Kisah Si Bangau Merah Chapter 50

NIC

Kemudian kepada Lauw Kang Hui ia pun berkata,

"Lauw Pangcu, kita telah saling membantu, harap sampaikan hormatku kepada Ouw Pangcu. Aku mohon diri untuk mengambil jalanku sendiri. Selamat tinggal!"

"Heiiii, nanti dulu!"

Tiba-tiba Yo Han berseru keras. Moli terkejut karena sekali anak itu menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang dan berdiri di depannya! Anak ini, entah disadari atau pun tidak, telah memiliiki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat!

"Huh, mau apa engkau?"

Bentaknya, tidak berani memandang rendah karena tentu saja ia gentar terhadap guru anak itu. Dengan telunjuk tangan kanannya, seperti seorang dewasa menegur seorang anak nakal, Yo Han berkata,

"Ang I Moli, sejak dahulu engkau sungguh tak berubah, bahkan menjadi semakin jahat dan keji. Engkau melukai tiga orang petani yang tidak berdosa itu sampai mereka keracunan dan engkau mau meninggalkan mereka begitu saja? Mana tanggung jawabmu? Engkau harus menyembuhkan dulu mereka, baru boleh pergi!"

Ang I Moli mengerutkan alisnya. Mana ia mau mentaati permintaan bocah itu?

"Huh! Peduli apa aku dengan mereka?"

Serunya dan ia pun sudah meloncat pergi. Akan tetapi Yo Han juga meloncat dan anak ini terkejut sendiri akan tubuhnya melayang dan dia dapat menghadang di depan wanita pakaian merah itu.

"Aih, kiranya Tok-ong sudah melatihmu, ya? Yo Han, engkau masih kanak-kanak, sama sekali bukan lawanku, jangan coba-coba menghalangiku. Kalau aku tidak melihat muka gurumu, sekali pukul engkau akan mampus. Pergilah!"

"Moli, aku tidak mau berkelahi, aku tidak mau melawanmu atau melawan siapa saja. Akan tetapi aku minta pertanggungan jawabmu. Tiga orang itu tidak berdosa. Tidak boleh engkau meninggalkan mereka terluka tanpa kau obati. Hayo cepat kau sembuhkan mereka!"

"Bocah setan kau!"

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian-te Tok-ong terkekeh-kekeh.

"Ang I Moli, jangan mengira bahwa aku mencampuri urusan percekcokahmu dengan Yo Han anak kecil. Akan tetapi, di dalam dunia kita, sudah terdapat peraturan bahwa siapa yang menang harus ditaati dan siapa kalah harus mentaati. Nah, sekarang begini saja. Engkau boleh menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus, dengan ilmu pukulanmu yang mana pun, boleh semua kepandaianmu kau keluarkan, kecuali pukulan Toat-beng Tok-hiat itu. Kalau kau pergunakan pukulan itu dan sampai muridku mati, engkau akan kucabik-cabik. Akan tetapi semua pukulan lain boleh kau lakukan. Kalau sampai dua puluh jurus engkau tidak mampu merobohkannya, nah, engkau harus mentaati perintahnya mengobati tiga orang petani itu. Kalau sebelum dua puluh jurus dia jatuh, sudahlah, engkau boleh pergi dan aku yang akan menghajar kelancangan mulut muridku."

Mendengar ini, Lauw Kang Hui wakil ketua. Thian-li-pang yang datang pula ke situ diam-diam terkejut bukan main. Bagaimana sih supeknya itu? Tingkat kepandaian Ang I Moli sudah tinggi sekali. Apalagi setelah kini menguasai Toat-beng Tok-hiat,

Bahkan dia sendiri pun harus berhati-hati kalau melawan wanita itu. Dan kini supeknya menyuruh Moli menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus. Mana mungkin anak itu dapat bertahan? Baru satu dua jurus saja kepala anak itu dapat hancur! Akan tetapi tentu saja dia tidak berani mencampuri urusan supeknya yang amat ditakuti dan dihormatinya itu. Ang I Moli adalah seorang wanita iblis yang licik. Tadinya dengan senang sekali ia berhasil mendapatkan Yo Han, akan tetapi terpaksa ia melepaskan anak itu kepada Thian-te Tok-ong. Kini, mendengar tantangan itu, tentu saja ia mendapatkan kesempatan, untuk melampiaskan kemarahannya. Kalau ia membunuh anak itu, berarti anak itu tidak terjatuh ke tangan orang lain, dan ia pun dapat membalas penghinaan yang diterimanya ketika Yo Han menangkisnya tadi!

"Bagus sekali! Locianpwe Thian-te Tok-ong, bukan aku yang menantang. Syarat itu memang cukup adil. Nah, Yo Han yang manis, majulah ke sini untuk menerima kematianmu. Sayang masih begini muda terpaksa engkau harus mampus di tanganku."

"Suhu, teecu tidak sudi berkelahi, biarpun melawan iblis betina itu sekali pun,"

Kata Yo Han kepada gurunya sambil mengerutkan alisnya.

"Bocah tolol!. Siapa suruh engkau berkelahi? Akan tetapi ia hendak membunuh tiga orang petani itu, juga hendak membunuhmu. Engkau tidak perlu memukulnya engkau hanya menari saja seperti yang kau pelajari tadi. Gunakan tari monyet dan tari lutung, dan hendak kulihat apakah perempuan sombong ini mampu menyentuh selembar rambutmu. Hayo cepat engkau menari!"

Mendengar perintah ini, hati Yo Han tidak ragu lagi. Dia memang tetap berpendirian bahwa ia tidak akan sudi berkelahi menggunakan kekerasan memukul orang. Akan tetapi kalau hanya menari dan menghindarkan diri dari serangan orang, itu namanya bukan berkelahi dan bukan menggunakan kekerasan. Apalagi dia harus menyelamatkan nyawa tiga orang petani yang tidak berdosa itu. Maka, dia pun melangkah maju menghadapi wanita itu dengan hati tabah. Bagaimanapun juga, karena ia segan dan takut kepada Thian-te Tok-ong, Ang I Moli sekali lagi berkata,

"Locianpwe Thian-te Tok-ong, benarkah aku boleh menyerangnya sampai dua puluh jurus?"

"Perempuan sombong, siapa yang menyangkal? Cepat serang!"

Ang I Moli memang seorang yang amat licik dan curang. Biarpun yang dihadapinya itu seorang remaja berusia empat belas tahun, namun begitu mendengar ucapan Thian-te Tok-ong, tanpa memberi peringatan lagi tiba-tiba saja ia sudah menerjang dengan tamparan yang amat ganas, ke arah kepala Yo Han.

"Wuuut-wuut-wuuuttt....!"

Tiga kali ia menampar susul menyusul dan.... luput! Bagaikan seekor kera yang amat lincah. Yo Han sudah menari-nari dan semua tamparan itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya. Dia seperti telah melihat lebih dulu datangnya tamparan.

Tentu saja Ang I Moli terkejut, heran dan juga penasaran sekali. Kini ia tidak main-main lagi, mengeluar-kan jurus-jurusnya yang paling ampuh, bukan sekedar untuk menampar atau memukul, melainkan mengirimkan jurus pukulan mautnya! Bahkan, setelah lewat sepuluh jurus, berturut-turut ia memukul dengan pukulan ampuh Pek-lian Tok-ciang, yaitu pukulan beracun yang amat dahsyat, yang dikuasai oleh para murid Pek-lian-kauw. tingkat tinggi saja. Pukulan ini mengandung uap putih dan hawa beracun itu cukup untuk membuat orang yang menghisapnya roboh pingsan! Namun, Yo Han dengan gerakannya yang lincah selalu dapat menghindarkan diri, bahkan asap yang menerjangnya dan tanpa disengaja tersedot olehnya sama sekali tidak mempengaruhinya, bahkan dia masih sempat berseru,

"Aih, baunya harum!"

Tentu saja ucapan yang jujur dari Yo Han ini oleh Ang I Moli merupakan tamparan dan ejekan. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring. Tinggal tiga jurus lagi karena ia sudah menyerang sampai tujuh belas jurus tanpa hasil dan yang tiga jurus ini akan dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya,

Bukan tenaga sembarangan, melainkan ilmu pukulannya yang baru, yaitu Toat-beng Tok-hiat! Terdengar suara bercuitan seperti tikus-tikus terjepit ketika ia melancarkan pukulan ampuh Toat-beng Tok-hiat itu. Pukulan ini baru saja dirampungkannya latihannya dan merupakan pukulan tingkat tinggi yang amat hebat. Jangankan seorang anak remaja seperti Yo Han yang tidak pernah belajar ilmu silat, bahkan seorang wakil ketua Thian-li-pang seperti Lauw Kang Hui saja belum tentu akan mampu menahan pukulan maut itu! Diam-diam Lauw Kang Hui terkejut. Dia sendiri tidak sayang kepada Yo Han, akan tetapi dia tahu betapa sayangnya supeknya kepada anak itu sehingga kalau sampai Yo Han celaka, tentu nyawa Ang I Moli tidak akan dapat diselamatkan lagi!

Akan tetapi, Yo Han yang sama sekali belum menyadari bahwa semua latihan yang dilakukan secara rajin selama dua tahun ini adalah gerakan silat tinggi, telah memiliki ketajaman penglihatan yang luar biasa. Hal ini adalah karena sebagian besar dari waktunya dia berada di dalam guha yang gelap dan remang-remang. Maka, kini dia dapat melihat atau mengikuti gerakan tangan dan tubuh Moli dengan jelas sehingga memudahkan dia untuk berloncatan seperti seekor kera mengelak ke sana sini dan tiga kali hantaman berturut-turut yang mengeluarkan bunyi bercicit itu tidak ada yang, mengenai tubuhnya. Ang I Moli penasaran bukan main sehingga ia lupa diri, lupa bahwa sudah dua puluh jurus ia menyerang dan kini ia menubruk ke depan untuk menerkam anak yang dianggapnya telah membuat ia kehilangan muka itu.

"Takkk!"

Tubuh Moli terjengkang dan terguling-guling sampai lima meter jauhnya karena disodok ujung tongkat oleh Thian-te Tok-ong! Sungguh luar biasa sekali gerakan ini. Kakek itu masih duduk bersila, dan jaraknya cukup jauh. Akan tetapi, entah tongkatnya yang mulur atau lengannya yang memanjang, ujung tongkatnya dapat menyambut serangan Moli dan membuat wanita itu terjengkang.

"Moli, apa engkau ingin mampus? Sudah dua puluh jurus dan engkau masih ingin menyerang terus?"

Bentak kakek itu terkekeh. Ang I Moli cepat bangkit, dan memberi hormat.

"Maaf, Locianpwe, aku salah menghitung."

"Heh-heh-heh, engkau sudah kalah bertaruh. Hayo kau sembuhkan tiga orang itu kemudian cepat pergi dari sini, jangan sekali lagi sampai bertemu denganku, karena aku tidak akan sudi mengampunimu lagi!"

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Ang I Moli. Ia memang tahu bahwa Thian-te Tok-ong adalah orang nomor satu dari Thian-li-pang,

Bahkan merupakan seorang tokoh langka yang tidak pernah mencampuri urusan dunia. Dikalahkan Thian-te Tok-ong masih belum merupakan hal yang memalukan. Akan tetapi, ia, datuk besar yang baru saja selesai menguasai ilmu yang amat hebat, ilmu Toat-beng Tok-hiat yang dianggapnya akan dapat membuat ia menjadi seorang yang paling lihai di dunia, atau setidaknya seorang di antara yang paling lihai, kini tidak dapat merobohkan seorang bocah berusia empat belas tahun yang tidak pandai ilmu silat! Maka, setelah ia memandang kepada Yo Han dengan sinar mata mengandung penuh kebencian, dan di dalam hatinya ia mencatat bahwa kelak pada suatu hari ia pasti akan membunuh anak ini dan menghisap darahnya sampai tidak tertinggal setetes-pun, ia lalu membalikkan tubuhnya dan sekali meloncat ia pun lenyap dari tempat itu.

"Heh-heh-heh-heh, Yo Han, kau ingat. Ialah mungkin wanita yang kelak harus kau bunuh, kalau tidak engkau yang akan dibunuhnya, heh-heh!"

Posting Komentar