Kisah Si Bangau Merah Chapter 49

NIC

Tanyanya, sekuat tenaga menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan keluhan. Kakek itu menghampiri, langkahnya sudah gontai karena memang dia sudah tua sekali. Akan tetapi matanya mencorong aneh dan berulang kali dia menggeleng. kepala.

"Luar biasa! Ajaib, seribu kali ajaib! Tahukah engkau, Yo Han, kalau orang lain yang menangkis dan menangkapi ranting-ranting tadi, tak peduli bagaimana tinggi ilmunya saat ini dia sudah akan menjadi kaku dan mampus?"

Yo Han terbelalak memandang wajah tua itu.

"Akan tetapi, kenapa, Suhu?"

"Ranting-ranting itu semua sudah kupasangi bubuk racun yang paling berbahaya di dunia ini, terdiri dari racun segala macam ular yang paling ampuh. Ular cobra, ular belang hitam, ular merah, ular emas, bahkan racun kalajengking hijau. Siapapun yang terkena, pasti mati seketika. Akan tetapi engkau.... engkau hanya luka-luka dan tangan kakimu membiru saja! Bukan main!"

"Tapi, kenapa, Suhu? Apakah Suhu bermaksud untuk mem-bunuh teecu?"

"Ha-ha-ha-ha, aku sayang padamu, aku kagum padamu, kepadamulah seluruh tumpuan harapanku kuberikan, bagaimana mungkin aku akan membunuhmu? Aku hanya akan mengujimu! Andaikata racun-racun itu mengancam nyawamu, aku sudah mempersiapkan obat penawarnya. Sekarang tidak perlu lagi. Racun itu hanya berhenti sampai dipergelangan tangan dan kakimu. Entah kemujijatan apa yang melindungi dirimu, Yo Han."

"Tidak ada kemujijatan apa-apa kecuali kekuasaan Tuhan yang teecu yakin akan selalu melindungi teecu, Suhu."

"Heh-heh-heh, sudah terlalu sering engkau mengatakan begitu. Akan tetapi, bagaimana ada kekuasaan Tuhan melindungimu, tidak melindungi orang lain?"

"Suhu, bagaimana teecu bisa tahu? Kehendak Tuhan, siapa yang tahu? Teecu hanya merasakan bahwa ada sesuatu diluar kehendak akal plkiran teecu, teecu hanya menyerahkan kepada Tuhan, menyerah dengan sepenuh jiwa raga teecu. Apa pun yang dikehendaki Tuhan atas diri teecu, akan teecu terima tanpa mengeluh."

"Engkau memang anak aneh sekali. Bagaimana rasanya jari-jari tangan dan kakimu?"

"Rasanya ngilu, nyeri kaku dan gatal-gatal."

"Heh-heh-heh, tidak percuma gurumu ini berjuluk Tok-ong (Raja Racun), akan tetapi sekali ini, Tok-ong sama sekali tidak berdaya menghadapi kekuasaan Tuhan yang ada pada dirimu. Buktinya, engkau tidak apa-apa. Kalau bukan engkau keadaanmu ini merupakan penghinaan besar bagiku dan sekali pukul engkau akan mampus. Akan tetapi engkau muridku, bahkan engkau akan kuajari bagaimana untuk mengobati pengaruh racun dariku."

"Akan tetapi, Suhu, teecu tidak akan menggunakan racun. Teecu tidak mau mencelakai orang, tidak mau meracuni orang."

"Ha-ha-ha, engkau tidak mau mencelakai orang, akan tetapi akan dicelakai orang, engkau tidak mau meracuni orang, akan tetapi engkau akan diracuni orang. Aih, Yo Han, engkau belum tahu apa artinya hidup ini. Kau kira dunia ini seperti sorga? Neraka pun tidak sebusuk dunia, kau tahu? Setan-setan pun tidak sejahat manusia, kau tahu?"

"Tidak, Suhu! Teecu tidak percaya. Semua manusia pada dasarnya baik. Hanya karena mempelajari ilmu kekerasan, maka dia menjadi jahat dan hendak mengandalkan kekerasan untuk mencari kemenangan. Dan teecu tidak sudi mempelajari kekerasan."

Thian-te Tok-ong tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan muridnya itu. Bagaimana dia tidak akan merasa geli? Selama dua tahun ini dia telah menggembleng Yo Han dengan ilmu-ilmu yang amat hebat, ilmu yang akan dapat membunuh puluhan orang lawan dan anak ini masih mengatakan tidak sudi mempelajari kekerasan! Mereka berada di tengah guha itu, tidak nampak dari luar. Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dari luar pintu guha, disusul kata-kata yang lembut seorang wanita, namun yang dapat terdengar sampai ke dalam guha.

"Thian-te Tok-ong, keluarlah engkau, aku Ang Moli ingin bicara denganmu!"

Mendengar suara yang melengking nyaring ini, diam-diam Yo Han terkejut. Tentu saja dia mengenal siapa itu Ang I Moli, orang pertama yang memaksanya menjadi murid walaupun dia tidak pernah diajarkan apa pun. Dia tahu bahwa wanita itu seperti iblis, selain amat lihai, juga amat jahat dan kejam, maka diam-diam dia mengkhawatirkan keselamatan kakek tua renta yang selama ini bersikap baik kepadanya. Akan tetapi kakek itu terkekeh.

"Ang I Moli, suaramu sudah cukup nyaring dan dapat terdengar dari sini. Perlu apa aku harus keluar menemuimu? Kalau mau bicara, bicaralah, dari sini pun aku dapat mendengarmu dengan baik."

"Thian-te Tok-ong, tidak perlu kujelaskan lagi, tentu kunjunganku ini sudah kau ketahui maksudnya. Aku datang untuk menuntut janjimu untuk menukar Sin-tong dengan obat penawar racun ilmu yang telah kusempurnakan."

"Heh-heh-heh, engkau sudah menyempurnakan Toat-beng Tok-hiat (Darah Beracun Pencabut Nyawa)? Hebat! Ilmu semacam itu hanya ada seratus tahun yang lalu dan. kini engkau berhasil menguasainya? Perempuan iblis, engkau akan menjadi seorang tanpa tanding, heh-heh-heh! Mari, Yo Han, mari kita keluar melihat iblis betina itu!"

Kakek itu menjulurkan tongkatnya kepada Yo Han. Anak itu memegang ujung tongkat dan menuntun gurunya keluar dari dalam guha. Dia sendiri sudah sering keluar guha, akan tetapi kakek itu tidak pernah sehingga setelah kini dia keluar dari guha, matanya disipitkan, silau, dan mukanya nampak pucat seperti mayat hidup. Diam-diam Ang I Moli sendiri bergidik. Kakek ini seperti bukan manusia lagi dan ia pun sudah mendengar bahwa kakek tua renta ini merupakan tokoh nomor satu dari Thian-li-pang yang memiliki tingkat kepandaian tak dapat diukur tingginya.

Setelah Yo Han dan Thian-te Tok-ong tiba di luar guha, mereka melihat ada beberapa orang di situ. Selain Ang I Moli yang kini nampak semakin cantik saja, juga di situ terdepat Lauw Kang Hui, wakil ketua Thian-li-pang yang berlutut, dan ada pula lima orang pria lain yang melihat pakaian mereka adalah petani-petani biasa dan nampaknya mereka itu ketakutan, berlutut pula tanpa berani mengangkat muka. Hanya Ang I Moli seorang yang tidak berlutut. Hal ini tidaklah aneh karena ia bukan anggauta Thian-li-pang, bahkan ia adalah pemimpin dari perkumpulan Ang I Mopang di luar kota Kun-ming. Dua tahun yang lalu, ketika ia bersekutu dengan Thian-li-pang, kemudian menyerahkan Yo Han kepada Lauw Kang Hui wakil ketua Thian-li-pang untuk ditukar dengan dua belas orang pemuda remaja,

Ia lalu membawa dua belas orang remaja itu pergi. Diam-diam ia mulai melatih diri dengan ilmu kejinya itu, mengorbankan nyawa dua belas orang remaja yang dihisap darahnya, dan kini, dua tahun kemudian, ia telah berhasil dengan ilmunya itu dan datang menagih janji, yaitu untuk minta obat penawar bagi keampuhan ilmunya yang beracun. Baginya sendiri, ilmu tanpa ada obat penawarnya amat berbahaya bagi diri sendiri, juga tidak dapat dipergunakan untuk memaksakan kehendaknya kepada lain orang. Dan di dunia ini, yang mampu membuatkan obat penawar bagi segala macam ilmu pukulan beracun hanyalah Thian-te Tok-ong seorang! Begitu kakek tua renta itu muncul, Ang I Moli membungkuk dengan sikap hormat. Lauw Kang Hui yang berlutut juga memberi hormat dan berkata,

"Teecu mohon Supek sudi memaafkan kalau teecu mengganggu ketentraman Supek. Teecu mengantarkan Ang I Moli yang hendak menagih janji dua tahun yang lalu."

"Heh-heh-heh, Lauw Kang Hui, mulutmu bicara satu akan tetapi hatimu bicara dua. Katakan saja bahwa engkau pun datang untuk menagih janji minta diajari sebuah ilmu. Benar tidak?"

Wajah Lauw Kang Hui yang biasanya sudah memang merah itu menjadi semakin gelap, akan tetapi dia, menyembah lagi dengan segala kerendahan hati.

"Supek, teecu hanya menyerahkan kepada kebijaksanaan Supek, karena semua itu demi kemajuan Thian-li-pang kita."

"Baiklah, kau tunggu saja. Sekarang, Moli. Aku bukan orang yang suka melanggar janji. Yo Han memang menyenangkan dan sudah menjadi muridku. Untuk itu, aku tentu akan memenuhi janjimu. Akan tetapi, bagaimana aku akan dapat membuat obat pemunah dari ilmu kejimu itu kalau aku tidak melihat dulu buktinya."

Ang I Moli tertawa genit dan memang wanita ini masih manis sekali seperti orang muda saja walaupun usianya sudah empat puluh tahun.

"Locianpwe Thian-te Tok-ong, aku sudah mempersiapkan segalanya. Lihatlah lima orang dusun ini. Mereka yang akan kujadikan kelinci percobaan. Nah, harap kau lihat baik-baik!"

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, yang nampak hanya berkelebatnya bayangan merah saja dan tahu-tahu tiga di antara lima orang itu roboh terpelanting. Padahal, Ang I Moli hanya mendorongkan telapak tangannya dari jauh saja tanpa menyentuh orangnya, dan dari telapak tangan itu menyambar hawa yang kebiruan ke arah mereka.

"Keji sekali kau!"

Tlba-tiba Yo Han berseru dan dari tempat ia berdiri, Yo Han teringat akan ilmu senamnya dan dia pun mendorongkan kedua tangannya ke arah dua orang yang belum roboh. Dua orang itu seperti kena disambar angin keras dan tubuh mereka, terguling-guling sampai jauh akan tetapi mereka terhindar dari, pukulan beracun Ang I Moli! Melihat ini, Ang I Moli marah sekali dan ia pun mengerahkan pukulan kedua tangannya, didorongkan ke arah tubuh Yo Han. Anak ini pun menyambut. dengan gerakan senam yang dinamakan "mendorong bukit".

"Dess....!"

Yo Han terjengkang dan roboh pingsan. Akan tetapi Ang I Moli terhuyung, berpusing lalu roboh dan muntah darah! Wanita itu terbelalak, penuh kekagetan,

Keheranan dan juga ketakutan karena ia merasa betapa ilmunya yang amat keji itu, yaitu yang ia beri nama Toat-beng Tok-hiat, tadi ketika bertemu dengan tenaga dari kedua tangan anak itu, telah membalik dan melukai dirinya sendiri! Ia tahu bahwa ia telah menjadi korban pukulannya sendiri yang membalik dan ia sendiri tidak mempunyai obat penawarnya! Keadaannya sama dengan tiga orang petani yang dijadikan kelinci percobaan. Mereka pun roboh dan muntah darah. Baik wajah tiga orang itu maupun wajah Ang I Moli berubah menjadi kebiruan! Thian-te Tok-ong menghampiri Yo Han dan dia tertawa terkekeh-kekeh saking girangnya melihat betapa biarpun pingsan Yo Han sama sekali tidak terluka. Dia menotokkan tongkatnya ke tengkuk anak itu dan Yo Han pun siuman kembali. Dia meloncat bangun dan memandang ke arah Ang I Moli dengan mata terbelalak.

"Suhu.... apakah teecu.... membuat ia roboh....?"

Thian-te Tok-ong mengangguk.

"Kalau engkau tidak mempergunakan senam mendorong bukit, tentu engkau akan roboh keracunan atau mungkin sudah tewas. Ilmu iblis betina itu keji bukan main."

Ang I Moli terengah-engah dan bangkit duduk.

"Locianpwe, aku yakin bahwa seorang Locianpwe seperti engkau ini tidak akan menelan ludah sendiri dan akan memenuhi janjinya. Aku menuntut diberi obat penawar untuk ilmu pukulan ini."

"Ha-ha-ha, sudah lama kubuatkan. Aku mengenal pukulan keji semacam itu, Moli. Akan tetapi engkau masih untung. Kalau engkau tadi membuat Yo Han tewas, engkau pun tentu akan kubunuh! Nah, inilah obat penawarnya, berikut catatan cara membuatnya, terimalah dan buktikan kemanjurannya pada dirimu sendiri."

Kakek itu melemparkan sebuah bungkusan yang diterima oleh Ang I Moli. Isi bungkusan itu ternyata belasan butir pel merah dan sehelai kertas catatan resep pembuatannya. Menurutkan petunjuk catatan, Ang I Moli menelan sebutir pel merah dan setelah bersila sejenak, wajahnya berubah merah kembali dan ia merasa betapa pengaruh racun di tubuhnya lenyap. Ia girang bukan main, meloncat berdiri lalu membungkuk terhadap Thian-te Tok-ong.

"Nama besar Thian-te Tok-ong ternyata bukan nama kosong dan bukan seorang pembohong. Aku menghaturkan banyak terima kasih."

Posting Komentar