Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 33

NIC

Kini terjadilah pertempuran mati-Mian. Para murid Siauw- lim-pai itu kini membela diri untuk mempertahankan hidup mereka. Akan tetapi jumlah Musuhterlalu banyak, dan hati para murid Siauw-lim-pai ini sudah terlampau jeri sehingga kebanyakan di antara mereka menjadi nekat untuk bertempur sampai mati!

Ketika Hek-bin Hwesio dan Pek I Lojin yang mendahului para hwesio dan tosu yang berlarian ke kuil Siauw-lim-mereka berdua bertemu dengan Lie Koan Tek dan lima orang sutenya. Enam orang murid utama Siauw-lim-pai ini keadaan luka-luka dan mereka segera menjatuhkandiri berlutut ketika mereka melihat Hek-bin Hwesio yang mereka tahu adalah suheng dan juga sahabat dari mendiang Thian-cu Hwesio.

"Lo-cian-pwe, malapetaka menimpa Siauw-lim-si" kata Lie Koan Tek dengan keringat bercucuran bercampur mata dandarah dari luka di lehernya. Hek-bin Hwesio mengangkat muka memandang ke puncak bukit. Api berkobar besar di puncak sana dan dia dapat menduga apa yang terjadi.

"Omitohud , vihara Siauw-li terbakar? Apa yang telah terjadi?"

"Vihara diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya, dikepalai Ciong Ciangkun yang ditemani seorang tosu yang melaporkan bahwa kami adalah pemberontak-pemberontak!" Bekata demikian, Lie Koan Tek memandang kepada Pek I Tojin dengan mata melotot penuh kemarahan "Siancai.......siancai. !” Pek Ilojin hanya merangkap kedua

tangan didepan dada.

Melihat sikap murid utama Sia-lim--pai itu, Hek-bin Hwesio segera berkata, "Jangan membenci para tosu, orang muda yang gagah. Baru saja pertikaian antara para hwesio dan para tosu sudah dapat dilerai dan didamaikan, berkat Kebijaksanaan Pek I Tojin ini. Segala permusuhan antara keduapihak mulai sekarang harus dilenyapkan. ”

“Akan tetapi, Lo-cian-pwe, kebakaran Siauw-lim-pai akibat serbuan pasukan pemerintah adalah karena hasutan mereka itu. "

"Andaikata benar demikian, kalian tidak bolehlalu memusuhi semua tosu! kesalahan seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk membenci semua golongannya. Itu tidak adil namanya. Ke¬salahan seseorang adalah tanggung jawab g itu sendiri, bukan tanggung jawab anya, atau golongannya, atau sukunya, atau bangsanya.Kaulihat, itu pa¬ra sudaramu dan Susiokmu datang bersama denganpara tosu yang hendak membantu Vihantu Siauw-lim-si!"

Rombongan Thian Gi Hwesio bersama para muridnya dan para tosu yang tadinya menjadi musuh, datang ke tempat itu. "Lie Koan Tek, apa yang terjadi Kenapa vihara kita terbakar dan di mana Suheng Thian-cu Hwesio?" tanya Th'tfi G i Hwesio dengan muka pucat.

"Celaka, Susiok " Lie Koan Tek dan lima orang sutenya menangis. "Vihar dibakar, kami diserbu pasukan yang dipimpin Ciong Ciangkun, dan Suhu. Suhu telah tewas membakar

diri.......... ”

Lie Koan Tek dengan suara sedih lalu menceritakan semua yang terjadi, dan m nutup ceritanya dengan suara lirih, “

................... hanya teecu berenam yang sempat lolos agaknya semua ................ semua saudara telah tewas "

"Omitohud !'• Thian Gi Hwesio tebelalak, mukanya pucat sekali dan dia pun roboh pingsan!

Setelah Thian Gi Hwesio sadar, Lie Koan Tek lalu menceritakan tentang pingsan terakhir Thian-cu Hwesio bahwa semua murid Siauw-lim-pai tidak boleh memberontak, karena mereka adalah pendekar-pendekar yang menentang kejahaatan dan membela rakyat jelata yang terrtindas.

"Omitohud , betapa bijaksana mendiang Thian-cu Hwesio. Pinceng girang mendengar kebijaksanaannya itu di sa¬at terakhir hidupnya. Sesungguhnyalah, bahwa segala sesuatu sudah ada yang mengatur, sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dan apa pun yang terjadi, semua itu sudah menurut garisnya yang benar,baik dan sempurna, walaupun akal budi kadang-kadang mengherankan semua itu. Jalan pikiran dan akal budi kita sama sekali tidak mampu untuk menjenguk inti dari arti yang paling men¬eluri dari setiap persoalan. Kita haya melihat kulitnya saja, luarnya saja dan kadang-kadang merasa betapa jangal dan tidak adilnya peristiwa yang terjadi. Kalau kita mampu menerima segala sesuatu, mengembalikan kepada kebijaksanaan dan kekuasaan Yang Maha Kuasa, maka tidak ada permasalahan apa pun juga," kata Hek-bin Hwesio. "Siancai " Apa yang dikatakan oleh sahabatku Hek-bin Hwesio memang tepat sekali.

Kewajiban kita manusia hidup hanyalah berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan kekotoran dari diri lahir batin, namun segala keputusan berada di tangan Yang Maha Kuasa. Yang sudah mati biarlah mati, akan tetapi yang hidup berkewajiban untuk melanjutkan hidup ini melalui jalan benar. Vihara yang sudah musnah dapat saja sekali waktu dibangun kembali, permusuhan yang pernah terjadi dapat saja dilenyapkan dan diganti perdamaian. Tidak perlu ada dendam yang hanya akan meracuni batin kita dan mendatangkan kekeruhan saja,” kata Pek I Tojin.

Apa yang diucapkan kedua orang sakti ini memang benar. Jalan kehidupan kita ini penuh liku-liku, penuh perubahan dan kadang-kadang terjadi hal-hal yang menimpa diri kita yang kelihatan amat janggal, amat sukar dimengerti sebab- sebabnya. Jalan yang ditempuh oleh Tuhan sungguh penuh rahasia, gaib, kadang-kadang begitu jauhnya tak terjangkau oleh alam pikiran dan akal kita. Ada kalanya terjadi peristiwa yang menurut pertimbangan dan perhitungan akal kita, nampak janggal, bahkan nampak tidak adil! Akal pikiran kita melihat betapa seseorang yang kita anggap jahat dan patut dikutuk, bahkan hidup penuh kemuliaan, berkedudukan tinggi, terhormat, kaya raya, sehat dan selamat.

Sebaliknya, akal pikiran kita melihat betapa seseorang seseorang yang kita anggap baik dan patut dipuji, hidupnya serba kekurangan dan sengsara, tertindas, terhina, miskin dan papa! Kita me¬lihat pembesar yang hidupnya penuh ko¬rupsi, makmur dan nampak senang, se¬baliknya pembesar yang hidupnya jujur dan adil, nampak hidup serba kekurang¬an dan sama sekali tidak makmur. Kita melihat orang yang kita nilai baik hidup berpenyakitan sebaliknya orang yang kita lihat dan kita nilai buruk dan kotor, hidup sehat! Apalagi biasanya kita menilai diri kita ini sudah cukup baiik, sudah cukup mentaati hukum agama, sudah cukup berusaha menjadi orang yang baik, akan tetapi kita merasa be¬tapa hidup kita selalu sengsara! ini menimbulkan kekecewaan dan penasaran!

Kita lupa bahwa jalan pikiran hanyalah mendasarkan semua itu dengan nilai kebendaan, nilai kesenangan nafsu badani yang hanya sementara sifatnya. Kita tidak tahu bahwa di dalam batin orang yang kelihatan kaya raya dan senang, belum tentu berbahaya sebaliknya di dalam batin seorang petani miskin, belum tentu sengsara. Pikiran kita hanya merupakan gudang pengetahuan dan pengalaman. Pikiran akalnya tidak mungkin dapat menjangkau dan mengerti jalan yang diambil Tuhan. Kita tidak mempunyai kekuasaan apa pun atas diri kita sendiri sekalipun. Jalan satu-satunya hanyalah menyerahkan segalanya kepada-Nya. Apa pun yang kehendaki-Nya, pasti baik dan benar, walaupun bagi akal pikiran kita kadang-kadang dianggap buruk dan salah. Hanya orang yang mampu menerima segala suatu sebagai kehendak Tuhan, menerima segala apa sebagai suatu kenyataan yang wajar, sebagai apa adanya, tanpa keluhan, tanpa protes, tanpa penasaran atau kekecewaan, hanya orang seperti inlah yang dapat tersentuh sinar Kasih, dan dapat merasakan apa yang kita sebut-sebut sebagai kebahagiaan!

Sisa-sisa murid Siauw-lim-pai terpaksa melarikan diri ceral- berai, menyadari hidup masing-masing. Siauw-lim-telah terbakar habis, rata dengan tanah,namun semangat kependekaran para muridnya masih tetap utuh dan dimana pun mereka berada, mereka selalu mengulurkan tangan untuk membela kaum lemah tertindas, dan menentang perbuatan jahat dalam bentuk apa pun dan dilakukan oleh siapapun.

Seorang kakek berusia lima puluh tujuh tahun, berdiri di bawah pohon menyilangkan kedua tangan di atas dada dan pandangan matanya tak pernah berkedip, mengikuti semua gerakan pemuuda itu. Kakek ini pun tinggi besar dan gagah perkasa, dan ada kelembutan ketika dia tersenyum gembira sambil mengangguk-anggukkan kepala, nampak puas sekali melihat gerakan silat pemuda itu. Angin pukulan pemuda itu menyambar-nyambar, menggerakkan pakaian dan rambut Si Kakek, juga membuat ujung ranting pohon dengan daun- daunnya bergoyang-goyang, membuat daun-daun kuning rontok.

Mereka adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki muridnya, Si Han Beng. Seperti kita ketahui, Si Rajawali Sakti Liu Bhok Ki itu membawa muridnya ke puncak Kim-hong-san di lembah Sungai Huang-ho, dimana dia menggembleng muridnya dengan penuh ketekunan. Kalau saja Han Beng seorang anak biasa, tentu tidak mungkin dalam waktu lima tahun akan mampu menguasai ilmu-ilmu silat tinggi gurunya itu dengan baik. Akan tetapi, setelah minum darah "anak naga", Han Beng bukan lagi seorang anak biasa. Di dalam tubuhnya mengalir tenaga sakti yang amat hebat, bahkan pada dasarnya jauh lebih kuat daripada tenaga sakti gurunya sendiri! Percampuran antara racun darah ular itu dan racun dari pukulan dan goresan kuku Ban-tok Mo-Ii telah menciptakan suatu kekuatan yang amat dahsyat di dalam diri dan dengan bekal ini, di samping, cerdikan dan bakatnya, maka tidak sukar bagi Han Beng untuk menyerap dan menguasai ilmu-ilmu dari Liu Bhok Ki, Si Rajawali Sakti. Dan apa yang di latihnya di pagi hari itu adalah ilmu simpanan dari gurunya, yaitu silat Hun-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali terbang) yang mengangkat tinggi nama besar Liu Bhok Ki sebagai Sin tiauw (Rajawali Sakti). Selain ilmu silat pa¬ling hebat dari Liu Bhok Ki ini, juga Han Beng telah mewarisi ilmu- ilmu silat lainnya, termasuk ilmu memainkan sabuk atau ikat pinggang sebagai senjata. Setelah selesai berlatih Hui tiauw Sin-kun, Han Beng lalu berhenti mengdap suhunya. Dia duduk di atas tanah, sedangkan gurunya kini duduk di atas sebuah batu besar di bawah pohon itu dan kakek itu kelihatan gembira sekali.

"Bagus, Han Beng muridku. Sungguh latihanmu tadi amat baik, tiada cacatnya sedikitpun. Itulah Hui tiauw Sin-kun yang kau mainkan dengan sempurna. Dan ketahuilah bahwa dengan ilmu silat itu aku dijuluki orang Sin-tiauw. Akan tetapi, engkau lebih pantas berjuluk Sin-Iiong (Naga Sakti), mengingat bahwa di tubuhmu mengalir darah naga."

"Semua hasil yang teecu capai ini berrkat bimbingan Suhu. Terima kasih atas semua kebaikan Suhu kepada teecu."

"Bagus! Kalau engkau ingat budi berarti engkau tentu tidak akan melupakan janjimu sebagai syarat menjadi muridku dahulu. Masih ingatkah engkau siapa yang harus kaucari dan kau hancurkan hidupnya untuk membalaskan dendam gurumu ini?"

Posting Komentar