menjangkau untuk menangkap lengan Giok Cu. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh Giok Cu tenggelam dan lenyap! Tentu saja Siangkoan Tek menjadi gugup dan dia pun cepat menyelam untuk mencari gadis itu. Dan pada saat itu, dia merasa betapa kakinya ada yang menangkap dan tubuhnya ditarik dengan kuat sekali ke bawah.

Di dalam air, Siangkoan Tek hanya melihat bayangan yang panjang. Jantungnya berdebar tegang. Jangan-jangan ada ikan hiu yang menggigit kedua kakinya. Akan tetapi tidak ada rasa nyeri dan dia berusaha melepaskan tangkapan itu dengan mengguncang-guncang kedua kakinya. Sia-sia belaka, tangkapan atau gigitan yang tidak nyeri itu tidak terlepas dan biarpun dia berusaha untuk menggunakan kedua lengan agar tubuhnya timbul kembali ke atas, usahanya juga gagal. Apa pun yang telah menangk kedua kakinya itu ternyata amat kuat dan tubuhnya terus ditahan sehingga tidak dapat naik ke atas. Siangkoan Tek mengangguk-angguk. Dia dapat menduga Sungguh anak itu nakal dan manja sekali pikirnya sambil menahan senyum. Siapa lagi kalau bukan Giok Cu yang Bermain-main dengan dia? Gadis itu tadi tentu hanya pura-pura dan menjebaknya. Kini gadis itu memegangi kedua kakinya dan menahannya di bawah air! Tenaga orang memang dapat menjadi besar sekali dalam air, hal itu adalah karena tubuhnya sendiri menjadi ringan di dalam air maka pegangan gadis itu amat kuatnya sehingga tidak dapat dia melepaskannya. Akan tetapi dia tidak khawatir. Kalau dia harus menahan napas di dalam air, gadis itu pun sama saja! Dan tentu ia akan lebih kuat bertahan dibandingkan gadis itu! Bukankah gadis itu yang tadi lebih dulu menyelam? Dia pun menahan napasnya, mengharapkan gadis itu akan cepat melepaskan kakinya karena tentu gadis itu tidak kuat bertahan terlalu lama dan akan melepaskan kakinya ntuk muncul kepermukaan air dan bernapas.

Akan tetapi sekali ini, perhitungan Siangkoan Tek meleset! Sampai lama sekali gadis itu belum juga mau melepaskan kakinya! Dia sudah menahan napas sampai dadanya terasa hampir meledak! Dia tidak kuat lagi menahan dan saking takutnya mati kehabisan na¬pas di dalam air, dia meronta sepenuh tenaga. Rontaannya ini berhasil. Sebelah kakinya lepas dan dia pun menendang dengan kaki yang bebas itu ke arah tangan yang masih memegangi kaki yang ke dua. Akhirnya, pada saat terakhir di mana dia sudah terpaksa menelan air, kedua kakinya terlepas dan dia pun meluncur atas. Begitu kepalanya tersembul kelu dari permukaan air, dalam keadaan hampir pingsan Siangkoan Tek menghirup napas terengah-engah, dadanya nyeri. Dia tidak tahu bahwa Giok Cu juga menyembulkan kepala di belakangnya. Gadis itu menghirup napas, tidak terengah-engah seper dia, dan Giok Cu menyelam kembali. Wajahnya tersenyum, matanya berkilat-kilat.

"Ehhh, auuuppp… !" Tubuh Siangkoan Tek kembali

terbetot ke dalam air. Dia meronta sekuat tenaga, kakinya terlepas dari pegangan Giok Cu, mukanya tersembul lagi dan dia gelagapan, bernapas dan tak dapat dihindarkan lagi ada laut memasuki perutnya.

"Eh, jangan Siauw-moi… !" Dia berteriak akan tetapi

kembali tubuhnya diseret ke bawah! Terjadilah pergulatan di air. Siangkoan Tek berusaha muncul kembali, Giok Cu berusaha menyeretnya ke bawah!.Siangkoan Tek gelagapan, beberapa kali minum air laut dan berusaha untuk melawan. Namun gadis itu sungguh lincah sekali di dalam air, seperti seekor ikan saja!

Tenaga Siangkoan Tek makin lama semakin lemah akhirnya dia pun pingsan! Giok Cu masih teringat kepada gurunya. Kalau dibiarkan pemuda ini mati, tentu gurunya akan marah sekali padanya. Dan kemarahan gurunya dapat saja berarti ia akan dibunuh atau disiksa! Sudah seringkah ia melihat gurunya marah dan menyiksa atau membunuh orang, dan diam-diam Giok Cu menggigil ngeri. Pula, ia pun tidak ingin membunuh Siangkoan Tek ini. Memang dia kurang ajar, akan tetapi bukankah dia hanya menyatakan cintanya dan tadi hanya ingin mencium? Pula bukankah ketika ia berpura-pura kejang tadi, Siangkoan Tek berusaha menolongnya, tanpa melepas jubah dan sepatu? Hal ini saja menunjukkan bahwa Siangkoan Tek yang genit dan ceriwis mata keranjang dan cabul itu memang benar mencintanya. Tidak, ia tidak akan membiarkan pemuda itu mampus!

Diseretnya tubuh pemuda yang pingsa itu ke tepi. Diseret dengan menjambak rambutnya dan membiarkan muka pemuda itu terapung menengadah. Setelah tiba di pantai, diseretnya pemuda itu pada rambutnya sampai berada di atas pasir pantai lalu ditelungkupkan dan diinjak punggung bagian perut. Banyak air keluar dari mulut dan hidung pemuda itu sehingga perutnya yang tadinya menggembung menjadi kempis kembali. Giok Cu mengamati sebentar. Pemuda itu bernapas, biarpun terengah-engah. Dia tidak akan mati, pikir Giok Cu dengan hati lega dan puas. Lega karena ia telah berhasil lolos dari gangguan pemuda itu, dan puas karena ia telah mampu membalas dan memberi hajaran tanpa harus membunuh pemuda ini. la segera mengambil pakaian keringnya dandi belakang sebongkah batu besar, ia bergan pakaian. Ketika melihat bajunya yang robek di bagian dada dan karena pergulatan di lautan tadi robeknya menjadi semakin lebar sehingga nampak sebagian dadanya, wajahnya berubah merah dan ia menjadi marah kembali kepada Siangkoan Tek. Pemuda itu sungguh kurang ajar, pikirnya. Setelah ia berganti pakaian kering, teringat akan perbuatan pemuda itu yang hampir menelanjanginya, ia lalu menghampiri pemuda yang masih belum sadar be¬ul itu, dan beberapa kali ia mencengkeram ke arah pakaian lalu merenggutnya, kemudian meninggalkan Siangkoan Tek dalam keadaan hampir telanjang dan tengah pingsan di tempat itu!

Ketika Giok Cu pulang menuju ke kota Ceng-touw, ia harus melalui sebuah jalan yang sunyi berbukit. Tempat sunyi ini biasanya menjadi tempat berkumpul para nelayan untuk membetulkan jala dan menjemur jala. Di situ hanya ada beberapa buah buk, akan tetapi pada saat itu, tidak nampak seorang pun di tempat itu.

Giok Cu berjalan dengan hati gembira. Pemuda itu pasti tidak akan berani lagi mengganggu dirinya! Pengalaman pahit itu tentu membuat Siangkoan Tek menjadi jera. Ia tidak tahu bahwa semenjak di pantai tadi, ada empat pasang mata yang menyaksikan semua yang terjadi, bahkan ketika ia berganti pakaian di belakang batu besar, empat pasang mata itu mengintainya dengan pandang mata penuh nafsu iblis.

Selagi Giok Cu berjalan santai di tempat yang sunyi itu, tiba-tiba nampak empat orang pemuda berloncatan dari balik sebuah gubuk, Giok Cu meng¬rutkan alisnya ketika ia mengenal empat orang pemuda yang seperti juga Singkoan Tek, menjadi tamu dari gurunya. Tidak seperti Siangkoan Tek yang datang bersama ayahnya, empat orang pemuda ini adalah murid-murid dari dua orang tokoh kang-ouw yang juga terkenal dan menjadi rekan gurunya. Ia malah sudah diperkenalkan dengan mereka dengan guru-guru mereka. Pemuda yang kurus kering dengan muka pucat berusia dua puluh tahun itu bernama Ban To, dan pemuda yang mukanya tampan akan tetapi bopeng (cacat bekas cacar) itu bernama

Gak Su. Mereka adalah suheng dan sute, murid dari Kok Sian, seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal pula. Ouw Kok Sian seolah-olah menjadi raja kecil, raja kaum sesat dan berkuasa di daerah Pegunungan Liong-san, di mana dia hidup sebagai seorang yang berkuasa dan kaya raya, dengan rumah gedung yang didirikannya di puncak sebuah bukit di pegunungan itu. Ouw Kok Sian ini berusia kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, dengan mata lebar mulut besar dan mukanya berbentuk segi e¬pat.

Posting Komentar