Ada dua orang, jawab Wi Ko kemudian.
Jun-yan mengangguk dan tidak menanya lagi.
Tidak lama mereka sampailah diatas Ciok yong-hong, ternyata disitu sudah bertambah beberapa puluh orang lagi, hingga seluruhnya ada lebih dua ratus orang yang hadir.
Mereka tersebar bebas sendiri-sendiri, ada yang duduk-duduk pasang omong, ada yang lagi main catur, dan macam-macam jalan untuk melewatkan tempo senggang.
Jun-yan mencoba mencari A Siu diantara orang banyak itu, tapi tidak ketemu.
Diam- diam dia heran, menurut watak A Siu yang pendiam itu, tidak mungkin suka keluyuran kemana-mana, lantas kemana gadis itu ? Jangan-jangan terjadi apa-apa atas dirinya? Marilah kita mencari tempat duduk yang cocok, tiba2 Wi Ko berkata padanya terus menyusur diantara orang-orang banyak itu.
Ketika semua orang melihat datangnya Kah lotoa bersama Wi Ko, diam2 mereka sama melengak, Wi Ko sudah mereka kenal karena keonarannya siang tadi, kini berkomplot pula dengan seorang Kah-lotoa yang jahil belum lagi si Kah-loji yang masih belum muncul.
Melihat sorot mata semua ditujukan kepada mereka, Jun-yan sama sekali tidak ambil pusing.
Dengan lagak Lo-cianpwe ia terus berjalan kedepan dengan lagak leher dan membusung dada.
Sampai didepan satu meja, disitu hanya berduduk satu orang lelaki setengah umur yang tidak mereka kenal.
Untuk maju lagi sudah tidak banyak tempat lowong.
Selagi Wi Ko belum ambil ketetapan apakah duduk saja dimeja yang masih kosong itu tiba2 terdengar suara brak ada orang menggebrak meja sambil memaki .
Hm, macam apa ? Lagaknya melebihi Bu-lim cianpwe! Segera Jun-yan berpaling, ternyata yang memaki itu bukan lain dari pada lelaki setengah umur yang duduk sendirian itu, dengan mata melotot ia sedang menatap Jun- yan.
Tidak kenal dan tanpa sebab dimaki, kontan saja Jun-yan hendak balas unjuk gigi , tapi keburu dicegah Wi Ko, katanya dengan tersenyum .
Saudara Kah, tidak salah juga teguran kawan ini, marilah kita duduk saja disini ! Sudah tentu Jun-yan penasaran dimaki orang, malahan hendak duduk bersama satu meja dengan orang itu.
Tapi belum ia membantah Wi Ko sudah menariknya buat duduk dihadapan lelaki setengah umur itu.
Diluar dugaan, tiba2 lelaki itu membentak pula .
Enyah, disini bukan tempatmu ! Karuan Jun-yan hampir meledak dadanya oleh kekurang ajaran orang.
Kontan makian2 yang lebih kotor hendak dikirim kealamat si-lelaki setengah umur itu, kalau tidak keburu terdengar suara Liok-hap-tongcu Li Pong dari meja samping.
Tuan rumah sebentar akan keluar, maka para hadirin suka menghormatinya, janganlah bikin ribut dahulu.
Harap kawan dari Pi-lik-pay suka tenang ! Baru sekarang tahu sebab musababnya.
Kiranya orang ini adalah dari golongan Pi- lik-pay, pantas sengaja cari-cari hendak bikin gaduh, sebab Ong Lui dari golongan pukulan geledek itu pernah dijatuhkan A Siu ditengah perjalanan tempo hari.
Dalam pada itu Wi Ko sudah duduk dihadapan orang Pi-lik-pay itu terpaksa Jun-yan ikut duduk.
Cayhe she Wi nama Ko, dan saudara ini Kah-lotoa, dengan tertawa Wi Ko lantas perkenalkan pada orang itu.
Dan entah siapa nama Saudara yang terhormat? Karena yang bertanya adalah Wi Ko pula ditegur oleh Li Pong tadi maka orang itu tidak enak hendak umbar amarahnya lagi, sahutnya, Cayhe she Thio, bernama Tiong- pat.
O, kiranya sobat Thio, ujar Wi Ko.
Dan baru selesai dia berkata, se-konyong2 anak murid Pi-lik-cio In Thian-sang yang bernama Thiong-pat itu menjerit sekali, kedua tangannya yang menahan diatas meja sambil melototi Jun-yan tadi tahu2 terpental kebelakang, sampai balok kursi yang buat kursi duduknya juga ikut mencelat hampir menindih orang lain.
Perubahan ini benar2 datangnya sekonyong-konyong, jangankan orang lain tak tahu apa-apa yang sudah terjadi, sampai Jun-yan pun tidak mengerti duduknya perkara.
Sebaliknya Wi Ko terus berkata lagi dengan tertawa .
Ah, kenapa kawan Thio kurang hati-hati ! Habis berkata, ia kebas lengan bajunya, Jun-yan ditariknya untuk menuju kemeja yang lain.
Karena Wi Ko membuka suara, barulah orang lain tahu dialah yang menyebabkan Thio Tiong-pat terpental, tapi cara bagaimana melakukannya, orang2 itu sama bingung.
Hanya tokoh2 seperti Thi-thau-to, Cio Ham, Boh-hoat Suthay, dan lelaki jelek yang mengaku bernama Hwe Tek serta Li Pong yang paham apa sebabnya Thio Tiong-pat roboh terpental, wajah mereka rada berubah dan saling berpandangan, nyata mereka dapat melihat ketika berduduk tadi, Wi Ko telah menahan meja juga dengan sebuah tangannya.
Pasti pada saat itulah lwe-kangnya yang hebat terus melontarkan untuk menghantam Thio Tiong-pat hingga terpental oleh tenaga dalam yang maha hebat itu.
Sungguh susah dipercaya seorang muda sudah memiliki Lwekang setinggi itu.
Dalam pada itu Thio Tiong-pat telah merangkak bangun, mukanya merah padam, mungkin sekarang sudah tahu rasa ia tak berani tinggal lama lagi, cepat saja ia lari turun gunung sipat kuping.
Maka dengan lagak yang dibuat2, sengaja Jun-yan mengerling sekelilingnya dengan jumawa.
Ternyata diantara hadirin sebanyak itu, tak dilihatnya sang guru, yaitu Thong- thian-sin-mo Jiau Pek-king.
Begitu pula A Siu masih tak kelihatan bayangannya.
Segera iapun menanya Li Pong.
Numpang tanya, Liheng, kenapa diantara hadirin sebanyak ini masih kurang lagi seorang tokoh yang terkenal ? Siapakah yang Kah-laute maksudkan? tanya Li Pong.
Thong-thian-sin-mo Jiau Pek- king dari Jing-sia, sahut Jun-yan.
O, kiranya Kah-laute kenal dengan Lau Jiau ? ujar Li Pong.
Ah, kami hanya sobat lama saja, kata Jun-yan sengaja membual.
Malahan banyak diantara kepandaian Lau Jiau diyakinkan ketika saling tukar pikiran dengan aku.'' meski bilang tukar pikiran waktu belajar, tapi dibalik kata2 itu seakan-akan bermaksud Jiau Pek-king yang belajar dari dia.
O, kiranya begitu! seru Li Pong, tapi diam-diam dalam hati ia merasa geli, ia pikir Kah Lotoa ini selalu suka menggoda orang, kini sengaja pula membual atas namanya Thong thian-sim mo Jiau Pek-king, pasti nanti kau akan tahu rasa.
Ternyata pikiran Li Pong itu bukannya tidak beralasan, sebab si lelaki bermuka jelek yang duduk diseberang Jun-yan yang dikenal sebagai Hwe Tek itu, sebenarnya Jiau Pek-king dalam penyamaran.
Ilmu penyamaran Jun-yan dipelajari dari sang guru, sudah tentu penyamaran Jiau Pek-king itu jauh lebih susah dikenali Jun-yan.
Sebaliknya Jiau Pek-king pun tidak nyana bahwa si Kah-lotoa yang jahil itu adalah muridnya, terutama si gadis itu berteman A Siu yang aneh.
Sementara itu karena kata2 tadi rupanya sangat menarik perhatian orang banyak, Jun-yan semakin mendapat angin, segera ia menyambung lagi; Padahal Siau Jiau pakai julukan Thong thian-sin-mo, sebenarnya rada berlebihan, kata2 Thong-thian (mencakup jagat) masakan begitu mudah digunakan dia, sedangkan Tok-poh-kiang gun Lau Ki juga cuma menyebut dirinya Gi thian (kebanggaan jagat) saja ! Sungguh terlalu berani pembualan Jun-yan, ia telah menyebut Jiau Pek-king sebagai Siau jiau kecil, sebaliknya menyebut Ki Go-Thian sebagai Lau Ki atau Ki tua.
Karuan semua orang ikut tersentak oleh mulutnya yang besar itu.
Meski geli, akhirnya Hwe Tek alias Jiau Pek-king tulen itu, tidak tahan juga, katanya dengan dingin.
Entah kawan Kah ini berusia berapa sekarang, kenapa menyebut Thong- Thian sin-mo itu sebagai Siau Jiau? Memangnya sejak bertemu ditengah jalan Jun-yan sudah sirik terhadap lelaki bermuka jelek ini, kini orang lain tidak berani menanya, justru orang yang dibenci inilah yang buka suara, maka sahutnya dengan melirik hina .
Soal umur kenapa mesti heran? Dikalangan Bu-lim Sutit lebih tua dari Susiok juga tidak sedikit.
Eh, jadi tingkatan saudara tentunya lebih tinggi dari Thong-thian-sin-mo ? tanya Jiau Pek-king sengaja.
Memang, sahut Jun-yan, tingkatan kini memang selisih satu angkatan! Ternyata jawabannya ini ada benarnya juga.
Dia memangnya adalah muridnya Jiau Pek king, dan tingkatannya mereka jadi selisih satu angkatan.
Cuma dari lagu suara jawabannya ini, bagi pendengaran orang lain menjadi seperti dialah yang lebih tua setingkat.
Aha, jika begitu tentu saudara benar2 orang Bu-lim-cianpwe, kata Jiau Pek-king menjengek.
Marilah, biar kusuguh secawan sekedar sebagai penghormatanku.
Habis berkata, poci teh diatas meja terus diangkatnya, menyusul sedikit poci bergerak, tahu-tahu seutas air teh terus mancur dengan cepat dan kerasnya kesuatu cawan kosong diatas meja Jun-yan.
Tenaga dalam yang diunjukkan oleh Jiau Pek-king ini, sungguh diantara hadirin itu tiada yang mampu melakukannya.
Karuan sekaranglah Jun-yan baru terkejut dan insaf menghadapi seorang kosen.
Pantas hari itu A Siu sudah memperingatkannya bahwa orang ini mempunyai Lwekang yang tinggi.
Kalau melihat kepandaiannya menyemburkan air dalam poci dengan tekanan tenaga dalamnya, terang ilmu kepandaiannya ini tidak dibawah gurunya sendiri, yaitu Thong-thian-sin-mo.
Teringat pada sang guru, hati Jun-yan menjadi tergerak.
Baru sekarang dia insaf kata2 bualannya benar-benar rada keterlaluan.
Cepat ia berpura-pura berjongkok dan sekilas melirik ke kuduk kepala lelaki jelek itu.
Sungguh tak kepalang terkejutnya Jun-yan, ternyata dikuduk kepala orang itu ada sebutir andeng-andeng merah besar.
Andeng2 demikian itu diketahuinya terdapat juga pada kuduk kepala sang guru.
Maka teranglah tidak mungkin didunia ini ada dua orang yang serupa, tidak usah disangsikan lagi pasti orang yang dihadapannya ini adalah gurunya sendiri.
Apalagi bila sebentar sang guru juga hendak mengujinya dengan Lwekang, tentu celakalah baginya.
Sedang Jun-yan kerupukan sendiri, tiba2 terlihat tuan rumah yaitu Jing-ling-cu, sedang keluar dari kuilnya dengan wajah muram.