"Ha-ha-ha, Siauw-kwi. Engkau belum menjadi Iblis Cilik yang sesungguhnya sebelum menjadi milik kami. Malam ini kau harus melayani kami bertiga, baru engkau benar-benar lulus ujian dan menjadi murid kami yang baik seperti Bi-kwi."
Bi Lan terbelalak. Biarpun ia kurang pengalaman dan kurang pergaulan, namun nalurinya membisikkan apa arti ucapan gurunya itu. Ia sudah tahu akan keadaan sucinya, yang selain menjadi murid terkasih, juga sucinya itu kadang-kadang tidur dengan guru-gurunya! Karena sudah terbiasa oleh watak Sam Kwi dan Bi-kwi yang aneh-aneh, maka iapun tidak perduli. Akan tetapi sekarang, agaknya tiga orang gurunya yang seperti iblis itu hendak mengorbankan dirinya pula!
"Tidak....! Tidak....!"
Ia berseru dengan perasaan ngeri.
"Aku tidak mau! Sampai matipun aku tidak mau!"
Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Iblis Akhirat tertawa dan baru sekali ini Bi Lan mendengar suara ketawa itu sebagai suara yang amat menyeramkan dan baru sekarang ia melihat betapa wajah tiga orang kakek itu mengerikan dengan sinar mata mereka yang menakutkan pula. Baru sekarang ia melihat betapa buruk dan jahatnya tiga orang gurunya ini.
"Heh-heh-heh, Siauw-kwi. Sikapmu begini sungguh tidak pantas, seolah-olah engkau bukan murid kami saja! Sekali waktu, sebagai seorang wanita, engkau tentu akan mengalami hal itu, dan tidak ada kehormatan yang lebih besar dari pada melayani guru-gurumu seperti Bi-kwi!"
"Tidak! Aku lebih baik mati! Suhu bertiga boleh bunuh aku, akan tetapi aku tidak sudi....!"
Bi Lan berteriak-teriak dan berusaha untuk meronta, akan tetapi tangannya tak dapat ia gerakkan. Dalam kengerian dan rasa takutnya, juga ia merasa heran dan tak dapat dimengerti mengapa tiga orang suhunya yang tadinya menyayangnya seperti cucu sendiri, kini tahu-tahu berobah seperti tiga ekor serigala yang hendak menerkamnya. Hampir ia tidak percaya dan meragukan apakah ia tidak berada dalam sebuah mimpi buruk.
"Engkau tidak akan mati, akan tetapi melayani kami malam ini, mau atau tidak mau!"
Tiba-tiba Raja Iblis Hitam membentak dan hal ini juga mengejutkan hati Bi Lan. Di dalam suara ini lenyaplah semua getaran kasih sayang seperti yang biasa ia rasakan dari guru-gurunya ini, yang ada hanya getaran nafsu yang menjijikkan.
"Tinggal pilih, melayani kami dengan suka rela atau harus kami perkosa!"
Bentak pula Iblis Mayat Hidup dan sepasang mata kakek kurus kering ini yang biasanya sudah mencorong itu kini bertambah seperti ada api menyala di dalamnya. Bi Lan terkejut bukan main, mukanya pucat dan kedua matanya tanpa disadarinya menjadi basah oleh air mata. Ia tidak melihat jalan keluar dan ia sudah tidak berdaya. Kini terbukalah matanya dan baru ia tahu bahwa tiga orang gurunya itu benar-benar bukan manusia lagi, melainkan tubuh-tubuh yang sudah dirasuki roh-roh jahat yang tidak segan melakukan kejahatan dalam bentuk apapun juga.
"Ha-ha-ha, tak perlu menangis, Siauw-kwi. Kami hanya akan memberi suatu kehormatan kepadamu, membuatmu dewasa. Sepatutnya kau berterima kasih, bukan menangis. Dan yang dikatakan mereka tadi benar. Mau tidak mau engkau harus melayani kami malam ini. Tentu saja kami menghendaki engkau melayani kami dengan suka rela. Kami beri waktu selagi kami memuaskan diri minum arak untuk mempertimbangkan. Kalau engkau tetap menolak, terpaksa kami akan melakukan kekerasan dan hal itu sungguh amat tidak menyenangkan,"
Kata Iblis Akhirat sambil tersenyum, akan tetapi bagi Bi Lan, senyumnya tidak ramah lagi melainkan seperti iblis menyeringai.
"Bi-kwi, bawa ia ke dalam kamar dan jaga baik-baik sampai kami bertiga selesai minum. Dan heh-heh, jangan khawatir, engkaupun akan mendapat bagian dari kami!"
Bi-kwi mengangguk dan mencengkeram punggung baju Bi Lan, lalu dijinjingnya tubuh Bi Lan seperti orang menjinjing seekor keledai yang akan disembelih. Bi-kwi nampak diam saja karena menghadapi peristiwa yang akan menimpa diri sumoinya, ia tadi termenung dan berpikir keras. Tentu saja ia tidak perduli kalau sumoinya diperkosa oleh ketiga orang guru mereka, tidak perduli apa yang akan menimpa diri sumoinya yang tidak disukanya. Akan tetapi, di dalam menghadapi setiap peristiwa, Bi-kwi selalu memperhitungkan dan mencari kalau-kalau ada hal yang akan dapat menarik keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia membayangkan bahwa kalau sumoinya sampai diperkosa oleh tiga orang gurunya,
Maka mulai saat itu sumoinya telah menduduki tempat yang lebih tinggi lagi, menjadi kekasih tiga orang gurunya. Dan sebagai seorang wanita yang sudah banyak pengalamannya dalam mengenal watak pria dalam hal ini, ia membayangkan betapa setelah memperoleh yang baru dan yang muda, tiga orang gurunya tentu akan mengesampingkan dirinya. Dengan demikian, maka dalam mengambil hati guru-gurunya, ia akan kalah pula oleh sumoinya! Jadi, kalau sumoinya sampai menjadi korban Sam Kwi, walaupun pada mulanya ia merasa puas bahwa sumoi itu menderita malapetaka itu, namun pada akhirnya sumoinya yang akan mendapat keuntungan dan ia malah menderita rugi! Maka ia lalu membayang-kan hal sebaliknya dan mencari kemungkinan agar ia memperoleh keuntungan sebanyaknya dari hal sebaliknya itu.
Sumoinya sekarang adalah seorang yang cukup lihai, mungkin hanya kalah sedikit olehnya, kalah dalam hal ilmu baru Sam Kwi Cap-sha-kun itu saja. Dengan demikian berarti bahwa sumoinya dapat menjadi pembantunya yang amat berharga, menjadi pembantunya yang tenaganya boleh diandalkan. Dan ia merasa betapa perlunya tenaga seperti itu. Sudah banyak ia mencari pembantu, bahkan Tee Kok ketua Ang-i Mo-pang dapat ditarik menjadi pembantunya, akan tetapi kepandaian orang itu bersama kekuatan anak buahnya belum dapat diandalkan benar. Kalau ia dapat menguasai sumoinya, kalau sumoinya mau membantunya dengan sungguh-sungguh dalam usaha merampas kembali Liong-siauw-kiam, tentu hasilnya lebih dapat diharapkan. Dengan kasar ia lalu melemparkan tubuh sumoinya yang tak mampu bergerak itu ke atas pembaringan, lalu iapun duduk di dekatnya.
"Hemm, dapatkah kau membayangkan apa yang akan dilakukan oleh tiga orang tua bangka itu terhadap tubuhmu? Tubuhmu yang muda dan mulus itu akan digeluti, akan dinodai dan dipermainkan sampai mereka bertiga puas! Setelah mereka selesai engkau sudah akan rusak sama sekali dan tidak mungkin dapat dipulihkan kembali! Engkau akan merasa terhina, muak dan jijik, akan tetapi setiap kali mereka menghendaki, engkau harus merangkak kepada mereka, seperti anjing kelaparan! Senangkah hatimu membayangkan itu semua?"
Air mata sudah jatuh berderai dari kedua mata Bi Lan ketika ia mendengar ucapan sucinya itu. Ia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya menggeleng kepala berkali-kali dengan perasaan ngeri terbayang pada wajahnya. Akan tetapi, ia tahu bahwa sucinya tidak akan mau menolongnya, maka percuma sajalah andaikata ia akan minta tolong juga. Agaknya pikirannya ini dapat diduga oleh Bi-kwi.
"Hayo katakan! Hayo bilang bahwa kau minta tolong padaku!"
Bi Lan berbisik,
"Tidak ada gunanya. Engkau tentu bahkan akan mengejekku. Engkau tentu girang melihat keadaanku, engkau tentu puas karena melihat aku yang kau benci ini mengalami penderitaan hebat...."
"Hemmm, belum tentu,"
Kata Bi-kwi.
"Lihat sumoi macam apa engkau ini, baru aku akan mengambil keputusan. Tak perlu kusangkal, memang aku tidak suka kepadamu, sumoi, karena kehadiranmu hanya merugikan aku. Akan tetapi, kalau saja engkau dapat berguna bagiku, tentu saja aku tidak ingin melihat engkau celaka. Ada budi ada balas, tentu engkau mengerti, bukan?"
"Apa.... apa maksudmu?"
"Maksudku, kalau engkau mau melakukan sesuatu untukku, tentu akupun mau melakukan sesuatu untukmu. Ada budi ada balas!"
"Apa yang harus kulakukan dan apa yang akan kau lakukan?"
"Misalnya, engkau berjanji untuk membantuku mati-matian dan sekuat tenaga untuk merampas Liong siauw-kiam, kemudian membantuku sampai aku berhasil menjadi beng-cu...."
"Bukankah itu tugas kita?"
"Tadinya memang begitu, akan tetapi kalau engkau mau berjanji melakukan itu untuk aku, bukan untuk suhu, nah, misalnya engkau mau berjanji melakukan itu, mungkin aku mau membebaskan totok-anmu dan mengajakmu lari sekarang juga."
Berdebar rasa jantung di dalam dada Bi Lan. Inilah satu-satunya kesempatan. Dan menjanjikan seperti yang diminta sucinya itu bukan berarti berjanji untuk melakukan hal-hal yang tak disukainya.
"Baiklah, suci, aku berjanji."
"Sumpah?"
"Sumpah!"
"Baik, tanpa janji dan sumpah sekalipun, kalau engkau mengingkari, setiap waktu aku akan dapat membunuhmu,"