Kata kakek itu.
"Nah, karena kelengahanku, pada suatu hari, aku menjadi korban perangkap mereka. Aku keracunan dan tidak mampu lagi menandingi mereka. Dalam keadaan terluka dan keracunan itu, mereka mendesakku untuk menyerahkan kitab ilmu Bu-kek-hoat-keng. Akan tetapi, kitab itu telah kubakar, hanya isinya telah kupindahkan ke dalam kepalaku, tercatat dalam ingatan. Karena aku berkeras tidak mau membuka rahasia Bu-kek-hoat-keng, mereka menjadi marah. Mereka menyiksaku, bahkan membuntungi kaki tanganku dan melemparku ke dalam sumur ini, delapan tahun lebih yang lalu. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa ilmu Bu-kek-hoat-keng dapat kupergunakan untuk menyelamatkan nyawaku, bahkan membersihkan tubuhku dari pengaruh luka dan racun mereka, ha-ha-ha!"
Yo Han mendengarkan dengan hati ngeri.
"Betapa kejam mereka!"
Katanya penasaran.
"Ah, tentu Locianpwe telah mengalami penderitaan hebat selama delapan tahun di dalam sumur ini. Akan tetapi, Locianpwe berilmu tinggi, mengapa tidak berusaha keluar dari sini?"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Betapapun hebatnya ilmu Bu-kek-hoat-keng, akan tetapi tentu saja tanpa kaki dan tangan, bagaimana aku dapat merayap naik? Loncatanku pun tidak akan mencapai tinggi sumur ini yang sekitar dua puluh meter. Dan andaikata aku berhasil naik, kalau di sana aku diserang oleh dua orang suhengku, dalam keadaan tak bertangan tak berkaki ini, aku pun pasti kalah."
"Sungguh mereka itu kejam sekali, tega melakukan perbuatan yang begini keji terhadap adik seperguruan sendiri. Akan tetapi, Locianpwe, kalau mereka sudah melempar Locianpwe ke sini, berarti mereka, menghendaki kematianmu. Kenapa mereka tidak langsung saja membunuhmu, bahkan setelah melempar Locianpwe ke sini, setiap hari mereka masih mengirim makanan untukmu?"
"Yo Han, apakah engkau tidak dapat menduganya?"
Pemuda remaja itu mengerutkan alisnya, kemudian mengangguk.
"Aku mengerti sekarang. Bukankah mereka itu sengaja tidak membunuh Locianpwe, hanya membuat Locianpwe tidak berdaya, dengan maksud agar Locianpwe akhirnya menyerah dan memberikan rahasia-rahasia Bu-kek-hoat-keng kepada mereka?"
"Engkau benar, Yo Han. Akan tetapi, aku tak pernah mau menyerah. Biarpun siksaan ini kadang membuat aku menjadi hampir gila, membuat aku meraung dan menangis. Akan tetapi aku tidak mau menyerahkan ilmu itu, sampai mati pun aku tidak mau. Aku hanya menanti sampai Tuhan mengirim seseorang untuk mewarisi ilmuku, bukan untuk menolongku. Setelah ilmuku ada yang mewarisinya aku lebih suka mati. Apa artinya hidup bagiku dalam keadaan seperti ini? Kalau selama ini aku bertahan hidup, hanya agar ilmu-ilmuku jangan sampai lenyap dengan sia-sia. Dan terima kasih kepada Tuhan! Engkau dikirim Tuhan ke sini, Yo Han! Engkaulah yang akan menjadi muridku, menjadi ahli warisku!"
"Tapi, Locianpwe, aku.... aku tidak mau belajar silat. Aku tidak mau menggunakan kekerasan, tidak mau berkelahi...."
"Heh-heh-heh, anak tolol. Siapa bilang aku hendak mengajarkan silat kepadamu?"
"Tapi, ilmu apakah Bu-kek-hoat-keng itu?"
"Ya, semacam ilmu menyehatkan badan, tidak bedanya dengan ilmu tari dan senam yang kau pelajari dari Thian-te Tok-ong, hanya jauh lebih tinggi tingkatnya. Yo Han, engkau mau menjadi murid seorang yang jahat dan kejam seperti Thian-te Tok-ong, dan engkau menolak menjadi muridku? Engkau memilih menjadi muridnya?"
"Bukan begitu, Locianpwe. Akan tetapi, mengajak Locianpwe naik, tentu akan diserang oleh dua orang suheng Locianpwe itu. Kalau di sini, bagaimana mungkin aku tinggal di sini bersamamu?"
"Heh-heh, soal itu mudah dibicarakan nanti. Yang terpenting, Yo Han, katakanlah. Maukah engkau menjadi muridku? Ingat, sisa hidupku hanya kupertahankan untuk menanti saat seperti ini! Kalau engkau tidak mau menjadi muridku, sudahlah, aku tidak mau hidup lebih lama lagi, biar untuk semenit pun. Sekali meng-hempaskan diri ke dinding, kepalaku akan pecah dan nyawaku akan melayang!"
Yo Han terkejut. Dia tahu bahwa kakek ini selain amat lihai, juga memiliki watak yang aneh, maka tentu ancaman itu bukan gertak sambal belaka. Mengingat akan pengalaman kakek ini, maka dia tentu tidak berbohong. Bagaimanapun juga, dia tidak boleh membiarkan kakek ini membunuh diri. Kalau dia menolak dan kakek ini benar-benar membunuh diri, berarti bahwa dialah penanggung jawabnya, dialah yang, membunuh atau menyebabkan kematian kakek itu! Dia pun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Suhu, teecu akan mentaati petunjuk Suhu."
Tiba-tiba rambut kepala yang panjang itu menyambar, melibat-libat tubuh Yo Han seperti pengganti kedua lengan, merangkul dan mendekap, dan kakek itu tertawa-tawa bergelak. Akan tetapi, tak lama kemudian, rambut itu terlepas dan kakek itu pun menangis sesenggukan!
"Ah, engkau kenapakah, Suhu?"
Yo Han bertanya, kaget dan khawatir. Kakek itu tertawa kembali.
"Ha-ha-ha, tidak apa, muridku. Aku hanya merasa girang dan terharu. Tuhan sungguh Maha Adil, akhirnya permohonanku dikabulkan! Mari, Yo Han, kita harus cepat menyingkir. Kalau terlambat, jangan-jangan kegembiraan hatiku akan berakhir dengan kematian kita berdua."
"Eh, kenapa begitu, Suhu?"
"Sudah, tidak ada waktu untuk bicara sekarang. Kita harus bertindak. Lihat di sudut itu."
Yo Han menoleh dan dia melihat bahwa di sudut, dindingnya merupakan sebuah batu sebesar gajah yang menutupi dinding batu padas. Dia melihat kakek ia meloncat-lancat mendekati batu dari dia pun mengikuti.
"Batu ini kutarik lepas dari tanah, menggunakan rambut dan hidungku saja. Pekerjaan itu berhasil setelah aku berusaha selama satu tahun! Dan tahun-tahun berikutnya kupergunakan untuk membuat terowonan yang menembus ke sumur lain, sumur alam. Batu ini menjadi pintunya. Sekarang, sebelum bahaya menimpa kita, kita harus pindah ke sumur ke dua itu melalui terowongan. Mari bantu aku menggeser batu ini ke samping, Yo Han."
Sebelum Yo Han mentaati perintah itu, tiba-tiba terdengar suara dari atas lubang sumur. Suara itu nyaring dan memasuki sumur dengan kuatnya seperti akan membikin pecah anak telinga, dan mendatangkan gema sehingga suara itu terdengar aneh dan menyeramkan, bukan seperti suara manusia lagi.
"Ciu Sute....!"
Panggilan ini terdengar berulang sampai tiga kali.
"Yo Han....!"
Kini suara itu, suara Thian-te Tok-ong, memanggil muridnya. Sebelum Yo Han menjawab, kakek Ciu Lam Hok mendahului.
"Ha-ha-ha, Thian-te Tok-ong iblis busuk! Engkau mencari muridmu?"
"Sute Ciu Lam Hok! Engkau hendak murtad kepada suhengmu sendiri?"
"Ha-ha-ha, sejak kau lempar aku ke sini, sudah tidak ada hubungan persaudaraan lagi antara kita, Tok-ong! Engkau hendak mencari muridmu yang kau suruh turun membunuhku itu? Ha-ha-ha, engkau sungguh tolol. Jangankan anak ingusan itu, biar engkau sendiri yang turun, engkau akan mampus olehku. Anak itu sudah kubunuh!"
Mendengar suara ini, di atas sana menjadi sunyi. Lalu terdengar percakapan yang dapat terdengar dari bawah. Suara Ban-tok Mo-ko terdengar jelas.
"Suheng, muridmu tentu telah dibunuhnya. Biar aku masuk ke sana. Dia tentu hanya menggertak saja! Akan kusiksa dia supaya mengaku dan membuka rahasia Bu-kek-hoat-keng!"
"Jangan, Sute. Dia bukan pembual, kalau dia mengancam demikian, berarti dia sudah siap siaga. Siapa tahu dia memasang perangkap."
"Tapi, dia sudah tidak mempunyai kaki tangan, Suheng! Takut apa?"
"Hemm, jangan pandang rendah, Sute. Dia memiliki ilmu yang amat tinggi. Dan di bawah sana gelap, kita tidak mengenal tempat itu. Kita menggunakan cara lain untuk membunuhnya."
Selagi mereka bercakap-cakap tadi, Yo Han diam saja karena kini dia tahu, bahwa gurunya yang baru tidak berbohong dan memang Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko amat keji dan jahat. Maka, dia pun hendak membela Ciu Lam Hok, dan dia tidak mengeluarkan suara. Ciu Lam Hok memberi isarat dengan anggukan kepala agar dia membantu mendorong batu itu, dia pun mengerahkan tenaga mendorong batu sebesar gajah itu ke kiri. Dia tentu tidak akan kuat mendorongnya kalau tidak ada Ciu Lam Hok yang mendorongnya pula dengan pundak yang tidak berlengan. Batu itu perlahan-lahan bergeser dan nampaklah lubang sebesar tubuh orang. Ciu Lam Hok memberi isarat berhenti, kemudian dia tertawa.
"Ha-ha-ha, Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong! Kalau takut, mengapa tidak kalian berdua saja turun ke sini agar kalian dapat menemani nyawa murid kalian?"