Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 35

NIC

aku kejam dan tidak berprikemanusiaan? Andaikata benar begitu, itu hanya sebagai hukuman saja terhadap mereka berdua. Apakah mereka berdua itu tidak kejam dan tak mengenal perikemanusiaan dengan perbuat zina mereka yang menghancurkan kebahagiaan hidupku?"

"Suhu, kalau orang lain mengganggu ta dengan kekejaman, apakah kita pun harus membalasnya dengan kekejaman?

Kalau sudah begitu, lalu siapa yang kejam dan siapa yang tidak? Siapa yang jahat dan siapa pula yang baik? Siapa penjahat dan siapa pula pendekar?"

Liu Bhok Ki yang tadinya marah besar,seketika merasa tubuhnya lemas dan dia pun menjatuhkan diri terduduk di atas batu, termenung dengan muka pucat seperti patung. Dia merasa seperti lolosi seluruh otot dan urat di tubuhnya.

Han Beng sambil berlutut memberi tinat. "Suhu, maafkan teecu, bukan teecu kurang ajar dan ingin melawan dan membantah Suhu, melainkan karena perasaan cinta dan. hormat teccu unuk menghentikan perbuatan Suhu yang tidak layak ini. Teecu yakin Suhu seorang yang berjiwa pendekar dan gagah perkasa bukan seorang yang berjiwa rendah, kejam dan tidak berperikemanusiaan." "Sudahlah......... sudahlah. kauambil dua buah kepala

itu dan kaukubur mereka , sudah, jangan bicara lagi"

Han Beng memberi hormat sekali lagi, "Terima kasih, Suhu." Dia lalu bangkit dan memasuki pondok, sejenak mengamati dua buah kepala itu, yang satu berada di dalam botol arak dan yang sebuah lagi tergantung dan terayun-ayun di tengah ruangan. Melihat betapa dua buah kepala itu mulutnya seperti tersenyum akan tetapi matanya tanpa cahaya memandang jauh seperti pandang orang berduka, dia bergidik. Cepat turunkannya kepala Coa KunTian itu dan dikeluarkannya kepala Phang Hui kemudian dia membungkus dua buah pala itu menjadi satu dalam sehelai kain putih, dan membawanya keluar. Dia memang sudah merencanakan untuk mengubur dua buah kepala itu di bawah kohon cemara di puncak Pegunungan Kin-hong-san, maka kini dia membawa Dua buah kepala itu ke sana. Digalinya sebuah lubang yang dalamnya satu setengah meter, di antara dua batang pohin delima di bawah naungan cemara yang tinggi. Kemudian, dengan hati-hatti dan penuh hormat dia meletakkan buntalan dua buah kepala itu ke dalam lubang dan mulutnya berbisik, "Harap Ji-wi kini dapat mengaso dengan tenang dan maafkanlah apa yang diperkuat oleh guruku selama ini."

Pada saat itu, Liu Bhok Ki menangis ketika dari balik sebuah batu besar dia mengintai dan melihat muridnya mengubur kedua buah kepala itu. Dia merasa kehilangan dan merasa betapa kini dia tidak memiliki apa-apa lagi.Kini baru terasa olehnya betapa dua buah kepala itu menjadi milik satu- satunya baginya, bahkan dua buah kepala itu yang membuat dia masih berani menghapi hidup, merasakan suka dan duka dari kehidupan ini melalui kedua buah kepala itu. Dari dua buah kepala itu" dapat merasakan kepuasan dan kemanisan balas dendam, juga merasakan kedukaan karena putus cinta, merasai cemburu yang menggerogoti hatinya kemudian manisnya pembalasan terha mereka. Dan kini, dua buah kepala yang seolah-olah menangisi hidupnya siang malam itu telah diambil darinya dikuburkan. Dan dia merasa seolah-olah baru sekarang dia kematian isteri tercinta, seolah-olah melihat jenazah isterinya dikubur dan bahwa selamanya dia akan kehilangan isterinya itu! Maka tak tertahankan lagi, dia menangis sampai air matanya bercucuran membanjiri kedua pipinya. Dia menahan diri agar tangisnya tidak sampai terdengar oleh muridnya, dan cepat-cepat dia pergi dari situ, kemudian sesenggukan di dalam pondoknya.

Setelah selesai mengubur dua buah kepala itu, menguruknya dengan tanah dan menaruh sebongkah batu besar depan kuburan, Han Beng lalu kembali ke pondok untuk berkemas. Dia melihat suhunya duduk bersila di tengah ruangan pondok itu sambil memejamkan dua matanya. Melihat ini, dia tidak berani mengganggu dan dia lalu memasuki kamarnya, mengumpulkan pakaian dan membungkusnya menjadi sebuah buntalan. Diikatnya buntalan itu di punggungnya, kemudian dia pun keluar dari dalam kamar. Suhunya masih duduk bersila seperti tadi, kedua mata terpejam. Han Beng tetap tidak berani mengganggu dan dia pun menjatuhkan diri berlutut didepan suhunya, menanti sampai orang tua itu sadar dari samadhinya.

Lebih dari tiga jam Han Beng berlutut di depan gurunya, dengan penuh kesabaran dia menanti sampai suhunya bangun dari samadhinya. Sedikit pun dia tidak merasa gelisah atau kehilangan kesabaran. Kalau suhunya tidak sadar sampai sehari semalam pun, dia akan tetap menunggu, karena dia harus berpamit dari gurunya sebelum meninggalkan tempat itu. Gurunya selama ini amat dikasihinya, dan menjadi pengganti orang tuanya. Sin-tiauw Lin Bhok Ki bagi Han Beng merupakan guru, orang tua, juga sahabat. Di dalam dunia ini, hanya orang tua itulah satu-satunya manusia yang dekat dengannya. Karena itu, bagaima mungkin dia meninggalkan gurunya ini tanpa pamit?

Akhirnya, terdengar gurunya berkata "Han Beng " Han Beng cepat mengangkat mukanya, memandang kepada suhunya yang sudah membuka mata dan tersenyum kepadanya. Han Beng mengamati wajah gurunya dan dia pun merasa jantungnya seperti ditusuk karena terharu, Wajah itu membayangkan kedukaan mendalam, bahkan nampak jauh lebih tua dibandingkan kemarin! Seolah-olah ada awan kedukaan hebat yang menyelubungi wajah itu, namun mulut itu tersenyum kepadanya! Dia merasakan adanya suatu pertentangan di dalam batin gurunya, dan dia berpikir bahwa hal itu tentu muncul karena ulahnya meminta dua buah kepala dan yang telah dikuburkannya. Diam-diam dia merasa dosa kepada gurunya.

"Han Beng, tahukah engkau betapa permintaanmu yang telah kululuskan tapi seolah-olah mencabut semangat hidupku? Aku merasa betapa hidupku menjadi kosong tak berarti, seolah-olah dua buah kepala itu pergi membawa seluruh semangatku."

Han Beng semakin terharu dan dia daipun memberi hormat sambil berlutut.

"Suhu, ampunkan teecu karena sesungguhnya bukan demikian maksud teecu, melainkan untuk menolong Suhu terbebas daripada penderitaan batin."

Gurunya tersenyum, senyum yang amat mengharukan karena senyum itu amatlah pahitnya. "Tidak mengapa, Han Beng. Salahku sendiri. Ketahuilah bahwa tanpa kusadari, aku telah terikat secara batiniah kepada dua buah kepala ftu, seolah-olah dua buah kepala itu tirnjadi pengganti isteriku yang tercinta. Dan sekarang setelah berpisah, aku merasa kehilangan sekali. Akan tetapi biarlah, mungkin engkau benar, setelah aku mengalami kepahitan yang sedemikian hebat ini, mungkin lambat laun Sang Waktu akan menjadi penyembuh yang mujizat. Hanya pesanku kepadamu, Han Beng, karena engkau masih muda, hati-hatilah, terutama terhadap wanita. Jangan mudah menyerahkan hati cintamu, dan andaikata engkau tidak dapat mengelak lagi dan jatuh cinta jangan engkau mengikatkan batinmu padanya agar kalau sekali waktu ia meninggalkanmu, kalau ia melakukan penyelewengan dengan pria lain, hatmu tidak akan hancur binasa! Kalau batinmu tidak terikat oleh seorang wanita sewaktu ia menyeleweng dengan pria lain, engkau akan menerimanya den penuh kesadaran dan keikhlasan, sadar bahwa cinta antara pria dan wanita dak dapat bertepuk tangan sebelah, lau ia jatuh cinta kepada pria lain, arti cintanya padamu sudah luntur engkau tidak mungkin dapat memaksanya untuk tetap mencintaimu dan jangan menoleh kepada pria lain."

Han Beng yangbaru berusia tujuh belas tahun itu sudah dapat menangkap apa yang dimaksudkan suhunya, dan dia pun maklum bahwa suhunya sedang menderita goncangan hebat dalam batinnya sehingga ucapannya itu condong ke arah pelampiasan duka dan penghiburan diri ndiri. Betapapun juga, dia dapat merasakan kebenaran. Memang, ikatan mendatangkan derita sengsara batin karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Setiap pertemuan pasti berakhir dengan per¬lahan dan kalau hati terikat, maka perpisahan itu akan mendatangkan rasa sengsara dan duka.

Han Beng lalu berpamit kepada gurunya yang merasakan keharuan karena dia harus berpisah dari murid yang disayangnya ini. Baru saja dia kehilang dua buah kepala yang menjadi pengganti isterinya, kini dia harus berpisah lagi dari muridnya yang tersayang. Namun, dia melihat kenyataan bahwa perpisahan itu memang tidak dapat dihindarkan lagi.

“Pergilah, Han Beng. Masih ingat engkau ke mana harus mencari gurumu yang baru, yaitu Sin-ciang Kai-ong Jangan lupa, carilah dia di daerah Propinsi Hok-kian. Di sana dia menjadi raja jembel dan siapapun tentu akan mengenalnya dan dapat menunjukkan mana engkau dapat menemuinya. Sam kan salamku kepadanya!" Han Beng lalu berangkat, mengendong buntalan pakaiannya di punggung dan melangkah dengan tegap dan ringan menuruni bukit Kim-hong-san. Ketika dia tiba di lereng yang berhutan, tiba-tiba muncul seorang yang memakai kedok mukanya, berpakaian serba hitam tanpa banyak cakap lagi orang ini dah menyerangnya dengan membabi-buta, Melihat gerakan orang itu, Han Beng terkejut karena selain gerakannya ringandan gesit sekali, juga pukulan-pukulannya mendatangkan angin pukulan yang amat dahsyat! Dia pun cepat mengelak. Setelah beberapa kali mengelak dan menangkis dia mendapat kenyataan bahwa orang itu memang memiliki sin-kang yang amat kuat. Dia meloncat jauh belakang.

"Heiiiii, berhenti dulu, Sobat! Mengapa engkau menyerangku dan apakah kesaahanku padamu?"

Sebagai jawaban, orang itu hanya meloncat dan menyerangnya lagi, kini lebih hebat lagi. Pukulannya merupakan serangan maut karena tangan yang menyambar ke arah kepalanya itu mengandung tenaga sin-kang yang akan dapat menghancurkan batu karang, apalagi kepala manusia! Dia pun mulai merasa asaran oan segera di tangkisnya pukul itu dengan lengannya sambil mengerahkan sin-kang di tubuhnya.

"Dukkk!" Penyerang itu terdorong mundur dan giranglah hati Han Beng melihat kenyataan bahwa dalam hal tenaga sin- kang, dia masih lebih unggul sedikit. Hal ini membesarkan hatinya dan dia pun mulai balas menyerang! Akan tetapi, betapa gesitnya gerakan orang itu dan agaknya, semua jurus seranganan tidak membuat orang itu menjadi gugup dan bahkan dapat mengimbanginya dengan serangan-serangan balasan yang tak kalah hebatnya!

Mereka berkelahi dengan sungg sungguh, dan Han Beng sudah mengeluarkan ilmu-ilmu silat yang dipelajarinya selama lima tahun itu, namun tidak ada yang dapat menembus benteng pertahanan lawannya itu. Dia merasa penasaran sekali dan sambil mengeluarkan suara melengking nyaring, Han Beng lalu mengeluarkan jurus simpanannya, ya ituilmu silat Hui-tiauw Sin-kun. Akan tetapi, kembali dia tertegun karena orang itu agaknya mengenal pula ilmu silatnya ini dan dengan mudah dapat mengelak dengan tepat sekali. Padahal ilmu silat Hui-tiauw Sin-kun ini gerakan amat cepat dan tidak terduga-duga. Bagaimana mungkin orang ini dapat mengelak sedemikian mudahnya? Tentu sudah mengenal ilmu silatnya ini. Sudah mengenal! Hanya gurunya yang mengenalnya. Han Beng meloncat ke samping untuk mengelak dari sambaran sebuah tendangan dan dia mengamati orang itu Perawakannya, tinggi besar! Ah, siapa lagi kalau bukan gurunya? Biarpun memakai topeng dan mengenakan pakaian hitam, namun bentuk tubuh itu bentuk tubuh gurunya, dan lebih meyakinkan lagi, orang itu mengenal semua ilmu ulatnya! Tahulah dia bahwa gurunya sendiri yang agaknya hendak mengujinya, maka dia pun ingin menyenangkan hati gurunya dan menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan Hui-tiauw Sin-kun dengan sebaik mungkin!

Didesak sehebat itu, orang bertopeng itu pun mulai memainkan ilmu silat yang sama. Terjadilah serang- menyerang yang amat seru, dan dalam pertandingan ini, Han Beng merasa betapa biarpun dia menang sedikit dalam hal tenaga sakti, namun dia kalah matang dalam gerakan silatnya.

Posting Komentar