Kini para pembantu komandan ini melakukan pemilihan. Pria-pria muda dan kuat, segera dipisahkan dan kedua tangan mereka dipasang borgol dengan rantai panjang. Dan segera lima puluh orang lebih pria diborgol dengan rantai yang sambung menyambung, dan ada lima belas wanita muda, baik gadis maupun sudah menikah, dipilih pula dan mereka ini dipaksa untuk memisahkan diri, lalu disuruh naik ke dalam sebuah gerobak yang sudah dipersiapkan. Para wanita menangis, baik mereka yang dibawa maupun mereka yang ditinggalkan. Para gadis dan wanita muda itu sudah Mendengar bahwa mereka yang terpilih itu akan mendapatkan pekerjaan, akan tetapi pekerjaan yang hina dan mereka akan dipaksa melayani para perajurit seperti pelacur! Dan mereka yang sudah dibawa pergi, belum pernah ada yang kembali ke dusun mereka. Juga jarang sekali ada pria yang kembali ke dusun telah mereka terpilih untuk bekerja di terusan.
Dengan diiringi jerit tangis, baik dari mereka yang menjadi tawanan maupun dari mereka yang ditinggal, pasukan Hek-i- wi itu menggiring para ta¬wanan keluar dari dusun itu. Bunyi cambuk mereka meledak-ledak untuk menakut nakuti mereka, dan untuk memaksa mereka yang hendak mogok untuk terus berjalan. Bagaikan sekumpulan hewan ternak yang baru dibeli, lima puluh orang laki-laki dusun itu digiring keluar dari dusun mereka, meninggalkan keluarga, rumah dan dusun mereka, mungkinuntuk selamanya.
Menurut peraturan pemerintah pada waktu itu, tidak ada kerja paksa, ya ada ialah kerja wajib di mana rakyat dikenakan wajib bekerja membuat Terusan itu selama seratus hari, dan ini pun diberi gaji dan makan. Ada pula diterima wanita yang bekerja dan digaji, namun secara suka rela, untuk bekerja di dapur umum pembuatan Terusan. Akan tetapi, sudah menjadi penyakit umum bahwa pelaksanaan suatu perintah lalu menyimpang daripada asalperitah itu sendiri. Kerja wajib menjadi keja paksa, gaji dikebiri bahkan dihilangkan sama sekali, wanita-wanita dikumpulkan dan dipaksa bekerja, bukan dengan pembuatan Terusan melainkan demi pemuasan nafsu binatang mereka!
Tak dapat disangkal bahwa di antara para petugas terdapat pula orang -orang bersih dan yang benar-benar melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Akan tetapi apakah artinya susu secangkir kalau dimasukkan ke dalam kolam yang penuh dengan air kotoran? Takkan nampak keputihan dan kebersihan susu, bahkan akan ikut menjadi kotor! Yang sedikit itu akan lenyap terselimuti yang banyak.
Komandan pasukan Hek-i-wi yang memasuki dusun Ki- nyan-tung ini bernama Bak Lok Sek, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh imggi besar dan gagah perkasa, bertelinga gajah dan dia memiliki ilmu silat liang-to (sepasang golok) yang amat dahsyat sehingga ditakuti banyak orang. Juga dua orang perwira yang membantuya merupakan orang-orang pilihan dengan ilmu silat tinggi. Bahkan pasukan yang dipimpin oleh Ban Lok Sek ini merupakan pasukan pilihan, terdiri dari Prajunt-perajurit yang pandai ilmu silat. Dengan pasukan istimewanya ini, Ban lok Sek seolah-olah menjadi raja kecil yang dapat memaksakan kehendaknya sesuka hatinya, tanpa ada yang berani menentangnya. Karena terbukti babhwa pasukan pimpinan Ban Lok Sek ini yg selalu berhasil membawa banyak tenaga baru yang patuh, maka atasannya tidak terlalu memusingkan tentang berita bahwa Ban Lok Sek dan pasukannya yang kejam terhadap rakyat.
Orang-orang dusun yang dijadikan seperti tawanan itu terhuyung-huyung berjalan di bawah ancaman cambuk- cambuk yang kadang-kadang menyentuh kulit dan menggigit, debu mengepul bawah kaki kuda-kuda yang ditungg pasukan itu, dan di tengah-tengah pasukan itu terdengar isak tangis para wanita yang berhimpitan di dalam gerobak yang ditarik dua ekor kuda. Mereka yang ditinggalkan, yaitu kakek-kakek, nenek-nenak, wanita yang tidak terpilih, kanak-kanak, berkelompok di dalam dusun dan mereka itu menangis dan ratap, menangisi anak, suami, ayah, isteri atau puteri mereka yang dijadikan tawanan.
Ketika rombongan pasukan berkuda tiba di luar dusun, tiba- tiba terjadi kekacauan di barisan depan. Semua perajurit segera memacu kuda untuk melihat apa yang terjadi, dan mereka itu terkejut dan marah sekali melihat berapa orang kawan mereka sudah terjungkal dari atas kuda, dan kelihatan ada lima orang laki-laki gagah perkasa mengutik dengan pedang mereka. Agaknya amukan lima orang pria perkasa itulah yang membuat terjungkalnya lima orang prajurit terdepan. Mereka adalah jago-jagoan dari Siauw-lim-pai! Seperti kita ketahui, kuil Siauw hm-si dibakar dan banyak pendekar Siauw-lim-pai yang tewas dalam pertempuran besar ketika Siauw-lim-si diserbu oleh pasukan pemerintah. Para murid Siauw-lim-pai melakukan perlawanan dengan hati duka karena ketua mereka telah membakar diri sampai tewas untuk memprotes tindakan pemerintah itu, dan hanya ada enam orang di antara mereka yang dapat meloloskan diri dalam keadaan luka-luka. mereka lalu bergabung dengan para murid Siauw-lim-pai yang kebetulan berada di luar kuil dan Tidak ikut terbasmi. Para murid yang berhasil lolos itu dipimpin oleh Lie Koan Tek, pendeta Siauw-lim-pai yang gagah perkasa, semenjak terjadi pembakaran kuil itu, Para pendekar Siauw lim pai hidup seorang buruan, berpencar dan Thian Hwesio sendiri, sute dari ketua Siauw-lim -pai yang membakar diri, bersembunyi di daerah selatan.
Lima orang laki-laki yang kini menyerbu pasukan yang menawan penduduk dusun Ki-nyan-tung, adalah para pendekar Siauw-lim-pai yang kebetulan lewat di dekat dusun itu. Mereka melihat apa yang terjadi dan marahlah para pendekar ini, lalu mereka mencabut pedang dan menyerang pasukan pemerintah yang bertindak sewenang-wenang itu. Biar para pendekar ini telah kehilangan kuil dan pusat asrama mereka, namun mereka sama sekali tidak kehilangan watak kependekaran mereka,, dan dengan penuh semangat mereka menyerang pasukan untuk membela para penduduk dusun yang dijadikan tawanan itu. Tentu perwira perajurit menjadi marah melihat betapa beberapa orang kawan mereka roboh dengan luka berat, bahkan ada yang tewas. Mereka lalu menyerbu dan mengepung, mengeroyok lima orang pendekar itu dengan senjata golok dan teriak mereka, juga komandan Ban Lok Sek bersama dua orang perwira pembantunya yang lihai, sudah terjun ke dalam pertempuran itu. Lima orang pendekar Siauw-lim-pai itu terkejut ketika melihat Gerakan sepasang golok di tangan komandan itu! Mereka mengenal ilmu golok pasangan dari Siauw-lim-pai!
"Engkau murid Siauw-lim-pai!" bentak seorang di antara para pendekar Siau-lim-pai! Bentak seorang diantara para pendekar.
Ban Lok Sek tertawa dan mendengus dengan penuh ejekan. "Huh, siapa murid Siaw-lin pai yang memberontak? Memang pernah aku mempelajari ilmu golok dari Siauw-lim- pai, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku murid Siauw lim- pai!" berkata demikian, dia mendesak orang yang menjadi lawannya. Juga dua orang perwira pembantunya menggerakkan golok mereka dan dibantu oleh pulahan orang perajurit, betapapun lihainya lima orang pendekar Siauw-Iim- pai itu, mereka mulai terdesak hebat! Namun, dengan gigih mereka melakukan perlawanan, memutar pedang mereka untuk melindungi tubuh dari ancaman puluhan batang senjata yang menyambar-nyambar ganas. Karena banyaknya pengeroyok lima orang pendekar itu sukar untuk dapat membalas. Mereka tidak memperoleh kesempatan lagi, dan terpak hanya membela diri saja tanpa tanpa membalas. Mereka berlima akhirnya te kena bacokan-bacokan dan mulai menderita luka-luka, walaupun luka ringan karena mereka memang memiliki tubuh yang kuat terlindung kekebalan, gerakan lincah dan juga putaran pedang mereka dapat melindungi diri mereka dari serangan maut.
Bagaimanapun juga, kalau dilanjutkan tak lama lagi tentu lima orang pendekar itu akan roboh dan tewas di bawah pengeroyokan demikian banyaknya lawan. Mereka maklum akan hal ini, namun mereka tidak merasa gentar. Jiwa kependekaran mereka membuat mereka pantang mundur dalam menghadapi kejahatan dan penindasan. Mereka hendak menolong orang-orang dusun itu dengan taruhan nyawa mereka sendiri.
Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar. Pemuda ini bukan lain adalah Han Beng. Dari jauh sudahdia tertarik oleh suara hiruk pikuk yang bertempur. Biarpun dia sudah menerima pesan suhunya agar tidak mencampuri urusan orang lain, namun hatinya tertarik dan dia cepat berlari menuju ke arah suara keributan itu. Dan dia melihat puluhan orang dusun yang dibelenggu dan diikat dengan rantai panjang, melihat pula belasan orang wanita muda yang berhimpitan di dalam gerobak, dan lima orang gagah yang keroyok oleh puluhan orang perajurit dan lima orang itu telah menderita luka-luka. Melihat ini, Han Beng yang cerdik segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Dia sendiri ketika masih kecil, lima tahun yang lalu, terpaksa harus lari mengungsi bersama ayah ibunya, karena ayahnya takut dijadikan pekerja paksa oleh pasuka pemerintah. Kini, lihat betapa puluhan orang petani belenggu, dan wanita-wanita muda ditawan, dia dapat menduga bahwa tentu para petani itu akan dijadikan pekerja paksa. Dan lima orang gagah itu tentulah orang-orang berhati pendekar yang hendak membela puluhan orang petani itu.
"Berhenti ! Harap hentikan perkelahian ini!" Han Beng
membentak sambil mengerahkan khi-kangnya. Suaranya melengking nyaring, mengejut semua orang dan lima orang pendekar Siauw lim pai itu mendapatkan kesempatan untuk berloncatan mundur karena para pengeroyok mereka terkejut dan menahan senjata.
"Ciang-kun, kenapakah orang-orang itu diborgol dan
wanita-wanita itu tawan? Hendak dibawa ke manakah mereka, dan apa kesalahan mereka?" tanya Han Beng kepada Ban Lok Sek yang berpakaian perwira walaupun juga seragamnya itu berwarna hitam.
"Mereka ditangkap untuk dijadikan pekerja paksa membuat Terusan, dan wanita-wanita itu akan mereka perkosa, dan kami berlima mencoba untuk menolong para tawanan!" seorang pendekar Siauw lim pai cepat memberi keterangan agar pihak pasukan tidak sempat berbohong. Mendengar ini, Ban lok Sek yang sudah marah sekali karena ada orang berani mencampuri, menggerakkan sepasang goloknya dan menudingkan golok kanan ke arah muka Han Beng.
"Bocah sombong, jangan mencampuri Urusan pemerintah! Mereka itu akan diberi pekerjaan sebagai wajib kerja dan Lima orang penjahat ini hendak memberontak dan menentang pemerintah! Apakah engkau juga hendak memberontak berhadap kami pasukan pemerintah?"
"Hemmm, kalau hendak memberi pekerjaan kepada para petani, bukan demikian caranya. Bukan seperti hewan digiring ke pejagalan! Dan wanita-wanita itu, mereka menangis, berarti mereka pergi karena kalian paksa " "Bunuh pemberontak ini!" bentak Ban Lok Sek marah. Seorang perwira pembantunya yang lihai dalam pcrmainan silat pedang, sudah menerjang Han Beng dengan tusukan pedang kearah pemuda remaja itu. Dia memandang rendah kepada Han Beng karena biarpun pemuda itu bertubuh tinggi besar, namun wajahnya masih menunjukkan bahwa dia masih remaja. Tusukan pedang itu cerpat sekali, hanya nampak sinar pedang kelebatan ke depan, menyambar kearah dada Han Beng.
Han Beng melihat berkelebatnya sinar pedang ke arah dada. Dengan tenang dia miringkan tubuhnya sehingga sinar pedang itu meluncur ke sisi tubuhnya dan sekali melangkah ke belakang, telah menjauhkan diri. Akan tetapi, luputnya serangan pertama itu membuat Perwira menjadi penasaran dan dia pun membalikkan pedangnya, kini pedang berubah menjadi sinar yang membabat arah leher Han Beng! Tahulah Han Beng bahwa orang ini memang bersungguh-sungguh menyerangnya untuk membunuhnya. Dia sudah merendahkan tubuh, membiarkan pedang itu lewat di atas kepalanya dan begitu pedang lewat, tangannya mendorong ke depan. Tangan itu tidak mencapai dada lawan, namun perwira itu rasa betapa ada tenaga yang hebat disertai angin mendorong dadanya sehigga dia hampir terjengkang, terhuyung-huyung ke belakang! Terkejutlah perwira itu dan dia pun sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi mengenal orang lihai. Dia tidak lagi berani memandang rendah dan sambil mengeluarkan seruan dahsyat dia menyerang lagi ke depan sambil memutar pedangnya. Namun, Han Beng menyambutnya dengan memutar tangan dan sebelum pedang dapat menyentuhnya, lebih dulu Han Beng sudah mengetuk lengan yang memegang pedang dari samping. Pedang itu terlepas dan tangan Han Beng meluncur terus penampar ke arah pundak kanan lawan.