Kisah Sepasang Naga Chapter 44

NIC

Giok Ciu melempar-lemparkan hancuran suling itu ke atas dan angin gunung membawa bubukan itu bertebaran ke mana-mana,"Ha, ha, ha! Lihatlah, lihatlah, hai bunga dan pohon! Lihatlah betapa citacita itu telah lebur, telah cerai berai dan musna terbawa angin.

Lihatlah betapa semua telah hancur, telah hancur.....

sekarang tidak ada apa-apa lagi......

hancur lebur.....

habis.........." Dan kembali ia tertawa menyeramkan, tapi suara ketawanya itu berangsur-angsur menjadi isak tangis sedih.

Lalu Giok Ciu lari dari situ dengan cepat sekali sambil membawa suara tangisnya makin menjauh.

"Moi-moi......!" Sin Wan juga lari mengejar, tapi tiba-tiba Giok Ciu mencabut pedang Ouw Liong Pokiam dan membalikkan tubuh dengan pedang hitam itu melintang di dada.

Sikapnya garang sekali dan ia membentak, "Bangsat rendah! Kau mau apa? Jangan halang-halangi pergiku, kembalilah kepada isteri dan anakmu! Awas, satu tindak saja kau melangkah maju, aku akan mengadu jiwa denganmu!" Tadinya Sin Wan hendak nekad maju, tapi ia pikir lagi bahwa Giok Ciu sedang panas hati dan mata gelap, maka tidak baik kalau dipaksa dan mungkin akan terjadi pertempuran mati-matian dan ia anggap ini bukanlah penyelesaian yang baik.

Maka ia hanya memandang gadis itu dengan wajah sedih, lalu berkata, "Baiklah, moi-moi.

Kau menuduh aku yang bukan-bukan tanpa memberi kesempatan dan ketika kepadaku untuk membela diri!" Tapi Giok Ciu tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bicara terus karena gadis itu telah membalikkan tubuhnya dan lari ke bawah gunung dengan cepat sekali dan Ouw Liong Pokiam di tangannya berkilau-kilau ditimpa sinar matahari! Akhirnya Sin Wan membalikkan tubuhnya setelah bayangan gadis itu tidak tampak lagi dan ia teringat kembali akan Suma Li Lian, maka dengan kertak gigi karena gemas, ia lari kembali ke tempat gadis bangsawan itu.

Ia melihat betapa gadis itu berdiri sambil menyusui anak itu, maka wajah Sin Wan memerah.

Ia memalingkan mukanya dan dalam keadaan malu dan jengah melihat betapa Li Lian di hadapannya tanpa malu-malu menyusui anak itu, timbullah keheranan besar dalam hati Sin Wan.

Li Lian telah mempunyai anak dan mengaku bahwa anak itu adalah anaknya pula! Li Lian mengaku bahwa dia adalah suaminya! Sungguh gila, gila dan lucu.

Sambil berdiri membelakangi Li Lian, Sin Wan berkata, "Sumasiocia, kalau kau sudah selesai menyusui anak itu, katakanlah agar kita bisa bicara dengan baik." Beberapa lamanya mereka berdiri dalam keadaan demikian.

Li Lian berdiri menyusui anaknya sambil memandang tubuh belakang Sin Wan dengan mata sayu dan agak terheran melihat sikap pemuda itu, sedangkan Sin Wan berdiri memangku kedua lengan sambil memeras otaknya mengapa timbul perkara aneh dan gila ini! Tak lama kemudian terdengar Li Lian berkata kepadanya, "Kanda Sin Wan, sungguh aku tidak mengerti akan sikapmu.

Kau adalah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi tinggi.

Benarbenarkah kau tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu sendiri?" Sin Wan kertak giginya dengan marah dan gemas sekali.

"Sudah selesaikah kau menyusul anakmu?" bentaknya.

"Sudah, biarpun aku tidak mengerti mengapa kau pura-pura tidak bisa melihat anakmu sendiri menyusu di dada ibunya!" jawab Li Lian penasaran.

Bagaikan kilat cepatnya Sin Wan meloncat sambil membalikkan tubuh dan ia berdiri di depan Li Lian.

Gatal-gatal tangannya hendak menampar perempuan ini, tapi melihat betapa sepasang mata yang bening dan wajah yang ayu itu tampak sangat agung memandangnya tanpa rasa takut sedikitpun juga, ia menjadi lemas.

"Nona Suma, sekarang kau katakanlah yang sebenarnya.

Mengapa kau lakukan hal keedan-edanan ini?Apakah salahku kepadamu maka kau memfitnah padaku?" Tiba-tiba Sin Wan menjadi pucat dan kedua matanya bersinar-sinar.

Ia lalu tertawa dan berkata kepada Li Lian yang terheran-heran.

"Ha, ha, ha! Kau perempuan licin! Sungguh kau cerdik dan lihai! Kini aku tahu, tentu kau lakukan ini untuk membalas dendammu karena aku telah membunuh ayahmu bukan? Ha, ha, ha! Benar-benar kau hebat dan lihai! Dengan tenaga kau tak mungkin dapat membalas, kini kau membalas, dengan akal jahatmu.

Tapi hasil muslihatmu ini ternyata lebih hebat dan sakit rasanya daripada kalau kau membalas dengan pukulan maut! Ah, mengapa Giok Ciu tidak menginsafi hal ini........?" "Koko Sin Wan! Jangan kau ngaco belo tidak karuan......." Dan tiba-tiba Li Lian menangis sedih.

"Aku....

mengapa pula aku harus membalas dendam? Bukankah aku sudah menjadi isterimu? Koko, biarpun kau hendak berlaku pengecut dan mengingkari janji dan membodohi semua orang, tapi kau tidak dapat menipu Thian Yang Maha Agung! Inilah buktinya! Lihatlah anak ini, inilah hasil pertemuan kita dulu! Atau kau pura-pura lupa ketika kau memasuki kamarku pada pagi hari dulu itu? Koko, kau tahu bahwa aku.....

aku mencinta padamu, kalau tidak demikian halnya, mungkinkah aku sudi melayanimu sedangkan aku tahu bahwa kau adalah musuh ayahku? Aku telah korbankan ayahku, korbankan namaku, korbankan perasaanku untuk membalas cintamu, tapi mungkinkah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi seperti engkau ini mempunyai hati palsu? Ah, tak mungkin! Aku takkan percaya! Wajahmu tak mungkin palsu tapi.....

mengapa sikapmu begini terhadapku, koko......" dan dengan sangat sedihnya Li Lian menangis dan menutupi mukanya sehingga ia tidak melihat betapa Sin Wan mendengarkan ucapannya dengan wajah makin terheran dan mata makin lebar terbelalak.

Sin Wan benar-benar tak berdaya karena herannya.

Setelah menggunakan lidahnya membasahi bibirnya yang kering, ia akhirnya berkata dengan halus, "Nanti dulu, nona, tenanglah dulu.

Coba kau ceritakan padaku tentang pagi hari itu, pada waktu mana kau bilang aku memasuki kamarmu.

Coba ceritakanlah hal itu dengan terus terang." Suma Li Lian memandangnya heran dan seakan-akan tak percaya akan apa yang didengarnya dari mulut pemuda itu.

Akhirnya ia menghela napas dan berkata,"Baiklah kalau kau kehendaki itu.

Dulu ketika mendengar bahwa kau mencari-cari ayahku untuk kau bunuh, hatiku hancur dan sedih sekali, karena sesungguhnya aku tidak suka melihat kau membunuh ayah.

Pertama-tama memang sebagai seorang anak tentu saja aku tidak rela kalau ayah dibunuh orang, kedua, di lubuk hatiku aku sangat tertarik dan suka kepadamu yang biarpun menjadi musuh ayahku, namun kau telah berlaku sopan dan jujur terhadapku, bahkan kau telah membela aku dari kemarahan Kwie lihiap.

Semenjak itulah maka timbul rasa cinta di dalam hatiku.

Malam ketika kau pergi itu aku tak dapat tidur.

Menjelang fajar, aku melihat bayangan orang memasuki kamarku dari jendela.

Karena lampu telah padam, maka aku tak dapat mengenal mukamu, hanya dapat menduga karena potongan tubuhmu kukenal baik dan bayangan itu potongan tubuhnya memang sama dengan engkau.

Kemudian kau membuka suara memanggilku, maka aku tidak ragu-ragu lagi bahwa kaulah yang datang.

Kau menyatakan cintamu tanpa banyak kata dan aku.........

aku tak berdaya menolakmu karena.....

memang aku cinta padamu....! Ah, kanda Sin Wan, perlukah hal ini disebut-sebut lagi? Atau apakah ketika itu kau hanya pura-pura saja dan sengaja mempermainkan aku?" Tiba-tiba Sin Wan mengangkat tangan dan meramkan mata karena ia sedang memikir keras.

"Nanti dulu.....

ketika hal itu terjadi, yakni ketika bayangan itu memasuki kamarmu, apakah waktu itu sudah terdengar ayam berkokok?" Suma Li Lian mengingat-ingat lalu berkata tetap," Belum, koko, karena aku ingat betul bahwa setelah kau pergi meninggalkan aku, barulah aku mendengar suara ayam berkoko memasuki jendela kamarku yang terbuka karena kau agaknya lupa menutup kembali." Sin Wan mengangguk-angguk,"Hmm, aku tahu sekarang mengapa kau dulu ketika hendak berpisah dengan aku, mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti sama sekali, yakni kau sesalkan aku yang tidak ingat akan kejadian pagi itu.

Kini aku mengerti.

Ketahuilah, Sumasiocia, Pada saat itu aku masih belum kembali ke kelenteng, dan datangku ke kelenteng adalah pada waktu matahari telah naik tinggi! Pada saat ada orang memasuki kamarmu itu aku tengah mencegat seorang diri di hutan, mencegat kendaraan ayahmu!" Kini wajah suma Li Lian menjadi pucat sekali, dan ia lalu berkata dengan suara yang hampir tidak kedengaran, "Apa........? Kalau begitu........

siapakah.......

siapakah........?" ia lalu menggunakan kedua tangan menutupi mukanya yang pucat dan terlihat oleh Sin Wan betapa sepuluh jari itu menggigil hingga timbul hati iba di dalam hatinya terhadap nasib gadis yang malang ini.

"Siocia, biarpun tidak ada bukti, namun aku berani pastikan bahwa yang menganggu engkau tentu bukan lain orang ialah Gak Bin Tong!" "Apa katamu?" Li Lian berteriak keras.

Sin Wang mengangguk-angguk, "Kau tentu tidak mengetahui bahwa pada malam itu, pemuda muka putih itu bermalam di kelenteng.

Ia memiliki ilmu silat yang tinggi juga dan tentang potongan tubuh, memang ia sama dengan aku agaknya.

Pula, ia memang terkenal sangat cerdik dan licin, juga aku tahu bahwa ia mempunyai adat yang buruk, maka sudah pasti ia meniru-niru suaraku untuk mengelabui engkau!"" Mendengar kata-kata ini, tiba-tiba Li Lian berteriak dan roboh pingsan! Sin Wan cepat sekali menyambar tubuh nona itu, lalu mengambil anak kecil dari gendongan Li Lian dan merebahkan tubuh itu perlahan di atas rumput.

Anak itu menangis keras dan Sin Wan terpaksa gendong anak itu sambil mengayun-ayunnya di dalam lengannya.

Ia merasa kasihan sekali melihat Li Lian dan di dalam hati ia bersumpah hendak membunuh Gak Bin Tong manusia keparat itu! Ketika Li Lian sadar dari pingsannya, ia menangis menggerunggerung dan memukul-mukul kepala sendiri.

Rambutnya menjadi awutawutan dan berkali-kali ia mengeluh, "Ya Tahun, Engkau tidak adil! Sungguh tidak adil!! Mengapa aku harus menderita semua ini? Koko Sin Wan, biarpun perbuatanku itu rendah dan hina, tapi agaknya aku masih sanggup mempertahankan hidupku bahkan sanggup mencapai kebahagiaan jika kiranya engkaulah orang itu! Tidak kusangka.......

dia itu.....

Gak Bin Tong keparat, manusia iblis terkutuk.....

إرسال تعليق