Si Ulat Seribu itu untungnya dapat bergerak dengan kecepatan kilat sehingga lengannya tertolong sungguhpun ujung lengan bajunya terbabat putus hanya oleh sinar pedang itu sehingga dia memekik kaget. Kekagetan putusnya ujung lengan ini ditambah dengan terpentalnya tangannya yang menghantam pusar, seolah-olah bertemu dengan perut dari baja atau bola karet yang amat kuat! Akan tetapi, ulat-ulat dari lengannya itu beterbangan dengan warna-warnanya yang cerah sehingga seperti kembang api berpijar dari percikan ke mana-mana, terutama sekali ke arah tubuh Yeti. Akan tetapi, tubuh Yeti penuh bulu maka ulat-ulat itu tidak mempengaruhi dirinya. Tidak ada bulu ulat yang dapat membuat gatal kulit yang dilindungi bulu! Yeti itu menggoyangkan tubuhnya dan sungguh aneh.
Ulat-ulat itu semua beterbangan ke satu jurusan, yaitu ke arah empat orang raksasa gundul para pemikul tandu tadi. Dan terjadilah pemandangan yang mengerikan. Empat orang itu segera bergulingan, menggunakan kuku jari tangan menggaruki seluruh tubuhnya sampai pakaian mereka robek-robek semua dan dalam waktu singkat mereka itu sudah bertelanjang bulat menggaruki semua bagian tubuh mereka yang bintul-bintul dan bengkak-bengkak! Hebatnya, bagian yang digaruk dan mengeluarkan darah segera dilekati oleh ulat-ulat yang ternyata suka minum darah seperti lintah-lintah! Dan dalam waktu singkat saja empat orang raksasa gundul tukang pikul tandu Si Ulat Seribu itu telah tewas semua, badan mereka yang telanjang bulat itu penuh dengan ulat-ulat yang kini menjadi semakin menggembung gemuk kekenyangan darah!
Semua orang mengkirik karena serem, akan tetapi seorang kakek berjenggot panjang, seorang di antara para tokoh kang-ouw yang datang ke tempat itu, menjadi tidak senang. Dia lalu menggosok kedua telapak tangannya, lalu memukulkan kedua telapak tangan itu ke arah mayat-mayat tadi. Hawa panas menyambar-nyambar dan keempat mayat itu menjadi kehitaman seperti hangus, dan semua bulu berwarna-warni dari ulat-ulat itu rontok terbakar semua, akan tetapi hebatnya, ulat-ulat itu tidak menjadi mati! Kini semua ulat itu menjadi ulat-ulat gundul yang makin menggelikan lagi, juga menjijikkan karena nampak gerakan-gerakan perut mereka yang naik turun. Si Ulat Seribu menjadi semakin marah, kini kemarahannya ditumpahkan kepada kakek berjenggot panjang itu.
"Keparat, berani engkau merusak ulat-ulatku!"
Dan tiba-tiba saja tubuhnya menggeliat roboh ke atas tanah, kemudian seperti gerakan seekor ulat, tubuhnya menggeliat-geliat dan tiba-tiba melenting ke atas, ke arah kakek berjenggot panjang itu dan kedua tangannya sudah mengirim serangan. Bukan main cepatnya gerakan ini, sukar diikuti pandang mata. Kakek itu sudah kaget setengah mati, tidak mengira bahwa dia akan diserang secepat itu. Akan tetapi, tiba-tiba dari arah belakang muncul seorang laki-laki yang berpakaian seperti pengemis, mukanya ditumbuhi kumis dan jenggot lebat tak terpelihara, sikapnya acuh tak acuh dan mulutnya yang tersembunyi di balik kumis itu terkekeh aneh.
"Jangan ganggu orang tua!"
Dia mendengus dan tiba-tiba jari telunjuk kanannya menuding dan menyambar ke depan, memapaki serangan Si Ulat Seribu itu.
"Dukk! Aihhhh....!"
Untuk kedua kalinya Si Ulat Seribu menjerit dan tubuhnya terdorong ke belakang, tubuhnya tergetar hebat. Dia berdiri dan memandang kepada jembel yang ternyata masih muda itu dengan sinar mata penuh kemarahan, akan tetapi juga dengan muka agak pucat karena dia terkejut bukan main.
"Kau.... kau.... Si Jari Maut....?"
Im-kan Ngo-ok juga terkejut mendengar disebutnya nama ini dan mereka semua memandang ke arah jembel muda itu. Mereka sudah mengenal Si Jari Maut Wan Tek Hoat, calon mantu Raja Bhutan! Benarkah jembel muda itu mantu Raja Bhutan? Sungguh mengherankan hati Im-kang Ngo-ok, dan tiba-tiba Sam-ok Ban Hwa Sengjin tertawa bergelak sampai perutnya yang tersembunyi di balik mantel itu bergerak-gerak.
"Ha-ha-ha-ha! Kiranya Si Jari Maut tidak jadi menjadi mantu Raja Bhutan, melainkan menjadi jembel terlantar!"
Katanya sambil memandang kepada jembel muda yang bukan lain adalah Wan Tek Hoat atau juga dahulu disebut Ang Tek Hoat Si Jari Maut itu. Akan tetapi, orang muda yang menjadi seperti jembel itu hanya ha-ha-he-he saja, terkekeh dan kemudian malah mengguguk dan terisak menangis!
"Oohhh, dia telah menjadi gila....!"
Kata Twa-ok Su Lo Ti dan semua orang memandang karena merasa aneh. Kakek ini seperti gorila, pantasnya sikap dan kata-katanya tentu kasar, akan tetapi sebaliknya malah, suaranya dan ucapannya itu seperti orang yang mempunyai belas kasihan besar sekali! Melihat munculnya demikian banyaknya orang lihai, Si Ulat Seribu tidak mau mencari penyakit dan dia sudah menerjang lagi, menerjang Yeti yang sejak tadi berdiri kebingungan. Mereka berdua segera bertarung lagi, akan tetapi tetap saja Si Ulat Seribu terdesak hebat dan ter-paksa harus mempergunakan gin-kangnya yang memang istimewa kalau dia tidak mau tubuhnya disayat-sayat oleh pedang di tangan Yeti yang digerak-gerakkan secara aneh dan seperti ngawur namun amat berbahaya itu!
"Twa-ko, biar kucoba sampai di mana Si Jari Maut yang telah menjadi gila ini!"
Tiba-tiba terdengar Ngo-ok berseru.
"Baiklah, Ngo-te!"
Kata Twa-ok dengan halus. Ngo-ok yang jangkung itu lalu berseru keras dan tubuhya sudah menubruk Si Jari Maut Wan Tek Hoat. Akan tetapi ternyata pengemis muda ini juga memiliki gerakan yang amat gesitnya. Dengan mudah dia meloncat ke kiri sambil terkekeh. Akan tetapi tiba-tiba kakek berjenggot panjang yang tadi ditolongnya dari serangan Si Ulat Seribu itu telah meloncat ke depan.
"Siancai, mengapa Im-kan Ngo-ok yang tersohor sebagai jagoan-jagoan cabang atas itu hendak mengganggu seorang muda yang ternyata sedang terganggu jiwanya? Tidak mungkin aku, Sai-cu Kai-
ong, mendiamkan saja kekejaman ini!"
Im-kan Ngo-ok terkejut bukan main. Kiranya kakek berjenggot panjang yang berpakaian sederhana, bukan pakaian pengemis itu, adalah Sai-cu Kai-ong yang amat terkenal sebagai keturunan dari ketua Khong-sim Kai-pang yang amat terkenal dan yang akhirnya telah mengundurkan diri dan kabarnya telah bertapa di Pegunungan Tai-hang-san itu. Akan tetapi, Ngo-ok adalah orang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Diapun sudah mendengar nama orang yang terkenal di golongan bersih ini, akan tetapi dia tidak menjadi gentar, apalagi karena di situ ada Im-kan Ngo-ok lengkap, takut apa? Dia mendengus marah.
"Kau kah Raja Pengemis? Biar kubikin kau menjadi pengemis mati?"
Dan dia sudah berjungkir-balik dan menyerang Sai-cu Kai-ong dengan hebatnya! Para pembaca cerita JODOH SEPASANG RAJAWALI tentu tidak lupa kepada tokoh ini. Sai-cu Kai-ong adalah seorang tokoh besar, keturunan dan ahli waris ketua-ketua Khong-sim Kai-pang yang amat terkenal, memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia bernama Yu Kong Tek dan tinggal di puncak Bukit Nelayan, di tepi sungai sebelah selatan kota Paoteng, di Pegunungan Tai-hang-san.
Seperti telah diceritakan dalam cerita JODOH SEPASANG RAJAWALI , kakek ini pernah mendidik Kam Hong ketika pendekar itu masih kecil, bahkan dasar-dasar ilmu silat yang dimiliki Kam Hong adalah hasil didikan kakek ini. Kini, menghadapi cara berkelahi dari Ngo-ok yang aneh, dengan jungkir balik itu, Sai-cu Kai-ong tidak menjadi gentar dan dia segera mainkan Ilmu silat Khong-sim Sin-ciang (Tangan Sakti Hati Kosong). Dengan tenang dia menghadapi setiap serangan kaki atau tangan, dan dia membalikkan keadaan, yaitu menghadapi kedua kaki lawan dengan kedua tangannya, sedangkan kedua tangan lawan dihadapi dengan kedua kakinya! Artinya, dia menangkis tendangan-tendangan kaki dengan tangan, sebaliknya menangkis pukulan-pukulan tangan dengan kaki!
Terjadilah perkelahian yang amat aneh dan seru sehingga keadaan di situ menjadi semakin ribut. Setelah kini ada yang berani turun tangan menyerang Yeti, maka mulailah beberapa orang kang-ouw mencoba-coba untuk merampas pedang di tangan Yeti itu. Mereka seolah-olah membantu Si Ulat Seribu, padahal tentu saja maksud mereka tidak demikian, melainkan mereka menyerang Yeti untuk dapat merampas pedang itu. Akan tetapi sungguh akibatnya hebat sekali. Beberapa orang di antara mereka terkena sambar sinar pedang keramat itu dan roboh tewas, ada pula yang dirubung ulat-ulat dari lengan Si Ulat Seribu sehingga jatuh beberapa orang lagi menjadi korban. Akan tetapi ada pula yang masih terus mengurung Yeti sehingga Hong Bu yang melihat keadaan itu menjadi khawatir sekali akan keselamatan Yeti.
Tiba-tiba Wan Tek Hoat tertawa-tawa dan dia pun lalu masuk ke dalam medan pertempuran! Memang dia sedang bingung karena kedukaannya mencari-cari kekasihnya tanpa hasil. Maka dia pun berkelahi seperti orang bingung, kadang-kadang membantu Sai-cu Kai-ong, kadang-kadang dia membantu Yeti, dan adakalanya juga dia menyerang Yeti! Akan tetapi anehnya belum pernah dia menyerang Sai-cu Kai-ong! Maka terjadilah perkelahian yang simpang-siur akan tetapi karena dilakukan oleh orang-orang yang berilmu tinggi, maka menjadi pertempuran yang amat seru dan angin pukulan yang menyambar-nyambar amat dahsyatnya. Selagi pertempuran yang kacau itu berlangsung dengan serunya, tiba-tiba terdengar suara nyanyian merdu yang diiringi oleh bunyi musik yang amat indah.
Sungguh merupakan hal yang teramat aneh di tempat seperti itu, di tengah-tengah orang yang sedang berkelahi mati-matian, tiba-tiba terdengar suara nyanyian merdu diiringi suara musik yang demikian indahnya. Tentu saja suara aneh ini membuat semua orang terheran-heran dan otomatis yang sedang berkelahi itu dengan sendirinya berhenti dan semua orang berloncatan mundur, membuat Yeti dan Wan Tek Hoat menjadi bingung. Yeti berdiri bengong seperti tidak tahu harus berbuat apa, dan Tek Hoat terkekeh aneh, akan tetapi keduanya lalu diam dan juga seperti terpesona oleh suara nyanyian dan musik itu. Suara itu adalah suara wanita, amat merdu, akan tetapi juga mengandung tenaga yang mujijat dan seolah-olah dapat meredakan panasnya hati mereka semua.
Semua mata memandang ke arah datangnya suara dan dari bawah puncak datar itu muncullah seorang pemuda yang diiringkan oleh belasan orang dayang yang berpakaian indah dan berwajah cantik-cantik. Pemuda itu sendiri adalah seorang pemuda tanggung, kurang lebih lima belas tahun usianya, berwajah tampan sekali dan kulit mukanya halus, sepasang matanya yang lebar itu mengandung sinar jernih dan tajam. Di belakangnya ada seorang dayang yang membawa sebuah bendera yang berwarna merah dan ada sulaman benang emas yang berbunyi KIM SIAUW SAN KOK (Lembah Gunung Suling Emas). Setelah tiba di atas pucak datar yang menjadi tempat pertempuran itu, Si Pemuda Tanggung memandang kepada mereka semua, lalu memandang kepada mayat-mayat di atas tanah, kemudian dia berkata kepada seorang dayang yang berpakaian kuning,
"Kui Hwa, lenyapkan mayat-mayat itu untuk membersihkan tempat kita."
Wanita berpakaian atau berbaju kuning itu mengangguk,
Kemudian mengeluarkan sebuah botol yang bentuknya seperti tubuh ular, membuka tutup botol dan begitu dia memercikkan sedikit cairan berwarna putih seperti perak ke atas tubuh mayat-mayat itu, maka nampaklah asap mengepul tebal dan dalam waktu beberapa menit saja mayat-mayat itu lenyap menjadi cairan kuning dan akhirnya cairan itu pun lenyap masuk ke dalam tanah di antara salju! Semua orang menjadi bengong, apalagi mereka yang tahu akan obat-obatan seperti Sai-cu Kai-ong, karena dia tahu bahwa obat yang dapat mencairkan mayat secepat itu hanya terdapat dalam dongeng saja dan dia sendiri belum pernah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri! Kini tinggal bau yang tidak enak saja tercium di tempat itu, sedangkan mayat-mayat itu lenyap sama sekali, berikut ulat-ulat gundulnya!
"Lan-hwa, lenyapkan bau busuk agar berobah wangi."
Kembali pemuda itu berkata, suaranya halus dan tenang seolah-olah di situ tidak ada orang lain kecuali dia dan para dayangnya! Seorang dayang berbaju hijau yang juga muda dan cantik mengangguk, lalu mengambil sebuah botol merah, menghampiri bekas tempat mayat dicairkan tadi, dan ketika dia membuka tutup botol itu dan memercikkan sedikit isinya ke atas tempat-tempat itu, terciumlah bau yang sedap harum dan lenyap sama sekali bau tidak enak tadi, membuat semua orang merasa seolah-olah mereka berada di taman yang penuh dengan bunga! Kini pemuda itu memandang kepada semua orang yang berada di situ, dan ketika pandang matanya bertemu dengan Yeti, dia membelalakkan sepasang matanya yang lebar dan indah itu,