Si Pendek Gendut Suok tertawa mengejek.
"Memang ketika itu kalian menguntungkan, maka bersahabat. Sekarang, kalian merupakan saingan kami dalam mencari dan memperebutkan Koai-liong-pokiam, maka kalian adalah saingan kami atau musuh dan harus dibunuh. Lain dulu lain sekarang! Dulu menguntungkan maka sahabat, sekarang merugikah maka musuh!"
Sungguh pendapat yang sama sekali mau enak sendiri saja! Akan tetapi, benarkah sikap Su-ok dan Ngo-ok itu aneh dan jahat? Lupakah kita bahwa kita sendiri pun dengan diselubungi oleh segala sopan santun dan kebudayaan, pada hakekatnya mempunyai perhitungan dan pandangan yang tidak jauh bedanya dengan sikap dua orang manusia iblis itu? Sebaiknya kalau kita meneliti dan memandang diri sendiri, mengenal diri sendiri. Coba kita renungkan dan pandang dengan sejujurnya, mengapa kita mempunyai saha-bat-sahabat dan mengapa pula kita mempunyai musuh-musuh?
Bukankah orang yang kita anggap sahabat itu adalah orang yang kita pandang menguntungkan kita, baik keuntungan lahir maupun batin? Dan sebaliknya bukankah orang yang kita anggap musuh itu adalah orang yang kita pandang merugikan lahir maupun batin? Dan orang yang sekarang kita anggap sahabat, kalau pada suatu hari dia itu merugikan kita lahir atau batin, apakah dia masih kita anggap sahabat, ataukah lalu kita anggap sebagai musuh? Berapa banyaknya orang yang kini kita anggap musuh itu dahulu pernah menjadi sahabat kita? Ah, kehidupan kita penuh dengan penilaian yang didasarkan untung rugi bagi kita sendiri, oleh karena itulah maka kita memisah-misahkan orang-orang lain sebagai yang disuka dan yang tidak disuka, sebagai sahabat atau musuh.
Bukankah pada dasarnya kita, yang masih mempunyai sahabat dan musuh, tidak jauh beda pandangan kita dengan Su-ok dan Ngo-ok? Tiga orang kakek itu sendiri adalah tokoh-tokoh jahat dan kejam. Baru saja mereka sudah memperlihatkan watak mereka yang kejam, dengan membunuh dua orang pemuda Kun-lun-pai yang tidak berdosa dan hendak memaksa tiga orang gadis Kun-lun-pai untuk melayani mereka. Maka, kini melihat sikap Su-ok dan Ngo-ok, maklumlah mereka bahwa tidak ada jalan lain bagi mereka selain membela diri mati-matian. Dan karena mereka sudah tahu akan kelihaian Su-ok dan Ngo-ok, maka mereka pun tidak mau mengalah dan tidak segan melakukan kecurangan demi untuk menyelamatkan diri.
"Haiiittt....!"
Tiba-tiba Hai-liong-ong Ciok Gu To yang berdiri di sebelah agak kiri dari Su-ok, sudah menggerakkan dayungnya yang terbuat dari pada kuningan itu dan menghantam ke arah ke-pala Su-ok yang pendek gendut seperti dirinya, akan tetapi tetap saja dia masih lebih tinggi sehingga Su-ok itu hanya sampai di bawah telinganya saja tingginya.
Dayung itu menyambar dengan dahsyat sekali. Melihat ini, Hak Im Cu sudah menerjang maju lagi dengan pedangnya, sedangkan Ban-kin-kwi Kwan Ok sudah menggunakan kepalan tangannya untuk membantu Ciok Gu To mengeroyok Su-ok yang mereka tahu lebih lihai daripada Ngo-ok Si Jangkung itu. Terjadilah perkelahian yang amat seru. Su-ok dengan enak saja menyelinap ke bawah dan dayung itu menyambar ke atas kepalanya. Ketika melihat berkelebatnya bayangan Ban-kin-kwi yang memukul sehingga menyambar angin pukulan dahsyat dari tokoh bertenaga gajah ini, Su-ok tertawa dan tubuhnya sudah bergulingan ke atas tanah sehingga pukulan itu pun luput. Dua orang lawannya terus mengepung dan mengirim serangan bertubi-tubi,
Namun Su-ok selalu dapat mengelak dengan ilmu silatnya yang aneh, tubuhnya kadang-kadang berloncatan, kadang-kadang menggelundung ke sana-sini seperti trenggiling dan kalau dia meloncat dari atas tanah, dia sudah mengirimkan pukulan yang amat kuat sehingga beberapa kali kedua orang lawan yang sudah mengelak itu tetap saja terhuyung, terbawa angin pukulan yang amat dahsyat! Sementara itu, Ngo-ok juga dengan enaknya menghadapi pedang di tangan Hak Im Cu. Tubuhnya yang jangkung itu kalau mengelak hanya dengan lengkungan-lengkungan panjang dan pedang itu selalu mengenai angin, kemudian kedua tangan itu dari atas menyambar dengan lengan yang panjang seperti dua ekor burung menyambar-nyambar dari atas membuat Hak Im Cu sibuk sekali untuk melindungi tubuhnya dari sambaran dua buah tangan itu.
Pedangnya terpaksa diputarnya secepat mungkin karena membentuk sinar bergulung-gulung merupakan benteng yang melindungi tubuhnya. Tingkat ilmu silat dari tiga orang kakek itu sesungguhnya sudah mencapai tingkat tinggi dan nama mereka di dunia kang-ouw sudah terkenal sekali. Murid-murid Kun-lun-pai kelas dua tadi pun sama sekali bukan lawan mereka, dan di dunia kaum sesat mereka ini sudah merupakan tokoh-tokoh yang disegani. Akan tetapi sekali ini mereka bertemu dengan datuk-datuk kaum sesat yang jauh lebih lihai daripada mereka. Baru ada satu saja di antara Im-kan Ngo-ok, ada Su-ok atau Ngo-ok seorang saja, belum tentu mereka bertiga akan mampu mengalahkannya. Apalagi sekarang sekali muncul ada dua orang tentu saja mereka menjadi kewalahan sekali. Yang pertama kali mengalami desakan hebat adalah Hak Im Cu.
Hal ini tidak mengherankan karena biarpun tingkat kepandaian Ngo-ok masih kalah setingkat dibandingkan dengan tingkat kepandaian Su-ok, akan tetapi Hak Im Cu menghadapi tokoh ini seorang diri saja, dan watak Ngo-ok berbeda dengan Su-ok. Su-ok adalah orang yang suka bergurau dan suka mempermainkan orang, maka kini menghadapi pengeroyokan dua orang lawan itu dia pun sengaja mempermainkan mereka, seperti dua ekor tikus dipermainkan seekor kucing yang sudah merasa yakin akan kekuatan dan kemenangannya. Oleh karena itulah maka kalau Ngo-ok sudah dapat mendesak lawannya. Su-ok masih belum mendesak dan membiarkan dua orang lawannya itu melakukan serangan bertubi-tubi yang dapat dihindarkannya dengan mudah saja. Ngo-ok sudah mendesak hebat dan kedua tangannya makin gencar melakukan serangan ke arah kepala Hak Im Cu.
Tosu ini sudah mandi keringat karena berkali-kali tangan yang berlengan panjang itu hampir saja berhasil menotoknya atau menghantam kepalanya dari arah yang tidak terduga-duga sebelumnya karena dia tidak mungkin dapat mengikuti gerakan dari atas itu. Dengan kegelisahan yang membuatnya nekat, tiba-tiba dia menusuk ke depan, memutar pedang itu dan tangan kirinya ikut melancarkan pukulan yang mengandung sin-kang kuat ke arah dada lawan, pedangnya berputar hendak merobek perut. Serangan ini dahsyat bukan main sehingga biarpun Ngo-ok amat lihai, tokoh ini terkejut juga. Dan tiba-tiba terjadilah apa yang dikhawatirkan sejak tadi oleh Hak Im Cu. Tubuh tinggi kurus itu tiba-tiba berjungkir balik dan selagi Hak Im Cu terkejut dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi lawan ini, tahu-tahu ubun-ubun kepalanya kena dicium ujung jari kaki kanan Ngo-ok.
"Aughh....!"
Hak Im Cu terhuyung ke belakang, pandang matanya berkunang-kunang dan pada saat itu, Ngo-ok sudah menubruk ke depan dengan tubuh berjungkir balik kembali seperti semula, dua kali tangannya menampar terdengar suara
"krek! krek!"
Dan patahlah kedua pergelangan tangan Hak Im Cu. Pedangnya terlempar jauh dan tahu-tahu jari-jari tangan kiri yang panjang dari Ngo-ok telah mencekik lehernya dari belakang disambung oleh jari-jari tangan kanannya dari depan. Hak Im Cu meronta-ronta, tidak mampu melakukan tendangan karena tubuh lawan berada di belakangnya, sedang kedua lengannya sudah tak dapat dipergunakan lagi. Dia meronta-ronta dan tubuhnya berkelojotan, namun sia-sia belaka. Cekikan itu makin kuat saja. Sungguh merupakan penglihatan yang mendirikan bulu roma apa yang dilakukan oleh Ngo-ok secara kejam bukan main itu. Akhirnya tubuh itu berhenti berkelojotan dan Ngo-ok melemparkan tubuh Hak Im Cu yang telah mati dengan mata melotot dan lidah keluar sampai memanjang.
"Aha, engkau keburu-buru amat, Ngo-te!"
Su-ok yang dikeroyok dua itu masih sempat mentertawa-kan Ngo-ok. Akan tetapi Ngo-ok sudah tidak mau mempedulikan lagi karena manusia iblis ini dengan langkah panjang sudah menghampiri Tio Gin Bwee, gadis Kun-lun-pai yang berusia delapan belas tahun itu. Tiga orang gadis itu tidak pingsan, hanya tertotok saja dan tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Semenjak tadi, mereka itu menangis melihat dua orang suheng mereka tewas, kemudian mereka menonton pertempuran antara manusia-manusia iblis itu dengan hati merasa ngeri dan takut.
Mereka adalah gadis-gadis yang menerima gemblengan lahir batin, akan tetapi baru sekarang mereka merasa ngeri dan takut karena maklum betapa mereka itu sama sekali tidak berdaya dan mereka terjatuh ke dalam tangan manusia-manusia yang lebih jahat daripada iblis sendiri. Ketika Si Jangkung itu menghampirinya dan menyambarnya seperti seekor elang menyambar anak ayam saja, mengangkatnya tinggi-tinggi, Tio Gin Bwee menjadi ketakutan dan merintih. Dua orang lainnya memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar. Rintihan Gin Bwee makin lama menjadi jeritan-jeritan menyayat hati ketika dia dibawa ke balik tumpukkan salju oleh Si Jangkung itu dan akhirnya tidak terdengar lagi jeritannya. Tak lama kemudian Ngo-ok sudah datang lagi dan kini tangannya yang berlengan panjang itu menyambar tubuh Lim Siang, juga seperti tadi dibawanya gadis itu ke balik tumpukan salju.
Terdengar oleh Ang Bwee bagaimana sucinya ini menjerit-jerit akan tetapi makin lama jeritannya menghilang terganti isak tangis yang menyedihkan. Sementara itu, Su-ok tertawa dan kini mulailah dia menyerang dua orang pengeroyoknya. Tubuhnya merendah seperti berjongkok dan ketika tangannya dihantamkan ke depan, Hai-liong-ong Ciok Gu To berteriak dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting dan tewas seketika, dari mulutnya menyembur darah segar. Itulah pukulan Katak Buduk yang berbau amis dan beracun, akan tetapi juga ampuhnya menggila itu! Melihat ini, Ban-kin-kwi Kwan Ok tidak mempedulikan rasa malu lagi, dia sudah meloncat hendak melarikan diri. Akan tetapi tahu-tahu Si Pendek itu sudah berada di depannya dan sekali Su-ok melancarkan pukulannya seperti tadi, Ban-kin-kwi juga terjengkang dan tewas seketika dengan muntah-muntah darah!
"Ho-ho-ha-ha-ha....!"
Su-ok tertawa dan pada saat itu Ngo-ok sudah menangkap Ang Bwee, gadis ke tiga. Gadis ini saking takut dan ngerinya sudah berhasil membebaskan diri dari totokan, maka kini dia merontak-ronta dan melawan, menangis sambil berusaha mencakar dengan kedua tangannya. Akan tetapi Ngo-ok tidak peduli, lalu membawa gadis itu ke tempat tadi, diikuti oleh Su-ok dan dengan buas dia merenggut dan merobek-robek pakaian Ang Bwee, kemudian memperkosa gadis itu di bawah penglihatan Su-ok yang tertawa-tawa gembira. Ang-Bwee sempat mengeluarkan jerit yang amat melengking saking takut dan ngerinya, akan tetapi selanjutnya dia tidak berdaya seperti dua orang sucinya yang sudah rebah sambil menangis dan dalam keadaan setengah pingsan itu.
Agaknya jeritan inilah yang terdengar oleh Sim Hong Bu dan Sim Tek. Dua orang paman dan keponakan yang melakukan perjalanan mencari Yeti ini mendengar suara jerit aneh di tempat sunyi itu. Mereka tadinya mengira bahwa jerit-jerit yang mereka dengar terdahulu dan hanya terdengar lapat-lapat itu adalah jerit dari mahluk yang mereka buru, yaitu Yeti. Maka mereka menuju ke tempat itu, di balik puncak, dengan hati-hati agar mereka tidak sampai bertemu begitu saja dengan mahluk berbahaya itu. Mereka berindap-indap dan mendekati tempat itu sambil berlindung. Akan tetapi jerit terakhir yang mereka dengar, yaitu jerit yang keluar dari mulut Ang Bwee, adalah jerit yang jelas dapat mereka kenal sebagai jerit yang keluar dari seorang wanita yang mungkin berada dalam keadaan ketakutan hebat.
Maka kini keduanya berlari-lari menuju ke arah datangnya suara. Mereka mendengar suara orang tertawa-tawa di balik tumpukkan salju dan jerit wanita tadi tidak terdengar lagi. Maka keduanya lalu meloncat dan menuju ke balik tumpukan salju. Apa yang mereka saksikan membuat kedua orang pemburu ini berdiri terpukau dengan mata terbelalak dan sejenak mereka seperti berobah menjadi patung. Kemudian wajah mereka menjadi merah sekali, terutama sekali Sim Hong Bu. Mereka melihat seorang kakek tinggi kurus sedang memperkosa seorang gadis yang bergerak meronta lemah, sedangkan seorang kakek lain berpakaian hwesio dan berkepala gundul sedang menonton sambil tertawa-tawa seolah-olah sedang menonton pertunjukkan yang amat lucu dan menyenangkan.
"Manusia hina-dina! Manusia iblis tak berjantung!"
Sim Hong Bu sudah memaki dan dia meloncat ke depan sambil mencabut pedang dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang busurnya. Niatnya untuk menerjang kakek yang sedang memperkosa gadis itu, akan tetapi tiba-tiba kakek gundul itu menggerakkan tangannya menampar dan angin dahsyat menyambar ke arah Sim Hong Bu dan membuat pemuda ini terjengkang dan bergulingan.
"Ha-ha-ha-ha! Ada lagi yang bosan hidup!"
Kata Su-ok ketika dia melihat Sim Tek yang juga sudah tidak dapat bertahan menyaksikan peristiwa yang terkutuk itu, sudah menyerang pula dengan pedang di tangan kanan dan busur di tangan kiri. Dia maklum bahwa kakek gundul pendek itu lihai bukan main, akan tetapi untuk membela gadis yang diperkosa itu, dia tidak peduli apa pun dan bersedia untuk mengorbankan nyawanya kalau perlu. Juga Hong Bu sudah bangkit lagi dan membantu pamannya menyerang.
Akan tetapi tetap saja mereka berdua tidak mampu menyerang kakek jangkung yang sedang memperkosa gadis itu, karena kakek pendek gundul selalu menghadang mereka. Maka terpaksa mereka kini menerjang kakek gundul dan terjadilah perkelahian yang tidak seimbang. Apalagi dikeroyok oleh dua orang pemburu paman dan keponakan ini. Sedangkan pengeroyokan dua orang berilmu tinggi seperti Ban-kin-kwi Kwan Kok dan Hai-liong-ong Ciok Gu To pun berakhir dengan kematian dua orang lihai itu! Kini dengan enaknya Su-ok mempermainkan paman dan keponakan itu. Dia hanya berdiri saja sambil bertolak pinggang, sedikit pun tidak bergerak, hanya kalau dua orang itu datang menyerang, dia mendorong dengan tangan kanan atau kiri dan dua orang itu sudah terjengkang sebelum disehtuh oleh telapak tangannya!
Melihat ini, Sim Tek marah sekali dan cepat dia memasang anak panah pada busurnya. Memang dia seorang pemburu yang pandai dan terlatih, juga berpengalaman, maka begitu dia mainkan anak panah pada busurnya, dengan cepat sekali anak panah menyambar bertubi-tubi ke arah Su-ok. Melihat ini, Hong Bu juga meniru perbuatan pamannya, akan tetapi dia tidak membidik ke arah Su-ok, melainkan menujukan anak-anak panahnya ke arah punggung dan pinggul Ngo-ok yang telanjang! Terjadilah hal-hal yang amat luar biasa. Su-ok hanya menggerakkan kedua tangannya dan semua anak panah yang dilepas oleh Sim Tek itu kembali ke arah penyerangnya dengan kecepatan jauh lebih laju lagi daripada ketika anak-anak panah itu tadi meluncur dari gendewa Sim Tek!
Pemburu ini terkejut dan berusaha mengelak, akan tetapi sebatang anak panah yang ditangkap oleh Su-ok dan dilontarkannya, seperti kilat menyambar dan menembus dadanya! Robohlah pemburu itu dengan dada tertembus anak panah sampai ke punggung dan tentu saja dia roboh dan tewas! Anak-anak panah yang dilepas oleh Hong Bu dengan tepat mengenai punggung dan pinggul Si Jangkung, akan tetapi anak panah itu seperti mengenai tubuh dari baja saja, semua terpental dan meleset, tidak ada sebatang pun yang mampu melukai tubuh Ngo-ok! Dan sebelum Hong Bu dapat memanah lagi, tahu-tahu tengkuknya telah dipegang oleh Su-ok dan dia tidak mampu bergerak lagi, hanya meronta-ronta di udara dan memaki-maki.