Suling Emas Naga Siluman Chapter 41

NIC

Yeti itu mengeluarkan suara ah-uh, akan tetapi agaknya dia pun berhenti berduka, lalu dia mengajak Hong Bu dengan menggandeng tangannya meninggalkan arca aneh itu, menghampiri sudut di mana terdapat sebuah peti hitam. Dibukanya peti itu dan dikeluarkannya sebuah kitab catatan dan diserahkannya kepada Hong Bu.

Setelah begitu, Yeti itu lalu merebahkan dirinya di sudut lain yang kering dan tak lama kemudian sudah terdengar dengkurnya! Kasihan, pikir Hong Bu. Gerak-gerik dan sikap Yeti itu sama sekali bukan seperti binatang, melainkan seperti seorang manusia yang dirundung malang dan menderita kepedihan hati yang hebat! Maka dia lalu membawa kitab itu ke dekat "jendela"

Yang terang dan mulailah dia membalik lembaran pertama dari kitab itu. Kitab itu terbuat dari kertas yang sudah tua sekali, sudah menguning dan tulisannya juga sudah kabur, akan tetapi masih dapat dibaca karena ditulis dengan huruf-huruf yang kuat dan jelas. Hong Bu mulai membaca catatan itu dengan asyik, dan tahulah dia bahwa catatan itu adalah catatan yang dibuat oleh mayat pria yang seperti pendekar itu, agaknya menceritakan atau mencatat semua peristiwa yang mereka alami di tempat ini.

"Kami adalah suami isteri yang malang, demikian catatan itu memulai. Percuma saja aku disebut Sin-ciang Eng-hiong (Pendekar Tangan Dewa) kalau ternyata aku tidak mampu melindungi diri sendiri dan isteriku. Aku, Kam Lok, hanyalah seorang laki-laki lemah yang terpaksa melarikan diri bersama isteriku karena dikejar-kejar musuh besarku yang tak dapat kulawan! Kasihan Loan Si, isteriku yang tidak dapat menikmati kehidupan suami isteri dalam rumah tangga yang tenteram karena semenjak menikah harus mengikuti aku melarikan diri. Kami lari ke Himalaya, namun raksasa itu terus mengikuti jejak kami! Agaknya dia tidak mau menerima kenyataan bahwa dia kalah memperebutkan Loan Si yang lebih dulu suka menjadi isteriku daripada menjadi isteri raksasa yang tergila-gila kepadanya itu. Ouwyang Kwan, engkau sebagai seorang pendekar gagah, bekas sahabat baikku, kenapa tidak mau melihat kenyataan dan masih terus merasa penasaran? Ah, andaikata aku dapat mengalahkanmu pun, sukar bagiku untuk bertega hati membunuhmu, engkau sahabatku yang amat baik dan yang kutahu benar-benar amat mencinta Loan Si. Akan tetapi apa daya, sahabatku juga musuhku, Loan Si tidak membalas cintamu, cintanya melainkan untukku seorang! Kami berhasil menemukan lorong rahasia yang tersembunyi ini, dan merasa aman tinggal di sini sampai setahun lebih! Betapa senang kami melewatkan bulan-bulan madu di tempat ini, berdua saja, mencurahkan segala cinta kasih antara kami tanpa ada yang mengganggu. Sayang, karena ancaman Ouwyang Kwan, maka ketegangan mengisi lubuk hati isteriku sehingga hubungan kami tidak dapat menghasilkan keturunan! Akan tetapi, kehidupan kami yang tenteram itu hanya berlangsung satu tahun saja, karena pada suatu hari, tiba-tiba muncullah Ouwyang Kwan, bekas sahabatku yang kini telah menjadi musuh besar kami itu, atau lebih tepat musuh besarku, karena dia tidak memusuhi Loan Si, bahkan sebaliknya dia amat mencintanya! Tidak ada jalan lain bagi kami kecuali bertanding memperebutkan Loan Si! Pertandingan mati-matian di tempat ini, hal itu sudah pasti akan terjadi. Aku terpaksa menghentikan catatan ini karena kami berdua sudah berjanji untuk bertanding sekarang juga, begitu matahari terbit dan sinarnya menerangi ruangan ini. Semalam ini, mungkin malam terakhir, kuhabiskan untuk mencurahkan se-luruh cintaku kepada Loan Si, isteriku. Siapa tahu, malam ini merupakan malam terakhir. Sampai di sini, catatan itu ditulis dengan gaya tulisan lain, gaya tulisan yang halus, tulisan seorang wanita! Me-reka bertanding mati-matian dan amat mengerikan, demikian tulisan wanita ini memulai. Betapa risau dan gelisah hatiku. Aku tidak dapat membantu, karena selain tingkat kepandaianku jauh lebih rendah, juga suamiku tidak menghendaki demikian. Mereka bertanding sebagai dua orang pendekar yang gagah perkasa, yang tidak menemukan jalan lain kecuali saling bertanding mati-matian untuk memperebutkan aku. Ah, betapa hancur rasa hatiku. Aku hanya mencinta Kam Lok, suamiku, mana mungkin aku harus mencinta orang lain? Mereka itu setingkat, akan tetapi semalam suamiku telah mengaku bahwa sesungguhnya, dia masih kalah kuat oleh lawannya itu. Aku hanya dapat memandang dengan gelisah dan berdoa dalam hati semoga suamiku yang akan menang. Berjam-jam mereka bertanding dan akhirnya, apa yang kutakuti terjadilah. Suamiku roboh dengan muntah darah dan tewas setelah mengucapkan dua buah kata memanggil namaku. Aku menangis dan aku dihibur oleh Ouwyang Kwan yang menyatakan cintanya, yang bersumpah bahwa dia akan mencintaku melebihi cinta suamiku. Akan tetapi, aku benci melihat raksasa itu. Aku benci kepada-nya! Aku lalu menyerangnya kalangkabut, akan tetapi dengan mudah dia menghindar, dan pergi dari tempat itu. Sesuai dengan pesan suamiku, aku membereskan pakaian jenazah suamiku, lalu mengatur dia agar duduk di sudut ruangan di mana turun salju dan es melalui celah-celah sehingga tubuhnya akan terbungkus salju dan es, dan tidak akan rusak sehingga aku dapat memandangnya setiap hari, seolah-olah dia masih hidup. Setiap hari Ouwyang Kwan datang, membujukku, mengancamku. Akan tetapi aku bertekad untuk tidak melayaninya. Aku mengatakan kepadanya bahwa lebih baik aku mati daripada harus menjadi isterinya, bahwa aku sama sekali tidak cinta padanya, bahwa sebaliknya aku benci kepadanya. Akan tetapi orang itu sungguh keterlaluan, dia tidak mau melakukan kekerasan, sebaliknya membujuk-bujuk, memohon-mohon sehingga kadang-kadang timbul juga rasa kasihan dalam hatiku. Akan tetapi, aku berkeras tidak mau menjadi isterinya, bahkan tidak mau melayani hasratnya. Sampai setahun lebih dia terus-menerus membujukku, menyediakan segala keperluanku, bahkan dia memelihara jenazah suamiku sehingga nampak terbungkus es dan baik, tidak pernah rusak, dia menyatakan menyesal sambil menangis kalau dia melihat suamiku. Akan tetapi, aku tetap tidak mau melayaninya, bahkan aku mulai senang menggodanya, melihat dia tersiksa oleh cintanya yang tidak kubalas. Dia jelas amat menderita dan itulah hukumannya! Kadang-kadang dia menangis sendiri di sudut, lalu bicara sendiri. Aku khawatir dia menjadi gila karena rindunya dan cintanya tak terbalas dan tak terpuaskan. Aku makin menggodanya, aku sengaja berganti pakaian di depannya agar dia makin tergila-gila melihat tubuhku setengah telanjang, akan tetapi kalau dia sudah berapi-api aku lalu menghina dan mengejeknya, menyatakan benciku. Aku ingin dia memperkosaku, karena kalau hal itu terjadi, dia tentu akan terpukul hebat batinnya, tentu akan merasa menyesal sekali demi cintanya kepadaku yang kutahu memang benar-benar amat mendalam itu. Godaanku membuat dia semakin gila. Pada suatu hari, ketika aku berada di luar, aku bertemu dengan mahluk aneh. Agaknya itulah yang bernama Yeti. Aku terkejut dan ketakutan, jatuh pingsan di depan Yeti, akan tetapi Ouwyang Kwan menyelamatkan aku, membawa lari masuk ke dalam guha dan menutup guha dengan batu besar. Yeti itu berkeliaran di luar guha sampai tiga hari mengeluarkan suaranya yang aneh. Aku ketakutan bukan main. Dan mulai hari itu, hampir setiap hari aku melihat Yeti dan makin jarang melihat Ouwyang Kwan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku menjadi nekat dan ingin menyerahkan diriku kepada Yeti! Aku ingin mengecewakan hati Ouwyang Kwan karena hatiku sakit mengingat suamiku dibunuh, akan tetapi aku sebetulnya mulai jatuh cinta kepadanya, mungkin karena kebutuhanku kepada pria! Namun, benciku melebihi cintaku sehingga aku lebih suka menyerahkan diri kepada Yeti, mahluk buas menyeramkan itu daripada kepada Ouwyang Kwan. Akan tetapi, pengalamanku ketika aku menyerahkan diri kepada Yeti malam itu membuat aku semakin tergila-gila. Aku jatuh cinta kepada Yeti, demikian pikirku. Akan tetapi, ketika pada keesokan harinya aku terbangun dalam pelukan Yeti, ternyata Yeti itu adalah Ouwyang Kwan yang menyamar. Aku malu, aku benci, aku menyesal, apalagi karena aku tahu bahwa seluruh tubuhku jatuh cinta kepada Ouwyang Kwan pembunuh suamiku. Aku harus mati! Aku lebih baik mati! Aku semalam telah mengkhianati suamiku, di depan mata suamiku sendiri aku telah bermain cinta, berjina semalam suntuk dengan Ouwyang Kwan, musuh dan pembunuh suamiku. Aku harus mati....!"

Tulisan itu berakhir, akan tetapi pada lembar berikutnya terdapat tulisan kasar seperti cakar ayam, tulisan yang besar-besar hurufnya dan ditulis oleh tangan yang kaku:

"Aku menyebabkan kematiannya. Aku berdosa! Aku binatang, bukan manusia! Aku Yeti yang buas!"

Demkianlah isi buku catatan yang dibaca oleh Hong Bu dengan asyiknya. Dia termenung. Hebat sekali pengalaman suami isteri pendekar itu. Dia lalu menghampiri lagi mayat-mayat yang seperti arca itu. Pendekar itu memang tampan, dan setelah dia meneliti, dia melihat memang pada bajunya terdapat lubang bekas tusukan pedang, tepat di uluhatinya. Kemudian dia meneliti jenazah wanita itu. Terdapat pula lubang bekas tusukan senjata tajam di lambung kirinya.

Agaknya wanita itu telah bunuh diri. Dan agaknya tulisan kasar terakhir itu adalah tulisan Ouwyang Kwan yang menaruh mayat Loan Si di dekat suaminya, kemudian tentu saja Ouwyang Kwan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi.... tiba-tiba Hong Bu teringat dan bulu tengkuknya meremang, Yeti itu! Mengapa menangis di depan mayat Loan Si? Dan di dalam catatan Loan Si, Yeti yang diserahi dirinya adalah yang penyamaran Ouwyang Kwan! Dan Ouwyang Kwan mulai menjadi gila! Dan Yeti itu, gerak-geriknya lebih mirip manusia, malah bisa merintih, menangis, dan seolah-olah mengerti dan dapat menangkap kata-katanya. Jangan-jangan Yeti yang sekarang ini pun adalah penyamaran Ouwyang Kwan! Bukankah dalam catatan-catatan itu disebutkan bahwa Ouwyang Kwan bertubuh raksasa?

Jadi, tentu tinggi besar, pantas kalau menyamar sebagai Yeti! Hong Bu berindap mendekati Yeti yang masih tidur. Tidurnya nyenyak dan mendengkur. Dengkurnya seperti dengkur manusia! Berdebar jantung Hong Bu. Benarkah mahluk ini yang dinamakan orang Yeti, ataukah ini adalah Ouwyang Kwan yang menyamar? Bagaimana dia akan dapat membuka rahasia ini? Betapapun juga, jelas bahwa mahluk ini memperlihatkan sifat-sifat yang liar dan ganas, maka dia harus berhati-hati dan jangan sampai membuatnya marah, karena hal itu amatlah berbahaya. Mahluk buas, atau manusia yang sudah menjadi gila dan merasa dirinya menjadi binatang, sama saja berbahayanya, maka dia harus bersikap halus dan hati-hati. Malam itu Hong Bu tidur dalam ruangan itu yang tidaklah begitu dingin seperti kalau berada di luar, Yeti tidak nampak, sejak tadi telah pergi.

Hong Bu tidak berani sembarangan mencarinya karena memang dia tidak tahu harus pergi ke mana, dan tak lama kemudian nampak bayangan berkelebat dan Yeti telah berada di dekatnya dan menyerahkan segebung daun-daun yang kekuning-kuningan. Dia menerimanya dalam keremangan cahaya malam yang berbulan tipis itu, sinar bulan yang memasuki ruangan melalui jendela, akan tetapi tidak tahu mengapa Yeti memberikan daun-daun itu kepadanya. Untuk tilam tidur? Akan tetapi daun-daun basah itu malah tidak enak kalau untuk tidur, lebih enak tidur di atas tanah dalam ruangan itu yang cukup hangat. Akan tetapi, Yeti itu mengambil setangkai daun lalu memakannya dan memberi isyarat dengan tangan agar Hong Bu makan daun itu pula! Celaka, pikirnya, kalau Yeti ini termasuk binatang pemakan rumput dan daun, apa dikiranya dia pun harus hidup sebagai kerbau atau kuda?

Akan tetapi, agar tidak membikin marah binatang itu, dia pun mengambil sehelai dan dimasukkan ke mulutnya, lalu dikunyahnya. Eh? Rasanya enak! Hong Bu menjadi girang sekali. Daun itu rasanya enak, seperti daun sawit! Maka dia pun lalu makan daun-daun itu. Lumayan untuk mengisi perut kosong. Dan malam itu dia tidur nyenyak, dengan perut kenyang walaupun hanya diisi daun-daun itu. Pada keesokan harinya, Yeti itu memberi isyarat kepada Hong Bu untuk ikut bersamanya keluar dari ruangan itu. Hong Bu menurut saja. Yeti itu keluar melalui jendela dan ketika Hong Bu menjenguk keluar, hampir dia berteriak saking ngerinya. Ternyata di luar "jendela"

Itu merupakan tebing yang luar biasa curamnya, tak berdasar lagi karena tertutup oleh kabut kebal. Demikian pula semua jendela di ruangan itu dikelilingi tebing yang curam.

Akan tetapi Yeti mengajaknya keluar dari situ! Mana mungkin? Yeti agaknya mengerti dan dengan tangan kirinya dia mengempit Hong Bu sedangkan pedang yang kemarin menancap di pahanya itu diangsurkan kepada Hong Bu. Hong Bu mengerti bahwa dia disuruh memegang pedang itu, maka dia pun memegang pedang itu dengan hati-hati dan mulailah Yeti itu memanjat tebing! Bukan main! Berkuranglah kecurigaan Hong Bu. Kalau Yeti ini manusia yang menyamar, agaknya tidak mungkin ada manusia berani atau dapat memanjat tebing seperti ini! Hong Bu beberapa kali memejamkan matanya kalau Yeti itu melompat-lompat dan akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang luar biasa. Di sekeliling itu terdapat es yang berkilauan, bermacam-macam betuknya. Ada es yang berwarna biru, ada yang kemerahan, seperti batu-batu akik yang besar-besar.

Akan tetapi kalau Hong Bu membantingnya, maka di dalamnya tidak ada apa-apa dan warna itu pun menghilang. Kiranya itu hanyalah warna sinar matahari yang tertangkap bagian-bagian tertentu saja oleh bentuk-bentuk yang aneh itu. Dan di situ tumbuh berbagai tanam-tanaman. Sungguh luar biasa ada tanaman dapat hidup di tempat sedingin ini! Yeti lalu berloncatan pergi membawa pedang itu. Hong Bu yang ditinggal sendiri diam saja, menanti dengan tenang karena dia maklum bahwa tentu Yeti itu hendak melakukan sesuatu dan dia disuruh menanti di situ. Benar saja tak lama kemudian Yeti kembali dan tangan kirinya menggenggam dua ekor ular! Ular salju yang berwarna kemerahan. Merah darah! Selain itu, Yeti masih membawa pula sepotong cula, semacam cula badak yang cukup besar.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, Yeti itu mengulurkan tangan memberikan ular itu kepada Hong Bu. Tentu saja Hong Bu melangkah mundur dan menarik tangannya, tidak mau menerima. Untuk apa dia diberi ular? Kalau seperti ketika memberi daun semalam dia disuruh makan ular, maka Yeti atau apa pun adanya mahluk itu sudah benar-benar menjadi gila! Biarpun dua ekor ular itu telah mati, agaknya dipencet oleh jari-jari tangan yang kuat itu, akan tetapi Hong Bu masih merasa ngeri. Bukan dia tidak pernah makan ular. Seringkali malah, akan tetapi daging ular kembang yang besar, diambil dagingnya dipanggang atau dimasak. Bukan ular kecil merah yang agaknya mengandung bisa amat jahatnya ini. Yeti lalu memisahkan dua ular itu yang saling belit, kemudian membawa seekor ke dekat mukanya, membuka mulut dan....

"kress!"

Kepala ular itu digigitnya, putus sampai ke leher dan dikunyahnya, matanya berkedip-kedip, kelihatan enak sekali.

Posting Komentar