Kisah Si Bangau Merah Chapter 52

NIC

"Harimau itu kejam sekali!"

Kata Yo Han.

"Aku benci padanya!"

"Ha-ha-ha! Anak baik. Kalau harimau itu tidak makan daging hewan lain, dia akan mati kelaparan! Untuk itu dia sudah ditakdirkan lahir dengan dibekali ketangkasan, kuku runcing dan gigi tajam. Dia tidak dapat hidup dengan makan rumput! Sebaliknya, kijang pun ditakdirkan hidup makan rumput dan daun. Hidup memang perjuangan, Yo Han. Siapa kuat dia bertahan!"

"Teecu tidak suka! Yang kuat selalu menang dan hendak berkuasa saja. Yang kuat selalu jahat dan ingin memaksakan kehendaknya kepada yang lemah. Karena itu, teecu tidak suka belajar silat, tidak suka menggunakan kekerasan karena hal itu akan membuat teecu menjadi jahat!"

"Yo Han, kau lihat apa ini?"

"Suhu memegang tongkat!"

"Apakah tongkat ini merupakan senjata untuk melakukan kekerasan?"

"Tentu. saja!"

"Jadi engkau tidak suka memegang tongkat?"

"Tidak."

"Kalau kebetulan ada seekor anjing gila yang menyerangmu, dan engkau tidak mampu melarikan diri, lalu engkau membawa tongkat, apakah tongkat itu pun masih merupakan senjata kekerasan yang jahat? Ataukah merupakan alat pelindung diri yang akan menyelamatkan dirimu dari gigitan anjing gila? Hayo jawab!"

Yo Han menjadi bingung. Akan tetapi dia seorang anak yang jujur dan cerdik.

"Kalau aku memegang tongkat itu, teecu hanya mempergunakan untuk membela diri dan mengusir anjing itu, bukan untuk memukul, melukai apalagi membunuhnya!"

"Nah, demikian pula dengan ilmu silat anak keras kepala! Apa kau kira kalau kita mempelajari ilmu silat lalu kita semua menjadi tukang-tukang pukul, menjadi perampok-perampok, menjadi penjahat dan tukang menyiksa dan membunuh orang? Kalau kita mempunyai ilmu silat, banyak kebaikan yang dapat kita lakukan. Pertama, kita dapat membela diri, melindungi keselamatan diri dari serangan orang jahat, ke dua, kita dapat membantu orang-orang yang ditindas dan disiksa orang lain, dan ke tiga, terutama sekali, kita dapat mengangkat martabat dan kedudukan kita, menjadi orang yang terpandang di dalam dunia!"

Yo Han mengerutkan alisnya. Ada sebagian yang dianggapnya tepat, akan tetapi yang terakhir itu dia sama sekali tidak setuju.

"Bagaimanapun juga, orangorang yang pandai silat selalu berkelahi dan bermusuhan saja, Suhu. Tidak seperti kaum petani yang tidak pandai silat."

"Ha-ha-ha, soalnya para petani bodoh itu tidak mampu membela diri sehingga mereka mudah saja dipukuli dan dibunuh tanpa melawan!"

"Sudahlah, Suhu. Teecu tidak suka bicara tentang ilmu silat dan teecu tidak pernah mau belajar silat!"

Kata pula Yo Han.

"Tentang keselamatan teecu, tentang nyawa teecu, berada di tangan Tuhan dan teecu yakin benar akan hal ini!"

"Huh, bocah aneh, tolol tapi.... benar juga...."

Kakek itu menggumam. Sudah sering dia melihat Yo Han yang tidak pandai silat itu tidak mempan diserang racun, bahkan kebal terhadap sihir, dan selalu selamat! Entah kekuasaan apa yang melindunginya. Dia sendiri adalah seorang datuk sesat yang sejak muda tidak pernah mau mengakui adanya kekuasaan di luar dirinya. Kekuasan Tuhan?

Dia tidak percaya karena tidak dapat melihatnya! Dia tidak sadar bahwa perasaan sayang dan cintanya terhadap Yo Han merupakan dorongan kekuasaan yang tidak dipercayanya itu! Waktu berjalan dengan cepatnya dan setahun telah lewat lagi. Kini, sudah tiga tahun Yo Han berada di dalam guha itu dan usianya sudah lima belas tahun, ia menjadi seorang pemuda remaja yang bertubuh tegap dan kokoh kuat karena biasa bekerja keras. Mukanya yang lonjong dengan dagu runcing berlekuk itu. membayangkan kegagahan. Rambutnya gemuk panjang dikuncir besar. Pakaiannya sederhana dan kasar. Alis matanya amat menyolok karena tebal menghitam berbentuk golok, dahinya lebar, hidungnya mancung dan mulutnya ramah walaupun dia pendiam. Sepasang matanya membayangkan kejujuran dan kelembutan.

Dia sudah mulai jemu, tinggal di dalam guha itu, setiap hari selain melayani gurunya yang makin tua dan lemah, juga selalu mempelajari ilmu tari, senam dan juga siu-lian (samadhi) yang menurut gurunya berguna untuk kesehatan dan memanjangkan usia. Akan tetapi, kalau timbul keinginannya meninggalkan tempat itu, dia merasa tidak tega kepada gurunya. Kakek itu sudah tua sekali dan dia merasa kasihan kepada orang hukuman yang berada di dalam sumur, bahkan ia sering kali timbul keinginannya untuk menengok orang itu ke dalam sumur, akan tetapi dia selalu mengurungkan niatnya karena dilarang oleh suhunya. Akan tetapi pada suatu pagi, ketua Thian-li-pang dan wakil ketua, yaitu Ouw Ban dan Lauw Kang Hu, datang berkunjung dan mereka itu diterima oleh Thian-te Tok-ong di ruangan depan guha,

Yo Han disuruh ke dalam oleh suhunya dan tidak diperkenankan untuk menghadiri, bahkan mendengarkan percakapan, mereka pun tidak boleh. Yo Han masuk ke bagian paling dalam dari guha itu agar tidak dapat mendengarkan percakapan mereka dan bagian paling dalam adalah di tepi sumur itu. Selagi ia duduk termenung, matanya yang terlatih itu dapat melihat cuaca yang bagi orang lain tentu amat gelap pekat itu, dan hatinya terharu melihat keadaan sumur yang garis tengahnya hanya satu meter dan yang dalamnya tak dapat diukur itu. Setiap kali memberi makanan dan minuman, dia hanya melemparkan saja ke bawah. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa siapa pun yang berada di bawah, tentu bukan orang sembarangan karena dalam keadaan yang gelap itu dapat menerima luncuran bungkusan makanan dan poci minuman dari atas.

Untuk menanti percakapan gurunya dengan dua orang ketua Thian-li-pang, Yo Han lalu duduk di bibir sumur sambil mencoba untuk menjenguk ke bawah. Akan tetapi amat gelap di bawah sana, tidak nampak sedikit pun. Juga tidak pernah terdengar apa-apa, kecuali kadang saja terdengar suara yang amat mengerikan, seperti suara melengking panjang, seperti jerit tangis, seperti tawa, pendeknya bukan seperti suara manusia! Tiba-tiba Yo Han mendengar suara yang keluar dari dalam sumur. Bukan pekik melengking mengerikan seperti biasanya, sama sekali bukan. Bahkan kini yang terdengar adalah suara nyanyian merdu. Suara seorang pria yang bernyanyi, nyanyiannya sederhana akan tetapi suara itu demikian merdu dan lembut.

"Jin Sin It Siauw Thian Te, It Im It Yang Wi Ci To!"

Yo Han mendengarkan dan karena dia memang merupakan seorang kutu buku yang suka sekali membaca, maka mendengar satu kali saja dia sudah hafal. Akan tetapi, bagaimana seorang remaja berusia lima belas tahun akan mampu menangkap arti dari dua baris kata-kata itu? Kalau diterjemahkan kata-katanya, maka berarti: "Badan Manusia Adalah Alam Kecil, Satu Im (Positive) dan Satu Yang (Negative) itulah To (Sang Jalan atau Kekuasaan Tuhan)!"

Yo Han menggerak-gerakkan bibir menghafal dua baris kalimat itu dengan heran. Dia lebih kagum mendengar kemerduan suara itu daripada isi kata-katanya yang tidak dimengerti benar. Kalau biasanya dia tidak pernah tertarik untuk memeriksa ke dalam sumur,

Posting Komentar