Kisah Si Bangau Merah Chapter 51

NIC

Yo Han mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.

"Suhu tahu, teecu tidak akan mau membunuh siapapun juga!"

"Heh-heh-heh, engkau memang anak yang aneh. Nah, Lauw Kang Hui, engkau tentu datang mengantar perempuan tadi bukan dengan percuma, tentu engkau pun akan menagih janji, bukan?"

Lauw Kang Hui, seperti juga semua murid Thian-Ii-pang, amat takut kepada kakek ini. Kakek ini

bukan saja merupakan orang pertama yang dipuja-puja dan ditakuti, akan tetapi juga terkenal bengis dan entah sudah berapa puluh orang anak buah Thian-li-pang sejak dahulu dibunuhnya begitu saja dengan kesalahan yang amat sepele. Maka, dia pun cepat menyembah sambil berlutut.

"Teecu memberanikan diri mengantar Ang I Moli karena ia desak-desak, Supek. Adapun tentang Supek hendak memberi anugerah kepada teecu atau tidak, teecu serahkan kepada kebijaksanaan Supek. Bagaimana teecu berani menuntut?"

"Ha-ha-ha, engkau memang seorang di antara para murid yang cerdik, Kang Hui, tidak seperti suhengmu Ouw Ban yang terlalu keras kepala walaupun kepandaiannya lebih tinggi. Aku mendengar tentang siasatmu mengadu domba antara empat partai persilatan besar dan berhasil baik. Ha-ha, sungguh, aku sendiri tidak akan memikirkan sejauh itu. Engkau memang pandai dan aku suka sekali menambahkan satu dua pukulan untukmu agar engkau lebih dapat memajukan Thian-li-pang lagi!"

"Terima kasih, Supek. Terima kasih!"

Akan tetapi dia lalu menambahkan dengan suara lirih.

"Hanya teecu mohon agar Supek sudi melembutkan hati Suhu kalau Suhu memarahi teecu karena ini."

"Gurumu? Ha-ha-ha, gurumu selalu berat sebelah, terlalu mudah dirayu oleh Ouw Ban. Jangan takut, kalau gurumu berani mengganggumu, akan kupukul pantatnya sampai bengkak-bengkak, heh-heh-heh! Nah, ke sinilah dan perhatikan baik-baik. Akan kuajarkan Tok-jiauw-kang (Ilmu Cakar Beracun) dan Kiam-ciang (Tangan Pedang) padamu. Hafalkan baik-baik dan kemudian latihlah, sedikitnya satu dua tahun baru engkau akan dapat mahir."

"Terima kasih, Supek!"

Lauw Kang Hui memasuki mulut guha dan Yo Han yang tidak suka melihat orang belajar silat, lalu masuk ke dalam guha untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, membersihkan guha dan mengirimkan makanan dan minuman untuk orang hukuman yang berada di dalam sumur.

Sampai tiga hari lamanya Lauw Kang Hui menerima petunjuk kedua ilmu itu dari Thian-te Tok-ong tanpa ada yang berani mengganggu, bahkan mendekat pun tidak ada yang berani. Setelah dia hafal benar, Lauw Kang Hui berlutut menghaturkan terima kasih kemudian meninggalkan guha yang menjadi sunyi kembali. Dan dia pun mulai lagi setiap hari belajar ilmu menari dan senam, karena sampai hari itu pun Yo Han tetap berkukuh tidak sudi belajar ilmu memukul orang! Ketika usianya sudah lima belas tahun dan tetap juga dia berkeras tidak mau belajar silat, hampir habis kesabaran Thian-te Tok-ong. Dia memanggil muridnya menghadap. Yo Han berlutut di depannya. Waktu itu malam hampir tiba dan di dalam guha sudah mulai gelap. Namun, berkat kebiasaan, mereka dapat saling melihat dengan tajam. Yo Han memiliki ketajaman mata yang dapat melihat di dalam gelap seperti mata harimau atau mata kucing.

"Yo Han, apakah engkau sudah gila? Kau lihat sendiri, kalau engkau tidak pandai mengelak, tentu engkau sudah mampus diserang Ang I Moli. Kenapa engkau tetap tidak mau menerima pelajaran silat dariku? Aku akan membuat engkau orang yang paling pandai di kolong langit ini."

"Tidak Suhu. Teecu tetap tidak mau belajar memukul orang. Untuk apa? Teecu tidak akan pukul orang, apalagi membunuh orang. Hidup bukan berarti harus saling bermusuhan dan saling bunuh."

"Tolol! Kau kira ilmu silat itu hanya untuk membunuh orang?"

"Teecu tetap tidak mau! Sejak kecil teecu tidak suka ilmu silat. Ayah Ibu teecu juga tewas hanya karena mereka itu ahli-ahli silat. Kalau mereka tidak pandai silat, tidak mungkin mereka itu mati muda."

"Huh, hal itu karena ilmu silat mereka masih rendah, masih mentah! Sudahlah tidak perlu banyak berbantah lagi, mari kau keluar bersamaku, dan akan kuperlihatkan bukti-bukti kepadamu!"

Sebelum Yo Han menjawab, tiba-tiba saja punggung bajunya sudah dicengkeram gurunya dan dia merasa tubuhnya dibawa terbang atau lari dengan kecepatan yang luar biasa. Diam-diam dia kagum. Gurunya ini bukan manusia agaknya. Hanya iblis yang dapat bergerak seperti itu! Akan tetapi dia pun diam saja dan hanya melihat betapa mereka melalui lembah bukit, menuruni jurang, dan akhirnya mereka tiba di luar sebuah dusun. Dari luar saja sudah terdengar suara ribut-ribut di dusun itu, suara sorak sorai disertai gelak tawa di antara suara tangis dan jerit mengerikan, juga nampak api berkobar.

"Suhu, apa yang terjadi?"

Yo Han bertanya dengan kaget sekali. Thian-te Tok-ong melepaskan muridnya, lalu membiarkan muridnya menuntun tongkatnya, diajaknya memasuki dusun itu.

"Tidak perlu banyak bertanya, kau lihatlah saja sendiri,"

Katanya dan setelah mereka memasuki dusun, tiba-tiba kakek itu memegang lengannya dan membawanya loncat naik ke atas pohon besar. Dari tempat itu mereka dapat melihat apa yang sedang terjadi di bawah. Yo Han terbelalak, mukanya sebentar pucat sebentar merah.

Dia melihat peristiwa yang mendirikan bulu romanya, perbuatan kejam yang membuat dia merasa ngeri bukan main. Belasan orang laki-laki yang bengis dan kasar, dengan golok di tangan, membantai orang-orang dusun yang sama sekali tidak mampu mengadakan perlawanan. Ada pula yang memperlakukan wanita dengan kasar dan tidak sopan, menelanjanginya, menciuminya dan memukulinya. Ada pula yang mengusungi barang-barang berharga dari dalam rumah. Tahulah dia bahwa mereka adalah perampok-perampok yang sedang menyerang dusun itu dengan kejam sekali. Hampir saja Yo Han menjerit melihat itu semua dan tiba-tiba saja tubuhnya melayang turun dari atas pohon itu. Dia sendiri terkejut karena dia dapat meloncat dari tempat setinggi itu tanpa cidera. Gurunya hanya melihat sambil tersenyum saja. Yo Han lari ke dusun itu.

"Manusia-manusia jahat, kalian ini manusia ataukah iblis?"

Bentaknya berkali-kali dan ke mana pun tubuhnya berkelebat,

Dia telah merampas sebatang golok dan mendorong seorang perampok sampai terjengkang dan terguling-guling. Melihat seorang anak remaja maju mendorong roboh beberapa orang anak buahnya, kepala perampok yang brewok menjadi marah dan dia melepaskan wanita muda yang tadi dipermainkannya, lalu dengan bertelanjang dada dan dengan golok besar diangkat, dia menyerang Yo Han dengan bacokan ke arah leher anak itu. Yo Han yang telah mahir "menari"

Itu melihat dengan jelas datangnya golok, maka dengan gerakan tari monyet, amat mudah baginya untuk meloncat ke samping sehingga golok itu tidak mengenai sasaran. Dia tidak bermaksud memukul orang, akan tetapi karena dia marah melihat orang itu tadi menggeluti seorang wanita, dan kini melihat orang itu hendak membunuhnya, dia pun mendorong sambil berseru nyaring.

"Engkau orang jahat, pergilah!"

Dan sungguh luar biasa sekali akibatnya. Terkena dorongan tangan Yo Han, kepala perampok itu terlempar seperti daun kering ditiup angin dan tubuhnya menabrak dinding, dan dia pingsan seketika karena kepalanya terbanting pada dinding. Para perampok menjadi marah dan kini beramai-ramai mereka menggerakkan golok mengepung dan menyerang Yo Han. Akan tetapi Yo Han berloncatan menari-nari dan semua serangan itu pun luput. Sayangnya, karena Yo Han memang tidak suka berkelahi, tidak suka memukul orang, tidak suka menggunakan kekerasan dan perasaan ini sudah mendarah-daging sejak kecil, maka dia pun hanya berloncatan mengelak ke sana sini saja tanpa membalas.

"Huh, orang-orang macam ini masih kau kasihani?"

Tiba-tiba terdengar seruan lembut dan Yo Han melihat betapa belasan orang itu terlempar ke kanan kiri, berkelojotan dan mati semua! Gurunya sudah berdiri di situ dan kini Yo Han memandang kepada gurunya dengan terbelalak dan alis berkerut.

"Suhu membunuh mereka semua? Suhu kejam! Sungguh kejam!"

Thian-te Tok-ong yang usianya sudah delapan puluh dua tahun itu terkekeh-kekeh.

"Dan kau mau bilang bahwa belasan orang yang mem-bunuh, memperkosa dan merampok, membakari rumah penduduk itu tidak kejam?"

"Mereka juga kejam seperti setan, tapi kalau suhu membunuhi mereka, lalu apa bedanya antara mereka dengan kita? Mereka kejam, kita pun sama kejamnya!"

"Ho-ho-ho, kalau menurut engkau, kita harus mengusap-usap kepala dan punggung mereka dan memuji-muji perbuatan mereka?"

"Bukan begitu, Suhu. Akan tetapi teecu tetap tidak setuju Suhu membunuhi mereka! Teecu tidak sudi membunuh tidak suka mengguna-kan kekerasan!"

"Hemm, kau kira engkau ini pintar dan baik, ya? Bocah tolol. Kau lihat, mengapa penduduk dusun ini sampai dibunuh, diperkosa dan dirampok? Karena mereka lemah! Coba mereka itu kuat, coba mereka itu mempelajari ilmu silat, tentu para perampok itu tidak akan mampu mencelakai mereka. Jangan bilang kalau hidup tanpa kekerasan itu tidak akan menjadi korban kekerasan!"

Yo Han tertegun, akan tetapi alisnya masih berkerut ketika gurunya mengajaknya pergi. Di sepanjang perjalanan pulang ke guha, anak itu termenung. Hatinya tidak senang. Gurunya membunuhi orang begitu saja walaupun orang-orang itu perampok kejam. Mereka tiba di hutan dan tiba-tiba terdengar suara auman harimau. Thian-te Tok-ong menarik muridnya dan meloncat ke arah suara, lalu bersembunyi di balik semak belukar. Mereka melihat seekor harimau menubruk seekor kijang, menerkam leher kijang itu yang menjerit-jerit dan meronta-ronta. Namun, kuku-kuku dan gigi-gigi runcing tajam itu menghunjam leher dan pundak, darah dihisap dan rontaan itu makin lemah. Akhirnya, harimau itu menggondol korbannya memasuki semak belukar. Thian-te Tok-ong memandang muridnya.

"Bagaimana pendapatmu, Yo Han? Apakah harimau itu kejam? Dan andaikata kijang itu mampu melawan dan menang, atau mampu melarikan diri, bukankah berarti ia tidak akan menjadi korban?"

Posting Komentar