Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 32

NIC

Para murid Siauw-lim-pai sudah loncatan dan berbaris melintang, menutup jalan masuk dan sikap mereka sudah jelas. Mereka akan mempertahankan vihara mereka mati- matian, kalau perlu dengan pertumpahan darah, tetapi Thian- cu Hwesio membentak 5 muridnya.

"Kalian mundur!"

Mendegar bentakan ini, para murid terkejut terpaksa mereka mundur, walaupun mereka merasa penasaran mengapa ketua mereka menahan mereka dan menyatakan mundur. Bukankah sudah jelas bahwa panglima kerajaan itu mempunyai buruk terhadap Siauw-lim-pai?

Dengan sikap tenang, Thian-cu Hwesio menghadapi para perwira itu, lalu berkata kepada seorang murid dibelakang "Ambilkan seguci minyak bakar!"

Biarpun murid itu merasa heran tidak mengerti, namun dia cepat mentaati perintah gurunya dan tak lama kemudian, Thian-cu Hwesio menerima guci minyak itu. Tanpa ragu lagi, dia menyiramkan minyak ke atas kepalanya sehingga minyak membasahi seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.

"Ciong Ciangkun, pin-ceng bukan pemberontak, juga semua murid Siauw-lim-Si bukan pemberontak. Biarpun pemerintah telah membantu kami dengan pemnangunan kuil ini, namun seluruh vihara ini adalah milik kami dan menjadi hak kami. Oleh karena itu, sekali lagi pin-ceng minta agar Ciangkun dan semua pasukan meninggalkan tempat ini, dan Pin-ceng akan menghadap Sribaginda Kaisar di kotaraja untuk menerima keputusan beliau. Akan tetapi kalau Ciangkun berkeras hendak melanggar hak kami dan memasuki vihara, apalagi menangkap murid-murid Siauw-lim-pai, terpaksa kami melarangnya."

"Kami membawa surat perintah, membawa kekuasaan dari Kaisar! Biarpun kalian melarang, kami akan tetap masuk dan menangkapi para pemberontak!" kata Ciong Ciangkun.

"Kalau begitu, pinceng akan membakar diri untuk memprotes tindakan Ciangkun, dan untuk menyatakan bahwa kami sungguh bukan pemberontak."

"Ha, silakan!" kata Ciong Ciangkun sudah marah karena dia merasa yakinbahwa orang-orang Siauw-lim-pai itupemberontak dan menentang kebijaksai pemerintah membuat terusan yang me rupakan pekerjaan besar dan penting itu.

Thian-cu Hwesio berseru lirih, "Omitohud. " lalu

mulutnya berkemak-kemik membaca doa dan tongkatnya dia pukulkan dengan kerasnya ke atas lantai depan kakinya. Pukulan itu sedemikian kerasnya sehingga mengeluarkan bara api yang menyambar kaki pendeta yangbasah oleh minyak bakar. Seketika api bernyala dan dengan cepatnya lidah api menjilat ke atas dan berkobar-kobar. "Suhuuuuu !" Beberapa orang mirid kepala Siauw-lim-pai terkejut dan berloncatan ke depan untuk menyelamatkan guru mereka, akan tetapi Thian Hwesio yang masih berdiri tegak berseru dengan suara nyaring.

"Berhenti! Biarkan pinceng menjadi korban demi kebersihan nama Siauw-Lim-Si. Akan tetapi ingat pesan pinceng. Para Murid Siauw-lim-pai selamanya bukanlah pemberontak- pemberontak, melainkan para Pendekar yang selalu menentang kejahatan menjadi pelindung rakyat tertindas!"

“Setelah berkata demikian, Thian-cu Hwehio roboh dan tubuhnya terus terbakar sampai hangus. Sementara itu,Ciong Ciangkun sudah memberi aba-aba Kepada pasukannya untuk menyerbu ke dalam. Melihat ini,para murid Siauw-Lim-pai berloncatan menghadang.

"Ha, jadi kalianbenar hendak me¬lawandan memberontak?" bentak perwira itu.

“Tidak, kami mempertahankan hak kami!"

Ciong Ciangkun memberi isarat dan pasukannya lalu menyerang, disambut oleh para murid Siauw-lim-pai sehingga terjadilah pertempuran yang hebat di ruangan depan vihara Siauw-lim-si. Disaksikan api yang masih bernyala-nyala membakar tubuh Thian-cu Hwesio, para murid Siauw-lim-pai mengamuk. Juga murid bukan pendeta yang tadi bersembunyi di dalam, ketika mendengar bahwa guru mereka membakar diri' kini pasukan menyerbu dan bertempur melawan para saudara mereka yang ada diluar, kini berlarian keluar terjun kedalam medan pertempuran sehingga pertempuran menjadi semakin sengit.

Seorang di antara para murid kepala yang bukan hwesio itu bernama Lie Koan-Tek, seorang pendekar gagah perkasa berasal dari Hok-kian. Dia memiliki pandaian tinggi karena sudah menguasai semua ilmu dari Siauw-lim-pai dan merupakan seorang di antara para pendekar yang membela rakyat yang di paksa untuk bekerja rodi di proyek penggalian terusan, bahkan oleh para murid Siauw-lim-pai lainnya dia dianggap seorang suheng yang dipercaya kepemimpinannya. Sejak tadi, Lie Koan Tek yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun itu mengintai ke luar dan dia lihat semua yang telah terjadi. Karena itu, begitu dia dan teman-temannya menyerbu keluar, dia lalu menerjang orang yang agaknya menjadi mata-mata pasukan pemerintah. Dengan geramnya dia menyerang tosu itu dengan senjatanya yang, tadinya melilit pinggangnya, yaitu sebatang rantai baja.

Tosu kurus kering yang giginya ompongg di bagian depannya itu adalah Cun-bin Tosu, seorang tosu yang memang di¬gunakan oleh para tosu yang memu¬suhi Siauw- lim-si untuk menjadi mata-mata Ciong Ciangkun. Melihat seorang pria gagah perkasa menyerangnya dengan rantai baja, Cun Bin Tosu yang juga memiliki kepandaian tinggi itu menyambut dengan pedangnya.

"Tranggg !" Bunga api berpijar ketika rantai bertemu pedang, dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat. Namun Lie Koan Tek menyerang terus dengan semakin dahsyat sehingga terpaksa tosu itu pun memutar pedang melindungi diri dan balas menyerang. Terjadilah perkelahian yang sangat sengit antara kedua orang ini.

Ciong Ciangkun sendiri sudah memimpin para perwira pembantunya yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, untuk menyerang para murid Siauw-li pai, dibantu oleh pasukan mereka sehingga tempat itu menjadi hiruk pik uk oleh pertempuran, sementara api masih bernyala membakar tubuh Thian-cu Hw sio..

Para murid Siauw-lim-pai adalah pendekar-pendekar yang amat lihai, ol eh karena itu, Ciong Ciangkun dan kawan- kawannya merasa kewalahan. Apala karena mereka tidak mungkin dapat mengerahkan seluruh pasukan mereka y ang masih berada di luar. Tempat di serambi depan itu terlalu sempit untuk suatu pertempuran terbuka di mana lima ra tus orang pasukan itu dapat terjun semua. Kini,. yang terjun dalam pertempuran itu tidak lebih dari dua ratus orang pasukan saja, menghadapi kurang lebih enam puluh orang murid Sia lim-pai. Murid-murid Siauw-lim-ini, lihai, apalagi barisan Lo-han- dengan toya ditangan mereka merupakan barisan silat yang amat tangguh Mulailah anggauta pasukan berjatuhan terluka atau tewas oleh senjata di tangan para murid Siauw-lim-pai.

Perkelahian antara Lie Koan Tek melawan Cun Bin Tosu berjalan amat seru. Tidak ada anggauta pasukan yang membantu tosu itu. Hal ini tidaklah aneh. Para anggauta pasukan tentu saja t hanya membantu para perwira, dan tosu itu tidak mereka kenal, maka mereka tidak mau membantunya. Maka, perkelahian antara Lie Koan Tek dan Cun Bin Tosu berjalan seru tanpa pengeroyokan, satu lawan satu. Cun Bin Tosu terdesak hebat dan biarpun dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya, tetap saja gulungan sinar rantai baja di tangan Lie Koan Tek mendesak dan menghimpitnya sehingga tosu itu terpaksa main mundur dan hanya dapat memutar pedang untuk menangkis dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran kedua ujung rantai baja di tangan lawannya.

"Singgggg !" Tosu itu mencoba untuk membalas ketika mendapatkan kesempatan. Pedangnya meluncur dan menyambar kearah tenggorokan lawan dengan tusukan kilat yang kuat dan cepat Lie Koan Tek miringkan tubuh menggeser kaki menjauh, rantai bajanya menyambar seperti ular ke arah pedang dan berhasil melibat pedang itu dengan ujung Rantai. Cun Bin Tosu terkejut dan barusaha menarik kembali pedangnya Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Lie Koan Tek untuk menendang kakinya ke arah lutut kaki kiri lawan. "Dukkk!" Tubuh tosu itu terjungkal. Dia terpaksa melepaskan pedangnya masih dilihat ujung rantai, lalu bergelingan menjauh Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, rantai itu melepaskan pedang dari libatannya dan pedang meluncur ke arah tubuh yang bergulingan.

"Ceppp!" Pedang menancap, memasuki lambung sampai hampir tembus, tewaslah Cun Bin Tosu.

Melihat betapa pasukannya tidak mampu mendesak lawan, dan banyak anggauta pasukan yang roboh, sedangkan para pembantunya juga terdesak dan ada yang menderita luka- luka, terpaksa Ciong Ciangkun memberi aba-aba agar pasukannya mundur. Dia sendiri mengajak para pembantunya untuk melarikan diri ke luar dari pekarangan vihara itu, masuk ke dalam pasukan yang masih menjadi di luar.

Para Murid Siauw-lim-pai tidak berani mengejar karena jumlah pasukan yang berada di luar banyak sekali, sedangkan jumlah mereka yang kurang lebih enam puluh orang itu kini sudah berkurang, karena ada beberapa orang murid yang terluka, bahkan ada yang tewas, dalam pertempuran itu, walaupun jumlah lawan yang luka atau tewas lebih banyak lagi. Mereka lalu mengurus jenazah Thian-cu Hwesio yang sudah menjadi arang, juga mengurus suadara-saudara yang tewas, dan merawat mereka yang terluka sambil bersiap-siap. Ciong Ciangkun tidak tinggal diam. Dia mundur hanya untuk mengatur siasat, Dia tahu betapa lihainya orang-orang Siauw- lim-pai. Kalau dia menyerbu dalam, akan sukar dapat mengalahkan para pendekar itu. Bertempur secara kucing- kucingan begitu tidak akan menang, karena dia tidak dapat mengerahkan pasukan untuk mengeroyok seperti kalau bertempur di tempat terbuka, Jalan satu-satunya adalah memancing murid Siauw-lim-pai itu keluar dari Vihara mereka, atau memaksa mereka keluar! Dan hal itu hanya dapat dilakukan dengan api! "Siapkan barisan panah berapi!" teriaknya. Para pembantunya segera mereka persiapkan barisan panah berapi. Setelah mengatur pasukannya, Ciong Ciangkun yang merupakan seorang ahli siasat perang itu lalu mengadakan penyerbuan Sekali ini, yang menyerbu vihara adalah anak- anak panah dan diantaranya banyak anak panah berapi, Sementara itu, pasukannya mengepung vihara luar.

Siasatnya itu berhasil dengan baik. Sebentar saja vihara itu terbakar! Tentu saja para murid Siauw-lim-pai tidak mungkin dapat tinggal terus di dalam vihara. Mereka juga berusaha memadamkan kebakaran-kebakaran itu, namun mereka kalah cepat oleh api yang mulai berkobar besar di segala jurusan. Para murid itu menjadi kacau balau dan terpaksa berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. Setiba mereka di luar, mereka disambut oleh pasukan pemerintah yang mengeroyok mereka!

Posting Komentar