"ISTANA SULING EMAS"
Demikian bunyi tulisan dan kembali Sai-cu Kai-ong tertegun. Para pembaca tentu juga sama herannya seperti Sai-cu Kai-ong, karena bu-kankah keluarga Pendekar Suling Emas adalah keluarga yang sudah habis dan kini tinggal diri Kam Hong seorang sebagai keturunan terakhir? Bagaimana di Himalaya, di tempat terasing ini terdapat perkampungan yang disebut Lembah Gunung Suling Emas, dan pemuda yang menyambut mereka itu pun tadi meniup suling emas dan kini istana ini disebut Istana Suling Emas? Apa hubungannya ini dengan nenek moyang dari cucu mantunya itu? Akan tetapi sebelum menerangkan soal yang aneh ini, lebih dulu sebaiknya kita ketahui bagaimana Sai-cu Kai-ong, tokoh kang-ouw yang sudah lama menutup diri di Tai-hang-san itu,
Kini tiba-tiba muncul pula bersama orang-orang kang-ouw di Himalaya? Apakah dia juga ingin memperebutkan pedang keramat yang dikabarkan lenyap dari istana itu? Sesungguhnya tidaklah demikian. Seorang kang-ouw yang gagah perkasa seperti Sai-cu Kai-ong tidak sudi lagi memperebutkan sesuatu seperti sebagian besar tokoh-tokoh kaum sesat. Dia memang datang ke Pegunungan Himalaya sehubungan dengan berita membanjirnya orang-orang kang-ouw di pegunungan yang tinggi itu, akan tetapi bukan untuk mencari pedang. Andaikata dia dapat memperoleh pedang itu, tentu hanya untuk dikembalikan ke istana kaisar. Tidak, dia tidak ingin berebut pedang, akan tetapi dia mengharapkan untuk dapat bertemu dengan cucu perempuannya yang telah menghilang bertahun-tahun lamanya.
Cucu perempuan itu adalah Yu Hwi, atau yang pernah dikenal sebagai Kang Swi Hwa atau Ang Siocia, seorang yang cantik dan lincah, penuh keberanian dan kecerdikan, pandai sekali menyamar menjadi apa pun, dan memiliki ilmu mencopet yang luar biasa. Semua ilmu ini dipelajarinya dari gurunya, yaitu Hek-sim Touw-ong Si Raja Maling yang terkenal itu. Cucu perempuan yang menjadi tunangan Kam Hong itu melarikan diri, agaknya menolak dijodohkan dengan Kam Hong dan sampai kini tidak pernah ada beritanya! Maka, hal ini amat menyusahkan hati kakek ini dan berangkatlah dia ke Pegunungan Himalaya untuk mencari cucunya itu yang diharapkannya akan datang juga ke daerah itu untuk beramai-ramai memperebutkan pedang keramat.
Maka, sudah tentu saja kakek ini terheran-heran bukan main ketika disambut oleh pemuda yang bersuling itu dan dibawa ke dalam perkampungan luar biasa yang dinamakan Lembah Gunung Suling Emas, karena keluarga Suling Emas adalah sahabat dari keluarganya sendiri. Semenjak ratusan tahun yang lalu, keluarganya, yaitu keluarga Yu dari Khong-sim Kai-pang adalah sahabat-sahabat dari keluarga Pendekar Suling Emas dan karena mengingat pertalian persahabatan antara nenek moyangnya itulah maka diambil keputusan untuk menjodohkan Yu Hwi, keturunan terakhir dari keluarga Yu, dengan Kam Hong, keturunan terakhir dari keluarga Kam atau keluarga Suling Emas. Dan kini tiba-tiba muncul keluarga Suling Emas lain di tengah-tengah Pegunungan Himalaya!
Tentu saja Sai-cu Kai-ong tidak tahu akan hal ini. Akan tetapi di lain pihak, keluarga yang tinggal di Lembah Gunung Suling Emas ini adalah keluarga yang benar-benar hebat, sedemiklan hebatnya sehingga keluarga ini sudah mengenal semua orang yang mendatangi daerah mereka dan pemuda yang menyambut tadi pun sudah mengenal nama-nama mereka! Biarpun keluarga ini tidak pernah berkecimpung di dunia kang-ouw, akan tetapi mereka mempunyai banyak sekali penyelidik, apalagi dalam menghadapi perebutan pedang keramat itu, maka mereka sudah menyelidiki semua tokoh yang ikut naik ke Pegunungan Himalaya sehingga gambaran-gambaran tentang mereka telah dikenal oleh semua penghuni Lembah itu dan pemuda itu pun dengan mudah dapat mengenalnya satu demi satu!
Keluarga Suling Emas yang berada di lembah ini bukan lain adalah keturunan langsung dari kakek kuno yang ditemukan mayatnya oleh Kam Hong di bagian lain dari lembah itu! Memang aneh sekali. Keluarga ini sendiri tidak tahu bahwa masih ada mayat nenek moyang mereka yang masih utuh dan membawa-bawa rahasia terbesar dari ilmu keturunan mereka dan sama sekali tidak mengira bahwa mayat nenek moyang mereka itu akan ditemukan oleh Kam Hong dan bahkan pemuda ini yang akhirnya mewarisi semua ilmu nenek moyang mereka! Mereka ini adalah keturunan dari kakek pembuat suling emas yang lihai itu, turun temurun tinggal di tempat itu. Karena mereka merupakan keluarga yang pandai, dan berhubungan dekat dengan keluarga Raja Nepal, maka mereka tidak kekurangan sesuatu.
Semenjak nenek moyang mereka, mereka itu merupakan sahabat keluarga Raja Nepal dan seringkali memberi nasihat dan petunjuk, dan sebaliknya Raja Nepal juga selalu mencukupi keperluan mereka, bahkan mendirikan istana itu untuk mereka setelah pada puluhan tahun yang lalu keluarga mereka berjasa mengusir musuh-musuh yang datang dari barat Kerajaan Nepal! Jadi memang ada perbedaan besar antara keluarga Suling Emas yang berada di Himalaya ini dengan keluarga Suling Emas, yaitu keluarga Kam yang menjadi keturunan Pendekar Suling Emas Kam Bu Song. Keluarga Suling Emas di Himalaya ini adalah keturunan dari pembuat suling emas itu, sedangkan keluarga Kam adalah orang yang akhirnya mendapatkan Suling itu dan dipergunakan sebagai senjata dan akhirnya terkenal dengan julukan Pendekar Suling Emas.
Jadi terdapat perbedaan yang besar sekali, dan tidak ada hubungannya sama sekali, kecuali hubungan melalui suling emas yang kini dipegang Kam Hong itu, hubungan antara pembuat suling dan pemakai suling. Sungguhpun terdapat suatu keistimewaan yang sama, yaitu ahli mempergunakan suling sebagai senjata! Keluarga Suling Emas di lembah ini adalah keluarga Cu, yaitu nama keturunan dari kakek pembuat suling emas, yang sesungguhnya masih seorang pangeran dari Kerajaan Cin yang suka merantau dan akhirnya menetap di Himalaya, yaitu di lembah itu. Menurut dongeng keluarga Cu, kakek ini setelah berkeluarga dengan puteri Nepal, menetap di situ dan hidup sampai beranak cucu. Akan tetapi pada suatu hari dia menghilang, katanya untuk pergi bertapa dan tidak ada lagi yang mendengar tentang dirinya.
Anak cucunya hidup terus di lembah itu, ada pula yang pergi merantau, akan tetapi lembah itu tetap dipelihara, bahkan sekarang, keturunan terakhir yang tinggal di situ terdapat tiga orang laki-kaki. Yang pertama bernama Cu Han Bu, pria sederhana berusia empat puluh tahun, ayah dari pemuda tampan yang menyambut para tamu tadi. Yang ke dua bernama Cu Seng Bu, pria berusia tiga puluh lima dan yang ke tiga bernama Cu Kang Bu, pria berusia tiga puluh tahun. Kedua orang ini belum menikah. Tiga orang inilah merupakan keturunan terakhir dari keluarga Suling Emas she Cu itu. Cu Han Bu baru mempunyai seorang anak saja, yaitu "pemuda"
Yang menyambut para tamu tadi. Akan tetapi anak itu sebetulnya bukan seorang laki-laki, melainkan seorang anak perempuan.
Karena ingin sekali mempunyai anak laki-laki, maka untuk menutupi kekecewaannya, Cu Han Bu dan isterinya memperlakukan anak mereka seperti anak laki-laki, bahkan sejak kecil anak itu memakai pakaian laki-laki, sungguhpun dia sadar sepenuhnya bahwa dia seorang perempuan. Sebagai seorang anak yang berbakti Cu Pek In, demikian nama anak itu, dia ingin menyenangkan hati orang tuanya dan selalu berpakaian pria sehingga dia menjadi seorang pemuda cilik sekarang! Sebagai keturunan dari kakek sakti pembuat suling emas itu, sudah tentu saja keluarga Cu ini mewarisi ilmu-ilmu yang mujijat dan tinggi sekali. Sudah belasan tahun semenjak ayah mereka meninggal, keluarga yang terdiri dari tiga orang pria perkasa ini tidak lagi berhubungan dengan Nepal. Mereka melihat betapa Nepal mulai melakukan penyelewengan, mulai mencampuri urusan kaisar di Tiongkok, maka mereka tidak mau mencampuri.
Apalagi ketika mereka mendengar bahwa Raja Nepal yang baru mempunyai seorang Koksu yang kabarnya merupakan orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok, keluarga Cu ini makin mengundurkan diri dan tidak pernah berhubungan. Oleh karena itu, maka mereka tidak mengenal Sam-ok Ban-hwa Seng-jin, sungguhpun mereka mendengar namanya, dan mungkin juga Koksu Nepal itu mendengar tentang nama mereka. Dan memang demikianlah kenyataannya. Ketika pemuda tampan yang sesungguhnya adalah Cu Pek In itu bersama rombongan dayangnya menyambut dan menyebut nama Lembah Gunung Suling Emas, berdebar rasa jantung Sam-ok. Dia sudah mendengar tentang keluarga di Himalaya ini, yang menurut berita di Nepal merupakan keluarga yang turun temurun bersahabat dengan keluarga Raja Nepal,
Akan tetapi yang semenjak raja yang sekarang, yaitu raja yang mengangkat dirinya sebagai koksu, tidak pernah lagi terdengar beritanya dan agaknya putus hubungan antara keluarga Cu itu dengan keluarga Kerajaan Nepal. Sam-ok tidak peduli akan hal itu ketika dia masih menjadi koksu, apalagi mendengar bahwa tempat tinggal keluarga itu merupakan rahasia besar dan tidak ada seorang pun tahu presis di mana letak tempat tinggal mereka. Yang diketahui umum hanyalah bahwa tempat itu berada di Pegunungan Himalaya. Dan kini, tanpa disangka-sangkanya, dia telah ikut rombongan orang kang-ouw memasuki daerah itu, tempat tinggal keluarga Cu yang menjadi sahabat keluarga raja sejak ratusan tahun yang lalu! Dengan demikian, maka ada dua orang dalam rombongan itu yang berdebar-debar hatinya, yaitu Sai-cu Kai-ong dan Sam-ok Ban-hwa Seng-jin.
Ketika para tamu yang mengikuti Cu Pek In dan rombongan dayang itu sudah tiba di ruangan depan yang luas dan terhias gambar-gambar dan tulisan-tulisan indah, Cu Pek In mempersilakan mereka menanti di situ dan para dayang lalu masuk ke dalam melalui pintu besar di depan dan di tengah ruangan itu. Tak lama kemudian, para tamu yang masih berdiri karena belum dipersilakan duduk itu melihat pintu itu terbuka dari dalam dan keluarlah tiga orang laki-laki. Semua orang memandang dengan penuh perhatian. Akan tetapi tidak ada sesuatu yang mengesankan pada diri tiga orang pria itu. Mereka itu berpakaian biasa saja, dengan sikap yang sederhana pula, akan tetapi wajah dan pandang mata mereka serius dan penuh wibawa, sedangkan sinar mata mereka yang mencorong itu mengejutkan, orang karena hal itu menunjukkan bahwa mereka itu memiliki kekuatan dalam yang hebat!
"Ayah, inilah mereka yang membikin ribut di puncak datar. Semua, kecuali yang tewas dalam keributan antara mereka, telah kuundang datang sebagai tamu sesuai dengan perintah Ayah."
Kata Cu Pek In sambil menyelipkan sulingnya di ikat pinggangnya. Tentu saja Sai-cu Kai-ong dan Ban-hwa Seng-jin, lebih-lebih dari para tamu lainnya, memandang dengan penuh perhatian dan dengan hati tertarik sekali. Tiga pasang mata dari pihak tuan rumah itu dengan tajamnya memandang para tamunya seorang demi seorang, dan paling lama mereka memperhatikan Sam-ok Ban-hwa Seng-jin yang menjadi tidak enak hati, kemudian mereka juga memandang Yeti sampai lama, terutama ke arah pedang yang berada di tangan Yeti.
"Tidak salah lagi, itulah Koai-liong-pokiam keluarga kami!"
Tiba-tiba orang termuda di antara mereka, Cu Kang Bu berseru. Orang ke tiga ini bertubuh tinggi besar, bermata lebar dan selain sikapnya gagah, juga dia kasar dan jujur. Dan inilah Yeti seperti yang diceritakan Twa-so (Kakak Ipar Perempuan Tertua)!"
Tiba-tiba terdengar suara merdu,
"Tidak salah, dialah binatang itu!"
Semua orang menengok karena terkejut. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi, akan tetapi tidak ada yang mendengar datangnya seorang wanita di tempat itu, tahu-tahu wanita itu telah muncul saja di situ, entah sejak kapan. Wanita itu usianya kurang lebih tiga puluh tahun, cantik sekali, dengan pinggang ramping dan gerak geriknya luwes dan lemah gemulai seperti gerakan seorang penari pandai atau gerakan tubuh seekor ular saja, dan pakaiannya juga mentereng dan mewah, rambutnya yang hitam gemuk digelung ke atas seperti gelung rambut puteri-puteri istana!
"Dialah binatang itu, dan itulah pedang kami! Kalian, harus merampasnya dari tangan Yeti keparat itu!"
Bentak lagi wanita ini. Akan tetapi tiba-tiba Cu Pek In berkata,
"Pek-bo, Ayah, Yeti itu adalah milik pemuda itu. Sebaiknya pedang itu diminta kepadanya."
Mendengar ini, Cu Han Bu memandang kepada Hong Bu dengan penuh perhatian, seolah-olah tidak percaya kepada omongan puterinya. Mana mungkin Yeti, mahluk yang selama ini menjadi dongeng dan ditakuti semua orang, yang amat sakti sehingga Twa-sonya sendiri kewalahan menghadapinya, menjadi milik bocah ini?
"Siapakah namamu, orang muda?"
Tanyanya hati-hati. Memang, tokoh ini selalu bersikap hati-hati, tidak seperti Kang Bu. Sim Hong Bu maklum bahwa dia berhadapan dengan keluarga yang berilmu tinggi, dan juga mereka adalah tuan rumah, maka sebagai tamu yang tahu diri dan mengenal kesopanan, dia lalu melangkah maju, memberi hormat dan menjawab,
"Nama saya Sim Hong Bu, Locianpwe."
Sikap dan ucapan Hong Bu ini menyenangkan hati Han Bu yang mengangguk-angguk. Bocah ini sungguh mengagumkan dan jarang pada jaman itu menemukan bocah yang begini matang, begini tabah dan berani berdiri di atas kakinya sendiri seperti orang yang sudah dewasa benar. Juga, sekali pandang saja dia dapat mengukur bahwa bocah ini memiliki bakat yang baik sekali, sinar matanya begitu tajam, gerak-geriknya begitu tenang.
"Benarkah bahwa Yeti ini adalah milikmu, peliharaanmu?"
Hong Bu melirik ke arah pemuda tampan itu, lalu menjawab lantang.
"Harap jangan ada yang menghina Yeti! Dia ini sama sekali bukan binatang peliharaan, bukan binatang liar yang jahat, harap semua mengetahui betul hal ini!"
"Huh, omongan apa itu! Kami sudah merasakan kebuasannya!"
Tiba-tiba Ngo-ok mendengus marah, tangannya meraba daun telinganya yang pecah-pecah ketika dia berkelahi melawan Yeti itu.
"Benar!"
Su-ok berteriak.
"Yeti itu mahluk buas seperti iblis!"
Sepasang alis tuan rumah ini berkerut dan sinar matanya seperti kilat menyambar ke arah dua orang itu.
"Tuan-tuan berada di tempat sopan, harap Tuan-tuan menjaga kesopanan dan bicara menanti giliran!"
Kata Cu Han Bu, suaranya berwibawa. Su-ok dan Ngo-ok berdiam diri dan wajah mereka agak merah.
"Bagaimana jawabanmu, Sim Hong Bu? Banyak orang kang-ouw mengabarkan bahwa Yeti ini jahat, kejam dan telah membunuh dan melukai banyak orang."
Kata pula Cu Han Bu. Mereka semua masih berdiri dan semua orang kini memandang kepada Hong Bu.
"Yang mengatakan bahwa Yeti jahat dan kejam, suka menyerang atau membunuh orang adalah bohong, Locianpwe!"
Kata Hong Bu.
"Yeti ini bukan binatang buas, bukan peliharaan saya, melainkan sahabat saya yang paling baik. Manusialah yang jahat, yang mengganggunya, menyerangnya sehingga dia membela diri dan untuk membela diri, tentu saja dia harus mengalahkan lawannya, kalau perlu mungkin membunuhnya. Pahanya dilukai orang ditusuk pedang, tentu saja dia menjadi marah. Semua orang agaknya hendak membunuhnya untuk merampas pedang yang ditusukkan di pahanya. Siapa yang tidak akan menjadi marah dan membela diri?"
"Toa-so."
Tiba-tiba Cu Han Bu menoleh kepada wanita cantik tadi.
"Apakah dia tidak menyerangmu dan apakah Toaso yang mendahului menyerangnya?"
Wanita cantik itu berjebi, bibirnya yang penuh dan merah itu bermain sebentar, kemudian dia berkata,
"Memang aku yang menyerangnya lebih dulu, akan tetapi siapa yang tidak menjadi kaget melihat dia tiba-tiba muncul dan kelihatan begitu buas? Aku menyerangnya dan dia melawan, ternyata dia lihai sekali dan biarpun aku berhasil menusuk pahanya, pedang itu tertinggal di paha-nya, dia menjadi buas dan aku terpaksa melarikan diri. Lalu dia menghilang...."
Cu Han Bu mengang-guk-angguk, lalu menghadapi semua orang kang-ouw yang berdiri di hadapannya.
"Apakah Cu-wi sengaja berdatangan ke Himalaya untuk mencari pedang Koai-liong-pokiam itu?"
Dia menuding ke arah pedang yang masih dipegang oleh Yeti.
"Hemm, terus terang saja, siapakah yang tidak ingin mendapatkan pedang itu?"
Jawab Toa-ok dengan suara halus.
"Ketahuilah, Cu-wi. Pedang pusaka itu adalah milik keluarga kami sejak turun menurun. Nenek moyang kami yang membuatnya dan menciptakannya. Pada suatu hari pedang itu hilang dan setelah kami mendengar pedang itu berada di istana kaisar, Toa-soku ini pergi ke sana dan mengambilnya kembali. Akan tetapi malang baginya, di tengah jalan bertemu dengan Yeti dan pedang itu tertinggal di paha Yeti. Pedang itu adalah hak kami dan hendaknya Cu-wi tidak memperebutkan lagi. Untuk itu kami dapat menjelaskannya, dan untuk jerih payah Cu-wi kami bersedia mengganti sekedar ongkos perjalanan yang telah dikeluarkan."
"Ah, mana ada aturan seperti itu?"
Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring, suara Si Ulat Seribu. Wajahnya yang buruk menjadi semakin buruk karena marahnya. Dialah yang merasa paling dirugikan dalam perebutan pedang itu, karena selain empat orang pemikul tandu yang menjadi pembantu-pembantunya itu tewas oleh ulat-ulatnya sendiri, juga sebagian ulatnya telah mati dan lenyap pula.
"Bagaimana bisa enak saja mengakui pedang tanpa bukti-bukti yang jelas? Kalau hanya penjelasan saja, setiap orang pun mampu mengisap jempol!"
Wanita cantik kakak ipar keluarga Cu itu melangkah maju dan suaranya lantang ketika dia berseru,
"Perempuan buruk! Apakah Si Ulat Seribu sudah mempunyai nyawa rangkap berani berkata seperti itu di sini?"
Dia sudah melangkah maju, akan tetapi Cu Han Bu lalu melerai dan berkata dengan suara berwibawa.
"Harap Toa-so suka memaafkan bicaranya. Ingat, siapa dia dan sudah patutlah kalau orang seperti dia bicara demikian."
Agaknya Sang Toa-so itu cukup segan terhadap adik iparnya ini maka dia mundur lagi dengan mulut cemberut. Cu Han Bu lalu berkata kepada Sim Hong Bu, suaranya ramah dan halus.