Kisah Sepasang Naga Chapter 43

NIC

kau tolonglah, lihiap.

Aku sedang mencari ayah anak ini, dan dia dulu pernah memberi tahu padaku bahwa jika aku hendak mencari padanya aku harus mendaki bukit Kam-hong-san ini" Makin keras debar jantung Giok Ciu dan ia kini merasa betapa kedua kakinya menggigil, tapi sedapat mungkin ia menahan dan menindas perasaan ini.

"Siapa siapakah ayah anak ini dan.

Dan ini anak siapakah.?" Tanyanya gagap.

"Ini adalah anakku, lihiap, dan ayahnya.

adalah Bun Sin Wan.." Biarpun tadi dengan kuatir sekali di dalam dada Giok Ciu telah ada yang menduga akan hal ini, naun keluarnya pernyataan dari bibir Suma Li Lian sendiri itu membuat ia merasa seakan-akan bumi yang dipinjaknya bergoyang-goyang hingga kedua matanya menjadi gelap dan kepalanya pening.

Ia terhuyung-huyung, tapi segera ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaannya.

Setelah mengatur napas beberapa lama, barulah ia tenang kembali dan kegelapan yang menyelimuti dirinya berangsur-angsur lenyap.

Ia lalu memandang wajah yang cantik tapi agak pucat dihadapannya itu, dan sedapat mungkin ia menekan suaranya hingga tidak terdengar ketus.

"Nona Suma, tidak salahkan pendengaranku tadi bahwa ayah anakmu ini adalah Bun Sin Wan?" tanyanya.

Suma Li Lian memandang Giok Ciu dengan sinar mata penasaran hingga mata yang bening bagaikan mata burung Hong itu memancarkan cahaya.

"Kwi Lihiap, biarpun aku bukan seorang wanita gagah seperti engkau, namun tetap mempunyai kesetiaan dan kejujuran dalam hal ini.

Kalau bukan kanda Sin Wan yang menjadi suamiku, untuk apakah aku mengatakan bahwa dia adalah ayah anakku ini?" Dan setelah berkata demikian ia memandang Giok Ciu dengan sikap menantang.

"Kau bohong!" teriak Giok Ciu marah sekali.

"Kau sengaja memfitnah orang! Kau perempuan hina yang harus mampus!" Dengan pedang terhunus di tangan, Giok Ciu mengancam.

Tapi Suma Li Lian tidak takut, bahkan tetap tersenyum tenang, "Kwie Lihiap, mungkin kau mencinta kanda Sin Wan dan karenanya menjadi sakit hati kepadaku.

Tapi jangan kau sebut aku pembohong karena aku sama sekali tidak bohong padamu.

Anak ini adalah anak kanda Sin Wan dan aku! Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja hal ini kepadanya sendiri.

Bukankah ia ada di sini?" "Suma Li Lian! Kalau kau memfitnah, jangan anggap aku keterlaluan kalau aku akan cincang hancur tubuhmu! Bun Sin Wan selalu bersamaku dan kami tak pernah berpisah.

Bagaimana kau dapat berkata bahwa anak ini adalah anaknya?" Kini Giok Ciu berubah pucat sekali dan bibirnya terasa kering.

Sinar matanya seakan-akan memohon kepada Li Lian supaya menarik kembali kata-kata tuduhan tadi.

Tapi kata-kata yang keluar dari mulut Li Lian yang tenang itu bagaikan sebilah pisau berbisa yang mengiris-iris jantungnya.

"Kwie Lihiap, memang benar kata-katamu itu, dan akupun hanya sekali saja bertemu dengan kanda Sin Wan.

Tapi pertemuan yang sekali itu telah mengikat kami menjadi suami isteri dan bukti yang terutama ialah anak kami ini.

Ingatkah kau ketika Sin Wan pergi seorang diri hendak mencegat ayahku? Bukankah waktu itu kau tidak ikut dan tinggal di dalam kelenteng? Nah, pada waktu itu, larut tengah malam menjelang fajar, pada waktu itulah kami bertemu, atau lebih tepat, kanda Sin Wan menemuiku.

Ia memasuki kamarku dan menyatakan cintanya padaku.

Pada saat itulah kami menjadi suami isteri." Giok Ciu maju dan memegang erat lengan Li Lian.

"Kau..

kau.

katakanlah sebetulnya, apakah kau tidak bohong? Apakah hal ini terjadi betul-betul? Mengapa kau tidak berteriak pada waktu itu?" Suma Li Lian menundukkan muka dengan wajah memerah, "Aku tidak membohong, lihiap.

Demi kehormatanku, demi Thian Yang Maha Kuasa, aku tidak membohong.

Biarpun aku tidak dapat melihat wajahnya pada waktu itu dan keadaan gelap, namun aku dapat mengenal suaranya dan iapun mengaku bahwa ia adalah kanda Sin Wan sendiri.

Dan aku.

aku tentu akan berteriak minta tolong, kalau saja dia bukan kanda Sin Wan..aku, aku cinta padanya, lihiap.

Aku cinta kepada musuh ayahku!! Sekarang, sekarang..

aku merasa malu dan hina sekali, tapi apa boleh buat anak ini telah terlahir dan perlu bertemu dengan ayahnya" Maka menangislah Li Lian tersedu-sedu dan Giok Ciu melepaskan pegagannya pada lengan tangan ibu muda itu, dan gadis itu berdiri termenung seakan-akan semangatnya telah meninggalkan tubuhnya.

Ia tidak measa betapa air matanya mengalir turun dari sepasang matanya yang suram, tidak tahu betapa wajahnya pada saat itu lebih menyerupai seorang mayat hidup! Kemudian ia teringat sesuatu.

"Benarkah kau telah mengkhianati seorang she Gak dan mengatakan kepada para pahlawan bahwa dia ini mempunyai hubungan dengan kami?" "Benar, lihiap.

Aku benci sekali kepadanya.

Telah beberapa kali ia bersikap tak patut terhadapku, maka aku segera mengadukan dia dan sepanjang yang kudengar, ia dikejar-kejar oleh para pengawal kaisar.

Lihiap, sekarang kau tologlah aku, dimanakah adanya kanda Sin Wan?" "Kau hendak bertemu padanya? Boleh! Memang kau harus bertemu padanya, kau harus bertemu sekarang juga! Hayo, kuantar kau!!"" Kemudian Giok Ciu mengajak Suma Li Lian naik ke lereng bukit itu.

Ibu muda itu naik dengan sukar sekali, tapi Giok Ciu tidak memperdulikannya, bahkan berjalan mendahuluinya dengan tindakan bagaikan orang mabok.

Sin Wan yang baru saja sadar dari siulian, menyambut kedatangan Giok Ciu dengan senyum gembira.

Tapi ia kaget sekali melihat wajah gadis itu.

Ia segera maju hendak memegang tangan Giok Ciu, tapi gadis itu berkelit cepat dan memandangnya penuh kebencian.

Nyata sekali betapa Giok Ciu menahan-nahan nafsunya hendak menyerang Sin Wan.

"Moi-moi.

Kau kenapakah??" Sin Wan cemas sekali melihat keadaan Giok Ciu yang disangkanya sakit atau telah terjadi hal yang hebat.

Tapi Giok Ciu hanya menggigit bibir dan memandangnya dengan mata yang kini mulai digenangi air mata! Pada saat itu terdengar suara kaki orang menaiki jalan naik itu dengan susah payah.

Sin Wan cepat memandang dan terkejutlah ia ketika melihat betapa Suma Li Lian sambil menggendong anak kecil sedang mendaki dengan napas terengah-engah karena sangat kelelahan! Sebagai seorang berbudi halus, melihat keadaan Li Lian, Sin Wan tidak tega mendiamkannya saja, maka cepat ia maju dan mengulurkan tanggannya untuk membantu gadis itu menaiki sebuah batu.

Tapi tak disangkanya sama sekali, ketika Suma Li Lian telah berdiri tetap didepannya, wanita itu segera menubruk dan memeluknya sambil berbisik tercampur isa.

"Kanda Sin Wan alangkah banyak derita kualami dalam mencari engkau" maka terdengarlah tangis mengharukan dibarengi dengan pekik tangis bayi dalam gendongan ibunya itu.

Sin Wan mendengar sebutan Li Lian padanya itu menjadi heran sekali.

Ia mengangkat-angkat kedua alis matanya dan memandang dengan muka bodoh.

Tak dapat ia berlaku kasar untuk mencegah pelukan Li Lian, karena ia tahu betapa gadis itu sangat lelah dan juga ia takut kalau-kalau anak dalam gendogan itu akan terjatuh.

"Suma-siocia, kau tenanglah, jangan peluk-peluk aku seperti ini.

Duduklah dan mari kita bicara baik-baik," katanya dengan halus.

"Koko..

kenapa kau masih sebut aku siocia? Lihat..

lihatlah! Ini adalah anakmu! Anak kami, terlahir lima bulan yang lalu! Koko.

ternyata jodoh kita tak dapat direnggut putus demikian saja, lihat anak ini belum kuberi nama, sengaja kubawa kepadamu, kepada ayahnya untuk menimangnya dan memberinya nama." Kalau ada geledek menyambar barangkali Sin Wan takkan sekaget ketika mendengar kata-kata Suma Li Lian ini.

Ia merasa seakan-akan seluruh rambut dikepala dan tubuhnya berdiri dan meremang.

Ia takut kalau-kalau wanita ini telah menjadi gila1 Tak terasa pula ia mundur beberapa langkah dengan napas terengahengah, lalu katanya, "Suma-siocia, apakah yang kau maksudkan dengan semua ini? Kau telah menjadi gila atau akukah yang sedang mimpi?" Kemudia Sin Wan berpaling kepada Giok Ciu yang masih memandangnya seperti tadi, bahkan kini di sudut bibir gadis itu membayang senyum menghina.

"Moi-moi, agaknya kau lebih tahu tentang hal ini.

Coba terangkan, apakah artinya semua ini? Mengapa kau bawa Suma-siocia ke sini dan anak ini anak siapakah?" Tiba-tiba Giok Ciu menggunakan jari telunjuk menunding mukanya.

"Siapa sudi kau sebut moi-moi? Laki-laki rendah, laki-laki hinda, laki-laki pengecut! Tak tahu malu, sudah berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, bahkan masih berpura-pura bodoh pula sekarang! Sungguh tak kusangka sama sekali! Kau..

orang yang tadinya kuanggap semulia-mulianya orang, yang kusangka sejantanjantannya diantara sekalian yang jantan, tak tahunya hanyalah seorang hina dina!" "Moi-moi tahan mulutmu!" bentak Sin Wan dengan marah sekali dan wajahnya memucat.

"Tidak! Aku hendak bicara terus, kau mau apa? Lihat, mulai saat ini aku Kwie Giok Ciu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan seorang rendah bernama Bun Sin Wan!" Sambil berkata demikian gadis itu mencabut suling pemberian Sin Wan dulu dan mematahkan suling itu ke dalam tangan, lalu dua potong patahan suling itu ia remasremas sampai hancur lebur sambil tertawa bekakakan "Moi-moi, diamlah!" Sin Wan membentak lagi dengan keras sekali karena ia merasa ngeri melihat betapa gadis itu berdongak sambil tertawa yang sangat aneh bunyinya dan pada saat itu ia tampak seperti mayat sedang tertawa menyeramkan.

Posting Komentar