Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 29

NIC

"Ha-ha-ha, kalau engkau tidak mengenakan pakaian putih, mungkin julukanmu bukan lagi Pek I Tojin, akan tetapi, engkau akan tetap engkau!"

"Siancai, benar sekali! Kalau rnukamu tidak hitam, mungkin julukanmu bukan Hek-bin Hwesio, akan tetapi tentu pun engkau tetap engkau!"

Keduanya tertawa lagi, melangkah maju dan saling berpegang kedua tangan dengan sikap yang penuh damai! Kata-kata yang keluar dari mulut dua orang sakti itu seperti kelakar saja, namun sesungguhnya mengandung pernyataan yang membuka kebenaran. Mereka itu hendak mengatakan bahwa segala bentuk lahir belaka dan sama sekali tidak hubungannya dengan dirinya. Boleh saja muka diubah-ubah, pakaian diganti-ganti dan nama diganti-ganti pula, namun orangnya tetap itu-itu juga, manusia yang hidup di dunia tanpa dikehendakinya sendiri! Mereka kini saling berpegangan tangan sambil tertawa.

"Siancai, Hek-bin Hwesio, engkau aku tiada bedanya!" "Memang, engkau dan aku sama juga Karena itu, sungguh

menyedihkan melihat saudara-saudara kita saling hantam,

saling benci dan berusaha untuk saling bunuh. Mari kita bicarakan baik-baik, Pek I Tojin!"

"Engkau benar sekali, Hek-bin Hwesio, mari kita duduk dan bicara."

Keduanya lalu duduk bersila di atas tanah, saling berhadapan dan melihat ini, kedua kelompok yang sejak tadi berdiri melihat dan mendengarkan, ikut pula duduk di atas tanah.

“Hek-bin Hwesio, sekarang selagi kita mempunyai keberuntungan untuk saling bertemu, pinto harap engkau tidak pelit dan suka memberi penerangan kepada kami para tosu yang bodoh. Mengapa antara para penganut Agama Buddha dan para pemeluk Agama To terdapat permusuhan?"

"Omitohud , semoga Sang Buddha mnuntun kita semua ke jalan terang, saudaraku yang baik, Pek I Tojin, kalau menurut apa yang pinceng lihat, segala bentuk permusuhan timbul karena •kebodohan! Kalau permusuhan timbul antara kedua kelompok yang beragama, .jika hal itu tentu dikarenakan kefanatikan dan kefanatikan adalah kebodohan!

Apakah maksud kita memasuki suatu agama? Bukan lain untuk meninggal segala macam kejahatan dan mengambil jalan bersih dalam hidup kita. Kita dapat memulai hidup baru,mengalami jalan kehidupan yang bersih kalau meninggalkan semua kotoran dari perbuatan kita di masa lalu! Perbuatan kotor itu termasuk perbuatan yang dasari nafsu, termasuk kebencian, sekarang, dua kelompok orang beragama saling bermusuhan dan saling membenci. Bukankah ini berarti bahwa kita tidak meninggalkan jalan kotor, melainkan meninggalkan jalan baru yang bersih kembali ke jalan kotor? Mungkin tidak menyadari akan hal ini, mengingat bahwa apa yang kita lakukan ini benar dengan alasan-alasan dan pembelaan pun juga untuk membenarkan yang salah ini, untuk membersihkan yang kotor ini. Namun, jelas bahwa kebencian dan permusuhan adalah jalan kotor yang salah. Kita, dalam bakaran nafsu pementingan diri sendiri yang meluas menjadi kentingan kelompok, agama dan lain-lain, menjadi buta dan lupa bahwa inti ajaran agama kita masing-masing adalah mencari kedamaian dan meninggalkan segala bentuk pertentangan! Dan kita, dengan nafsu kita, bahkan menyeret aga¬ma ke dalam kebencian dan permusuhan. Hal inilah yang perlu kita sadari, kita harus membuka mata melihat kenyataan dan berani melihat kesalahan dalam diri sendiri, bukan selalu membuka mata melihat kesalahan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain. Bagaimana Pendapat mu, Pek 1 Tojin?"

"Siancai ! Saudara-saudaraku penganut Agama To, apakah kalian sudah mendengar semua kebenaran yang keluar dari mulut Hek-bin Hwesio tadi?”

Kalau sudah mendengar dan mengerti,kerjakanlah! Buang semua pertikaian dan permusuhan, lenyapkan kebencian dari daam batin, dan kalau ada persoalan dengan pihak lain, rundingkanlah dengan

damai, dengan musyawarah seperti yang sepatutnya dilakukan orang-orang beragama yang taat kepada ajaran agamanya!"

Setelah berkata demikian kepada para tosu di belakangnya, Pek I Tojin lalu menghadap hwesio muka hitam itu lagi dan berkata, "Hek-bin Hwesio, semua penjelasanmu tentang kefanatikan yang bodoh itu memang tepat sekali. Pinto juga melihat akan kebenaran ini Sayangnya bahwa kita mempunyai suatu penyakit lain, yaitu selain kefanatikan juga kemunafikan. Kita adalah oran-orang munafik! Ini pun suatu kebodohan besar karena kita tidak sadar bahwa kita adalah orang-orang munafik, selalu berpura-pura, tidak ada kesatuan antara ucapan, pikiran, dan perbuatan! Kita menutupi kekotoran diri dengan bermacam cara. Kekotoran badan kita tertutup dengan pakaian bersih, perbuatan kalau kita ditutupi dengan alasan- alasan bersih, demi ini dan demi itu. Seorang bijaksana tidak akan membiarkan kepicikan pikiran menguasai dirinya, tidak membiarkan si-aku merajalela karena selagi si-aku merajalela, maka segala perbuatan pasti berpamrih demi kepentingan aku. Si-aku ini dapat membesar menjadi milikku, keluargaku, kelompokku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Seorang bijaksana akan selalu waspada akan si-aku dalam dirinya karena pikiran dan nafsu yang mencipta si-aku itulah satu- satunya musuh berbahaya selama hidupnya. Bukankah demikian keadaannya, sahabatku Hek-bin Hwesio?"

"Omitohud. !” mendengar engkau bicara seperti

mendengar hati nurani k.ita sendiri yang bicara, sahabatku Pek I tojin.'

Kakek bermuka hitam itu lalu menoleh kepada para murid Siauw-Iim-pai.

“Saudara-saudaraku dari Siauw-Iim-pai, indahkah kalian mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Pek I Tojin tadi? Kita harus menyadari bahwa selama kita membiarkan si-aku merajalela, maka hidup kita akan penuh keinginan. Kalau Keinginan-keinginan si-aku dari diri kita masing-masing itu kita kejar dalam pelaksanaan, maka akan terjadi bentrokan antara keinginan-keinginan yang saling bertentangan. Dan bentrokan ini menimbulkan permusuhan, dendam dan kebenci¬an. Apakah kalian sebagai penganut Agama Buddha yang menuntun kita arah jalan terang dan kasih sayang, mau membiarkan diri kita bcrlepotan kotoran berupa benci, dendam dan permushhan?"

Thian Gi Hwesio dan para mu Siauw-lim-pai terkejut dan mereka pun menggeleng kepala. Percakapan antara kedua orang sakti itu menggugah kesadaran mereka yang selama ini dibutakan oleh nafsu kemarahan dan dendam.

"Lo-cian-pwe berdua menggugah kesadaran kami," demikian Thian Gi Hw sio berkata, suaranya lantang dan tegas, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.

"Kami menyadari kesalahan kami dan mulai detik ini akan berusaha kembali ke jalan benar yang terang. Akan tetapi, hendaknya ji-wi Lo-cian-pwe melihat kenyataan bahwa para murid Siauw-lim-pai menuruti bisikan jiwa untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh adanya kerja-paksa sehingga banyak jatuh korban. Apakah menurut Ji wi Lo-cian-pwe (Dua Orang Tua Gagah) kita harus tinggal diam saja melihat betapa rakyat jelata yang sudah serba kekurangan hidupnya itu kini diperas, ditekan dan dijadikan korban kekejaman para petugas? Melihat orang lain menderita dan kita diam berpangku tangan saja bukankah itu merupakan suatu dosa yang besar pula? Apalagi bagi seorang pendekar, pantaskah dia disebut pendekar kalau tidak turun tangan menolong?"

Mendengar ucapan wakil ketua Siauw-iim- pai itu, para murid Siauw-lim-pai mengangguk tanda setuju karena mereka pun menjadi bingung dan sangsi karena ada¬nya kenyataan itu. Tiba-tiba tosu jenggot panjang yang pandai menggunakan pedang dan yang tadi menjadi lawan tangguh Thian Gi Hwesio, berseru dengan lantang pula.

"Siancai ,bukan maksud pin-to untuk membantah siapa pun. Pinto dan para murid juga mengerti akan kebenar- kebenaran yang tadi diucapkan oleh dua orang Lo-cian-pwe, akan tetapi, ada kenyataan lain yang membuat kami merasa bingung. Bagaimanapun juga, kita semua adalah orang-orang yang berne¬gara, dan negara mempunyai pemerintah yang patut dipatuhi dan dibela karena tanda adanya pemerintah, kehidupan rakyat jelata akan menjadi kacau balau rusak, tanpa ada ketertiban lagi. Dan kita melihat betapa usaha pemerintah menggali terusan yang menghubungi Huang-ho dan Yang-ce-kiang adalah suatu usaha yang amat baik, walaupun merupakan pekerjaan besar yang amat sukar dan berat. Kalau usaha itu sudah jadi, maka rakyat pulalah yang akan menikmati hasilnya. Kemudian, kita melihat betapa ada golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah itu. Kami sebagai rakyat yang baik, tentu tidak mendiamkan hal ini terjadi kami bangkit untuk membantu pemeritah, menentang mereka yang hendak menghalangi pekerjaan besar itu. Nah,demikianlah keadaannya sehingga timbul bentrokan- bentrokan, maka bagaimaa baiknya, harap Ji-wi Lo-cian-pwe sudi memberi petunjuk kepada kami."

Hek-bin Hwesio dan Pek I Tojin saling pandang, kemudian tiba-tiba keduanya tertawa bergelak.

Posting Komentar