"Aduh, bukan main indahnya tubuhmu,"pemuda itu terang- terangan menelan ludah. "Bagaimana kalau aku yang menggantikan pakaianmu?" Dia mengambil pakaian kering itu dari bawah tindihan batu.
"Berikan pakaianku, engkau keparat!" Giok Cu sudah marah sekali dan memaki. "Aduh, bukan main! Kalau marah mulutmu cemberut matamu terbelak semakin cantik saja. Siauw-moi, aku cinta padamu, dan aku akan minta pada Ayahku untuk meminangmu menjadi isteriku. Siauw-moi, berilah aku sebuah ciuman saja dan aku akan pergi tidak mengganggumu lagi."
"Ngaco! Siangkoan Tek, sekali lagi, berikan pakaianku dan pergi dari sini!"
"Pakaian ini?" Dia mendekatkan pakaian itu ke depan mukanya dan menyedotnya. "Aih, wangiiiiii……. ! Kau mau pakaian ini? Boleh, ditukar dulu dengan ciuman satu kali!"
"Jahanam busuk, engkau mau menghinaku?" bentak Giok Cu, kini tak dapat lagi ia menahan kemarahannya, dan dengan cepat ia sudah menerjang dengan tangan kanan memukul ke arah muka Siangkoan Tek, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pakaian yang dibawa pemuda itu.
"Wuuuuuttttt! Siuuuuuttttt !" Kedua tangan gadis remaja itu mengandung tenaga pukulan yang cukup dahsyat karena selama lima tahun ini ia telah banyak mempelajari ilmu-ilmu silat dari gurunya, dan sudah berhasil menghimpun sin-kang yang kuat, apalagi karena ia pernah minum darah "anak naga" itu walaupun tidak begitu banyak.
Namun, Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang tingkat ilmu silatnya sudah cukup tinggi, masih setingkat lebih tinggi dibandingkan Giok Cu, apalagi dia sudah mempunyai banyak pengalaman berkelahi ketika dia memimpin anak buah ayahnya membajak kapal dan perahu di tengah lautan dan bertempur melawan pemilik kapal yang dibajak.
"Eiiiiittttt…….., heeeiiiii….. sayang tidak kena, Nona Manis!" Dengan cekatan, Siangkoan Tek melompat ke samping untuk menghindarkan diri, dan mengangkat pakaian itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. "Hayo tukar pakaian ini dengan ciuman di mulutmu. Satu kali saja
"Jahanam busuk, kubunuh engkau Giok Cu membentak dan ia terus menyerang lagi dengan lebih ganas. Namun kembali pemuda itu dapat mengelak dengan berlompatan, dia pun sudah berapa kali mengelak dari terkaman terjangan gadis itu. Kemudian, melihat betapa gadis itu cukup lincah dan merupakan lawan yang cukup berbahaya, lalu menyelipkan pakaian Giok Cu itu di ikat pinggangnya, dan dia melayani Giok Cu dengan kedua tangannya. Kini dia bukan hanya mengelak, melainkan ka¬dang-kadang menangkis dan setiap kali menangkis, dia sengaja mengusap lengan gadis itu.
"Aduh halusnya, mulusnya, hangat lagi !"
Giok Cu semakin marah. Tiba-tiba dia Mencengkeram dengan lengan kirinya ke arah muka Siangkoan Tek, sedangkan tangan kanannya, dengan kecepatan kilat menonjok ke arah lambung. Serangan ini hebat sekali, namun agaknya Siangkoan Tek sudah dapat menduganya. Dia menangkis cengkeraman ke mukanya, lalu menangkap tangan yang menonjok, di¬tariknya tangan itu dan diciumnya sam¬pai berbunyi "ngok"!
"Jahanam busuk, anjing kau, buaya kau, monyet kau!" Giok Cu memaki-maki sambil sibuk mengusapi tangan yang dicium tadi dengan ujung pakaiannya yang basah. Melihat ulah gadis itu, Siangkoan Tek tertawa geli.
"Aih, baru tangannya sudah sedap sekali dicium, apalagi bibirnya!"
Biarpun ia marah sekali, Giok bukan anak bodoh dan ia tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu silat yang tinggi dan agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat merampas pakaiannya itu. "Siangkoan Tek, awas kau! Kalau kau lanjutkan kekurangajaranmu, kalau tidak segera kau kembalikan pakaian itu, aku akan lapor kepada guruku engkau akan disiksa dan dibunuhnya!"
Akan tetapi, mendengar ancaman ini, pemuda itu malah tertawa. "Ibu gurumu? Ha-ha-ha, ia akan mentertawakanmu, Siauw-moi. Aku sudah sejak beberapa hari yang lalu saling berciuman dengan gurumu. Kalau aku boleh menciumnya, mengapa aku tidak boleh menciummu? Dan aku percaya ia akan lebih senang kalau aku yang mengajarimu cinta, daripada pria lain. Gurumu tentu akan senang sekali mempunyai mantu aku, dengan demikian aku akan selalu dekat pula dengannya!"
Giok Cu tidak berapa mengerti apa yang dimaksudkan oleh pemuda itu dengan ucapan tadi, akan tetapi mendengar bahwa gurunya membiarkan dirinya dimaklumi pemuda ini, mukanya berubah merah dan hatinya merasa muak sekali.
"Sudahlah, kalau engkau menghendaki pakaian itu, boleh kaurampas. Memang engkau anak bajak laut, biasanya ha¬nya merampok. Aku akan mencari pakaian lain!" Berkata demikian, Giok Cu melompat hendak pergi meninggalkan pemuda itu. Akan tetapi ada bayangan berkelebat di sampingnya dan tahu-tahu pemuda itu sudah menghadang. Jelas bahwa dalam gin-kang ia juga masih kalah jauh!
"Siangkoan Tek, mau apa engkau menghadangku? Aku mau pergi, jangan menghadangku!"
"Tidak boleh, Nona Manis. Belum boleh pergi. Engkau masih hutang ciuman yang harus kaubayar. Marilah, mari beri aku ciuman dan aku akan membantumu berganti pakaian kering, kemudian kita bersama menghadap gurumu dan Ayahku untuk membicarakan urusan perjodohan kita. Aku cinta padamu, Siau moi." "Sialan!" Giok Cu membentak dan pun terpaksa menyerang lagi. Akan tetapi sekali ini, Siangkoan Tek bukan hanya mengelak dan menangkis, melainkan membalas dengan serangan berupa colekan, cubitan dan rabaan! Biar bukan merupakan serangan pukulan berbahaya, namun bahkan membuat gadis repot sekali karena tentu saja ia tidak sudi dicolek, dicubit atau diraba secara demikian kurang ajarnya! Hampir ia menangis saking marah dan jengkelnya karena setelah lewat belasan jurus, belum juga ia mampu memukul pemuda itu sedangkan beberapa kali dada dan pinggangnya kena dicolek dan diraba!
Tiba-tiba, gadis itu mengeluarkan suara melengking nyaring, kedua tanggannya melakukan serangan dorongan den telapak tangan terbuka ke arah lawan. Itulah jurus dari ilmu silat tok Hwa-kun (Silat Kembang Selai Racun) ciptaan Ban-tok Mo-li yang amat hebat dan dahsyat! Sebetulnya, ilmu silat Ini merupakan ilmu simpanan dan tidak boleh dikeluarkan secara sembarangan saja. Kalau kini Giok Cu mempergunakannya, hal itu membuktikan bahwa ia memang sudah marah sekali terhadap pemuda itu. Serangan ini adalah serangan maut, karena pukulan dengan kedua ta¬ngan terbuka itu mengandung hawa beracun. Biarpun Giok Cu belum menguasai ilmu ini sepenuhnya, namun pukulannya itu tidak boleh dipandang ringan dan cukup berbahaya untuk membunuh lawan!
Siangkoan Tek mengenal pukulan ampuh. Dia mengeluarkan seruan kaget, akan tetapi dengan kecepatan luar biasa dia sudah melempar tubuhnya ke samping sehingga dorongan kedua tangan Giok Cu itu luput. Kaki pemuda itu mencuat dan menyentuh lutut Giok Cu. Kini gadis itu yang mengeluarkan seruan kaget dan sebelah kakinya jatuh berlutut. Tiba-tiba kedua lengan pemuda itu sudah memeluknya dan muka pemuda itu mendekat, mulut diruncingkan siap untuk mengecupup mulutnya! Giok Cu menarik tubuh atas ke belakang, menjauh dan kedua matanya terbelalak penuh rasa jijik dan ngeri, akan tetapi mulutnya diruncingkan itu terus mengikuti mukanya dan mengejar untuk mencium, sedangkan pelukan kedua lengan itu erat sekali, membuat ia tidak mampu menggerakkan kedua lengannya yang ikut pula dilingkari lengan Siangkoan Tek. Kini muka itu sudah dekat sekali, bahka napas yang panas pemuda itu sudah terasa menghembus di pipinya, membuat Giok Cu merasa tengkuknya meremang saking ngerinya.
"Cuhhh! Cuhhhhh!!" Dua kali Giok meludah ke arah muka yang dekat itu. Muka Siangkoan Tek basah semua d siram ludah! Pertama mengenai mulut dan hidungnya, yang ke dua kalinya mengenai antara kedua matanya sehing kedua matanya terpaksa dipejamkan. Saat itu dipergunakan oleh Giok Cu untuk memukul dengan kepalan tangan ke arah perut pemuda itu.