"Masih Suhu. Mereka adalah Coa Siang Lee, keturunan ketua Hek-houw-pang di Ta-bun-cung dekat Poyang di utara Sungai Huang-ho, dan istennya yang bernama Sim Lan Ci."
"Bagus sekali, muridku. Dengan demikian tidak akan sia-sia aku meendidikmu selama lima tahun ini. Akan tetapi kini telah lima tahun engkau menjadi muridku dan seluruh ilmu yang kumi telah kuberikan kepadamu, bukan hanya ilmu silat, juga ilmu pengobatan cara untuk menjatuhkan Sim Lan dengan pengaruh obat, kalau engkau gagal menggunakan cara yang wajar. Dan sudah tiba janjiku kepada Sin-ciang Kai-ong untuk menyerahkan engkau kepadanya agar engkau menerima didikan dari nya selama lima tahun pula."
Han Beng memberi hormat. "Teecu mentaati semua perintah Suhu. Akan tetapi sebelum berpisah, teecu mempunyai sebuah permintaan kepada Suhu, dan teecu harap Suhu suka meluluskan permintaan teecu ini."
Liu Bhok K i tersenyum dan mengangguk-angguk. "Engkau mempunyai permintaan? Apakah itu, muridku? Terus terang saja, aku tidak mempunyai pusaka apa pun. Sabukku ini pun sabuk biasa, dan pusakaku hanyalah ilmu-ilmu yang sudah kuberikan kepadamu. Aku tidak melihat. "
"Ada pusaka yang amat teecu inginan dari Suhu." "Eh? Pusaka, yang mana itu? Katakanlah, tentu akan
kuberikan kepadamu, muridku."
"Benarkah? Apa yang teecu minta han Suhu berikan kepada teecu?"
"Tentu saja! Engkau satu-satunya yang terdekat dengan aku, Han Beng, dan terus terang saja, aku merasa puas mempunyai murid seperti engkau. Katakan, pusaka apakah itu yang kau maksudkan?"
"'Dua buah kepala itu, Suhu."
Sepasang mata pendekar itu terbelalak. "Hahhhhh. ?
Dua dua buah kepala itu? Kepala Coa Kun Tian dan Phang Hui Cu? Mau mau apa engkau dengan dua buah kepala
itu? Untuk apa kauminta?" "Untuk teecu kuburkan, Suhu."
"Ahhh " Liu Bhok Ki meloncat turun dari atas batu, tubuhnya menggiggil, mukanya merah dan dia mengepal kedua tangannya, memandang kepada Han Ben
"Si Han Beng! Apa maksudmu dengan itu? Engkau hendak menguburkan di buah kepala itu? Engkau hendak membuat aku melupakan dendamku? Dengan demikian, berarti bahwa engkau telah melupakan janjimu, tidak akan melaksanakan pembalasan sakit hatiku terhadap Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci?"
Han Beng memberi hormat, sikapnya tetap tenang, tanda bahwa pemuda remaja berusia tujuh belas tahun ini tentu mempunyai batin yang kuat, mampu menahan perasaan sehingga dia selalu bersikap tenang, tidak dipengaruhi perasaan.
"Harap Suhu jangan salah sangka. Apa yang telah teecu janjikan kepada Suhu, pasti teecu penuhi, hanya berhasil atau tidak kita sama melihat saja nanti. Teecu ingin agar dua buah kepala itu dikubur, karena sungguh tidak tepat sekali apa yang Suhu lakukan selama ini terhadap dua buah kepala itu. Suhu menyiksa diri sendiri dan menyiksa dua buah kepala yang tidak berdosa.
"Aku menyiksa diri? Bodoh kau! jusru aku membalas dendam sakit hati, aku merasa puas melihat mereka itu! Dan kaubilang dua buah kepala itu tidak berdosa? Mereka telah menghancurkan kehahagiaan hidupku, dan kau masih mengatakan mereka tidak berdosa?"
"Harap Suhu tenang agar dapat berpikir secara luas dan mendalam, Suhu. Teecu melihat betapa Suhu menyiksa diri sendiri dengan adanya dua buah kepala itu. Dengan adanya mereka, Suhu akan setiap saat teringat dan menderita sakit hati. Di dunia ini, tidak ada kedukaan yang tidak akan lenyap dihapus waktu, Suhu. Akan tetapi Suhu selalu meghadapi dua buah kepala itu sehingga setiap saat teringat dan berduka, bukankah itu berarti Suhu menyiksa diri sendiri? Dan tentang dosa kedua buah kepala itu, benarkah dua buah kepala itu yang berdosa? Bukankah perbuatan itu dimulai dari pikiran dan hati, sedangkan badan hanya melakukan saja keinginan batin? Jelas bahwa dua buah kepala itu hanya sebagian saja dari badan, maka tidak berdosa setelah mati Suhu. Mengapa Suhu menyiksa dan menghukum badan yang tidak bersalah apa-apa? Badan yang sudah mati sama dengan tanah, disiksa bagaimanapun tidak akan merasakan apa-apa lagi. Hati teecu merasa penasaran sekali karena apa yang dilakukan Suhu ini sungguh kejam, sungguh tidak berperikemanusiaan seningga tidak selayaknya dilakukan seorang pendekar gagah perkasa seperti Suhu."
Wajah yang tadinya merah itu kini berubah pucat, matanya terbelalak, tapi dia masih marah sekali. "Kau kau bilang